Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Sungguh Ironis Sekali


__ADS_3

"Jangan terlalu memaksakan diri" Aya berucap ketika akan meninggalkan Annelka di ruang kerjanya.


Aya sudah merasa lelah. Dan Annelka menyuruhnya beristirahat. Sedangkan pria itu masih bekerja di ruang kerjanya. Seminggu tidak bekerja. Bisa dibayangkan bagaimana tumpukan berkas kerja milik Annelka.


"Kau belum tidur?" Tanya Aya melihat Ben duduk di tangga.


"Tidak bisa tidur" Jawab Ben judes.


"Kenapa?" Cecar Aya.


"Ishh kau ini cerewet sekali. Aku heran kenapa suamimu bisa tahan padamu"


"Tinggal dijawab saja. Malah ngoceh kemana-mana" Gerutu Aya.


"Aku tidak bisa tidur jika aku tidak lelah"


"Ooo gak ada kerjaan to rupanya. Mau aku bantuin buat begadang?"


"Bagaimana?"


"Ikut aku" Ajak Aya.


"Kemana?"


"Bekerja" Jawab Aya singkat menarik kaos Ben. Setengah menyeret tubuh tinggi pria itu.


"Kau membawaku ke mana, Nyonya Cerewet?"


"Iishh, bagaimana bisa kau memanggilku seperti itu"


"Kau kan memang cerewet"


"Dan kau menyebalkan!" Aya balik mengatai Ben. Menarik pria itu menuju ruang kerja Anneka. Melewati satu pigura besar yang tertutup tirai. Hati Ben sejenak bergetar.


"Ann, aku bawa bantuan untukmu"


"Siapa?" Tanya Annelka mengangkat wajahnya. Sesaat kedua pasang mata itu saling pandang.


"Memang apa yang bisa dia kerjakan?" Tantang Annelka sekaligus meremehkan. Hal itu jitu untuk memancing seseorang agar mau melakukan sesuatu untuk kita.


Dan trik itu bekerja dengan baik. Dia tahu Aaron yang terdahulu sangat tidak suka diremehkan. Jika memang mereka adalah orang yang sama. Reaksinya pasti sesuai keinginan Annelka.


"Kau pikir aku tidak bisa bekerja. Aku juga bisa mengerjakan pekerjaan itu" Jawab Ben setengah tersenyum.


Dua orang itu tersenyum. Merasa menang.


"Kerjakan itu kalau begitu" Perintah Annelka. Dengan wajah manyun, Ben berjalan ke arah sofa. Dimana ada setumpuk berkas yang tadi akan Aya kerjakan. Tapi dia keburu ngantuk. Jadi Annelka meminta Aya untuk berhenti. Dan menyuruhnya beristirahat.


Annelka sejenak menatap Ben. Mulai meraih berkas yang ada di meja. Membacanya. Lalu mulai mengerjakannya. Hening sejenak. Hanya ada bunyi kertas yang saling bergesekan.


"Lihatlah ini" Ucap Ben. Membalikkan laptopnya.


Memperlihatkan pekerjaannya pada Aya. Dia tahu Aya disitu untuk menjadi pengawasnya. Annelka pernah mengatakan. Aaron cukup cerdas. Sebelum kecelakaan itu. Dirinya sedang menunggu sidang tesisnya. Jadi secara teknis pria dihadapannya ini adalah lulusan S2.

__ADS_1


"Bagus. No mistakes. Kau bisa mengerjakan semuanya"


"Tentu saja. Aku kan pintar. Hei ini tidak gratis ya" Protes Ben.


"Narsisnya saja sama" Batin Aya.


"Aku akan membayarmu seratus ribu sejam"


"Enak saja. Ogah seratus ribu. Nilai kontrakmu saja setengah M. Aku cuma kau bayar seratus ribu. Lima ratus ribu, baru aku mau mengerjakannya"


"Dasar tukang rampok. Kau yang enak saja. Kau pikir itu nett-nya. Itu masih omsetnya"


"Tiga ratus kalau begitu"


"Dua ratus lima puluh kalau kau mau. Kalau tidak, pergi saja tidur sana"


Annelka tahu target Ben adalah dua ratus ribu.


"Oke deh kalau begitu. Itung-itung cari penghasilan. Kalian kan menyita uang di rekeningku" Gerutu Ben.


"Itu kan hasil rampokan. Jadi barang bukti. Yang ini kan halal" Ujar Annelka.


Aya hanya memandang pertengkaran itu sambil tersenyum.


"Apa senyum-senyum? Yang satu tuan pelit. Yang satu nyonya cerewet"


"Gak pelit, gak kaya" Celetuk Annelka.


"Nggak cerewet nggak menang banyak" Tambah Aya.


"Baru tahu ya. Kasihan yang jomblo" Ledek Aya.


"Sialan!" Maki Ben. Diujung sana. Annelka mengulum senyumnya. Dia pikir Ben sedikit humoris. Masih bisa diajak bercanda.


****


Pukul dua belas malam. Dua pria itu menggeliat bersamaan. Berkas di hadapan mereka sudah banyak berkurang.


"Lanjutkan saja besok malam. Aku jamin besok Ed dan Tria akan membawa berkas yang sama banyaknya"


"Lalu kerja mereka apa?"


"Mereka menghandle meetingku dengan klien selama aku pergi kemarin" Jawab Annelka.


"Kau begitu percaya pada mereka"


"Kita harus menemukan orang seperti mereka setidaknya satu. Kebetulan aku menemukan dua"


"Tapi mungkin sebentar lagi pekerjaanku akan berkurang" Batin Annelka menatap Ben yang tengah menata berkas-berkas di atas meja.


Dan selama seminggu itu. Ben membantu Annelka dengan mengerjakan pekerjaannya yang tertunda selama dia pergi. Siang mereka masih harus berurusan dengan kantor polisi. Walau sebenarnya itu hanya rekayasa Annelka. Untuk menahan Ben agar tidak lari.


"Tuan Annelka yang menjamin kalian. Jadi selama sebulan ini kalian jadi tahanan kota" pak Nasution memberitahu Ben dan Zaki.

__ADS_1


"Apa ini tidak terlalu berlebihan. Aku pikir ada yang aneh dengan semua ini" Zaki berucap saat keduanya sedang duduk di teras belakang rumah Annelka.


"Aku pikir juga begitu. Aku merasa mereka sengaja menahan kita di sini. Tujuannya aku tidak tahu" Ben sependapat dengan Zaki.


"Tapi kalau mereka ada niat buruk, sepertinya tidak mungkin. Mereka memberi kita tumpangan tempat tinggal. Makan enak plus gratis. Dikasih kerjaan lagi tambah dikasih gaji" Zaki mulai meluahkan keraguannya.


"Kau benar. Tapi kalaupun mereka berniat baik. Alasannya apa? Jelas-jelas kita menculik Faya. Menjual jamnya, antingnya. Kita juga hampir membahayakan kandungan Aya. Tapi mereka tidak menuntut kita. Malah meminta kita tinggal di sini. Annelka bahkan menggunakan namanya untuk menjamin kita" Ben berucap semakin heran.


"Ah entahlah. Aku bingung dengan sikap mereka"


"Begini ni. Orang kalau biasa berpikiran jahat. Sekalinya dibaikin sama orang malah bingung sendiri" Ben menutup sesi kecurigaan mereka sore itu.


Selama di rumah itu. Mereka dilayani seperti raja. Sama seperti Annelka dan Aya. Bibi Mai selalu ada setiap saat buat mereka. Jika mereka memerlukan sesuatu. Ya, bibi Mai semakin lama semakin yakin kalau Ben adalah tuan Aaron.


Tapi dia juga tidak berani bersuara sama sekali. Seperti pesan Annelka. Jika tes DNA itu belum keluar hasilnya. Mereka tidak boleh mengatakan apapun soal Aaron.


Seminggu berlalu dan hari yang dinanti pun tiba. Annelka tampak cemas. Entah kenapa dia dihantui rasa tidak tenang. Dia dan Aya duduk di ruang kerja Farris. Menunggu pria itu yang tengah mengambil hasil tes DNA.


"Bagaimana rasanya menunggu?" Goda Farris.


"Yang ini rasanya aku pengen membunuhmu. Kenapa lama sekali?"


"Lab belakangan sangat sibuk. Ini saja aku minta untuk didahulukan. Btw soal menunggu. Tidak akan mengalahkan rasanya menunggui anak yang mau lahir" Cengir Farris.


"Alah orang dia nggak ada waktu Astrid lahiran. Dia nggak tahu Ahmad sama Mika brojolnya gimana"


"Hush, ngomongnya jangan seperti itu" Aya menepuk lengan Annelka.


Pria itu meringis. Bersamaan dengan seorang perawat yang masuk. Langsung memberikan sebuah amplop berwarna coklat pada Farris.


"Are you ready?" Farris menyerahkan amplop itu kepada Annelka. Yang langsung membukanya dengan tangan gemetar.


Hening sejenak, hingga tiba-tiba saja air muka Annelka berubah sendu.


"Negatif" Guman Annelka lemah.


"Ha? Masak sih?" Aya bertanya tidak percaya.


"Kau sudah sangat yakin kalau dia kakakmu. Dan hasilnya negatif?" Tanya Farris.


"Kau bacalah sendiri" Aya menyerahkan hasil DNA itu. Farris langsung menerima dan membacanya.


"Mungkin aku berharap terlalu tinggi" Bisik Annelka.


"Kau terlalu merindukannya" Tambah Aya.


Mengusap lembut lengan sang suami. Dia sendiri juga merasa shock. Entah kenapa merasa kalau Ben adalah Aaron. Tapi mengapa tes DNA-nya negatif.


"Beginilah kalau harapan tidak seindah kenyataan"


"Jangan putus asa. Setidaknya ada kami yang selalu ada untukmu" Ucap Aya yang diangguki oleh Farris.


"Kau masih punya kami. Jangan khawatir" Farris berucap. Dia cukup bisa merasakan rasa kecewa Annelka.

__ADS_1


"Harapanmu sudah setinggi langit tapi kenyataannya kau dihempaskan ke dasar bumi yang paling dalam. Sungguh ironis sekali"


****


__ADS_2