
Deni sudah lama tidak bertemu Yanti secara langsung. Jika Deni ingin melihat Yanti, Deni cukup meminta Vina untuk mengirimkannya foto Yanti. Atau jika ingin secara langsung, Deni dan Vina melakukan Video Call. Dengan begitu Deni bisa melihat apa yang dilakukan Yanti saat itu.
Tapi entah mengapa, kali ini Deni ingin sekali pergi kerumah Vina untuk bertemu Yanti. Ada rasa kangen yang merayap dihatinya. Tidak hanya ingin melihatnya saja, tetapi dia ingin mendengar suaranya.
Sepulang kerja, mampir ke warung makan untuk membeli nasi goreng untuk diberikan pada Yanti dan Vina. Setelah mendapatkan apa yang dia tuju, Deni bergegas menuju rumah keluarga dokter Dimas. Rumah dokter Dimas tampak sepi. Deni memencet bel untuk memastikan apakah Vina dan Yanti ada di rumah.
Beberapa saat kemudian, seseorang membuka pintu. Bibik tersenyum melihat kedatangan Deni.
"Mas Deni, pasti nyari neng Yanti," tanya bibik.
"Iya, Bik. Tapi kok kelihatan sepi, pada kemana?" tanya Deni penasaran.
"Neng Vina ada di kamar. Tapi, kalau neng Yanti, dia sudah tidak tinggal di sini lagi," jawab bibik.
"Maksud Bibik?" tanya Deni kaget.
"Nanti tanya saja sama neng Vina saja. Tunggu di ruang tamu, nanti Bibik panggilan neng Vina," jawab Bibik lalu melangkah pergi memanggil Vina.
"Terimakasih, Bik."
Deni berjalan pelan menuju ruang tamu sambil terus memikirkan apa yang dikatakan bibik padanya. Deni duduk dan meletakan bungkusan yang dibawanya diatas meja. Tidak berapa lama, datanglah Vina dengan wajah sedih. Dia kalau duduk di samping Deni yang sudah siap dengan banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan pada Vina.
"Vina, bibik bilang, Yanti sudah tidak tinggal di sini lagi?" tanya Deni.
"Benar, Kak Deni. Vina sangat sedih, tidak ada lagi yang membantu Vina belajar," jawab Vina sambil menyeka airmata yang tiba-tiba menetes di pipinya.
"Aku bisa membantumu belajar. Bukan hanya Yanti yang bisa, aku juga bisa," ucap Vani dari arah belakang.
Deni dan Vina sama-sama kaget melihat kedatangan Vani. Mereka menoleh kearah sumber suara.
"Vina, dia siapa?" tanya Deni sambil melihat kearah Vina.
"Perkenalkan, Vani, kakaknya Vina."
__ADS_1
"Deni."
Vani mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri pada Deni. Mau tidak mau, Deni menjabat tangan Vani. Deni tersentak kaget karena gadis yang mengaku Vani itu, menggelitik telapak tangannya. Dengan cepat, Deni menarik tangannya karena merasa gadis didepannya terlalu berani. Terlihat jelas jika dia ingin menggoda Deni.
Melihat situasi yang sudah tidak sesuai harapan Deni. Deni akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Vina, ini ada nasi goreng, kalau kamu suka kamu makan saja. Aku masih kerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Deni.
"Hei, kenapa mesti cepat pulang? Kita belum berbincang-bincang!" teriak Vani.
Tetapi, Deni sudah berlalu pergi sambil memikirkan cara untuk mencari tahu keberadaan Yanti. Jika Yanti tidak datang kerumahnya, berarti dia pasti pergi ke rumah ayahnya.
Deni memutuskan untuk pulang dan akan mencari jalan agar Yanti tidak terusir dari rumah orangtuanya. Padahal, Deni sudah merasa senang karena Yanti sudah bisa diakui sebagai Vani. Ternyata, kini ada orang yang mengaku sebagai Vani dan sekarang membuat Yanti meninggalkan keluarganya.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Deni pergi ke rumah sakit tempat dokter Dimas bekerja. Untunglah saat itu dokter Dimas masih ada disana karena habis mengadakan rapat dengan dokter-dokter yang lain.
Deni mendekati dokter Dimas yang baru saja keluar dari ruang rapat.
"Ayah Dimas," panggil Deni.
"Begini, Ayah. Deni hanya ingin tahu, bagaimana kalian bisa menemukan Vani semudah itu?" tanya Deni sambil menatap dokter Dimas
"Itu karena dia memiliki kalung yang bertuliskan 'Vani'. Kalung yang pernah diberikan pada Vani sewaktu kecil oleh ibunya," jawab dokter Dimas.
"Apakah ayah tidak berpikir untuk melakukan tes DNA. Karena Deni tidak yakin kalau dia adalah Vani," ucap Deni.
"Maksudmu tidak yakin, apakah karena dia tidak ada mirip-miripnya dengan Vina atau ibunya? Apa kamu pernah melihatnya?"
"Tadi Deni kerumah Ayah untuk bertemu Yanti, tapi ternyata dia sudah pergi. Bukan Deni bermaksud ingin menimbulkan masalah di dalam keluarga Ayah, tetapi alangkah baiknya kalau Ayah lebih hati-hati. Belum tentu pemilik kalung itu adalah Vani," ucap Deni lebih jelas.
"Kamu benar juga, Deni. Tapi, Tantemu yang sudah terlanjur senang dengan ketemunya Vani. Apa Ayah akan tega membaut harapan Tantemu pupus? Makanya Ayah tidak ingin melakukan tes DNA itu," jawab dokter Dimas.
"Ayah, Deni titip ini."
__ADS_1
"Apa ini, Den?"
"Ini rambut istri Deni. Deni curiga dia adalah Vani, putri Ayah. Dia memiliki tanda yang pernah Deni berikan saat kami kecil dulu. Barang itu, barang yang tidak berharga. Jika bukan sangat berarti baginya, pasti dia sudah membuangnya."
"Baiklah. Ayah terima. Ayah juga akan melakukan tes DNA dengan Vani secara diam-diam. Setidaknya Ayah tahu, apakah dia memang Vani atau bukan," ucap dokter Dimas.
"Tapi, kenapa kamu tidak pernah mempertemukan Ayah dengan istrimu? Bukankah kalian sudah menikah cukup lama?" tanya dokter Dimas penasaran.
"Ayah. Pernikahan kami berawal dari kesalahpahaman. Deni yang menjebak dia agar bisa menjadi istri Deni. Karena Deni ingin membalas dendam padanya. Tapi, saat Deni tahu jika ada kemungkinan dia adalah Vani, Deni mulai mencintainya. Tapi, dia tidak ingin orang-orang tahu kalau dia adalah istriku. Karena sejujurnya, dia tidak pernah mencintai Deni. Samapi suatu hari, Deni melakukan kesalahan yang tidak bisa dia maafkan. Dia pergi, tapi Deni masih berharap dia bisa memaafkan Deni." Deni bercerita sambil sesekali menarik napas berat.
"Ayah dulu juga pernah mengalami itu dengan Tantemu. Jangan biarkan semua itu berlarut-larut. Jika mungkin, segera selesaikan. Dan segera perbaiki diri. Jujur pada istrimu adalah mutlak dan meminta maaf adalah hal yang wajib kamu lakukan. Carilah secepatnya, jangan buang-buang waktu. Ayah yakin, dia akan memaafkan kamu," nasehat dokter Dimas.
"Deni akan mencarinya dan akan meminta maaf padanya. Jujur mengakui semua kesalahan Deni dari awal. Jika dia masih tidak memaafkan Deni, Deni akan rela menjadi budaknya asal dia tidak minta cerai lagi dari Deni," ucap Deni penuh semangat.
"Nah, itu baru Deni. Wanita itu, memang ingin dijadikan ratu, baik di hati maupun di rumahmu. Asalkan kita bisa menyenangkan hatinya, maka rumah tangga akan aman dan tenang. Mengalah sedikit juga tidak apa-apa," tambah dokter Dimas.
"Terimakasih, Ayah. Deni akan pergi mencari istri Deni. Deni tunggu hasil tesnya secepatnya." Deni pamit sambil menjabat tangan dokter Dimas lalu mereka berpelukan.
"Ayah tunggu kabar baikmu," bisik Ayah.
Deni tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan dokter Dimas yang masih memandangi barang pemberian Deni. Botol kecil berisi rambut istri Deni.
Sementara Deni bergegas menuju rumah pak Hadi. Deni yakin, jika Yanti ada disana. Setelah beberapa menit, sampailah dia di jalan menuju rumah pak Hadi. Rumah yang mobil tidak bisa masuk karena gang menuju rumahnya sangat sempit. Hanya cukup untuk sepeda motor saja.
Setelah memarkir mobilnya, Deni berjalan menuju rumah pak Hadi. Sesampainya disana, Deni melihat Yanti sedang menyapu halaman rumah pak Hadi yang tidak terlalu luas. Tapi memang banyak daun-daun dari pohon mangga yang jatuh membuat halaman cepat kotor. Deni berhenti sesaat, lalu kembali berjalan mendekati Yanti.
"Yanti," suara Deni terlihat jelas membuat Yanti kaget.
"Siapa?" tanya Yanti sambil menoleh kearah sumber suara.
"Suamimu," jawab Deni datar.
Yanti kembali berbalik arah. Dia tidak berani melihat Deni. Yanti tidak yakin jika itu adalah Deni. Yanti diam mematung sambil memejamkan mata karena merasa imajinasinya terlalu tinggi. Berharap jika dia membuka mata nanti, semua akan bisa kembali seperti biasa. Dan dia bisa melanjutkan pekerjaannya menyapu halaman.
__ADS_1
Deni menyadari jika sang istri masih belum bisa menerima kehadirannya. Tetapi karena dia sudah di sini, dia akan melakukan apa saja yang bisa membuat Yanti memaafkannya. Deni mendekati Yanti dan memeluknya dari belakang. Deni merasakan Yanti sangat kaget, tetapi Deni akhirnya tersenyum saat dia tidak mendapat penolakan dari Yanti. Deni mempererat pelukannya dan membisikkan sebuah kata yang disimpannya sejak lama. Bahkan belum pernah dia ucapkan pada istrinya.
"Aku mencintaimu, istriku."