Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 45. Kedatangan Mami


__ADS_3

Clarisa pamit pulang sebelum Vano datang, sehingga mereka tidak bertemu. Vani tidak tahu apa yang akan terjadi jika Vano tahu jika dirinya membiarkan Clarisa menjadi temannya. Untuk sementara, Vano tidak boleh tahu rencananya untuk menjodohkan Vano dengan Clarisa.


Vano pulang dengan wajah sedih. Hal itu membuat Vani tidak berani menyapanya seperti biasanya. Tetapi, Vani sangat bingung ketika Vano mendekatinya dan memeluknya erat. Ada apa, apa yang terjadi? pertanyaan itu berkecamuk didalam hati Vani. Terdengar Vano berusaha menahan isak tangisnya saat memeluknya.


Setelah beberapa saat, Vano melepaskan pelukannya sambil tersenyum. Dan bahkan, ada tawa kecil yan digunakannya untuk menyembunyikan sesuatu. Vani sangat yakin akan hal itu. Meskipun Vani belum tahu hal apa yang disembunyikan Vano darinya.


"Duduklah, aku ingin bicara, sebentar saja," ucap Vano.


"Ada apa, Vano?" tanya Vani penasaran.


"Vani, maaf. Tadi, kamu pasti kaget dengan sikapku. Tadi, Mami menghubungiku. Dan Mami bertanya tentang kehamilan kamu. Aku sempat kaget, mendengar mami bertanya seperti itu. Padahal aku sama sekali tidak memberitahunya tentang masalah kamu hamil. Tapi ternyata, Mami bilang, mami tahu dari kamu sendiri. Apa kamu bilang sama Mami?" tanya Vano serius.


"Benar. Tadi, waktu Mami meneleponku, aku bilang sama Mami. Karena Mami, ingin aku mencari pria lain. Dan aku tidak bisa, jadi aku mengatakan yang sebenarnya pada Mami," jawab Vani sedih.


"Aku mengerti, bagaimana kesulitan yang kamu alami. Aku juga tidak akan, menghalangi pilihan hidupmu. Aku sudah bilang pada Mami untuk tidak memaksamu lagi. Jadi kamu tidak perlu khawatir," kata Vano tersenyum untuk memberikan kekuatan pada Vani.


"Terima kasih, Vano. Kamu benar-benar menjagaku dan aku merasa terjaga dengan keberadaanmu," ucap Vani lalu memeluk saudara kembarnya.


"Vani, besok Mami akan datang untuk melihat kondisimu dan juga kondisi bayi dalam kandunganmu. Mami sangat khawatir, saat tahu kamu hamil," kata Vano sambil melihat Vani yang sedih.


"Iya, apakah Mami juga sudah mengatakan pada orang lain?" tanya Vani cemas.


"Nanti kalau Mami sudah datang, kamu tanyakan sendiri."


Vani merasa cemas jika kabar kehamilannya Samapi tersebar di sana. Vani tidak ingin, orang tahu.


Semoga Mami tidak memberitahu orang lain. Terutama Deni yang sebentar lagi akan menikah dengan wanita lain, batin Vani.


Esoknya, Mami Winda benar-benar datang ke menemuinya. Mami Winda tampak sedih dan cemas. Vani penasaran apa yang membuat Mami Winda nampak sedih.

__ADS_1


"Mami, Mami capek? Vani temani Mami istirahat di kamar, bagaimana?" tanya Vani menawarkan diri.


"Tidak, Mami tidak capek. Mami hanya tidak percaya, jika perut kamu sudah sebesar ini. Menurut dokter, kapan perkiraan kamu akan melahirkan?" tanya Mami Winda.


"Masih sebulan lagi Mami. Masih lama," jawab Vani sambil memegang tangan Mami Winda.


"Sebenarnya, Mami sangat ingin berada di sini, tapi Mami tidak bisa. Mami, akan datang ke sini saat bayimu akan lahir. Apa kamu keberatan," tanya Mami.


"Tidak, Mami. Vani tahu, Mami juga sayang Vani. Vani bisa menjaga diri, Mami. Dia ini sudah ada Vano. Mami tenang saja?" jawab Vani sambil tersenyum.


"Mami tenang mendengarnya. Mami akan istirahat dulu," kata Mami lalu pergi ke kamar.


Vani lalu ikut pergi juga untuk istirahat. Vani akhirnya tertidur dan terbangun saat malam malam mulai menjelang, Vani bergegas mandi dan berganti pakaian. Dia lalu turun untuk makan malam. Vani bingung, kenapa tidak ada yang membangunkannya. Mungkinkah Vano belum pulang kerja karena dia lembur?


Vani tetap berjalan menuju ke dapur. Di tengah jalan, Vani mendengar suara keras dari Vano dan Mami yang nampaknya mereka sedang bersitegang. Karena penasaran, Vani menuju ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari ruang kerja Vano.


Awalnya, Vani ingin mengetuk pintu, tetapi saat mendengar mereka menyebut nama Deni Tubuh Vani mematung di depan pintu. Mendengarkan apa yang mungkin seharusnya tidak di dengar. Mami berbicara dengan nada bergetar dan cukup keras hingga Vani bisa mendengarnya.


"Mami, Vano masih tidak mengerti dengan keputusan Mami memisahkan Vani dari suaminya. Yang Vano tahu dari Vani, suaminya selingkuh dan dia tidak bisa memaafkan Deni. Bukankah itu salah Deni sendiri, Mami jangan merasa bersalah dan menyiksa diri," kata Vano sambil menenangkan Maminya.


"Apa yang di lakukan Deni, itu semua tidak benar. Mami yang memintanya untuk meninggalkan Vani. Karena tidak mungkin, Vani meninggalkan dia. Makanya Mami meminta Deni untuk membuat skenario agar Vani membencinya dan pergi secara suka rela dari sisi Deni," ucap Mami panjang lebar.


"Tapi, bagaimana mungkin Deni menuruti keinginan Mami? Sebagai laki-laki dewasa dan mencintai istrinya, seharusnya dia menolak keinginan Mami. Karena itu adalah bentuk tanggungjawab dia sebagai suami," kata Deni kecewa pad Deni maupun pada Mami-nya.


"Mami mengancamnya, saat dia meminta Mami untuk tidak memenjarakan Pak Hadi. Mami tidak akan memenjarakan Pak Hadi jika dia bersedia meninggalkan Vani. Mami awalnya tidak menduga jika Deni akan menuruti keinginan Mami. Tetapi Mami akhirnya tahu jika, Pak Hadi dipenjara, maka Vani akan sedih dan bisa saja Vani akan mengalami tekanan batin karena harus memilih antara, kami orangtua kandungnya atau pak Hadi. Mami tidak tahu jika saat itu Vani tengah hamil, Jika tahu Mami tidak akan membiarkan rencana Deni berhasil membuat Vani menceraikannya. Kesalahan Vani hanya satu, dia tidak percaya pada cinta Deni dan Vani tidak pernah memberi kesempatan pada Deni untuk membela diri," Mami menceritakan apa yang terjadi saat itu sebelum Vani bercerai dari Deni.


"Tapi Mami. Bagaimanapun juga, Mami yang menjadi awal retaknya hubungan Vani dan Deni. Vano tahu jika Mami membenci Tante Maya, tetapi Vano yakin jika Deni tidak sejahat ibunya. Deni sangat mencintai Vani sehingga hal-hal yang bisa membuat Vani sedih, berusaha di hilangkan. Dan dipikirkannya untuk bisa membantunya termasuk membuat Ayah Hadi tidak dipenjara. Bahkan Mami, Mami sebagai ibunya Vani, tidak memikirkan apa yang bisa membuat Vani bahagia," ucap Deni sedih.


"Mami menyesal, Vano ...."

__ADS_1


Vani sangat terpukul mendengar pengakuan Maminya. Dadanya terasa sesak dan airmatanya mulai menetes. Vani membuka pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Vano dan Mami Winda sangat terkejut melihat Vani sudah berdiri di depan pintu dengan wajah sangat sedih. Apa yang baru saja didengarnya bagaikan petir disiang hari. Vani tidak percaya jika Mami-nya yang ternyata membuat dirinya dan Deni berpisah.


Tapi, mungkin benar kata Mami, akulah yang tidak percaya dengan Deni dan akulah yang tidak mau mendengarkan penjelasan Deni. Jika aku bisa menjadi wanita yang lebih bersikap dewasa dan tidak egois, mungkin saja semua ini tidak akan pernah terjadi. Maafkan aku, Deni, batin Vani.


Tiba-tiba Vani merasa dunia seakan berputar dan kosong. Yang ada hanya hamparan kabut hitam pekat yang membuatnya tidak bisa melihat apapun. Vani memejamkan matanya dan dia tidak ingat apa-apa lagi.


Ketika Vani mulai membuka matanya perlahan, dia melihat sekelilingnya. Ternyata dia sudah berada di kamarnya.


"Vani, kamus sudah sadar? Syukurlah, Mami sangat takut dan khawatir dengan keadaan kamu saat ini," ucap Mami Winda mulai lega.


"Mami, Vina kenapa," tanya Vani pelan.


"Kamu tadi pingsan, Sayang. Maafkan Mami. Mami sudah membuat kamu sedih. Mami menyesal. Jika Mami tahu kamu hamil, Mami tidak akan berusaha memisahkan kamu dari suamimu. Mami janji, Mami akan membantumu untuk bisa rujuk kembali dengan Deni," ucap Mami sedih.


"Tidak perlu, Mami. Mungkin semua ini sudah garis hidup yang harus Vani jalani. Mungkin kami memang tidak berjodoh. Vani akan berusaha menerima kenyataan ini meski sepahit apapun. Vani sedih dan kecewa pada Mami, tetapi Vani lebih tidak ingin membuat Mami hidup didalam penyesalan. Anggaplah Vani memang ditakdirkan sendiri. Tanpa cinta dan akan bisa hidup tanpa seorang pria," ucap Vani datar tapi sangat menyakitkan hati Mami.


"Vani, jangan bicara seperti itu. Setiap orang pasti memiliki jodoh sendiri-sendiri. Mami yakin, suatu saat, kamu juga akan bahagia dan memiliki keluarga. Jangan menjauh dari pria," ucap Mami winda sedih.


Perkataan Vano seolah menampar wajahnya. Seorang ibu yang tega membuat anaknya sendiri menjadi janda disaat sedang hamil dan harus menjalani hidup sebagai seorang ibu tunggal.


"Mami, Vani saat ini hanya ingin fokus dengan anak dan karier Vani. Jadi Mami tidak perlu lagi khawatir tentang Vani dan anak Vani. Vani ingin beristirahat, Mami," ucap Vani sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Oh, istirahatlah Vani. Mami pergi dulu," ucap Mami Winda yang kemudian keluar meninggalkan Vani sendirian.


Hati Vani hancur berkeping-keping dan airmatanya mengalir deras membasahi pipinya. Penyesalan sudah bisa mengembalikan apa yang sudah terlewatkan. Perasaan bencinya pad sang suami, tenyata salah. Biarlah cinta yang pernah ada akan menjadi kenangan yang indah dan akan diceritakan pada anaknya kelak agar tidak mengalami seperti dirinya.


Esoknya, Mami Winda memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan akan kembali lagi ke rumah ini saat Vani akan melahirkan. Setelah mengantar Mami Winda ke bandara, Vano menemui Vani.


"Vani, aku tahu kamu kecewa dan pasti marah pada Mami. Tapi, Mami hanya tidak ingin kamu hidup dengan anak dari wanita yang sudah menculik kamu. Hingga kita terpisah untuk waktu yang lama. 14 tahun kami tidak bisa bersamamu. Kami sangat sedih terutama Mami. Selam ini Mami bertahan hidup, dengan satu harapan. Bahwa suatu saat kamu pasti akan kembali. Mami ingin saat itu, Mami masih sehat dan kuat hingga bisa menjagamu. Menjauhkan kamu dari orang-orang yang berniat jahat. Mungkin memang, Mami sedikit terbawa emosi dan perasaan hingga membuatmu berpisah dari suamimu. Aku mohon, maafkan Mami," ucap Vano yang cukup membuat hati Vani tersentuh.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2