Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 34. Romansa di tempat kerja


__ADS_3

Yanti, masuk kerja seperti biasa. Tetapi kali ini, dia naik mobil suaminya tanpa sembunyi-sembunyi lagi. Rasanya hatinya lebih lega, karena dia sudah memutuskan untuk tidak menyembunyikan lagi statusnya sebagai istri dari Bos Kecil.


Deni membukakan pintu mobil untuk Yanti. Pemandangan itu dilihat oleh beberapa karyawan yang kebetulan datang bersamaan dengan mereka. Tetapi, hal itu tidak membuat Deni dan Yanti sungkan. Deni berhenti sejenak membuat Yanti juga ikut berhenti.


"Ada apa, Mas?" tanya Yanti penasaran.


"Sepertinya, kamu lupa sesuatu," ucap Deni sambil mengingat-ingat sesuatu.


"Aku lupa, apa? Sepertinya, semuanya sudah aku persiapkan dari awal," ucap Yanti sambil memegang jidat.


"Ikat rambut. Iya, aku sudah buat peraturan baru. Setiap pekerja lapangan harus mengikat rambut supaya terlihat rapi," jawab Deni sambil tersenyum.


"Gampang itu, Mas. Aku bisa ambil dari sana," kata Yanti sambil tertawa kecil.


"Tidak bisa. Jika rambut tidak diikat, tidak boleh masuk ke area. Kamu, duduk saja di tempatku. Temani aku bekerja." Deni menahan tawa karena usahanya pasti akan berhasil membuat istrinya hari ini berada di ruang kerjanya.


"Entar aku pinjem, Sasa atau Mina. Pasti mereka tidak lupa bawa ikat rambut," jawab Yanti sambil tersenyum meledek suaminya yang cemberut.


"Yanti ...."


Belum sempat menjawab panggilan Deni, Deni sudah terlebih dulu memeluk dan menyandarkannya ke dinding. Karena takut kepala Yanti terbentur tembok, Deni menghalanginya dengan telapak tangannya.


"Mas Deni, mau apa?" tanya Yanti dengan hati berdebar-debar.


"Kamu cantik. Beri suamimu sedikit nutrisi, oke?"


Tanpa menunggu jawaban dari Yanti, Deni mencium bibir merah Yanti dan tidak membiarkan Yanti menolaknya. Sebelum Yanti membalas ciumannya, Deni tidak akan melepaskannya. Untung saja, Yanti segera membalas ciuman suaminya dengan lembut. Beberapa detik kemudian, Deni melepaskan ciumannya.


Setelah puas keinginannya terpenuhi, Deni berniat melanjutkan langkahnya. Namun dihentikan oleh Yanti. Yanti mengambil selembar tissue basah dari dalam tasnya. Rupanya, tissue itu untuk menghapus lipstik yang menempel dibibir Deni karena ciuman itu.


"Sudah beres," ucap Yanti sambil tersenyum.


"Terima kasih, cantikku. Ganti bajunya di kantorku saja. Sekalian aku ingin memberikan sesuatu untuk kamu," pinta Deni.


"Baiklah. Tapi, jangan larang aku bekerja di lapangan," ucap Yanti dengan wajah memohon.


"Iya."

__ADS_1


Yanti mengikuti langkah suaminya setelah mendapat izin dari suaminya agar tetap diperbolehkan bekerja bersama Sasa dan Mina. Sepanjang jalan menuju ke ruang kerja Deni, berpasang-pasang mata terus memperhatikan Yanti dan Bos Kecil mereka. Mereka saling berbisik dan menerka-nerka apa hubungan mereka.


Sesampainya di ruang kerjanya, Deni meminta Yanti segera berganti pakaian. Karena ternyata Deni memiliki rencana untuk mengenalkan Yanti pada seluruh karyawan. Tentu saja agar tidak ada lagi kesalahpahaman dan juga gosip-gosip yang dapat membuat Yanti cemas.


"Istriku, kamu sudah selesai berganti pakaian?" tanya Deni sambil membolak-balik dokumen.


"Sudah, hanya tinggal mengikat rambut saja," jawab Yanti sambil berjalan ke arah Deni.


"Tidak apa-apa. Sini, aku ada ikat rambut yang bisa kamu pake." Deni menunjukan sebuah ikat rambut berwarna hitam.


"Darimana Mas Deni mendapatkan ikat rambut itu?" tanya Yanti sambil mengambil ikat rambut dari tangan suaminya.


"Nggak perlu tahu. Sini, biar aku ikatkan rambutmu. Aku juga mau bersikap romantis," kata Deni mengambil kembali ikat rambutnya.


Yanti mendekat dan berdiri membelakangi Deni. Dengan cepat Deni menarik tubuh istrinya hingga terduduk di atas pangkuannya. Dengan lembut, Deni menarik rambut istrinya sedikit demi sedikit dan perlahan-lahan hingga bisa diikat menjadi satu.


Terpampang dengan jelas, leher jenjang istrinya yang tiba-tiba membuatnya tergoda. Sebuah ciuman di leher Yanti, membuat Yanti bergidik geli. Mau berteriak, takut di dengar orang lain. Tapi jika dibiarkan, bisa-bisa tempat ini akan menjadi ranjang kedua setelah ranjang di rumah.


"Mas, aku sudah harus bekerja," bisik Yanti yang membuat Deni sadar.


"Pergilah, tapi tolong suruh Riko kesini," pinta Deni sambil tersenyum.


"Baik, Pak Deni," jawab Yanti bercanda.


Yanti keluar dari ruangan Deni lalu menuju ruang kerja Riko yang bersebelahan dengan Ruang kerja Deni. Yanti mengetuk pintu perlahan


"Masuk," suara Riko lantang.


"Selamat pagi, pak Riko," sapa Yanti sambil mendekat.


"Selamat pagi, Bu Yanti. Ada perlu apa menemui saya?" tanya Riko sambil berdiri.


"Kamu disuruh ke ruang Bos Kecil," ucap Yanti sambil membenarkan tasnya.


"Oh, segera datang," jawab Riko sambil membereskan dokumen-dokumen diatas mejanya.


Yanti dan Riko berjalan beriringan yang kemudian berpisah jalan. Yanti menuju ke ruang ganti, sedangkan Riko ke ruang Bos-nya.

__ADS_1


"Bagaimana, sudah kamu kerjakan apa yang aku minta?" tanya Deni sambil menatap Riko.


"Sudah, pak Deni. Sebentar lagi, mereka akan berkumpul di ruang istirahat," jawab Riko pasti.


"Baik, setelah mereka berkumpul, hubungi aku," perintah Deni pada Riko.


"Siap, pak."


Riko keluar dan segera meminta semua karyawan untuk berkumpul sebelum memulai pekerjaan. Termasuk, karyawan yang bekerja di lapangan.


"Yanti, kenapa Bos Kecil meminta kita semua berkumpul?" tanya Sasa sambil menatap Yanti curiga.


"Aku mana tahu. Bukankah, kita sama-sama di sini?" jawab Yanti bingung.


"Ayo, semua segera berkumpul. Jangan sampai Bos Kecil marah!" ajak pak Heri.


Mereka bertiga dan beberapa karyawan lapangan yang lain, melangkah keluar ke arah ruang istirahat. Di sana, sudah banyak karyawan yang berkumpul. Mereka kasak-kusuk tentang apa yang akan disampaikan oleh Bos Kecil mereka.


"Selamat pagi, semua." Deni mengawali pertemuan bersama ini dengan tegas.


"Selamat pagi, pak." Terdengar jawaban serentak dari semua yang hadir.


"Pagi ini, saya ingin memberikan sebuah pengumuman penting yang pasti ingin kalian ketahui kebenarannya. Bukan hanya sekedar gosip atau menerka-nerka apa dan bagaimana terjadi. Saya minta, saudari Yanti untuk ke depan," ucap Deni mengangetkan semua termasuk Yanti sendiri.


Yanti melangkah keluar barisan menuju ke depan sejajar dengan Deni dan Riko. Yanti menatap Deni penuh pertanyaan. Kenapa tidak memberitahunya tentang rencana ini?


"Kalian lihat, wanita yang berdiri di samping saya ini adalah ... istriku." Deni mengucapkan dengan jelas dan lantang sambil memegang tangan Yanti.


Mata Yanti sampai berkaca-kaca mendengar pengakuan Deni di depan semua karyawannya. Semua karyawan yang hadir, tampak berbeda-beda reaksi. Ada yang percaya, ada yang tidak. Ada yang menganggap itu hanya gurauan semata. Mereka saling membenarkan pikiran mereka masing-masing.


"Jadi, saya tidak mau ada lagi mendengar atau melihat, ada yang bergosip tentang kami di tempat kerja. Silahkan kalian bekerja secara profesional. Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Silahkan kembali bekerja. Selamat pagi." Deni mengakhiri pembicaraannya. Semua orang telah bubar menuju ke tempat kerja masing-masing.


"Terima kasih, Mas. Aku juga harus bekerja," kata Yanti sambil memandang suaminya dengan tatapan kagum.


"Oke, pergilah."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2