
"Aku mencintaimu, istriku."
Hati siapa yang tidak luluh mendengar pernyataan cinta dari sang suami, yang selama ini belum pernah menyatakan cinta padanya. Yanti, menikmati pelukan suaminya yang terasa hangat. Sehangat mentari sore ini.
"Maafkan aku."
Mata Yanti membulat lebar ketika mendengar bisikan permintaan maaf dari mulut suaminya. Janjinya untuk memaafkan Deni jika dia datang dan meminta maaf padanya, harus diterimanya. Yanti menahan senyum, saat Deni menciumi rambutnya.
"Tidakkah kamu harus mempersilahkan aku masuk?" tanya Deni berbisik di telinga Yanti.
"Bagaimana aku akan mempersilahkan kamu masuk, jika kamu masih memelukku?" jawab Yanti datar.
"Oh, maaf. Aku terlalu bersemangat," ucap Deni pelan sambil melepaskan pelukannya.
"Masuklah, ayah pasti sudah menunggumu," kata Yanti sambil melangkah pergi.
"Ayah?" gumam Deni.
Deni melangkah mengikuti Yanti meskipun Deni masih bingung dengan perkataan Yanti. Tetapi Deni mencoba bersikap biasa saja agar tidak membuat ketegangan diantara mereka kembali. Deni sudah cukup bahagia, melihat sikap Yanti padanya. Terlepas dari kepergiannya 5 bulan yang lalu, ditengah malam dan tanpa seizinnya.
Izin itu, baru Deni berikan ketika Deni tahu bahwa Yanti tinggal bersama orangtua kandungnya. Walaupun itu baru sebatas perkiraannya saja dan belum menjadi keyakinan. Karena keyakinan itu akan terbukti nanti setelah hasil tes DNA keluar.
Deni duduk di ruang tamu, sementara Yanti memanggil ayahnya. Tidak lama kemudian, pak Hadi keluar sambil tersenyum.
"Deni, kau seperti memiliki telepati saja. Tahu kalau istrimu ada di rumah ayah," kata pak Hadi sambil duduk.
"Ayah bisa saja. Deni hanya menerka-nerka saja. Kemana dia akan pergi, kalau tidak kerumah Ayah," jawab Deni sambil mencium tangan ayah mertuanya.
"Ayah hanya minta satu hal, sabarlah menghadapi Yanti. Selama ini hidupnya sudah banyak kesusahan. Sebenarnya Ayah menyesal, telah mengambilnya anak. Ayah tidak bisa memberinya kebahagiaan. Ayah malah selalu memberinya kesedihan. Deni, bisakah kamu membantu Yanti, untuk menemukan orangtua kandungnya?" tanya pak Hadi sedih.
"Ayah, Deni akan berusaha untuk menemukan orangtua kandung Yanti. Apakah Yanti memiliki kalung waktu Ayah menemukannya?" tanya Deni.
"Benar."
"Lalu dimana kalung itu?" tanya Deni penasaran.
"Ayah menjualnya pada sebuah toko emas di jalan Ratu, untuk biaya berobat ibunya. Ayah ingat, di kalung itu tertulis nama 'Vani'. Jadi mungkin saja nama dia yang sebenarnya adalah Vani," jawab pak Hadi sambil menghela napas.
"Lalu, nama Yanti. Darimana ayah mendapatkan nama itu?" tanya Deni lagi.
"Yanti itu, nama anak ayah yang sudah meninggal yang usianya sama dengan dia, waktu aku menemukannya hampir tenggelam di sungai. Sungai yang sudah menenggelamkan Yanti dan sungai itu pula yang membuatku bertemu Yanti yang sekarang," jawab pak Deni sambil menarik napas dalam-dalam.
"Apakah Ayah tidak berusaha menemukan orangtua Yanti? Setidaknya, Ayah bisa lapor polisi," tanya Deni lagi.
__ADS_1
"Itulah kesalahan Ayah. Ketika dia sadar dan dia lupa siapa keluarganya, bahkan namanya sendiri juga lupa, Ayah menginginkannya menjadi pengganti Yanti. Apakah jika orangtua Yanti tahu, jika putrinya aku ambil, mereka akan menuntut ku atas penculikan putri mereka? Ayah sadar bagaimana rasanya kehilangan seorang anak, mereka pasti sangat sedih sekali. Ayah ingin meminta maaf pada mereka."
"Ayah, penyesalan Ayah akan cukup membuat mereka tidak menuntut ayah. Deni akan berusaha membantu Ayah sebisaku," ucap Deni memberikan dukungan pada ayah mertuanya yang mulai ketakutan.
"Jangan katakan pada Yanti. Walupun dia bilang rela hidup bersama Ayah, tapi Ayah tahu dia pasti ingin hidup didalam lingkungan keluarga dia yang sesungguhnya. Ayah takut dia sedih."
"Ayah. Sebenarnya, aku sudah menemukan orangtua kandung Yanti. Tapi, perlu adanya tes DNA sebagai bukti. Tinggal melihat hasilnya dua Minggu ke depan."
"Benarkah?" tanya pak Hadi sambil tersenyum.
"Sebenarnya, dia juga orang yang Deni cari sejak kecil. Takdir ternyata telah mempertemukan kami meski dengan jalan yang agak pahit," ucap Deni sedih.
"Ini ada teh, silahkan diminum Ayah, Mas Deni. Yanti masuk dulu," ucap Yanti sambil menyajikan teh pada ayah dan suaminya.
"Yanti, tunggu," panggi ayahnya.
"Ada apa Ayah?" tanya Yanti.
"Malam ini, Deni akan menginap di sini."
"Tapi, Ayah. Dirumah ini tidak ada kamar lagi untuk dia tidur," jawab Yanti sambil menjelaskan.
"Kalian kan suami istri, kamu tentunya harus berbagi kamar dengannya," jawab pak Hadi sambil melihat ke arah Deni.
"Selama ini, Nak Deni belum pernah menginap di rumah Ayah. Masak kamu tega membiarkan suamimu tidur di kursi yang keras ini, Yanti?" tanya pak Hadi sambil memukul kursi yang terbuat dari kayu.
"Baiklah, dia boleh satu kamar denganku," jawab Yanti agak kesal.
Yanti sudah tidak bisa menolak lagi. Akhirnya dia mengizinkan, Deni satu kamar dengannya. Sementara, pak Hadi dan Deni tersenyum melihat sikap Yanti.
"Terimakasih, Ayah sudah membantuku agar bisa berdua dengannya. Ada banyak hal yang memang harus Deni jelaskan padanya," ucap Deni senang.
"Semoga berhasil."
Mereka meminum teh yang di buat Yanti. Setelah malam mulai menjelang, Deni masuk kedalam kamar Yanti untuk beristirahat. Disana Yanti sudah berbaring membelakanginya dan tidak bergerak. Tetapi Deni yakin, Yanti pasti belum tidur. Cara mengatasinya sangat mudah. Deni ikut berbaring di sampingnya, lalu dia memeluk Yanti dari belakang. Kalau dia bereaksi, berarti dia belum tidur.
"Yanti, bisakah kita bicara sebentar saja. Beri aku kesempatan sekali saja untuk meminta maaf padamu," ucap Deni berbisik pelan di telinga Yanti.
Yanti masih belum menggubris perkataan Deni. Tidak ada reaksi.
"Haruskah aku bersujud di kakimu sebagai permintaan maafku? Atau, aku harus memukul diriku sendiri sebagai penebus kesalahanku? Baiklah, karena kamu diam, berarti kamu ingin aku menghukum diriku sendiri," ucap Deni.
Deni lalu melepaskan pelukannya. Lalu dia duduk perlahan dan bersiap memulai aksinya. Deni memejamkan matanya sebelum memulai. Tamparan pertama mendarat di pipinya yang menimbulkan bekas telapak tangannya sendiri.
__ADS_1
Deni bersiap untuk tamparan yang kedua. Tetapi, tiba-tiba seseorang menarik tangannya. Deni membuka matanya dan melihat Yanti sedang menatapnya sedih sambil memegang tangannya.
"Yanti, maafkan aku. Aku hanya ingin menjelaskan semua padamu. Aku tahu, aku salah dan aku ingin kamu bisa memberiku kesempatan untuk bisa memulai lagi dari awal," ucap Deni penuh harap.
Yanti hanya mengangguk pelan.
"Sakitkah?" tanya Yanti sedih.
"Tidak apa-apa. Lebih sakit jika kamu tidak mau bicara padaku," jawab Deni sambil tersenyum. "Aku akan bercerita sambil tiduran."
Deni merebahkan diri dengan posisi setengah bersandar. Sedangkan Yanti mengikuti arahan Deni berbaring di dadanya. Yanti merasakan kenyamanan ketika Deni membelai rambutnya dengan lembut.
Deni mulai bercerita dari awal dia mencurigai Yanti sebagai simpanan ayahnya hingga rencana jahatnya menjebak Yanti agar menjadi istrinya. Bahkan kejadian malam itu, karena Deni cemburu pada ayahnya sendiri.
Yanti agak kesal saat mendengar pengakuan Deni. Apalagi tahu jika Deni menikahinya bukan karena cinta. Pernikahan mereka, benar-benar tanpa adanya cinta. Deni menyadari jika Yanti kesal padanya. Makanya dia mempererat pelukannya bahkan dia mencium kening Yanti untuk membuatnya tenang.
"Tapi, Aku mulai mencintaimu saat aku lihat kamu memiliki gantungan tas. Gantungan yang aku berikan pada Vani, gadis kecil yang pernah di culik ibuku," kata Deni lebih membuat Vani kaget.
"Gantungan tas? Vani? Apakah kamu adalah orang yang memberiku gantungan itu, Kakak?"
"Benar, aku yang memberikan kamu gantungan itu. Dan aku pernah berjanji bahwa kita pasti akan bertemu lagi," kata Deni sambil tersenyum manis.
"Terimakasih sudah pernah menyelamatkan aku waktu itu. Meski aku masih tidak bisa bertemu ayah dan ibuku," jawab Yanti sambil membalas senyum Deni.
"Aku akan memperbaiki apa yang pernah ibuku lakukan padamu. Aku berjanji, akan mempertemukan kamu kembali dengan orangtua kandungmu," ucap Deni penuh semangat.
"Tapi, aku sudah lupa wajah mereka. Aku tidak bisa lagi mengingat apapun tentang mereka. Bagaimana aku bisa mengenali jika itu mereka?" tanya Yanti sedih.
"Jangan khawatir, aku memiliki cara tersendiri untuk bisa mempertemukan kamu dengan mereka. Aku hanya ingin, kamu memaafkan aku dan memberiku kesempatan untuk bisa bersamamu selamanya. Cintai aku, seperti aku mencintaimu," ucap Deni penuh harap.
"Tentu, aku akan berusaha mencintaimu sepenuh hatiku. Tapi ...."
"Tapi apa? Aku janji, aku tidak akan memaksakan kehendakku padamu lagi. Aku akan tunggu sampai kamu siap menjadi istriku sepenuhnya," jawab Deni.
"Bukan itu, aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Tapi, aku perlu belajar. Dapatkah Mas Deni mengajariku?" tanya Yanti .
"Tentu saja. Aku juga berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Jika aku ada salah, kamu bisa ingatkan aku."
Pembicaraan mereka mulai menghangat ketika Deni mulai berani mencium pipi Yanti. Yanti yang kaget terlihat malu-malu tidak berani menatap Deni. Hanya terlihat senyum sepasang suami istri itu tanpa beban lagi.
Akankah malam ini, menjadi malam yang indah bagi keduanya?
Bersambung
__ADS_1