
"Riko, siapa yang memintamu datang, membawa pakaian ganti pula?" tanya Deni kesal.
"Ibu yang minta, Pak Deni," jawab Riko agak gugup saat melihat Deni kesal padanya.
"Ibu, ibu siapa?" tanya Deni lagi.
"Ibu Yanti, siapa lagi istrinya pak Deni," jawab Riko seolah mengejek Deni.
"Kenapa tidak bilang dari tadi, kalau istriku yang minta?" tanya Deni sambil berbisik pelan.
"Pak Deni, langsung marah-marah duluan. Bagaimana saya bisa memberitahu Pak Deni?" jawab Riko juga setengah berbisik.
"Ya sudah, kamu langsung saja ke tempat kerja. Mungkin aku akan berangkat agak siangan," perintah Deni.
"Siap, pak Bos. Apa ibu akan kembali bekerja?" tanya Riko kemudian.
"Kalau istriku bekerja, aku akan pastikan kamu kamu ganti pekerjaan," jawab Deni sinis.
"Apa?" ucap Riko kaget.
Seharusnya aku tidak usah bertanya, batin Riko.
Dengan perasaan sedih, Riko pergi sesuai perintah Deni. Perasaannya tidak tenang, jika benar Yanti bekerja kembali dan menggantikan posisinya sebagai asisten, dia bisa apa. Dia pasti hanya bisa menerima. Sementara Yanti keluar hendak menyapa Riko. Tetapi ternyata Riko sudah tidak ada di disana.
"Mas, pak Riko mana? Baru aku buatkan kopi, kok sudah hilang?" tanya Yanti sambil membawa kopi diatas nampan kecil.
"Pak Riko? Kenapa panggil 'Pak'?" tanya Deni sambil menatap Yanti.
"Kenapa kaget? Dia atasan aku di tempat kerja," jawab Yanti.
"Tapi, dia itu bawahanku. Harusnya, dia juga bawahanmu?" tanya Deni masih dengan sikap kaget.
"Ya sudah. Kita tidak akan bertengkar hanya karena aku panggil Riko 'Pak', bukan?" tanya Yanti.
"Tidak akan. Aku hanya kaget saja. Sudah, sini kopinya, biar aku saja yang minum," jawab Deni sambil meraih secangkir kopi di nampan yang di bawa Yanti.
Yanti tersenyum melihat sikap Deni. Deni duduk sambil meminum kopi yang tadinya untuk Riko. Yanti duduk di kursi sebelahnya sambil terus memperhatikan Deni.
"Mas, nanti aku ikut kamu pulang," ucap Yanti datar.
"Apa, kamu mau ikut aku pulang, ke rumah kita?" tanya Deni meyakinkan diri.
"Iya, pulang."
"Oke. Aku ganti pakaian dulu. Kita pulang sekarang," ucap Deni lalu segera pergi ke kamar Yanti untuk berganti pakaian.
Saat itulah, pak Hadi datang menghampiri Yanti. Dia duduk disebelah Yanti.
"Yanti, Ayah senang kamu sudah bisa memaafkan Deni. Ayah harap, kalian tidak akan bertengkar lagi. Jika ada masalah, selesaikan secepatnya. Jangan malah pergi dari rumah," nasehat pak Hadi.
"Iya, Ayah. Yanti mengerti," jawab Yanti sambil tersenyum pad ayahnya.
"Hari ini mau pulang?" tanya pak Hadi tampak sedih.
"Iya, Ayah. Ayah, kenapa Ayah tidak menikah lagi saja. Biar dimasa tua Ayah ada yang menemani Ayah. Atau Ayah tinggal saja bersama kami?" tanya Yanti ikut sedih.
__ADS_1
"Yanti, mana ada wanita yang mau sama Ayah? Ayah lebih senang sendirian?" jawab pak Hadi.
"Ayah, jika nanti, Ayah menemukan wanita yang cocok dengan Ayah, Yanti berharap Ayah akan bisa membina keluarga kembali. Ibu pasti juga akan senang, saat melihat Ayah bahagia," ucap Yanti penuh harap.
"Lihat saja, nanti," jawab pak Hadi.
Yanti tersenyum. Meskipun jawaban ayahnya cukup sederhana, tetapi jawaban itu mengandung harapan.
"Ayah, Yanti mau bantu Mas Deni bawa barang-barang Yanti," ucap Yanti hendak beranjak dari kursinya.
"Tidak perlu. Semua sudah aku bawa keluar," sahut Deni.
"Cepet amat, Mas," ucap Yanti sambil tertawa.
"Lah iya. Kan tinggal bawa saja," jawab Deni tersenyum.
"Ayah, Yanti pamit pergi. Ayah sehat-sehat ya. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Yanti," ucap Yanti sambil mencium tangan pak Hadi.
"Iya, kamu juga ingat pesan Ayah," jawab pak Hadi.
"Ayah, Deni juga pamit bawa Yanti," ucap Deni sambil mencium tangan ayah mertuanya.
"Jaga Yanti dengan baik. Jangan buat Yanti sedih. Jangan sampai dia pergi dari rumah lagi," kata pak Hadi.
"Baik, Ayah. Deni akan menjaga Yanti lebih baik lagi. Agar dia tidak berpikir untuk pergi dari sisi Deni," ucap Deni untuk meyakinkan ayah mertuanya.
Yanti dan Deni keluar dari rumah pak Hadi. Yanti mencoba membantu Deni membawa tas, tetapi Deni melarangnya. Deni tidak membiarkan Yanti membantunya.
"Ini tugas laki-laki. Tugas kamu hanya tersenyum padaku," kata Deni disambut tawa kecil Yanti.
Sampai di rumah, Deni segera menurunkan tas dan koper Yanti dan dibawanya masuk kedalam rumah. Yanti memencet bel sebelum dia mengamati keadaan sekitar rumah Deni yang masih sama seperti dulu. Tidak berapa lama, bibik membukakan pintu. Bibik tersenyum melihat istri majikannya sudah kembali.
"Selamat datang kembali Nyonya," sambut bibik sambil tersenyum. "Tuan muda, biar bibik yang bawa kekamar Nyonya."
"Tidak perlu, Bik. Biar aku sendiri yang bawa ke kamar," jawab Deni bangga.
"Nyonya, rumah ini terasa sepi tanpa Nyonya. Tuan muda sering melamun sendirian. Bibik sangat kasihan melihatnya. Tuan hampir tidak pernah tersenyum. Tapi hari ini, Tuan muda senyumnya sumringah sekali. Pasti karena ada Nyonya," cerita bibik sambil berjalan masuk.
"Aku juga kangen suasana rumah ini. Kangen sama bibik juga," ucap Yanti sambil memegang tangan Bibik.
"Nyonya istirahat saja dulu, bibik akan membuatkan makan siang." Bibik segera pergi menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang.
Yanti masih berdiri melihat-lihat rumah Deni yang masih sama seperti dulu. Sama sekali tidak ada yang berubah.
"Yanti, kamu jadi pergi kuliah?" tanya Deni yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.
"Tidak jadi. Mas Deni pergi kerja saja, Yanti di rumah saja," jawab Yanti pelan.
"Bagaimana kalau kita pergi bersama ketempat kerja seperti dulu, kamu pasti suka," Deni menawarkan sesuatu yang bisa menarik hati Yanti.
"Benarkah? Tapi, aku kesana tidak mau kalau sebagai istri Bos. Aku maunya karyawan biasa. Aku mau bertemu teman-teman aku," ucap Yanti penuh semangat.
"Boleh saja. Tapi ingat, jangan beri kesempatan laki-laki lain mendekatimu," ucap Deni mulai posesif.
"Iya, tapi aku kesana dalam rangka apa?"
__ADS_1
"Bilang saja, ingin bekerja kembali. Bisalah cari alasan apa gitu," jawab Deni sambil memeluk Yanti. "Kita pergi sekarang?"
"Tunggu bibik buatkan makan siang kita. Nanti kita bawa saja ke tempat kerja," jawab Yanti sambil melepaskan pelukan suaminya.
"Mau kemana?"
"Bantu bibik sebentar."
Yanti berjalan menuju ke arah dapur. Sementara Deni duduk di ruang keluarga sambil sesekali menarik napas panjang. Rasanya dia masih belum percaya, jika saat ini, dia bisa hidup bersama Yanti lagi.
"Mas, sudah siap," panggil Yanti.
"Cepet banget nyiapin makan siangnya?" tanya Deni.
"Bibik tadi buatkan nasi sama lauknya rendang. Hmm, baunya enak," ucap Yanti senang.
Mereka segera berangkat menuju ketempat kerja. Ketika sampai di tempat biasa Yanti turun, ternyata Deni tidak mau menurunkan dia. Yanti sempat panik, tapi dia ikut saja keinginan suaminya. Deni menghentikan mobilnya di tempat parkir khusus. Dia kemudian turun dan membukakan pintu untuk Yanti. Yanti turun dari mobil Deni dengan hati yang penuh kecemasan, takut jika ada yang melihat.
"Masuklah dulu. Sebentar lagi waktunya teman-teman kamu istirahat. Taruh saja milikku di dalam mobil. Nanti biar Riko yang mengambilnya," ucap Deni terlihat serius dan berwibawa.
Yanti meletakan makan siang suaminya di dalam mobil. Lalu dia melangkah pergi meninggalkan suaminya yang terus memandanginya dengan tatapan penuh kasih sayang. Selang 5 menit, Deni baru melangkah menuju ke ruang kerjanya.
Yanti bergegas menuju ruang ganti karyawan. Dia mengamati keadaan sekitar sambil mengenang masa lalu. Setelah itu dia berjalan menuju ruang makan karyawan yang bersebelahan dengan ruang istirahat karyawan.
Yanti duduk di tempat yang biasa dia tempati bersama kedua temannya. Yanti menyandarkan kepalanya diatas meja makan sambil menunggu kedatangan kedua sahabatnya. Entah bagaimana, Yanti malah tertidur.
Beberapa saat kemudian, suasana tampak cukup ramai. Terlihatlah dua orang gadis sedang tertegun di samping tempat duduk yang biasa mereka gunakan. Mereka melihat dan berusaha memastikan siapa yang tidur di tempat duduk mereka.
Setelah yakin jika orang yang tidur di tempat mereka adalah Yanti, mereka terlihat gembira. Mereka pelan-pelan membangunkan Yanti.
"Yanti, Yanti ...." panggil kedua temannya hampir bersamaan.
Yanti menggeliat bangun. Ternyata tadi dia tertidur. Matanya mulai mengerjap-ngerjap sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Yanti tersenyum saat melihat Kedua sahabatnya sudah ada di depannya.
"Sasa, Mina," sapa Yanti.
"Yanti, kamu selama ini kemana?" tanya Sasa sambil memeluk Yanti diikuti Mina.
Mereka berpelukan untuk beberapa detik. Lalu mereka duduk berhadapan seperti dulu.
"Kamu kok bisa masuk ke ruang ini. Kamu kan bukan karyawan sini lagi?" tanya Mina penasaran.
"Aku diterima karena di sini lagi, bareng kalian. Seneng dong?" jawab Yanti bersemangat.
"Setelah menghilang begitu lama, kamu masih diterima kerja di tempat ini?" tanya Sasa juga ikut penasaran.
"Apa kamu pake orang dalam?" tanya Mina menambahkan pertanyaan Sasa.
"Jujur saja, aku memang paket orang dalam. Tapi, kalian tidak perlu tahu siapa. Ini aku tadi bawa makanan dari rumah. Kalian pasti suka," jawab Yanti sambil membuka kotak makanannya.
Bau harum daging rendang tercium ke sekitar nya. Sasa dan Mina saling berpandangan. Yanti tahu jika kedua sahabatnya ada banyak yang pasti ingin mereka tanyakan padanya. Tetapi tampaknya, mereka menyimpannya didalam hati. Biarlah, jadi dia tidak akan bingung mencari jawaban yang tepat.
Yanti sangat senang, melihat kedua sahabatnya sangat menikmati makanan yang dia bawa. Yanti ikut makan sambil sesekali bercanda dengan mereka.
"Yanti," sapa seseorang yang membuat Yanti mengehentikan makannya.
__ADS_1
Bersambung