
Ed tampak berlari, menuju ke sebuah stasiun kereta api. Nafasnya tersengal. Dia langsung melajukan mobilnya ke stasiun itu, begitu Tria memberi tahu kalau Bella akan pergi ke Yogyakarta hari ini.
"Bagaimana bisa kau pergi sebelum aku memberimu jawaban" Gerutu Ed sepanjang jalan.
Pria itu langsung menuju ke lobby. Mencari keberadaan gadis yang beberapa waktu ini benar-benar mengganggu hidupnya. Pengantar hanya bisa mengantar sampai ke lobby stasiun.
Mata tajam Ed menjelajah seluruh area lobby stasiun.
"Bella..." Teriak Ed.
Begitu melihat gadis yang dicarinya. Bella sudah bersiap masuk ke peron. Ketika Ed memanggilnya. Berbalik dan dilihatnya Ed yang nampak ngos-ngosan. Eva langsung menatap tajam pada Tria, yang langsung nyengir. Membuat kode "peace" dengan dua jarinya.
"Mereka perlu di beri kesempatan" Bisik Tria membawa Eva menjauh.
"Kalau Ed muncul. Aku sudah tahu hasilnya"
"Itu berarti Bella sangat mencintai Ed"
"Tapi Ed tidak"
"Kita lihat dulu. Ed mulai berubah akhir-akhir ini"
Eva memutar matanya malas.
"Ada apa Om kemari?" Tanya Bella judes.
"Astaga Bella. Jangan ketularan galaknya para tantemu"
"Tante, mereka teman Bella" Sembur Bella marah.
Tante yang dimaksud Ed ya para wanitanya temannya. Eva, Aya dan Astrid.
"Sama saja. Gap umur kalian terlalu jauh untuk dipanggil kakak"
"Memang kita tidak?"
"Alamak, salah ngomong"
"Kita berbeda cerita. Tidak bisa disamakan dengan cerita pertemanan kalian"
"Soal umur sama saja. Sudah mau apa? Keretaku 15 menit lagi mau berangkat" Bella mengangkat kopernya.
"Eits mau kemana? Nyonya Edwin Wiratama tidak akan pergi ke mana-mana"
Ed langsung merebut koper Bella. Gadis itu tentu terkejut.
"Nah pergilah. Biar telanjang kamu sampai sana"
"Edwinnnnn!" Bella berteriak saking kesalnya. Berusaha merebut kopernya lagi.
"Tidak akan kuberikan. Kecuali kau membatalkan kepergianmu ke tempat sialan itu. Enak saja mau tinggal di asrama. Memangnya rumahku kurang nyaman apa. Sampai kamu milih tidur berdesakan ditemani nyamuk. Plus panas gak ada AC...
"Sudah ngomelnya?" Tanya Bella.
"Sudah...
"Aku mau ke mana juga itu urusanku. Bukannya urusan Om. Om siapanya Bella, sok ngatur- ngatur Bella"
"Aku calon suamimu Bella"
"Calon suami apa. Cinta juga enggak. Melamar juga enggak"
Demi mendengar ucapan Bella. Ed tersenyum.
"Jadi Nona Bella Aldavita maukah kamu menikah denganku, Edwin Wiratama"
Ed berlutut, menekuk satu kakinya. Dengan tangan terulur. Sebuah cincin cantik berada dalam kotak berwarna hitam.
Di sisi lain Eva langsung menepuk dahinya.
"Habis sudah rencanaku"
Sementara disampingnya, Tria tersenyum. Menatap ke arah Ed dan Bella. Sedang pengunjung dan calon penumpang yang lain langsung berkerumun. Untuk melihat lamaran dadakan itu.
__ADS_1
"Terima...terima....terima...."
Teriak para pengunjung dan calon penumpang itu.
"Aku tidak mau. Om tidak mencintai Bella"
"Bella sayang. Apa masih kurang bukti cintaku ke Bella. Aku sudah berhenti dari semua hal buruk itu. Aku hanya mempunyai kamu dan hanya mencintai kamu"
Beberapa pria langsung bersuit mendengar ucapan Ed.
"Terima...terima...terima..."
Teriakan mereka semakin membahana di lobby stasiun itu. Bella jelas bingung. Menatap pada Ed yang masih berlutut di hadapannya.
"Apa benar Om mencintai Bella?"
"Dengan seluruh hatiku, Bell. I love you, with all my heart and soul"
"Gombal!"
"Ayolah Bell. Berilah aku kesempatan. Menikahlah denganku. Jika aku sampai menyakiti hatimu. Kau boleh melakukan apapun padaku"
"Kalian dengar. Aku bisa melakukan apapun padanya, jika dia menyakitiku. Kalian merekamnya?" Tanya Bella. Dan beberapa orang yang merekam lamaran Ed itu mengangguk.
"Baik, dengarkan kalian semua. Jika suatu hari, kalian mendengar tuan Edwin Wiranata bangkrut berarti dia sudah menyakitiku, Bella Aldavita"
Ed seketika mengerutkan dahinya.
"Maksudnya?"
"Akan kurebut habis hartamu. Juga aset pribadimu, jika kau berani menyakitiku" Bisik Bella.
"Aku menerima lamaranmu" Jawab Bella. Mengulurkan jarinya untuk dipasangi cincin. Sorak sorai langsung terdengar. Saat Ed memasangkan cincin di jari Bella. Meski masih dengan tampang setengah bingung mendengar ucapan Bella.
Dari jauh Eva langsung memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Habis kau, Bell. Ed hanya akan mempermainkanmu" Panik Eva.
"Kenapa kamu cemas begitu. Apa kamu tidak dengar apa yang Bella katakan"
"Sudahlah nanti saja. Mereka datang"
"Bu Camer. Lamaran resmi menyusul" Ucap Ed penuh kemenangan.
Sedang Eva langsung melayangkan tatapan tajamnya.
"Kau akan illfeel punya mertua sepertiku" Balas Eva cepat.
"Aduh Tria. Kau harus cepat-cepat menikahinya"
"Tentu saja. Eehh tapi biar apa?"
"Biar kegalakannya bisa disalurkan di kasur"
"Edwiiinnnnnn!!!"
Eva berteriak. Sedang Ed langsung kabur menyeret Bella bersamanya.
"Dasar mantu sialan!" Maki Eva.
"Va, serius kamu jadi camernya Ed"
"Lah kalau menurut KK sih begitu. Kenapa?"
"Aseeeekkkk, berarti gue bapak mertua Ed. Ada kans gue bisa ngerjain Ed. He...he.." Cengir Tria.
Eva langsung membatin, bisa kacau ini dunia per-mertuaan kalau mantu dan mertuanya model Ed dan Tria.
"Mau kemana?"
"Pulanglah"
"Anterin aku ke tempat Kak Eva"
__ADS_1
"Kan kita sudah lamaran"
"Sebelum menikah. Kita tidak boleh serumah. Meski Om sudah melamarku"
"Yah, kok gitu Bell"
"Mau apa nggak. Kalau nggak ni Bella balikin cincinnya"
"Eh, jangan dong" Ed menahan tangan Bella yang ingin melepas cincin lamaran yang baru saja ia pasangkan.
"Makanya anterin ke tempat Kak Eva"
"Mertua kok manggilnya Kak" Batin Ed lucu.
Keduanya mulai memasuki parkiran apartemen Eva.
"Oh ya Bell, maksud perkataan Bella tadi apa?"
"Yang mana?"
"Soal buat bangkrut aku.."
"Oh, Bella mau semua aset Om jika Om berani nyakitin Bella, ninggalin Bella. Juga Bella bakal...Bella membuat gerakan memotong...aset Om. Biar Om gak bisa ngapa-ngapain" Ancam Bella.
Ed langsung merapatkan pahanya. Merasa ngilu duluan, mendengar ancaman Bella.
"Wahh, sejak kapan kucing imutnya berubah jadi singa betina begini" Batin Ed.
"Makanya jangan main-main sama Bella sekarang"
Ed langsung mende*** ketika Bella menyentuh miliknya dari luar celananya.
"Bella..." Rengek Ed. Sejurus kemudian pria itu langsung meraih tengkuk Bella. Mencium bibir Bella penuh nafsu.
Dalam sekejap keduanya sudah terlibat dalam pagutan yang mulai memanas.
"Stop...
Bella mendorong jauh dada Ed. Lantas segera turun dari pangkuan Ed. Membuat pria itu melongo.
"Bell...dia bangun"
"Salah sendiri. Mancing. Bye...Bella mau masuk dulu" Ucap Bella sambil merapikan kemejanya yang nyaris terbuka. Menunjukkan isinya yang benar-benar menggoda Ed.
Pria itu kembali dibuat tidak bisa berbicara, melihat Bella dengan santainya meninggalkan dirinya.
"Bella Aldavita....
Raung Ed dalam mobilnya. Merasa dikerjai oleh kucing imutnya. Ah tidak, sekarang Bella sudah jadi kucing liarnya. Mengingat betapa pandainya gadis itu tadi membalas ciumannya.
" Kau sebenarnya juga merindukanku, kan Bell" Batin Ed menyeringai sambil memejamkan matanya. Membayangkan tubuh seksi Bella yang masih dalam masa pertumbuhan. Sedang bergerak di atas tubuhnya.
Dan tanpa di duga, di bawah sana. Milik Ed langsung bereaksi.
Pria itu menggerutu. Melajukan mobilnya keluar dari parkiran apartemen Eva. Dia harus segera pulang untuk mengganti celananya yang basah.
"Efek kelamaan puasa ya begini"
Batin Ed kesal. Keluar dari mobilnya. Saat itulah, ekor matanya melihat seseorang yang begitu familiar. Tampak berbicara serius dengan seorang pria yang Ed tahu adalah putra pengacara Nasution. Pengacara keluarga Carter.
"Apa kau sekarang mau bermain curang Paman?" Batin Ed sambil menyeringai.
Mengeluarkan ponselnya lalu diam-diam merekam pertemuan dua orang itu.
"Tapi ini aneh, kenapa mereka bertemu di gedung apartemenku" Guman Ed.
Bukankah dengan begitu akan ada resiko Ed mengetahui pertemuan mereka. Pria itu sejenak berpikir. Hingga sampai pada satu kesimpulan.
"Apa rencanamu sudah kau mulai, Ann"
Ed teringat Annelka pernah mendiskusikan sebuah rencana untuk menjebak sang Paman. Mengingat Paman Annelka seperti belut, licin dan sulit sekali untuk ditangkap. Begitu lihai dalam hal menghindar dan pintar sekali berkilah.
"Ini akan jadi permainan yang menarik kalau begitu"
__ADS_1
***