Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Berakhir Sudah


__ADS_3

"Berhati-hatilah. Ricky mengatakan ada kemungkinan kalau Duta masih ingin melukai kalian berdua"


Satu pesan dari Tria membuat Annelka selalu waspada. Dia bahkan membawa Glock-nya di laci nakas samping tempat tidurnya.


Malam itu semua terasa begitu dingin. Annelka tidur sambil memeluk sang istri. Aya yang merasa sedikit kedinginan. Semakin mengusakkan tubuhnya ke tubuh Annelka. Mencari kehangatan.


Sementara itu, Astrid yang terbangun di tengah malam. Sedikit tertegun melihat papa mertuanya, duduk melamun di balkon lantai dua rumah mereka. Menatap rembulan malam sambil sesekali menghela nafasnya.


"Pa, kenapa di sini? Dingin, Pa"


"Kenapa belum tidur?" Fabian balik bertanya. Di usia kandungan Astrid yang sudah delapan bulan. Wanita itu terlihat bertambah cantik. Fabian benar-benar bersyukur. Semua omongan yang mengatakan sang menantu mandul, tidak terbukti. Kehamilan Astrid mematahkan semua tuduhan itu.


"Ngambil minum, Pa. Lagian sudah susah tidur. Nggak nyaman" Jawab Astrid.


Fabian tertawa. Mengusap lembut perut besar sang menantu.


"Mereka merepotkan ya?"


"Tidak. Tentu saja tidak. Enam tahun Astrid menunggu. Bagaimana bisa Astrid mengatakan kalau mereka merepotkan"


Fabian tertawa. Satu lagi hal yang dia suka dari Astrid. Pola pikir Astrid begitu dewasa. Selalu bisa menyikapi semua masalah dari sisi yang berbeda.


"Kenapa Papa belum tidur?"


"Tidak bisa tidur"


"Ada masalah?"


"Hanya teringat masa lalu. Semua bisa berubah karena banyak hal" Jawab Fabian ambigu.


Astrid hanya manggut-manggut mengiyakan.


"Mau dengar sebuah cerita?" Tanya Fabian tiba-tiba.


"Cerita apa, Pa?" Tanya Astrid antusias.


"Cerita Papa waktu muda dulu"


"Mau bernostalgia ini ceritanya. Galau gak bisa tidur"


Fabian terkekeh mendengar ucapan sang menantu.


*****


"Aku menyesal hanya membiarkan dua sahabatku saling berkelahi sesama sendiri. Lebih menyesal lagi, ketika satu dari mereka berubah menjadi seorang pria yang begitu mengerikan. Mau melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya"


Ucapan sang papa mertua membuat Astrid merasa rasa bersalah di hati Fabian begitu besar. Yang menjadi pertanyaan Astrid, dia jadi penasaran dengan sosok teman papa mertuanya.


Yang Fabian ceritakan dulu adalah orang yang baik hati juga penyayang. Berhati lembut juga penyabar. Namun semua berubah karena cintanya yang tidak bersambut.


"Melamun" Ucapan Farris membuat Astrid terlonjak.


"Mas Farris, mengagetkanku" Gerutu Astrid.


"Idih marah. Bumilnya tambah cantik deh kalau marah"


"Gombal!" Jawab Astrid pura-pura kesal.

__ADS_1


"Eh beneran lo. Lagian kamunya melamun. Di panggil dari tadi tidak nyahut. Mikirin apa sih?"


"Nggak ada. Cuma kepikiran sama ceritanya Papa soal sahabatnya. Yang berubah karena cinta"


"Paman Duta?"


"Tidak tahu. Papa tidak bilang namanya siapa. Memang orang itu teman Papa"


"Sahabat Papa hanya ada dua. Papa Aya dan Paman Duta. Paman Duta mencintai Farida, mama Aya. Tapi mama Aya tidak. Memilih menikah dengan Mario, ayah Aya. Juga karena perjodohan. Paman Duta sakit hati lalu berubah. Bahkan seperti yang kau lihat. Dia sanggup melakukan hal kejam itu pada keluarga Aya. Padahal Mario adalah kakak angkat paman Duta"


"Astaga, jadi ceritanya seperti itu" Astrid menutup mulutnya tidak percaya.


"Itu yang aku dengar. Yang sebenarnya, aku tidak tahu" Jawab Farris ragu. Keduanya lantas terdiam. Melihat langit senja yang perlahan berubah menjadi gelap. Meninggalkan warna jingga khas waktu senja.


"Sudah malam, ayo pulang" Ajak Farris.


"Mampir ke tempat Aya yuk. Papa di sana. Tadi dia mengirim pesan. Ingin menjenguk Aya dan Annelka"


"Oke"


***


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Annelka. Wajah paniknya berusaha ia tutupi. Berusaha setenang mungkin. Melihat bagaimana takutnya Aya berada dalam genggaman Duta.


Satu tangan Duta menahan leher Aya. Satu lagi bersiap dengan satu pistol yang ada di pelipis Aya. Tidak tahu bagaimana, pria itu bisa masuk ke ruang rawat Aya.


"Yang kuinginkan? Alihkan semua asetmu kepadaku" Ucap Duta. Terus mengencangkan kunciannya pada leher Aya. Membuat wanita itu sedikit tersengal. Annelka jelas cemas melihat keadaan Aya.


"Kau pikir aku akan menuruti keinginanmu?" Annelka berusaha mengulur waktu. Dia pikir bagaimana ia bisa membebaskan Aya dari cekalan Duta.


"Sudah kuduga. Kalian semua sama saja. Jadi jangan salahkan aku jika aku melukainya atau...melenyapkannya sama seperti mereka" Duta menyeringai saat mengucapkan kata mereka.


"Ann,...." Aya berucap tanpa suara. Dia cukup takut dengan keadaannya sekarang. Namun yang lebih dia takutkan adalah kandungannya. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada calon anaknya.


"Cepat putuskan Annelka! Atau dia akan bernasib sama seperti keluarganya"


Deg, hati langsung berdebar. Mengingat kembali pada apa yang dia lihat 15 tahun lalu.


Bersamaan dengan itu. Pintu terbuka. Memperlihatkan Fabian yang langsung shock melihat pemandangan yang ada di depannya.


"Apalagi yang kau lakukan, Duta" Teriak Fabian marah.


"Hallo, brother. Seperti yang kau lihat. Berusaha mendapatkan kembali apa yang seharusnya jadi milikku" Jawab Duta santai.


"Sejak awal, mereka bukan milikmu. Sadarlah" Fabian berusaha membujuk. Dia cukup khawatir melihat rona pucat di wajah Aya.


"Aku punya Glock tapi di laci itu" Bisik Annelka pada Fabian.


"Dia tidak akan bisa dilumpuhkan tanpa senjata" Fabian balas berbisik. Dia sangat tahu bagaimana karakter Duta. Pria itu tidak akan berhenti. Meski dia tahu yang dilakukannya salah.


"Berusahalah untuk mengambilnya. Aku akan mengalihkan perhatiannya. Istrimu sudah cukup ketakutan. Itu bisa membahayakan janinnya"


"Aku akan penuhi permintaanmu. Tapi lepaskan Aya" Annelka berucap.


"Kau pikir aku bodoh apa?" Duta balik membalas.


"Wanita ini kulepaskan dan kalian akan membunuhku" Tambah Duta.

__ADS_1


"Kalau begitu lepaskan dia. Dan kau akan kami lepaskan"


Duta tertawa terbahak-bahak. Dia tahu semua itu bohong.


"Apa kau tidak ingat dia anak Farida?"


"Justru karena dia anak Farida. Aku sangat membencinya. Seharusnya wanita ini bisa jadi putriku...tapi nyatanya dia lebih memilih ayahnya" Teriak Duta. Reflek pria itu menekan moncong pistolnya ke pelilis Aya. Membuat Aya memejamkan mata saking takutnya.


"Kalian benar-benar membuatku marah!" Duta kembali berteriak. Tepat ketika itu Annelka bergerak cepat. Menarik tubuh Aya dari cekalan Duta. Annelka langsung memutar badannya. Menyembunyikan tubuh Aya dalam pelukannya.


"Kali ini kau tidak boleh terluka lagi" Batin Annelka. Bersamaan dengan itu, dua bunyi tembakan terdengar sekaligus. Annelka mengeratkan pelukannya pada Aya. Bersiap untuk kemungkinan terburuk sekalipun.


"Papa....


Terdengar teriakan Astrid. Yang langsung membuat Aya dan Annelka menatap ke arah Fabian.


"Aku sungguh tidak menyangka. Ini akhir dari persahabatan kita"


Fabian berucap lemah. Menatap lurus pada Duta yang malah tersenyum. Tiba-tiba saja tubuh keduanya ambruk bersamaan.


"Papa..." Kembali Astrid berteriak.


"Om, bangun Om" Annelka berteriak. Membantu Fabian, meletakkan kepala Fabian di pahanya. Mereka lalu menatap ke arah Duta.


"Aku cukup senang, setidaknya kau sendiri yang mengakhiri hidupku. Bukan mereka" Duta berucap lirih.


Fabian hanya terdiam. Di sebelahnya Astrid dengan panik menghubungi Farris.


"Aku iri dengan kalian. Bahkan di saat terakhirpun ada yang bersedia menahan peluru itu untukmu. Sedangkan aku, dari awal sampai akhir. Aku tetap sendiri"


Kali ini Fabian mulai menitikkan airmata.


"Itu semua salahmu. Kau sendiri yang tidak mau berdiri bersama kami. Kesendirianmu adalah pilihanmu. Jika kau mau bersama kami...kau akan merasa bahagia memiliki putri secantik dia juga putra sebaik Farris. Tapi kau....


"Iya, semua memang kesalahanku. Sudah cukup aku merasa sendiri. Aku tidak ingin sendiri lagi" Duta pelan memejamkan matanya.


"Duta...jangan kau pejamkan matamu...arrgghhh....Aya tolong dia"


Pinta Fabian pada Aya yang duduk memeluk kakinya. Gemetaran.


"Tidak perlu. Tanganmu terlalu baik untuk menyentuhku" Duta berucap.


"Aku sungguh iri pada kalian. Sejak dulu. Kenapa aku tidak bisa memiliki apa yang kalian miliki. Kehangatan sebuah keluarga. Aku iri karena kalian memiliki itu semua"


Batin Duta sambil menatap langit-langit kamar VIP tempat Aya dirawat. Tidak dia hiraukan rasa sakit di dadanya. Hingga perlahan pria itu menutup matanya. Bersamaan dengan teriakan Fabian memanggil namanya. Namun sama sekali tidak dia dengar.


"Berakhir sudah"


Bisik Duta dalam hati. Bersamaan dengan tangan pria itu, terkulai lemah di samping kiri dan kanannnya.


***



Kredit Intagram @via_soleil.94


Pangeran berkuda putih,

__ADS_1


Begitu caption di fotonya 😍😍😍


***


__ADS_2