Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Tua Tapi Seperti Anak Kecil


__ADS_3

Ben tampak terdiam. Setelah mendengar cerita dari Ronald. Ronald juga menunjukkan foto Aaron, sepuluh tahun yang lalu.


"Ini adalah kau sepuluh tahun lalu" Zaki berucap.


"Kakak Annelka, Aaron Xavier Carter. Meninggal sepuluh tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan, bersama Papa dan Mamanya"


Jantung Ben seolah berhenti berdetak. Dia jelas tidak tahu apa yang sedang dia rasakan. Dia sama sekali tidak ingat apapun.


"Bagaimana ini Ben eh atau kau benar-benar Aaron?" Tanya Zaki menatap bingung pada Ben.


Yang ditanya bingungnya jangan ditanya. Apa benar dirinya Aaron dan Annelka adalah adiknya. Pantas saja, Annelka selalu berkaca-kaca saat menatap dirinya.


"Apa dia juga beranggapan kalau aku ini Aaron, kakaknya?" Tanya Ben.


"Aku tidak tahu. Tapi kau dan Aaron benar-benar mirip. Salah, bisa jadi kau adalah Aaron. Foto yang ditunjukkan Ronald tadi adalah kau sepuluh tahun lalu. Saat aku pertama kali bertemu denganmu"


Ben diam seribu bahasa.


"Jika kau adalah Aaron berarti selama ini aku hidup dengan seorang tuan muda"


"Jangan bicara hal yang tidak pasti dulu!"


Ben berucap sambil beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?"


"Bertanya pada Annelka"


***


"Aya, lepaskan!" Annelka terus saja berusaha menghindar dari Aya.


"Ann...ayolah"


"Tidak...jika ujung-ujungnya kau minta pergi ke Guangzhou" Tolak Annelka.


"Kenapa tidak boleh? Mbak Astrid bilang boleh asal kamu mengizinkan. Ya...ya...aku sudah lama tidak melihatnya"


"Tapi aku tidak mengizinkannya Ay. Aku khawatir padamu"


"Cuuuppp"


Satu ciuman berlabuh di bibir Annelka. Membuat pria itu memejamkan matanya. Dia akhir-akhir ini begitu menahan diri untuk tidak menyentuh Aya. Mengingat Aya yang baru saja pulih dari kejadian penculikan itu. Tapi jika Ayanya model begini. Main sosor sama raba-raba terus. Bagaimana dia tidak terpancing.


"Ayolah Ann, seminggu saja"


"Justru karena cuma seminggu saja. Kau akan kelelahan lagi"


"Tidak akan. Aku akan duduk manis. Biar James yang jalan-jalan"


"Ay...


Annelka langsung menggigit bibirnya ketika tangan Aya masuk kedalam kaosnya. Merada dada bidangnya. Keduanya tengah duduk di balkon kamar mereka.


"Jangan diteruskan"


"Kenapa?"


"Nanti kau kuterkam. Bahaya"


"Bahaya apanya? Orang enak kok"


"Haissh, sejak kapan otakmu jadi mesum begini" Tanya Annelka menjauhkan dirinya dari Aya yang hanya memakai lingerie. Sungguh menggoda.

__ADS_1


"Sejak aku ketagihan sama ini" Bumil cantik itu memasukkan tangannya ke dalam celana piyama Annelka. Pria itu langsung mende*** tertahan.


"Ayolah Ann" Rengek Aya. Wanita itu mulai naik ke atas tubuh sang suami. Mulai mencumbunya.


"Kau benar-benar tidak bisa dilarang, Ay" Geram Annelka. Lantas mencium bibir Aya buas. Ciuman Annelka dibalas tak kalah panas oleh Aya.


Dalam sekejap keduanya sudah polos.


"Pelan-pelan, Ann" Bisik Aya saat Annelka mulai menyatukan diri.


Annelka tentu mengingat dengan jelas pesan Astrid. Jika mereka ingin bercinta. Lakukan selembut mungkin. Agar tidak membahayakan janin yang ada dalam kandungan Aya.


"Kau pikir aku akan mengizinkanmu ke Guangzhou meski kau sudah menyogokku dengan bercinta? Kau salah, Nyonya" Ucap Annelka di sela sesi panas mereka.


"Maksudmu?" Tanya Aya.


"Kau akan ke Guangzhou, setelah si boy lahir"


"Annelka kau curang..aahhhh"


Protes Aya berubah menjadi lenguhan ketika Annelka semakin memacu dirinya. Menghabiskan waktu yang baru saja beranjak malam. Memadu kasih di bawah langit senja berwarna jingga.


***


"Bibi Mai, bisa panggilkan Annelka. Aku ingin bicara" Pinta Ben. Wanita itu langsung menuju pesawat telepon yang ada di ruang tengah.


Tunggu, jika bibi Mai sudah lama bekerja dengan keluarga ini. Berarti wanita ini tahu, soal kecelakaan orang tua Annelka. Bibi Mai pasti juga tahu soal Aaron. Dan wanita itu apa juga menganggap kalau dirinya adalah Aaron.


"Sebentar, tuan Ben. Tuan dan Non segera turun"


Ben mengangguk. Menatap ke arah lantai dua. Tempatnya duduk langsung menghadap pigura yang sejak ia datang selalu ditutupi tirai. Hingga Ben tidak tahu, foto siapa itu.


Tak berapa lama, Annelka turun. Sendiri dengan wajah segar sehabis mandi. Ben berdecak kesal. Dasar pengantin baru. Baru mesranya, nikahnya mah sudah lama, bang.


"Ada apa?" Tanya Annelka.


"Apa kau benar adalah adikku. Jika itu benar...aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau melalui sepuluh tahun ini. Sendirian"


"Ada masalah soal pekerjaan?" Lagi Annelka bertanya.


"Bukan, tapi ini soal aku...


Annelka langsung menatap tajam pada Ben.


"Apa kau berpikir kalau aku adalah kakakmu yang sudah meninggal?" Ben bertanya dengan rasa sesak di dada. Sedang Annelka jelas terkejut mendengar pertanyaan Ben.


"Darimana kau tahu soal itu?"


"Berarti itu benar?" Ben bertanya tegas.


Annelka diam seketika. Ditatapnya wajah Ben lama. Sungguh wajah sang kakak yang Annelka lihat di sana. Tapi kenapa tes DNA-nya mengatakan negatif soal hubungan darah mereka.


"Annelka apa itu benar?" Ben mengulangi lagi pertanyaannya.


"Itu benar....


Ben dan Zaki saling tatap. Ada bulir bening di sudut mata Ben.


"Aku benar-benar berharap kalau kau adalah Aaron. Aku benar-benar berharap kalau ada keajaiban. Hingga Aaron bisa kembali. Tapi..." Annelka berusaha kuat saat mengatakan itu semua. Menahan air mata yang ingin sekali turun.


"Tapi aku bukan dia kan?" Tanya Ben.


"Sayangnya iya. Maaf jika aku lancang, mengambil sample darahmu untuk tes DNA"

__ADS_1


Ben menyeringai.


"Sudah kuduga. Orang seperti kau, tidak akan melakukan satu hal tanpa alasan. Biar kutebak hasilnya negatif bukan?"


Annelka mengangguk. Ada gurat kesedihan di wajah Annelka. Ben sejenak menarik nafasnya. Hening sejenak meliputi ruang tengah itu.


"Aku sebenarnya cukup tersinggung. Kau membawa kami ke sini. Membuat sebuah drama seolah kami adalah penjahat sungguhan. Padahal ini semua hanyalah kedokmu untuk mencari keuntunganmu sendiri"


"Tunggu dulu. Apa maksudmu? Aku tidak pernah bermaksud ingin mengambil untung dari kalian"


"Tapi kami merasa dibohongi. Kau menipu kami...


"Aku tidak bermaksud seperti itu Ben" Potong Annelka cepat.


"Sudahlah. Anggap saja ini ganti untuk menebus kesalahan kami pada kalian"


Ben berdiri lalu melangkah keluar. Diikuti Zaki. Watak Ben yang emosian mulai kumat.


"Kalian mau ke mana?" Teriak Annelka.


"Pulang ke tempat dimana kami seharusnya berada" Jawab Ben ketus.


Dia merasa Annleka membohongi dirinya. Menipu dirinya. Hanya untuk memenuhi obsesi Annelka soal Aaron yang Ronald bilang sudah dikubur sepuluh tahun lalu.


"Ini sudah malam Ben!" Annelka menarik lengan Ben. Tapi pria itu menepisnya kasar.


"Kau lupa ya kalau kami ini penjahat. Sekalinya penjahat, selamanya tetap penjahat" Sarkas Ben.


"Ben, aku minta maaf jika tindakanku melukai harga dirimu. Aku hanya sangat merindukan kakakku...


"Bugghhhh"


"Arghhh"


"Tapi aku bukan dia. Dia sudah mati. Bahkan tes DNA saja mengatakan negatif soal hubungan darah diantara kita"


"Benn...sudahlah" Zaki melerai.


Dari arah lift. Aya langsung berteriak. Melihat Annelka yang tersungkur di lantai. Dengan pipi lebam dan sudut bibir berdarah.


"Apa yang kau lakukan ha?" Aya mendorong jauh tubuh besar Ben. Lalu membantu Annelka berdiri.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Aya. Mengusap pipi Annelka. Membuat pria itu meringis.


"Apa yang kau lakukan padanya ha?" Tanya Aya.


"Aku memukulnya. Kenapa? Kau mau marah padaku? Marah saja" Jawab Ben enteng.


"Kalaupun kau merasa ditipu itu setimpal bukan?"


"Aarrgghhhh, Fay, sakit!" Ben berteriak ketika Aya menjewer kupingnya. Ben jelas tidak berani melawan ibu hamil.


"Ayo pukul-pukulan lagi. Kau sakit hati karena dia melakukan tes DNA tanpa seizinmu begitu?" Tanya Aya setelah melepas jewerannya.


"Dia melanggar hak asasiku!" Ben kembali meradang.


Dan perdebatan kembali terjadi. Bersamaan dengan Trio Kwek-Kwek yang masuk ke dalam rumah.


"Eiitt, stop!!! Dilarang pukul memukul sesama saudara!" Teriak Farris.


Membuat Annelka dan Ben yang sudah dalam posisi saling memukul menghentikan aksi mereka. Menatap ke arah pintu. Dimana Farris dan dua asisten Annelka berdiri.


"Sudah tua juga masih seperti anak kecil. Mau main, sana main sama si kembar"

__ADS_1


Celetuk Farris. Membuat Ben dan Annelka manyun seketika.


****


__ADS_2