Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Kegundahan Annelka


__ADS_3

Annelka masuk ke kamarnya dengan rasa lesu. Entah kenapa. Padahal satu masalahnya sudah selesai. Yang lain tinggal menunggu waktu.


Ketika dia masuk, seperti biasa dilihatnya Aya yang sudah tertidur. Sudah pukul sepuluh malam. Annelka memang berpesan. Tidak usah menunggunya pulang. Jika mengantuk, tidur saja lebih dulu.


Mendudukkan dirinya di sofa. Menatap Aya yang begitu lelap dalam tidurnya. Annelka sudah melepas dasi dan jasnya. Menyisakan kemeja biru yang sudah dia gulung sampai siku. Dengan kancing yang hampir terbuka semuanya.


Pria itu menyandarkan tubuhnya ke sofa. Pelan meletakkan kepalanya ke sandaran sofa. Memejamkan matanya.


"Aku pikir Aya sedikit tertekan akhir-akhir ini" Ucapan Eva terngiang di telinganya.


Annelka juga melihat, Aya terlihat begitu sedih akhir-akhir ini. Sering menangis sembunyi-sembunyi. Dan ketika dia bertanya, sang istri hanya menjawab tidak apa-apa.


"Aku sangat mencintaimu, Ay. Dulu aku bersikeras tidak akan melepaskanmu. Apapun yang terjadi. Tapi sekarang, jika kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini. Mungkin aku akan berubah pikiran" Batin Annelka.


Jika dulu dia berpikir untuk mengikat Aya selamanya. Akhir-akhir ini pola pikirnya mulai berubah. Kebahagiaan Aya akan jadi prioritasnya. Jadi dia rela berpisah, jika itu memang bisa membuat Aya bahagia.


Dia sendiri juga tidak paham dengan dirinya. Belakangan ini perasaan jadi lebih sensitif. Emosinya naik turun tidak karuan. Pagi hari oke. Siang dia sudah berubah lagi moodnya.


Membuat duo asisten resek-nya saling pandang.


"Kau tidak sedang PMS kan?" Seloroh Tria.


"Apa jatah malammu dipotong Aya?" Ed malah meledek lebih parah.


Dan bukannya menjawab. Annelka malah menampilkan wajah memelasnya. Membuat dua pria dengan julukan baru itu, "suami" kembali saling pandang.


"Fix, jatah malamnya dipotong Aya" Bisik Ed ke telinga Tria. Dan rekan seperjuangannya itu hanya mengangguk, mengiyakan.


Pelan, Annelka melangkah ke kamar mandinya. Membersihkan diri, memakai boksernya. Lalu naik ke atas kasurnya. Menyusul sang istri. Begitu Annelka berbaring di samping Aya. Wanita itu reflek langsung memeluk tubuh setengah polos sang suami.


Annelka langsung mencium puncak kepala sang istri.


"Aku rela melakukan apapun untuk kebahagiaanmu. Bahkan jika aku harus melepaskanmu"


Batin Annelka, mulai memejamkan mata. Menyusul Aya ke alam mimpi.


Pagi menjelang,


Annelka menggeliatkan tubuhnya pelan. Ketika dia merasakan sesuatu yang lembut bergerak di atas bibirnya. Juga sesuatu yang kenyal tengah menghimpit dada polosnya.


"Ay...


Bisik Annelka sedikit terkejut, begitu pria itu membuka matanya. Didapati Aya tengah berada di atas tubuhnya. Mencium bibirnya dengan tubuh sudah polos. Wanita itu sudah melepas tank topnya. Hingga aset kembarnya langsung menyambut mata Annelka.

__ADS_1


"Aku menginginkannya, Ann"


Bisik Aya sensual. Senyum langsung mengembang di bibir Annelka. Sungguh dia bahagia sekali. Ini adalah pertama kalinya Aya berinisiatif memulai sesi panas mereka.


Aya mulai mencumbu tubuh kekar itu tanpa henti. Sementara Annelka hanya bisa diam, menikmati serangan dari Aya. Sebab wanita itu seolah tidak memberinya kesempatan untuk mengambil alih permainan.


Hingga penyatuan itupun terjadi dengan Aya yang memimpin. Tindakan sang istri itu, sukses membuat mulut pria itu ternganga. Melihat tubuh indah dan seksi Aya yang terus bergerak tanpa henti.


Aya sendiri tidak paham dengan dirinya. Akhir-akhir ini, libidonya meningkat drastis. Tiap kali melihat tubuh Annelka, bawaannya ingin mengajak pria itu bercinta.


"Aku ini gila. Atau cinta padanya?"


Beberapa kali pertanyaan itu terlintas di kepalanya. Hingga satu omongan Eva dan Astrid terngiang di kepalanya.


"Kau mulai jatuh padanya, Ay. Mulai jatuh cinta padanya"


Dua wanita itu mengatakan hal yang sama. Membuat Aya bingung dibuatnya. Dan pagi itu, sepasang suami istri dengan pemikiran yang berbeda itu. Terus menikmati sesi panas mereka.


Annelka dengan keinginan untuk melepas Aya jika itu bisa membuat sang istri bahagia. Sedang Aya sedang berusaha memantapkan rasa yang mulai ia punya pada Annelka, cinta.


Seolah tidak ingin mengakhiri sesi percintaan mereka. Keduanya masih meneruskan kegiatan itu saat berendam di bath up bersama.


Wanita itu hanya memejamkan matanya. Menikmati setiap gerakan yang Annelka lakukan untuk membawanya ke puncak rasa.


"Kau menyukainya?" Bisik Annelka sensual di telinga Aya. Tanpa berhenti bergerak. Dan Aya hanya bisa mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.


Hingga ke-delapan orang itu kompak datang terlambat ke tempat kerja masing-masing.


"Kalian bisa janjian gitu datangnya?" Tanya Ed yang baru keluar dari mobilnya.


"Kau sendiri?" Tanya Annelka.


"Kalian semua habis lembur ya?" Tria menyambung.


"Memang kau tidak?" Todong Ed.


"Tentu saja tidak" Kilah Tria.


Ed langsung memiting tubuh Tria sambil membawanya masuk ke kantor Carter Corp.


"Bilang pada Eva jangan membuat kissmark di tempat terbuka. Kau bisa membuat iri satu kantor" Bisik Ed.


Tria langsung melepaskan diri dari pitingan Ed. Langsung melihat pada pria itu.

__ADS_1


"Mana ada?" Tria masih berkilah.


Ketiganya sudah masuk lift. Mengabaikan tatapan kagum dari para staf wanita di kantor itu.


"Setelah menikah mereka malah makin hot saja" Beberapa bisikan yang sampai ke telinga tiga pria itu.


Ed langsung menunjukkan bekas cupangan Eva di leher bagian atasnya yang tidak tertutup kerah kemejanya.


"Astaga" Tria hampir berteriak.


"Itu pelajaran pertama untukmu" Ed menambahkan. Ucapan Ed membuat Tria menggaruk kepalanya.


"Enak sih. Jadi tidak sadar kalau dia menggigitku di situ" Guman Tria tidak jelas.


"Kau kenapa?" Tanya Ed pada Annelka.


Pemikiran Ed yang dewasa membuat pria itu lebih peka tentang keadaan di sekelilingnya. Dibanding Tria yang memang paling muda di antara mereka berempat.


Keduanya sedang menatap pemandangan dari jendela kaca di ruangan kerja Annelka. Bisa Ed lihat jika temannya itu sedang galau.


"Aku pikir akan melepaskan Aya, jika dia tidak bahagia dengan pernikahan ini" Jawab Annelka sendu.


"Kau berubah pikiran?" Tanya Ed penuh selidik.


Annelka terdiam. Dia jelas bimbang dengan semua yang dirasakannya akhir-akhir ini.


"Aku hanya ingin dia bahagia. Itu saja"


"Yang aku lihat dia bahagia. Semakin banyak tertawa. Traumanya juga mulai sembuh. Lalu dimana letak tidak bahagianya Aya?" Tanya Ed.


"Dia sering menangis akhir-akhir ini. Kata Eva, Aya juga sedikit tertekan belakangan ini" Jawab Annelka.


"Apa kalian pernah membicarakannya? Maksudku hubungan kalian semakin membaik akhir-akhir ini. Bahkan kegiatan panas kalian juga bagus. Lalu dimana masalahnya?"


Annelka menggeleng.


"Apa itu menjamin kebahagiaannya? Bisa bercinta setiap malam. Tidak kan?"


Ed membenarkan perkataan Annelka. Bercinta bukan tolak ukur sebuah kebahagiaan. Karena banyak faktor yang bisa membuat dua orang beda gender dapat terlarut dalam sebuah sesi panas, tanpa adanya rasa cinta. Sebuah rasa yang menjadi dasar dari kata bahagia.


"Dengarkan saranku, Ann. Bicarakan baik-baik dengan istrimu. Ingat dia istrimu sekarang. Pendapatnya perlu kau dengar. Suara hatinya perlu kau ketahui. Tanyakan apa yang dia rasakan dan apa yang dia inginkan" Saran Ed.


"Sebab yang aku lihat, Aya mulai bisa menerima dirimu. Mungkin malah mulai mencintaimu. Kau tidak tahu itu. Dan kau perlu memastikan itu"

__ADS_1


Annelka terdiam, mendengar semua ucapan Ed. Mungkin saran Ed ada benarnya. Dia harus membicarakan semuanya dengan Aya. Untuk menjawab semua kegundahan di hatinya.


***


__ADS_2