
"Apakah dia anak mami yang hilang?" tanya Yanti.
Mami Winda mengajak gadis yang dipanggil Vani itu, untuk duduk. Mami Winda kemudian duduk di sampingnya.
"Benar, Yanti. Dia ini Vani, anak Mami. Mulai sekarang, dia akan tinggal di rumah ini," jawab mami Winda.
"Apa ibu yakin, kalau dia adalah Vani anak kita yang hilang?" tanya dokter Dimas belum yakin sepenuhnya.
"Mas Dimas, lihatlah. Ini adalah kalung yang aku pakaian pada anak kita, Vani. Ini sudah menjadi bukti yang konkrit kalau dia adalah Vani," ucap mami Winda sambil memperlihatkan kalung gadis itu.
"Baiklah, jika kamu sudah yakin bahwa dia adalah Vani, aku tidak akan berdebat lagi denganmu," kata dokter Dimas.
"Tapi Mi, bagaimana dengan kak Vani. Dia masih akan tetap tinggal disini bukan?" tanya Vina cemas.
"Tentu saja. Tetapi, maaf Yanti. Kamu harus pindah kamar. Karena kamar itu akan ditempati Vani," ucap mami Winda.
"Mami, kamar itu sudah menjadi kamar Kak Vani. Bagaiman mungkin Kak Vani akan pindah?" tanya Vina tidak setuju dengan keputusan mami Winda.
"Ibu, biarlah Vani tinggal dikamar lain saja. Vani tidak apa-apa," ucap gadis itu lembut.
"Tidak, Vani. Kamu adalah pemilik kamar itu, kamu yang berhak atas kamarmu sendiri. Yanti, kamu tidak apa-apa pindah kamar, 'kan?" tanya mami Winda sambil melihat ke arah Yanti.
"Tidak apa-apa Mami, Yanti bisa tidur dimana saja," jawab Yanti.
"Kakak," ucap Vina tidak terima.
"Vina, Kakak bisa tidur dimana saja. Asal tidak kehujanan dan kedinginan," ucap Yanti menenangkan Vina yang masih tidak terima putusan mami Winda.
Akhirnya, setelah selesai makan malam, Yanti mengemasi barang-barangnya dibantu Vina. Entah kenapa, Vina lebih cocok dengan Yanti daripada Vani. Gadis yang baru saja ditemukan mami Winda sebagai kakaknya Vina.
"Kak, terus ini gimana?" tanya Vina sambil membereskan pakaian Yanti.
"Gimana, gimana maksudmu?" Yanti balik bertanya.
"Masak, aku harus panggil kalian berdua Kak Vani semua. Aku kan jadi bingung," jawab Vina sambil menghela napas berat.
"Kan Kakak namanya Yanti, jadi panggil saja Yanti. Maafkan Kakak. Sebenarnya Kakak senang banget bisa menjadi bagian dari keluarga kalian. Terlebih menjadi kakakmu. Akan tetapi, sepertinya Kakak harus terbangun dari mimpi indah ini," ucap Yanti sambil tersenyum getir.
"Apakah, Kak Yanti akan pergi dari rumah ini?" tanya Vina sedih.
"Bisa jadi. Kakak juga memiliki keluarga sendiri. Mungkin beberapa hari ini, Kakak akan pergi. Sebelum pergi, aku akan pamit padamu dan pada Mami Winda. Jadi nanti kamu harus baik-baik sama kakak kamu yang sebenarnya," kata Yanti kemudian.
__ADS_1
"Vina sangat sedih, mendengar Kakak akan pergi. Tapi, bolehkah aku tetap menganggap Kak Yanti sebagai kakakku?" tanya Vina.
"Tentu saja boleh. Jika ingin bertemu Kakak, datang saja ke rumah Kakak. Nanti aku kasih alamatnya," jawab Yanti.
"Kenapa, pakaian Kakak, Kakak masukkan kedalam koper dengan sangat rapi?" tanya Vina penasaran.
"Ini sekalian, untuk persiapan Kakak pergi. Jadi nanti tidak perlu berkemas lagi. Terima kasih sudah membantu kakak, mengemas barang-barang Kakak," ucap Yanti sambil tersenyum.
"Kak, Kakak bisa tetap tinggal di sini, seperti yang mami bilang. Kakak masih tetap bagian keluarga kita. Kak," rengek Vina.
"Vina, kalau Kakak tinggal di sini, bagaimana dengan keluarga Kakak? Mereka juga butuh Kakak," ucap Yanti sambil menepuk bahu Vina.
"Iya, sih. Vina ngerti," jawab Vina.
Meskipun, masih dengan hati yang tidak rela, Vina tetap membantu membereskan semua barang Yanti. Setelah itu, Vina dan Yanti membawa semuanya menuju ke kamar tamu. Vina tidak lupa menemani Yanti hingga waktunya tidur.
"Vin, tidurlah. Besok kamu harus sekolah loh. Kakak juga mau istirahat," kata Yanti sambil menguap.
"Baik, Kak. Tapi bener ya, kalau mau pergi mesti pamit dulu pada Vina," ucap Vina manja.
"Bener, nanti Kakak bilang sama kamu. Udah sana, tidur," ucap Yanti.
Vina beranjak dari tempat tidur lalu melangkah pergi meniggalkan Yanti yang juga sudah lelah dan ingin beristirahat. Yanti merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menerawang ke atas langit-langit kamarnya.
Setelah sekian waktu menenangkan diri, Yanti mulai menyadari satu hal. Bahwa dalam kehidupan berumah tangga, masalah itu pasti akan ada. Tetapi seharusnya masalah itu harus dihadapi bukan malah melarikan diri. Selain tidak akan bisa menyelesaikan masalah, akan banyak hati yang terluka terutama hati ayahnya.
Yanti akhirnya memutuskan untuk menghadapi kenyataan yang ada. Bagaimanapun, sekarang dia sudah menikah meski hatinya kadang tidak percaya. Dia masih ingin mengejar impiannya untuk bisa membahagiakan ayahnya. Pergi jalan-jalan, dan mengajak ayahmu makan di tempat yang mewah. Meski hanya sekali seumur hidup. Ditengah kegundahan hatinya, Yanti mulai tertidur.
Keesokan harinya, Yanti bersiap pergi ke tempat kerja. Saat keluar dari kamarnya, ternyata Vani, sedang menunggunya di luar kamar. Yanti sempat terkejut, karena mereka tidak ada masalah apapun yang harus mereka bicarakan.
"Yanti, masih nyaman tinggal disini?" tanya Vani sinis.
"Maksud kamu apa? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu bicarakan," Yanti balik bertanya.
"Kamu itu bukan anggota keluarga kami, seharusnya kamu menyadari itu. Apalagi sekarang, aku sudah kembali. Kamu lebih baik sadar diri dan segera pergi," kata Vani sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
"Tapi, mami bilang, aku bisa tinggal disini. Aku hanya mengikuti keinginan mami Winda dan Vina," jawab Yanti.
"Mereka tidak akan tega mengusir kamu. Karena mereka berdua, orang yang baik. Bagiamana aku akan bisa dekat dengan ibu dan Vina, jika kamu masih di sini. Kamu menjadi penghalang ku untuk masuk kehati mereka. Padahal itu adalah hak aku sebagai keluarga mereka. Yanti, pergilah sebelum mereka mengusirku. Itu akan sangat menyakitkan bagimu," kata Vani panjang lebar.
"Baiklah, Vani. Aku sadar, di rumah ini aku hanya menempel saja. Aku orang luar yang tidak akan diperhitungkan. Beri aku waktu untuk pamit pada mereka semua. Hari ini juga, aku akan pergi dan tidak akan menggangu keluarga kalian lagi. Semoga kamu senang," ucap Yanti sambil menghela napas. Yanti, kini akhirnya harus benar-benar pergi.
__ADS_1
"Aku tunggu itikad baikmu, Yanti."
Tampak Vani tersenyum lega, karena sudah berhasil membuat Yanti memutuskan untuk pergi dari rumah keluarga dokter Dimas. Yanti hanya bisa menerima keinginan Vani, karena dialah putri sebenarnya keluarga dokter Dimas.
Yanti kembali masuk ke dalam kamarnya. Dan beberapa saat kemudian, keluar dengan sebuah koper dan sebuah tas besar, yang semalam sudah di tata rapi oleh Vina semalam.
Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Mereka tinggal menunggu Yanti saja. Tetapi mereka sangat terkejut melihat Yanti membawa koper dan tas.
"Yanti, ada apa, kenapa kamu membawa koper dan tas? Apa kamu akan pergi?" tanya mami Winda sambil menatap Yanti penuh pertanyaan.
"Kakak, katanya masih beberapa hari lagi. Kenapa sekarang, Kak?" tanya Vina sedih.
"Sebelumnya, Yanti minta maaf, pada mami, Pak Dokter Dimas dan Vina. Jika selama tinggal di rumah ini, Yanti ada salah-salah kata dan perbuatan. Sekali lagi Yanti minta maaf. Terimakasih atas kasih sayang yang sudah kalian berikan padaku selama ini. Tapi, saya harus pergi untuk menemui ayah. Ayahku juga pasti sangat merindukan aku. Yanti permisi pamit dulu. selamat pagi," ucap Yanti sambil mendekati mereka satu persatu.
Pertama, Yanti memeluk ibu Winda, lalu memeluk Vina. Yang terakhir, dia mencium tangan dokter Dimas.
"Yanti, tetaplah bekerja di tempat ibu dan tetaplah melanjutkan kuliah. Ibu ingin melihatmu sukses suatu saat nanti," pesan Bu Winda.
"Baik, Bu Winda. Yanti akan selalu ingat pesan Ibu," ucap Yanti.
"Satu lagi, jangan lari lagi dari masalah, karena itu tidak akan menyelesaikan. Temui suamimu, dan buktikan bahwa kamu tidak bersalah," bisik Bu Winda sambil kembali memeluk Yanti.
Yanti hanya mengangguk sambil meneteskan airmata.
"Kakak," ucap Vina sambil berlari memeluk Yanti kembali.
"Jangan lupakan Vina, ya kak?" ucap Vina sedih.
"Kamu adalah adikku dan akan tetap jadi adikku," jawab Yanti.
Yanti melepaskan pelukan Vina, lalu dia keluar dari rumah keluarga dokter Dimas. Ada sesuatu yang membuatnya sedih. Kehidupan keluarga yang utuh, yang sangat Yanti rindukan sejak lama. Yaitu setelah ibunya meninggal, dia hanya tinggal bersama ayahnya saja.
Yanti menunggu taksi yang sudah dipesannya sambil bersandar pada pagar rumah. Tidak berapa lama, datanglah taksi yang dipesannya. Sang sopir turun dan membantu Yanti memasukkan Koper dan tasnya ke dalam bagasi. Setelah itu, Yanti menatap kembali rumah dokter Dimas. Barulah setelah itu, dia masuk kedalam taksi.
"Kemana, neng?" tanya pak sopir.
"Jalan saja dulu, Pak. Nanti akan saya beritahukan," jawab Yanti sambil menatap sedih jalanan yang dilewatinya.
Yanti mengingat pesan Bu Winda. Menemui Deni dan membuktikan padanya jika dia tidak bersalah. Dia tidak pernah berbuat zina dengan ayah mertuanya. Menuduhnya menjadi simpanan ayahnya. Apa yang sebenarnya Deni pikirkan saat itu.
Kenapa Deni tidak bertanya baik-baik padanya, dan Yanti pasti akan menjelaskan apa yang ingin Deni ketahui. Akan tetapi semua sudah terjadi, Yanti harus menerima takdir yang sudah dituliskan untuknya.
__ADS_1
Bersambung