
Arash menatap wajah cantik Aya yang tengah duduk di hadapannya.
"Rindu padaku?" Tanya Arash.
Aya mendengus kesal.
"Arash, bisa tidak jangan bercanda"
"Aku selalu serius denganmu, Ay"
"Kalau begitu dengarkan aku. Aku tidak akan meninggalkan suamiku. Jadi lebih baik kau pulang ke Guangzhou. Jangan pernah berpikir untuk ikut campur dalam pernikahanku"
"Apa kau mencintainya? Yang aku tahu kau terpaksa menikahinya"
"Awalnya iya. Tapi sekarang, seperti yang kau katakan. Aku mencintainya"
Arash tersenyum kecut, mendengar penegasan dari Aya.
"Tidak ada celah untukku?"
"Arash, sudah kubilang dari dulu kalau aku tidak mempunyai perasaan padamu"
Katakanlah yang Aya lakukan kejam. Tapi lebih baik seperti ini. Daripada Arash terus mengejarnya. Padahal dia sudah menentukan pilihannya.
"Apa kau yakin dengan pilihanmu?"
"Aku yakin. Dan apapun resikonya, aku akan menghadapinya. Jadi kalau kau berpikir untuk masuk ke tengah hubungan kami. Jangan mimpi!" Kembali Aya menegaskan.
Arash terdiam. Masih menatap Aya. Benarkah sudah tidak ada kesempatan untuknya. Selama ini, Arash hanya menginginkan Aya untuk jadi pendampingnya.
"Bukalah hatimu untuk wanita lain"
"Kau mengajariku? Apa yang akan kulakukan, itu adalah hakku. Baik untuk tetap mencintaimu ataupun menghentikan rasa itu. Itu ada di tanganku. Kau tidak berhak mendikteku"
Ucap Arash dingin, berlalu pergi dari hadapan Aya. Membuat wanita itu menarik nafasnya dalam.
"Maafkan aku, Arash. Tapi lebih baik kau membenciku daripada kau mengharapkanku" Lirih Aya. Menoleh menatap ke arah Arash yang perlahan menghilang ketika pintu lift tertutup.
"Untuk pertama kalinya, aku merasakan apa itu patah hati" Batin Arash. Menatap pantulan wajahnya dari dinding lift.
"Aku akan kembali secepatnya" Ucap Aya melalui ponselnya.
Wanita itu tengah keluar dari restoran tempatnya bertemu dengan Arash. Bersamaan dengan Arash yang juga akan meninggalkan tempat itu. Pria itu sempat melihat Aya, yang menyeberang ke arah mobilnya yang di parkir di seberang jalan.
Ketika kemudian tiba-tiba, Arash menyadari ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah Aya.
"Aya....di belakangmu" Teriak Arash. Berlari ke arah Aya. Menyambar tubuh Aya sebelum mobil itu sempat menabraknya. Dua orang itu jatuh bersamaan. Dengan Arash berada di bawah tubuh Aya.
"Arrghhh"
Arash sedikit meringis ketika punggungnya jatuh di atas aspal. Namun sejurus kemudian, Arash langsung bangun.
"Ay...Aya bangun" Ucap Arash panik sambil menepuk pelan pipi Aya.
****
Annelka langsung menerobos masuk ke ruang rawat Aya. Begitu Farris mengabari kalau Aya mengalami kecelakaan.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya pria itu panik.
"Dia tidak apa-apa. Sedikit lecet. Dan juga sedikit benturan di kepala. Tapi aku sudah melakukan CT Scan. Dan hasilnya oke. Dia tertidur. Cukup shock. Tapi Arash mengalami retak di tulang bahunya"
"Arash?"
"Arash yang menyelamatkan Aya. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada istrimu"
__ADS_1
"Di mana dia sekarang?"
"Mungkin masih ditangani dokter ortopedi. Hanya retak. Tidak patah" Ucap Farris menenangkan.
"Kenapa Aya bisa bersama Arash? Apa mereka diam-diam bertemu?" Batin Annelka curiga. Menatap wajah Aya yang tertidur.
"Arrgghhh"
Arash kembali meringis ketika dokter Ata memeriksa bahunya.
"Jangan digips, Dok. Saya gak mau" Pinta Arash.
"Sepertinya tidak perlu"
"Bagus deh"
"Kalau begitu, hati-hati saat menggerakkan tanganmu, oke?"
"Akan saya ingat" Jawab Arash menatap ke arah bahunya yang terbuka. Sedikit biru dan lebam.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Annelka begitu dokter Ata keluar. Pria itu masuk ke ruang rawat Arash.
"Ini luka kecil. Aya bagaimana?" Tanya Arash balik.
"Sedikit shock. Sedikit lecet. Sedikit benturan. Tapi dia baik-baik saja. Terima kasih" Ucap Annelka berlapang dada. Bagaimanapun Arash telah menyelamatkan nyawa Aya.
"Tidak masalah" Jawab Arash kembali meringis ketika dia sedikit menggerakkan tubuhnya.
"Perlu bantuan?"
"Tidak"
Hening sejenak.
"Kau harus melacak mobil itu. Sepertinya mobil itu ingin menabrak Aya dengan sengaja"
"Akan aku lakukan. Lalu kau bagaimana? Siapa yang akan merawatmu di sini. Kalau perawat itu yang merawatmu. Mereka seperti dapat durian runtuh"
"Kenapa? Karena mendapat pasien tampan sepertiku"
Annelka berdehem. Mendengar betapa narsisnya Arash.
"Kau percaya diri sekali" Ucap Annelka.
"Memang kenyataannya begitu. Kalau mau berterima kasih padaku. Biarkan aku menginap di rumahmu sampai aku sembuh" Pinta Arash.
"Enak saja" Tolak Annelka cepat.
"Ya sudah kalau begitu. Lagipula aku bisa mengurus diriku sendiri" Jawab Arash mulai merebahkan tubuhnya. Bersiap untuk tidur.
***
"Yang benar saja, Ann. Kau mau menampungnya di rumahmu"
"Rumah kita" Jawab Annelka sambil membantu Aya turun dari mobil.
"Dia kan tidak punya keluarga di sini. Katamu semua keluarganya di Guangzhou"
"Iya, tapi kan tidak harus membawanya ke rumah"
"Memangnya kenapa? Apa kau takut dengan keberadaannya?"
"Bukannya begitu. Aku tidak nyaman ada dia di rumah kita" Tolak Aya halus.
"Dia kan tidur di kamar tamu lantai satu. Kamar kita di lantai tiga"
__ADS_1
Annelka menjawab sambil membuka pintu kamar mereka. Aya jelas keberatan. Tapi dia juga paham. Annelka hanya ingin berterima kasih pada Arash karena telah menyelamatkan dirinya.
Aya langsung merebahkan tubuhnya di kasur mereka. Setelah melepas sepatu dan kemejanya. Seperti biasa menyisakan tank topnya.
"Mandi dulu, Ay" Annelka berucap dari kamar mandi.
"Malas, Ann. Tubuhku sakit semua rasanya" Keluh Aya mulai memejamkan mata sambil memeluk gulingnya.
"Aku tidak mau memelukmu kalau kau tidak mandi"
"Terserah yang penting aku bisa tidur"
Annelka keluar kamar mandi. Berdiri di tepi ranjang.
"Mandi dulu. Mandi ala bebek juga gak apa-apa. Ganti baju. Bau rumah sakit itu" Protes Annelka.
Aya bergeming.
"Ay...Ay...
Detik berikutnya pria itu sudah mengangkat tubuh Aya. Membuat Aya berteriak protes. Memukul gemas dada Annelka.
"Turunkan aku. Aku tidak mau mandi. Perih...
"Aiishhh, jangan seperti anak kecil. Mandi dulu sana" Paksa Annelka menurunkan Aya di dalam bilik shower. Lalu berlalu keluar.
"Tidak mau mandi bareng?" Goda Aya.
"Nanti kamu merengek kalau kita mandi bareng"
Annelka meledek.
"Keluar sana kalau begitu. Badanku sakit semua. Nanti kalau kau tambahi, gak bisa jalan aku besok pagi"
"Nah itu tahu. Mandi cepat"
Aya hanya bisa menggeram kesal. Lantas memulai ritual mandinya.
***
Keesokan harinya, Arash benar-benar pulang ke rumah Annelka dan Aya.
"Rumahmu bagus juga" Puji pria itu.
"Bagusan rumahmu yang di Guangzhou" Potong Aya cepat.
"Wuiihh, nyonya rumah marah. Takuuuttt" Ledek Arash. Annelka hanya bisa menarik nafasnya pelan.
"Kamarmu di sana. Bibi Mai yang akan melayanimu. Juga ada suster yang akan memeriksa lukamu sampai kau sembuh" Jelas Annelka.
Arash sejenak memperhatikan rumah Annelka. Menatap lurus ke depan. Di mana sebuah pigura dengan foto pernikahan Annelka dan Aya tergantung di sana. Kali ini raut wajah bahagia jelas tergambar di wajah Aya.
Itu adalah foto pernikahan yang diambil ulang oleh keduanya. Setelah hubungan keduanya membaik.
"Apa benar kau bahagia dengan pernikahan ini? Apa kau benar-benar mencintai suamimu?" Dua pertanyaan ini yang Arash ingin tahu jawabannya.
Sementara Aya hanya bisa menatap Arash dengan tatapan penuh tanya.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Aku sudah jelas menolakmu. Masak kau masih belum menyerah juga. Dasar keras kepala"
Batin Aya menatap kesal ke arah Arash, yang berjalan menuju kamarnya. Diantar oleh Bibi Mai.
"Aku harap keputusanku tidak salah. Membawa Arash masuk ke rumah ini. Meski aku tahu resikonya"
Batin Annelka. Berjalan mengikuti Aya naik ke kamar mereka. Sedang Arash langsung tersenyum. Karena keinginannya tercapai.
__ADS_1
****