
Annelka berusaha menajamkan penglihatannya. Dia ada di sebuah kamar sederhana. Sejenak pria itu memegang kepalanya yang terasa sakit. Apa yang terjadi padanya? Satu pertanyaan itu yang terlintas di kepalanya.
Dia berusaha duduk. Dan ketika itu, ada sebuah tangan yang berusaha membantunya. Reflek Annelka menepis. Mode siaganya langsung on.
"Siapa kau?" Tanya Annelka angkuh dan dingin.
"Aku yang menolongmu. Kamu hanyut di sungai sebelah sana. Namaku Santi" Jawab sebuah suara yang terdengar begitu lembut. Annelka sejenak terdiam. Dia tidak pernah mendengar suara model beginian. Ya iyalah, istrimu kan hobi teriak sama marah-marah...peace Ay, peace ✌✌
"Aku hanyut di sungai?"
"Iya...kamu tidak sadar dari semalam. Mau dibawa ke rumah sakit. Jauh"
Ada nada sendu yang terdengar dari suara wanita yang mengaku bernama Santi. Annelka seketika mengangkat wajahnya. Menatap Santi yang sudah menolongnya. Jantung Santi berdebar kencang. Melihat bagaimana tampannya Annelka.
Tatapan tajam dari Annelka membuat Santi buru-buru menundukkan wajahnya. Takut dengan wajah garang Annelka. Perlahan Annelka berdiri. Sedikit limbung, hingga Santi membantunya. Namun kembali, Annelka menepisnya.
Entah kenapa Annelka tidak suka di sentuh oleh wanita itu. Annelka berjalan menuju ke jendela. Menatap pemandangan hijau yang terhampar di hadapannya. Kembali memegang kepalanya. Kenapa dia tidak ingat apapun.
"Ini dimana?"
"Desaku"
"Apa jauh dari kota?"
"Jauh, 3 jam perjalanan kalau lancar"
Lagi-lagi Annelka berpikir. Dia jelas merasa asing dengan tempat ini. Dia bukan berasal dari sini. Tapi apa yang dia lakukan di sini.
"Santi....suruh mas tampan itu makan kalau sudah bangun" Kembali sebuah suara lembut dengan nada keibuan terdengar.
"Mama....
Reflek Annelka memegang dadanya. Dimana sebuah kalung tergantung di sana.
"Aarrooonn" Bisiknya pelan.
Bersamaan dengan itu di sebuah tempat. Berlawanan arah dengan tempat Annelka. Sebuah ringisan terdengar ketika seorang pria tampan terdengar memegangi dadanya.
"Aarrggghhh"
"Kau kenapa?"
"Gak tahu, tiba-tiba aja dadaku sakit. Dia sudah bangun belum. Pingsan dari semalam kok nggak bangun-bangun" Gerutu suara itu.
"Belum kayaknya. Mau cari mangsa malah dapat hal paling merepotkan. Perempuan, hal paling merepotkan di dunia"
"Memang iya?"
"Kalau tidak merepotkan. Mana mungkin kau putus dari pacarmu dulu"
Pria yang diajak bicara itu hanya diam. Dia putus karena tidak sanggup memberitahu pacarnya soal pekerjaannya. Karena sudah pasti pacarnya akan langsung meninggalkannya. Jadi lebih baik dia putuskan saja.
"Tapi sepertinya wanita itu orang kaya. Wajahnya juga cantik. Jamnya mahal. Antingnya juga mahal"
"Kau sudah mengambilnya?" Tanya pria itu.
"Kita ini penjahat, Ben. Tidak usah munafik. Pekerjaan kita kan memang merampok dan mencuri. Tapi mungkin kali ini kita akan merambah ke dunia penculikan" Seringai pria yang lain.
__ADS_1
"Kau yakin dia orang kaya?"
"Yakin sekali. Sebentar aku akan keluar. Dan lihatlah berapa yang bisa benda ini hasilkan. Dia pakai cincin tapi aku tidak bisa melepasnya. Kau cobalah untuk melepaskannya" Pamit pria itu pada orang yang dia panggil Ben.
Ben langsung mendengus kesal. Dia paling tidak suka berurusan dengan yang namanya perempuan.
"Aku tidak janji, Ki"
"Aiihhh kau ini menyebalkan. Kalau aku jadi kau. Sudah kugunakan wajah tampanmu itu untuk menjerat wanita kaya. Lalu aku porotin duitnya. Hidupmu pasti enak. Duit dapat, nikmat kasur juga pasti dapat"
"Tapi aku tidak mau main-main dengan tante-tante girang itu"
"Tante girang itu yang duitnya banyak. Daripada kau ikut aku merampok. Eman-eman mukamu. Apa jadi model aja di kota"
"Gak...kau tidak suka aku ikut merampok denganmu?"
"Bukan begitu Ben, aku hanya sayang dengan wajahmu"
"Kenapa dengan wajahku?"
"Wajah cakep kok tukang rampok sama tukang mencuri"
"Peduli amat dengan tampang. Yang penting aku bisa makan"
"Kau ini memang aneh. Disuruh nglamar kerja kantoran gak mau. Padahal kau pintar"
"Bosan. Jadi perampok lebih menantang"
Zaki hanya menepuk jidatnya pelan. Ada ya yang lebih suka jadi rampok daripada kerja kantoran.
"Ahhh sudahlah, bicara denganmu memang gak ada habisnya. Pandai debat kok gak digunain. Aku pergi, nyairin duit" Zaki pamit sambil mengibas-ngibaskan kantong kain berisi jam dan anting.
Zaki kembali berucap sambil melangkah keluar dari rumah itu. Ben hanya menghela nafasnya. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia bisa ada di sini. Sepuluh tahun dia hidup di desa terpencil itu. Menjadi perampok dan pencuri bagi kendaraan yang kebetulan lewat di daerah mereka. Dia tidak ada keinginan untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Menarik nafasnya pelan. Lalu melangkah masuk ke sebuah kamar. Dimana seorang wanita yang meski wajahnya pucat, tapi jelas terlihat kecantikannya. Sesaat ditatapnya wajah wanita itu.
"Cantik" Satu kata yang terucap dari bibir tipis pria bernama Ben itu.
Tangan Ben mulai meraih jemari wanita itu. Mengamati cincin bermata biru laut.
"Berlian aquamarine" Guman pria itu.
Dia sendiri tidak tahu darimana dia bisa tahu. Hanya saja itu reflek terucap dari bibir pria itu. Ben akan melepas cincin itu, ketika dia menyadari. Cincin itu tidak bisa dilepas.
"Siapa kau? Bahkan cincinmu menggunakan sistem DNA untuk menguncinya"
Lagi Ben berguman, bersamaan dengan itu. Mata wanita itu perlahan terbuka. Melihat ada seorang pria yang tidak dikenalnya, membuat wanita itu yang tak lain adalah Aya langsung mendorong tubuh Ben.
"Busyet dah, kau.....
"Kau yang apa?" Galak Aya.
"Ampun deh! Galak bener" Gerutu Ben.
"Mau ngapain?" Tanya Aya. Sambil memindai wajah Ben. Sekilas dia tertegun. Wajah pria di depannya ini mirip dengan seseorang. Hingga kemudian, Aya teringat satu nama.
"Annelka....dimana dia?"
__ADS_1
"Annelka?" Guman Ben. Dia seperti begitu akrab dengan nama itu. Seperti pernah mengenal tapi dimana.
Melihat Ben yang hanya diam. Membuat Aya seketika bangun dari kasurnya. Berlari ke arah pintu kamar.
"Eiittsss kau mau kemana?" Ben berucap sambil menarik tangan Aya.
"Aku mau pergi. Suamiku pasti mencariku" Aya berteriak.
"Tidak semudah itu, Nyonya. Kau ingin bertemu suamimu. Maka dia harus membayar tebusan"
"Kau menculikku?"
"Menurutmu?" Ben balik bertanya. Aya seketika meronta. Berusaha melepaskan diri dari cekalan Ben. Tapi pria itu tidak kalah gesit. Dalam sekejap tubuh Aya sudah berada dalam himpitan tubuh Ben. Tubuh Ben terasa begitu ketat menghimpit tubuh Aya.
"Katakan padaku siapa kau. Dan akan kukembalikan kau pada suamimu setelah dia membayar tebusan untukmu" Bisik Ben di telinga Aya. Nafas hangat Ben menerpa telinga Aya. Membuat tubuh wanita itu merinding.
"Menjauh dariku, brengsek!" Desis Aya.
Ben jelas terkejut. Biasanya tidak ada wanita yang bisa mengelak dari pesonanya. Tapi wanita ini jelas tidak tertarik padanya.
"Siapa suamimu?" Tanya Ben.
"Rahasia" Jawab Aya. Dia ingin pergi dari tempat ini, tapi dengan usahanya sendiri.
"Beritahu aku! Atau aku akan memaksamu dengan cara lain" Ancam Ben.
"Coba saja. Kau ingin tebusan? Berikan aku ponselmu. Aku akan menghubungi sfafku. Tapi jika mereka bisa melacak keberadaanku di sini. Bersiaplah untuk masuk penjara"
"Kau pikir aku takut. Selama ini tidak ada yang bisa menjebloskanku ke penjara" Desis Ben. Semakin menempelkan tubuhnya pada tubuh Aya.
Secara tidak langsung. Sikap Aya yang tidak mau tunduk pada Ben. Membuat pria itu tertarik. Di tambah wajah cantik Aya. Benar-benar membuat Ben terpesona.
"Siapa kau?" Ben akhirnya bertanya.
"Bukan urusanmu!" Aya menolak memberitahu.
"Oke, akan kugunakan cara lain. Pasti kau akan segera mengaku siapa kau"
Kreeekkkkk,
Ben merobek kemeja Aya, memperlihatkan tubuh bagian atas Aya yang mulus.
"Kau melecehkanku!" Aya berteriak. Bayangan wajah Annelka tiba-tiba muncul di benaknya.
"Maka katakan padaku siapa kau! Aku penjahat, perampok dan aku tidak segan untuk memper****mu!" Ancam Ben.
Aya panik seketika. Dia jelas khawatir dengan kandungannya jika pria ini berbuat nekat.
"Beritahu aku atau aku akan melakukannya sekarang"
Ben langsung meraup bibir ranum Aya. Aya seketika mendorong jauh tubuh kekar Ben. Melepas ciuman kilat dari Ben.
"Kau akan membayar untuk semua ini" Desis Aya penuh penekanan.
"Itu kalau kau bisa lari dari genggamanku" Lagi Ben menjawab.
Sejurus kemudian, Ben berusaha mencium Aya lagi. Namun satu teriakan membuat Ben urung melakukannya.
__ADS_1
"Bennn.....astaga!"
****,,