Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Semua Terbayar Sudah


__ADS_3

"Orang itu sudah tertangkap. Dan kau tahu, bukan Aya targetnya. Tapi kau" Ed memberikan laporan terakhirnya.


"Maksudmu?"


"Aya tahu rencana Duta untuk melukaimu. Maka itu dia mengorbankan dirinya"


Annelka langsung menyandarkan tubuhnya lemas.


"Kenapa dia bodoh sekali. Mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku" Guman Annelka.


"Karena dia mencintaimu. Apa kau tidak paham juga"


"Tapi itu bisa membahayakan kandungannya"


"Dia tidak tahu, dia sedang mengandung" Farris menyela.


Annelka menarik nafasnya dalam.


"Untung saja kandungan Aya kuat. Jika tidak kau bisa membahayakan anak kalian"


"Kenapa?" Tanya Annelka.


"Melihatmu, aku mengira gaya bercintamu pasti sedikit kasar. Bagi kandungan yang lemah. Itu berbahaya"


Annelka langsung membulatkan matanya. Dia memang suka style semi kasar. Tapi dia pikir karena Aya juga menikmatinya. Jadi tidak masalah.


"Tebakanku benar kan?" Tanya Farris.


Annelka hanya mengusap tengkuknya.


"Setelah ini. Lembutlah sedikit. Trimester pertama sangat rawan. Kemungkinan keguguran sangat besar. Hindari juga dia terkena stress"


"Kalau dia membuatnya sendiri"


"Itu pengaruh hormon kehamilan. Tidak ada yang bisa kita lakukan soal itu"


"Kalau begitu ya jangan protes"


Giliran Farris yang menggaruk kepalanya.


"Lalu orang itu akan diapakan?" Tanya Farris.


"Ya ditahanlah. Dia akan jadi saksi"


Hening lagi. Hingga tiba-tiba, Tria berlari masuk menerobos kantor Farris.


"Ricky, tertangkap" Ucap Tria singkat


"Yang benar? Asisten Duta kan dia?" Tanya Ed.


"Iya. Dia berhasil ditangkap setelah seorang polisi mengenalinya di sebuah mini market"


"Bagus. Sebentar lagi Duta pasti akan tertangkap juga"


"Semoga saja" Annelka berucap.


***


Seperti biasa, setelah membersihkan diri. Annelka akan mengerjakan dokumen yang dibawa Ed dan Tria. Setelah dilihatnya Aya yang masih belum mau bangun.


"Kau ini tega sekali padaku. Mogok bicara kok sampai lima hari"


Gerutu Annelka. Lalu mulai mengerjakan pekerjaannya. Beberapa waktu berlalu. Hingga tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Annelka.


"Ann...


Annelka langsung menatap ke arah Aya. Betapa terkejutnya dia. Melihat sang istri sudah membuka matanya.


"Kamu bangun, Ay?" Tanya Annelka tidak percaya. Namun juga bahagia. Melihat senyum Aya terukir di bibirnya.


"Akhirnya aku benar-benar bangun"

__ADS_1


Tak berapa lama. Ruang rawat Aya sudah penuh dengan teman-teman mereka. Yang langsung berdatangan, begitu mendengar Aya sudah terbangun.


"Keadaannya cukup stabil. Kandungannya juga bagus. Luka di punggungnya sudah mengering. Oke, selamat datang kembali" Farris memeluk Aya. Begitu lega. Wanita yang dia anggap seperti adik itu akhirnya kembali.


"Sudah peluk-peluknya" Annelka menarik paksa Farris dari Aya.


"Astaga, posesifnya. Arash kau jangan coba-coba menyentuhnya. Atau...


"Kupulangkan paksa kau ke Guangzhou sekarang" Potong Annelka.


"Minggu depan aku pulang. Jangan khawatir" Jawab Arash santai. Meski tatapannya tidak lepas dari wajah Aya.


"Bagus kalau begitu"


"Memang benar aku mengandung?" Tanya Aya lirih.


"2 bulan. Jadi kau dan Eva mungkin akan mempunyai anak sebaya" Jelas Astrid.


"Gak mak gak anak. Bakalan together forever" Seloroh Ed. Aya menatap ke arah Annelka yang juga menatapnya.


Semua orang merasa bahagia hari itu.


***


"Om..." Rengek Bella.


"Apa?" Jawab Ed. Keduanya sudah berada di kasur mereka.


"Kenapa Bella belum hamil juga?"


"Ha? Kau ingin hamil?"


"Sepertinya asyik" Jawab Bella.


Ed langsung menghela nafasnya.


"Bell..hamil lalu mempunyai anak. Bukan soal asyiknya. Tapi ada banyak hal yang terkandung di dalamnya. Terlebih yang namanya tanggungjawab. Tanggungjawab akan ikut datang bersama dengan hadirnya seorang anak. Apa kau siap berteman dengan yang namanya tanggungjawab itu. Berat lo seberat cintaku padamu" Ucap Ed memberi pertimbangan pada istri kecilnya itu.


"Kenapa? Kita hanya menunda satu tahun lagi. Enam bulan lagi kita bisa mulai program kehamilanmu. Melepas IUD-mu"


Bella terdiam.


"Kenapa? Kecuali kau siap dengan konsekuensi dan resikonya" Ulang Ed.


"Nanti orang mengira Bella nggak bisa hamil lagi. Sama kayak kejadiannya mbak Astrid"


"La sekarang, Astrid bisa hamil. Kembar lagi. Suaminya yang dulu kurang sabar. Nyatanya sama Farris 4 bulan saja Astrid bisa hamil"


Bella lagi-lagi terdiam.


"Jangan terlalu dipikirkan, tahun depan aku jamin kau bisa hamil anak kita. Lagipula biar kuliah kamu bisa selesai dulu. Biar online shoppingmu agak rapi sedikit. Sekarang masih kalang kabut kan. Satu-satu, Bell. Jangan serakah. Semua ada waktunya"


Bella menarik nafasnya. Yang dikatakan Ed ada benarnya. Jika dia hamil sekarang. Semua akan sedikit rumit. Dia sebentar lagi akan masuk skripsi. Dia juga baru mulai merintis bisnis ollshopnya. Berjualan baju dan aksesoris, agar ilmunya bisa berguna di masa depan. Juga biar dia ada sedikit kesibukan. Dan jujur semuanya sedikit membuatnya kalang kabut.


"Sudah tidur. Soal buat kamu hamil. Aku bisa melakukannya cepat"


"Kamu pikir buat kue. Sekarang ngadon, satu jam lagi bisa dimakan" Gerutu Bella. Memeluk tubuh berotot Ed.


"Tapi ada kok kue yang bisa di makan sekarang. Gak usah nunggu satu jam lagi. Keburu basi"


"Kue apa itu?"


"Kue yang ini?" Ed mengusap lembut milik Bella yang hanya tertutup thong. Membuat jari Ed dengan mudah menelusup masuk.


"Edddd..." Bella merengek manja kala jari Ed memasukinya.


"You're wet, baby" Bisik Ed. Sejurus kemudian. Pria itu sudah mengubah posisi mereka. Mengkungkung tubuh Bella. Tak berapa lama, keduanya sudah hanyut dalam penyatuan penuh cinta mereka. Mengarungi dinginnya malam dengan permainan Ed yang selalu bisa membuat Bella ketagihan.


****


"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Annelka. Memeluk erat tubuh Aya. Sambil mengusap lembut perut istrinya.

__ADS_1


"Geli, Ann" Protes Aya lirih. Rasa lemas masih dirasakan wanita itu. Annelka hanya terkekeh mendengar ucapan Aya.


"Aku pikir aku benar-benar akan kehilanganmu. Aku sangat takut, Ay" Annelka berucap sambil mencium puncak kepala Aya.


"Aku pikir juga begitu"


"Jangan pernah melakukan itu lagi. Itu mengerikan untukku"


"Aku tidak mau melihatmu terluka"


"Kau pikir aku bisa melihatmu terluka. Melihatmu seperti itu...seperti..seperti setengah nyawaku pergi bersamamu"


"Maafkan aku. Aku begitu panik ketika Paman Duta mengatakan akan melenyapkanmu. Aku takut kau akan pergi seperi mereka" Aya berucap dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Sekarang jangan takutkan itu lagi. Dia tidak akan bisa melakukan hal itu. Ricky sudah tertangkap. Dan kemungkinan besar paman Duta juga akan tertangkap sebentar lagi" Annelka berucap menenangkan.


"Tapi dia masih berkeliaran di luar sana"


"Ada banyak penjaga di sini. Jangan khawatir" Annelka mengeratkan pelukannya.


"Tidurlah, kau baru saja bangun. Perlu banyak istirahat. Juga untuk, my boy"


"Percaya diri sekali memanggilnya boy. Kalau dia girl bagaimana?"


"Kan aku yang tanam saham. Kamu investornya. Jadi aku tahu dong"


Aya mendengus geram.


"Aku bahkan tidak tahu ada dia"


"Kau dengar, boy. Mamamu saja tidak peka padamu. Dia masih bilang Papa yang tidak peka"


"Memang Papamu tidak peka, sudah dikode tidak mau pisah masih juga ngotot"


"Habis Mamamu tidak mau ngaku sih, boy. Mamamu gengsi"


Aya terdiam. Mendengar celotehan Annelka.


"Makan tu gengsi"


"Katakan saja sekarang, sebelum terlambat dan kau menyesal"


Ucapan dari Farris dan Arash terngiang di telinga Aya.


"Aku mencintaimu, Ann..." Bisik Aya tiba-tiba.


"Ha? Apa?" Annelka mendadak ngebug mendengar ucapan istrinya.


"Aku mencintaimu, Annelka Javier Carter...kamu mendengarnya"


Sumpah demi apapun. Annelka seolah terbang ke langit ke tujuh. Mendengar kalimat sakral itu terucap dari bibir Aya. Senyum seketika mengembang di wajah tampan Annelka.


"Aku juga mencintaimu, Faya Ayunda Carter. Sangat mencintaimu. Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku"


Giliran Aya yang tersenyum.


"Mana berani aku pergi. Karena kau pasti bisa menemukanku" Jawab Aya sambil menunjukkan cincin pernikahannya.


Annelka terkekeh.


"Baru kau tahu" Annelka mencium lembut bibir Aya. Penuh kerinduan juga kelegaan. Betapa dia sangat bahagia. Semua kesedihannya terbayar sudah. Kehilangan orang terkasih di masa lalu. Kini sudah mulai dia relakan.


Bersiap menyambut masa depannya. Bersama satu-satunya orang yang dia cintai saat ini. Juga calon bayi mereka yang akan menambah kebahagiaan keduanya.


"Aku pikir tidak ada yang sia-sia dari penderitaanku selama ini. Semua terbayar sudah"


***



Kredit Pinterest.com

__ADS_1


***


__ADS_2