Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Selalu Bersamamu, Selamanya


__ADS_3

Dan benar saja, keesokan harinya. Berita menggemparkan dirilis oleh pihak Annelka dengan pihak kepolisian. Dibarengi kesaksian dari Gabriel yang dirilis bersamaan. Membuat hampir semua orang tercengang.


Terlebih Annelka memang langsung memberikan link rekaman CCTV kejadian lima belas dan sepuluh tahun. Meski gambar buram dan hitam putih. Tapi suara percakapannya jelas terdengar.


Membuat semua orang mengecam tindakan Duta Atmaja. Annelka benar-benar mengeluarkan sisi gelapnya. Tidak peduli akan ada hati yang terluka, atau malu atau apapun itu. Dia pikir sudah cukup menahan diri. Tidak ingin ada lagi yang menjadi korban.


Suasana di rumah keluarga Atmaja jelas kacau berantakan. Kania tidak mampu berdiri ataupun mengangkat wajahnya. Melihat bukti kekejaman sang suami yang dirilis Annelka.


Neva langsung kicep tidak bisa bersuara. Melihat kejahatan sang papa menjadi santapan publik. Sedang Vando malah salfok ke siapa Aya sebenarnya.


"Pewaris WB Group juga pemilik FA Incorp"


"Hebat sekali dia" Guman Vando. Menyadari Aya bukanlah sesuatu yang bisa dia miliki sekarang. Terlebih melihat apa yang sudah papanya lakukan pada keluarga keduanya.


"Kau mau kemana Vando?" Tanya Kania.


"Kemana lagi Ma. Bersiap..keluarga kita sudah hancur. Habis tak bersisa" Ucapan Vando benar-benar mengenai sasarannya.


Benar sekali, apalagi yang keluarga ini sekarang miliki. Kehormatan dan kebanggaan yang dulu sangat mereka agung-agungkan, hancur sudah. Setelah ini, lihat saja. Akan ada banyak hujatan dan bulian dari semua orang di luar sana.


"Ma, apa tidak sebaiknya kita pergi dulu. Dilihat dari buktinya. Sepertinya benar bahwa papa memang melakukan itu semua" Neva berucap lirih.


Dia jelas tidak bisa lagi mengangkat wajahnya di depan teman-temannya. Entah benar atau salah, mereka tidak peduli. Yang penting menghujat nomor satu.


Neva baru saja selesai berucap. Ketika dilihatnya Vando sudah menuruni tangga sambil membawa kopernya.


"Kau mau pergi, Vando?" Tanya Kania.


"Aku tidak ingin terlibat dalam masalahnya"


"Tapi dia papamu"


"Oke itu memang benar. Tapi sekarang ini aku sedang tidak ingin mengingat itu. Aku pergi"


"Kau mau pergi ke mana?" Kania bertanya kepada putra sulungnya.


"Aku punya apartement atas namaku, Ma. Mama ingat. Aku juga punya bisnis dengan temanku"


Kania melongo melihat Vando melenggang pergi. Sepertinya sang putra sudah siap dengan situasi seperti ini.


"Lalu kita bagaimana, Ma?" Neva bertanya cemas. Berbeda dengan sang kakak. Neva hanya bisa berfoya-foya. Dan menghamburkan uang sang papa.


Kania juga bingung. Seingatnya semua aset memang atas nama suaminya. Apartement Vando adalah hadiah dari Gabriel ketika Vando lulus dengan nilai terbaik. Jadi itu tidak ada sangkut pautnya dengan aset Atmaja. Karena Gabriel bekerja pada Carter Corp.


"Mama tidak tahu, Va"


Kania terdiam. Di saat seperti ini, dia yakin tidak ada satu temannya yang sudi memberi pertolongan padanya. Dunia pertemanan kelas hanya berisi kepalsuan. Tidak ada yang benar-benar tulus dengan kita. Begitulah pikiran Kania.

__ADS_1


***


"Brengsek kau, Ann!" Duta berteriak marah. Melihat pemberitaan online maupun offline. Semua memberitakan dirinya. Dan polisi sudah memasukkan namanya dalam DPO. Sekarang ruang geraknya akan semakin sempit.


Pria itu sekarang bersembunyi di sebuah hotel murah di pinggir kota. Tidak bisa menggunakan kartunya sama sekali. Hanya mengandalkan cash yang sempat Ricky ambil sebelum berita tentang dirinya pecah di media online.


"Apa yang akan kita lakukan, Tuan?" Ricky bertanya setelah kembali dari membeli makanan.


"Kita sembunyi dulu di sini. Sampai keadaan lebih tenang" Duta berucap.


Ricky hanya menarik nafasnya dalam. Apesnya hidupnya. Tapi salah dia juga. Sudah tahu salah masih diikuti juga perintahnya.


***


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Gabriel.


Farris hanya terdiam. Dia sendiri juga bingung. Aya tidak mengalami koma. Semua organ vitalnya baik-baik saja. Dia sudah melakukan CT scan dan MRI, dan hasilnya semua baik. Tapi dia tidak tahu kenapa sampai tiga hari sejak Aya tertembak. Wanita itu belum mau membuka matanya.


"Aku tidak tahu, Briel. Tidak ada yang salah dengan Aya. Tapi dia seperti enggan membuka matanya"


"Kandungannya?"


"Baik. Tidak ada masalah"


"Kau sudah bicara pada Annelka?" Tanya Gabriel dan Farris menggeleng.


"Dia sangat sibuk. Kau tahu dua perusahaan dan sibuk mondar mandir ke kantor polisi. Dia hanya bisa kembali ke sini saat malam hari"


"Berhati-hatilah. Orang-orang Annelka akan tetap mengawasimu. Menjagamu. Sampai dia berhasil di tangkap"


"Tenang saja, apartemenku aman. Lagian ada Vania yang menemaniku"


"Makin tidak amanlah itu" Seloroh Farris. Membuat Gabriel nyengir. Farris tentu paham, dengan sifat Gabriel tidak dia akan diam saja. Ada wanita cantik di dekatnya.


"Cepatlah menikah. Otakmu lupa ingatan, tapi itumu tidak" Kembali Farris berucap.


"Iya-iya. Terima kasih sudah menolongku"


"Anggap saja ini kesempatan kedua untukmu, jadi jangan disia-siakan. Terlebih ada seorang wanita yang mau menerimamu lengkap dengan kebrengsekanmu"


"Iya..iya...aku dengar" Gabriel merasa lega setelah sampai di lobi. Terlebih melihat Vania melambaikan tangan dari mobilnya.


"Aku pergi" Pamit Gabriel. Farris hanya diam melihat Gabriel masuk ke mobil Vania. Dan mulai meninggalkan rumah sakit.


Farris melangkah masuk, hingga tiba-tiba ekor matanya melihat sekelebatan seseorang yang mirip Duta. Sesaat pria itu tampak terdiam. Mengamati hingga kemudian, benar-benar masuk ke dalam rumah sakitnya.


"Sial! Kenapa penjagaannya ketat sekali sekarang"

__ADS_1


Batin Duta yang memang berada di rumah sakit itu. Dia ingin melenyapkan Gabriel. Karena dialah, semua kejahatannya terbongkar. Dendam semakin merasuk ke hati Duta.


Dan sekarang Gabriel sudah pulang ke apartemennya. Akan semakin sulit untuk melakukan keinginannya. Dia tahu betul bagaimana tingkat keamanan di apartemen Gabriel.


"Bagaimana, Tuan?"


"Dia sudah pulang. Kita tidak akan bisa melakukannya sekarang"


Jawab Duta masuk ke dalam mobil yang lebih sederhana. Setelah kemarin, Ricky berhasil menjual mobil mewah mereka. Mereka lebih membutuhkan cash untuk bertahan hidup sekarang.


***


Annelka baru saja masuk ke ruang perawatan Aya. Setelah dia kembali dari kantor Farris. Pria itu sudah selesai membersihkan diri. Mengambil makan malamnya. Dan menyiapkan paper bag berisi baju kotor yang esok akan diambil Bibi Mai.


Menghela nafasnya sejenak. Eva dan Tria baru saja pulang setelah tadi menemani Aya sejak jam pulang kerja selesai. Menggantikan bibi Mai yang menjaga Aya selama semua orang bekerja. Bergantian dengan Arash.


"Apa kabarmu Ay. Maaf, aku terlalu sibuk beberapa waktu terakhir ini. Tapi mulai besok, aku akan menemanimu di sini. Aku akan work from hospital" Kekeh Annelka.


"Ay, apa kamu masih marah padaku? Aku kan bercanda soal ingin berpisah denganmu. Sekarang aku tidak mau berpisah denganmu. Apalagi ada si boy disini. Halo boy, bagaimana harimu. Apa kamu menemani Mama hari ini. Apa Mama masih bersedih hari ini...


Suara Annelka tercekat. Rasa pilu di hatinya membuat dia tidak sanggup lagi berkata-kata.


"Maafkan aku Ay, bangunlah. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Bangunlah, aku lebih suka dirimu yang mengamuk padaku. Daripada kau mendiamkanku seperti ini"


Ucapan Annelka beriringan dengan air mata yang tumpah di pipinya. Rindu, dia sangat merindukan istrinya, Aya. Seberapa besar rasa bersalah yang bersemayam di hati Annelka. Hanya pria itu yang tahu.


"Tidakkah kau kasihan padanya? Tidakkah kau ingin kembali? Dia mencintaimu, sama seperti kau mencintainya. Kembalilah, dia membutuhkanmu"


Sebuah suara terdengar lembut di telinga Aya. Membuat alam bawah sadar Aya merespon. Pelan jari lentik itu bergerak.


"Sudah cukup kau menyiksanya, pulanglah"


"Aku tidak menyiksanya"


"Kau membuatnya menangis. Apa itu jika tidak menyiksanya"


"Aku hanya bermain-min dengannya"


"Kalau begitu berhentilah bermain-main. Pulang sana"


"Kau mengusirku"


"Iya, karena tempatmu bukan di sini. Tapi di sana. Dia merindukanmu. Membutuhkanmu"


"Tapi aku ingin di sini"


"Sudah kubilang tempatmu bukan di sini. Perjalananmu masih panjang. Ingatlah, kami selalu bersamamu, selamanya. Nona muda Wibisana"

__ADS_1


Kali ini seolah mimpi itu sudah berakhir. Perlahan mata cantik itu terbuka. Setelah hampir lima hari setia terpejam.


****,


__ADS_2