Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Raja Drama


__ADS_3

"Kau membawanya ke rumahmu?" Tanya Ed.


Annelka mengangguk.


"Kau membawa masalah pulang, Ann" Ed berucap sedikit kesal.


"Hanya sampai dia sembuh. Aku hanya ingin membalas kebaikannya"


"Tapi kan ada cara lain. Tidak harus membawanya masuk ke rumahmu. Kau membuat celah untuk Arash masuk ke rumah tanggamu"


Ed berujar menggebu-gebu. Dia pikir Annelka ini bodoh atau bagaimana. Sudah tahu Arash memiliki rasa pada Aya. Dan dengan mudahnya Annelka malah mendekatkan keduanya.


"Tapi Aya bilang tidak punya rasa padanya" Annelka berkilah.


"Ann, hati perempuan itu lembut. Lama-lama bisa luluh kalau didekati terus. Kau ini tidak belajar dari pengalamanmu sendiri apa. Dulu Aya bagaimana dan sekarang dia seperti apa"


Annelka terdiam. Sedikit memikirkan ucapan Ed. Apa yang dia lakukan salah.


"Apa kau masih berpikir untuk melepaskan Aya? Dan sekarang kau sedang mencari kandidat penggantimu"


"Aku....


"Ann, jika kau benar-benar mencintai Aya. Percayalah, rasa cintamu akan membuatnya bahagia. Bukan sebaliknya. Semua wanita sangat suka dicintai"


Ed berlalu dari hadapan Annelka. Meninggalkan pria itu yang tampak berpikir serius. Menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya.


"Kau tidak bekerja?" Tanya Arash yang melihat Aya duduk di tepi kolam renang. Sesuai permintaan Annelka. Aya harus berpakaian tertutup di luar kamarnya selama ada Arash di rumah mereka.


"Badanku masih sakit semua" Jawab Aya sambil menegakkan duduknya. Memakai celana training milik Annelka dan kaos rumahan. Sejenak menatap pada Arash yang tangannya di gendong.


"Sudah diperiksa?" Tanya Aya. Bagaimanapun, Arash terluka karena menyelamatkannya.


"Belum. Masih menunggu perawatnya datang" Jawab Arash mendudukkan diri di samping Aya.


Hening, Arash tampak mengamati rumah Annelka. Sedikit mengagumi desain interiornya.


"Apa suamimu tahu kau mencintainya? Sebab yang aku tangkap hanya dia yang sering mengungkapkan perasaannya"


"Belum. Aku belum mengatakannya"


"Kau memang tidak pandai soal itu"


"Memangnya aku kau. Player seantero Guangzhou. Berapa perempuan yang sudah jadi korbanmu?"


"Hei aku tidak semurahan itu. Mereka yang mengejarku. Bukan aku"


"Tapi kau menanggapinya. Itu sama saja. Kenapa kau tidak coba serius dengan satu saja dari mereka"


"Membosankan"


"Kalau begitu kau juga akan merasakan hal yang sama padaku"


"Padamu tidak. Itu yang membuatmu berbeda. Aku tidak pernah jenuh dan bosan saat bersamamu. Ataupun melihatmu"


"Arash...


"Aku hanya menjawab ucapanmu. Kenapa kau marah"


"Sekarang tidak boleh lagi"


"Itu hakku Aya. Mencintaimu atau tidak. Rasa itu milikku. Perasaan ini aku yang punya"


"Tapi itu menggangguku"


"Berarti kau juga punya rasa padaku"


"No way...

__ADS_1


"Why not? I am sexy, free and rich. Tidak akan ada yang bisa menolak pesonaku"


"Tapi aku tidak"


"Kau belum mencobanya"


"Arash, jika aku memang punya rasa padamu. Sudah dari dulu kau jadi milikku. Tapi tidak. Berapa lama kita mengenal. Dan rasa itu tidak lebih dari seorang sahabat"


Aya menatap wajah tampan Arash. Aya akui Arash memilik wajah tampan. Setara suaminya, Annelka. Tapi entah kenapa, sejak mereka bertemu dan saling mengenal. Hampir sepuluh tahun, tidak pernah terbersit rasa cinta dalam hati Aya untuk Arash.


Arash menarik nafasnya mendengar ucapan Aya. Keduanya saling diam. Hingga suara bibi Mai mengalihkan perhatian mereka.


"Non,...


"Iya Bi, di sini. Ada apa?"


Bibi Mai sedikit mengangguk melihat Arash juga ada di sana.


"Ada paket. Untuk tuan"


Aya meneriman sebuah bungkusan berwarna coklat. Aya pikir paket apa ini. Kecil sekali. Menggenggam paket itu ditangannya. Lalu melihat nama pengirimnya. Tidak ada pengirim. Hanya tertulis untuk Annelka Carter.


"Mungkin urusan pekerjaan" Guman Aya.


"Dan perawat untuk tuan Arash sudah datang" Tambah bibi Mai.


Arash melangkah mengikuti bibi Mai ke ruang tengah. Di mana seorang perawat langsung mengembangkan senyumnya. Begitu melihat Arash mendekat. Siapa juga yang tidak akan sumringah jika pasiennya setampan Arash.


Setelah meletakkan paket di ruang kerja Annelka. Aya ikut masuk ke ruang tengah. Dimana Arash yang terlihat manyun. Kemejanya terbuka sebelah. Hingga dada bidang itu terlihat sebagian.


"Anda akan melakukan X-ray ulang minggu depan. Sementara, Anda hanya perlu mengkonsumsi obat penahan nyeri, anti inflamasi juga penambah kalsium. Usahakan makanan yang Anda makan tinggi kalsium. Begitu kata dokter Ata" Ucap perawat itu sambil mengoleskan krim untuk mengurangi bengkak dan memar di bahu Arash.


Arash hanya mengangguk malas.


"Besok kau tidak usah datang lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri" Arash berucap dingin.


"Tidak ada bantahan. Aku akan menghubungi dokter Ata sendiri nanti. Lagipula dia ada" Arash menunjuk Aya yang sedikit terkejut mendengar ucapan Arash.


"Oh iya, ada dokter Faya" Perawat itu salah tingkah.


"Kenapa kau menolak di rawat?"


"Tidak. Aku hanya tidak suka dia memandangi tubuhku"


"Narsis sekali"


"Tapi itu tidak masalah jika itu kau....Aya...!!" Arash berteriak ketika satu bantal sofa melayang ke arahnya.


"Makanya kalau ngomong jangan sembarangan"


Arash hanya mengulum senyumnya. Dia suka sekali menggoda Aya dari dulu.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Annelka begitu pria itu pulang di malam harinya.


"Dia hanya membuatku kesal saja" Keluh Aya.


"Apa dia menggodamu?"


"Dia menolak dirawat. Dia bilang bisa melakukannya sendiri"


"Bagus itu" Jawab Annelka tampak menatap ekspresi kesal sang istri. Annelka baru selesai membersihkan diri kala itu. Ketika bel kamar mereka berbunyi.


"Ya Bi, ada apa?" Tanya Aya melihat Bibi Mai sudah berdiri di hadapannya dengan wajah cemas.


"Itu Non, tuan Arash demam"


Aya dan Annelka langsung terkejut. Keduanya langsung menuju kamar Arash di lantai satu. Ketika mereka masuk dilihatnya pria itu menggigil sambil menggulung diri dalam selimutnya.

__ADS_1


"Buka selimutnya" Perintah Aya. Dan Annelka langsung menarik selimut dari tubuh Arash.


"Dingin, Ann" Ucap Arash begitu melihat Annelka yang menarik selimutnya.


"Bi, turunkan suhu AC-nya" Bibi Mai langsung bergerak melakukan perintah Aya.


"38,5 derajat" Guman Aya.


"Bagaimana?" Tanya Annelka. Aya beralih ke meja nakas. Sedikit mengacak-acak obat milik Arash.


"Minum ini. Wajar untuk keadaannya jika kena demam" Ucap Aya. Namun Arash menggeleng.


"Arash minum obatnya, jangan seperti anak kecil" Aya hampir berteriak.


"Jangan seperti itu" Annelka mengambil obat dari tangan Aya.


Pria itu mendekat. Lalu memencet hidung Arash yang matanya tertutup dengan bibir menggigil. Begitu hidung mancung Arash di pencet otomatis dia membuka mulutnya. Dan Annelka langsung memasukkan obat ke dalam mulut pria itu. Disusul segelas air putih yang setengah diminumkan paksa oleh Annelka.


"Ini penganiayaan!" Arash berteriak protes.


Annelka dan Aya terbahak melihat ekspresi kesal Arash.


"Kau sama seperti Mamaku. Begitu kalau memaksaku minum obat"


"Oohh, Mama kita sama kalau begitu" Jawab Annelka.


"Kau juga tidak suka minum obat"


"Oo, aku lebih mati daripada minum obat"


"Wah kita satu tim begitu" Seloroh Arash di tengah gemeletuk giginya menahan demamnya.


"Jangan pakai jaket. Nanti panasnya naik lagi"


"Lalu kau suruh aku telanjang begitu"


"Arash... pakai kaos. Bukannya naked"


"Dia kan tidak bisa pakai kaos"


"Kemeja kalau begitu"


Aya berucap lalu berlalu dari hadapan mereka.


"Bi, dimana baju orang itu"


"Dia galak sekali" Gerutu Arash. Sambil melepas jaketnya.


"Hai, bukannya kau kenal dia lebih dulu"


"Dia tidak segalak itu dulu" Arash melempar jaketnya ke arah Annelka.


"Sialan!" Umpat Annelka.


"Apa dia segalak itu kalau di ranjang?" Goda Arash yang kini hanya bertelanjang dada.


"Itu rahasia. Hanya aku yang tahu" Jawab Annelka sambil menaikkan satu alisnya.


Arash mendengus kesal mendengar jawaban Annelka. Bersamaan dengan itu Aya datang bersama bibi Mai membawa kemeja untuk Arash. Bibi Mai membantu Arash memakai kemejanya.


"Dia benar-benar raja drama" Ucap Aya begitu mereka masuk ke kamar mereka. Hampir tengah malam. Karena setelah meminum obatnya. Annelka dan Aya harus menemanin Arash sampai pria itu tertidur.


"Dan juga manja" Tambah Annelka.


Keduanya langsung naik ke atas ranjang mereka. Gara-gara drama Arash, Aya jadi lupa memberitahu Annelka soal paket untuk suaminya yang baru datang tadi siang.


****

__ADS_1


__ADS_2