
Setelah semua persiapan beres, Vani bersama Mami Winda dan Vina berangkat keluar negeri. Dengan perasaan sedih, Vani melepaskan cinta yang selama ini dimiliknya untuk sang mantan suami. Dia ingin melupakan semuanya dan memulai hidup yang baru.
Vina juga turut senang, senang karena akhirnya keinginannya keluar negeri kesampaian juga. Selama ini, Mami dan papinya tidak ada waktu untuk berlibur. Mungkin ini saat yang tepat bagi mereka untuk sekalian jalan-jalan, walaupun papinya tidak bisa ikut mereka.
Setelah naik pesawat selama hampir 2 jam, mereka sampai di Bandar Udara Internasional Changi, Singapura. Tempat yang tidak begitu jauh dari Indonesia, tetapi akan cukup mampu untuk membantu Vani melupakan Deni.
Sesampainya di bandara, mereka di jemput oleh Vano yang kemudian membawa mereka ke rumah Vano. Vano ternyata sangat tampan dan baik hati seperti dokter Dimas. Tetapi dari ketiga anak mereka, tidak ada yang bercita-cita menjadi dokter seperti ayah mereka. Mereka lebih cenderung menjadi pengusaha seperti Mami Winda dan keluarga Kakek mereka yang notabene dari keluarga pengusaha.
Saat itu, waktu sudah menunjukan pukul 12 siang waktu setempat. Vani, Vina dan Mami Winda menikmati pemandangan selama dalam perjalanan menuju rumah Vano. Sesekali Vano melirik kearah Vani yang meski berusaha menikmati suasana dan berusaha tersenyum, tetapi masih terlihat jelas bagi Vano jika saudara kembarnya itu masih belum bisa melupakan mantan suaminya.
"Mami, kita langsung pulang saja, bibik sudah menyiapkan makanan yang enak-enak untuk kalian," kata Vano sambil tersenyum.
"Tentu saja, Mami juga kangen dengan masakan Bibik. Sudah lama, Mami tidak ke sini. Nanti sore, baru Mami ajak kalian bertiga ke makam Nenek," jawab Mami Winda sambil melihat Vano.
"Vina, kamu masih tidak berubah setelah setahun ini, Kakak tidak melihatmu," goda Vano.
"Kakak, memang Vina harusnya berubah gimana?" tanya Vina kesal.
"Ya, harusnya tambah tinggi dan tambah cantik. Tapi ...."
"Kakak ...." Vina memukul pelan punggung Vano yang sedang menyetir.
Mereka semua tertawa melihat Vina yang tampak kesal karena di goda oleh Vano. Demikian juga Vani, berusaha ikut tertawa merasakan keakraban dari keluarnya.
__ADS_1
Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai di rumah Vano. Vano turun dan membawa barang-barang milik Mami, sedangkan Vani dan Vina membawa barang bawaan masing-masing.
"Selamat datang di rumah Vano. Silahkan masuk dan semoga betah tinggal di rumah sederhana ini," ucap Vano secara resmi.
"Vano, tolong tunjukkan kamar mereka, biar mereka bisa beristirahat sebentar," kata Mami Winda.
"Ok, Mami. Kamar Mami masih yang biasa, Vina juga. Kalau untuk saudara kembarku, mari aku tunjukkan kamarmu selama kamu tinggal di rumah ini," ucap Vano sambil menyerahkan barang milik Mami-nya.
Vano bergegas menuju ke sebuah kamar yang terletak tidak jauh dari kamar Mami Winda dan Vina. Vani mengikuti langkah Vano sambil sesekali melihat ke sekeliling rumah.
"Vani, ini kamar kamu. Dan kamarku ada di sebelah kamarmu," ucap Vano lalu membuka pintu kamar.
Vano masuk diikuti Vani dari belakang. Lalu Vani memperhatikan kamarnya ini dan merasa kamar ini seperti sengaja dipersiapkan untuknya. Terlihat dari foto-foto dia waktu masih kecil dan juga beberapa boneka yang ada di atas ranjang tempat tidurnya.
"Kamu pasti bertanya-tanya, kamar ini memang sengaja aku persiapkan untuk kamu. Karena aku yakin suatu saat kamu akan bisa kami temukan kembali. Dan terbukti sekarang, kamu bisa menempati kamar ini," ucap Vano bahagia.
"It's oke. Kamu istirahat sebentar, lalu turunlah untuk makan siang. Atau kalau kamu mau mandi dulu juga nggak papa. Kami bisa menunggu," kata Vano pada saudara kembarnya itu.
"Iya," jawab Vani pendek.
Vano keluar dari kamar Vani untuk segera melihat apakah Bibik sudah selesai menyiapkan hidangan makan siang atau belum. Sementara Vani, duduk di ranjang sambil melihat seluruh isi ruangan kamar Vani satu persatu. Pandangannya tertuju pada sebuah foto lama. Foto dirinya waktu masih kecil bersama Mami dan Vano. Kenanga masa lalu sedikit demi sedikit mulai bisa Vani ingat. Meski tidak semuanya.
Vani menarik napas panjang, dia lalu bergegas mandi agar tubuhnya terasa segar kembali. Selesai berganti baju, Vani segera turun kebawah untuk makan siang bersama. Di sana, telah menunggu Mami, Vina dan juga Vano. Vani kemudian duduk di samping Mami-nya karena Mami Winda ternyata sudah menyediakan tempat untuknya.
__ADS_1
Selama makan, hampir tidak ada pembicaraan antara mereka. Setelah selesai makan, Mami Winda meminta mereka untuk beristirahat karena nanti sore mereka akan pergi ke makam Nenek.
Vina ikut vani ke kamarnya, dengan alasan dia ingin menemani kakaknya. Padahal Vina penasaran dengan isi kamar Vani yang ternyata memang sudah lama dipersiapkan oleh kakaknya, Vano. Vani hanya tersenyum mendengar pernyataan Vina. Tetapi tentu saja, dia sangat senang ditemani Vina. Dengan begitu dia ada teman mengobrol dan tidak akan selalu teringat dengan mantan suaminya. Cinta, datangnya begitu indah, kenapa perginya begitu menyisakan luka yang teramat pedih. Bahkan lebih pedih dari tertusuk duri. Vani merasa, ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Sesuatu yang sangat berharga yang jika itu hilang, hidupnya pasti terasa hampa.
"Kakak, Vina sekalian temani Kaka tidur, boleh nggak?" tanya Vina mengagetkan Vani.
"Kenapa, kamu takut tidur sendirian? Bukannya kamu di rumah juga biasa tidur sendiri?" jawab Vani gugup.
"Nggak takut, Kak. Tapi, Vina cuman ingin bersama Kakak. Kita harus saja menjadi Kakak adik, terus harus berpisah lagi. Enak dong Kak Vano, bisa bersama-sama Kak Vani terus. Aku iri sama Dia," jawab Vina cemberut.
"Vina, nanti kalau kamu sudah lulus SMA, kamu juga bisa nyusul Kakak ke sini. Biar kita bisa tinggal bertiga. Biar seru karena akan ada triple V, Vano, Vani dan Vina. Ngakak, kan?" ucap Vani sambil tersenyum lebar.
"Boleh-boleh. Nanti setelah lulus SMA, aku paksa Mami sama Papi untuk mengirimkan ke sini. Pasti seru ya, Kak?" ucap Vina sambil lalu tertawa lebar.
"Berdoa saja supaya Mami dan Papi setuju, karena aku rasa mereka tidak akan setuju." Vani mematahkan semangat Vina.
"Kenapa Kak Vani yakin mereka tidak akan setuju mengirimkan ke sini?" tanya Vina penasaran.
"Karena mereka akan kesepian tanpa kamu. Mereka tidak akan bisa hidup tanpa salah satu dari kita bersama mereka. Lagipula, apa kamu tega meninggalkan mereka dalam kesepian?" tanya Vani sambil menghela napas dalam.
"Kakak benar. Kasihan mami dan Papi, memiliki 3 orang anak tetapi dimasa tuanya mereka tinggal sendirian?" jawab Vina sedih.
Mereka terus mengobrol hingga sore menjelang. Mereka berempat pergi ke makam Nenek untuk memberikan penghormatan dan sekaligus mengirimkan doa. Meski dengan keyakinan yang berbeda mereka berharap bahwa doa mereka yang tulus akan di dengarkan oleh Tuhan.
__ADS_1
Sampai di makam Nenek, Mami Winda bersimpuh dan mengatakan apa yang dialaminya beberapa waktu ini termasuk bertemu dengan Vani Kembali.
Bersambung