
Mami Winda tersenyum bahagia karena Vani sama sekali tidak dendam padanya. Vani lebih memilih berkompromi dengan keadaan dan juga takdir. Vani menjalani hari-hari dengan sabar. Hingga sang Mami kembali ke Indonesia.
Banyak hal yang telah Vani lakukan selain merawat Deva, kuliah dan bekerja. Karena setelah Deva lahir, Vani bisa melakukan banyak hal.
Vani merasa bahagia dengan kehadiran Deva. Ternyata, Deva mampu membuat Vani melupakan segalanya termasuk Deni. Hari-hari dia lalui dengan gembira. Tetapi saat melihat Vano, Vani jadi sedih. Vano masih belum bisa move on dari Clarisa, sedangkan Clarisa memutuskan untuk menyerah. Vani akhirnya berusaha memikirkan cara untuk bisa menyatukan mereka.
Vani mengundang Clarisa datang ke rumah, untuk meminta bantuan Clarisa mengajarinya membuat kue ulang tahun. Sebentar lagi ulang tahun Deva yang pertama. Vani ingin membuat sendiri dan merasa spesial.
Clarisa datang pada sore hari. Dia menyempatkan diri di sela-sela kuliah dan kerjanya. Clarisa sangat cantik dengan pakaian sederhana tetapi pas untuk dia. Dengan rambut panjang sebahu dan kulit putih bersih, memandikannya idola di kampusnya.
Seharusnya, Vano beruntung bisa mendapatkan wanita seperti Clarisa. Sayangnya, Vano terkesan lebih mementingkan pekerjaan daripada Clarisa.
"Vani, untuk apa kamu belajar membuat kue. Kamu tinggal beli aja, kan lebih gampang. Daripada repot-repot bikin kue, belum tentu Berhasil," kata Clarisa saat mereka sedang mempersiapkan adonan kue.
"Kalau beli, aku nggak bakal bisa merasakan nikmatnya berkotor-kotor ria," ucap Vani sambil bermain adonan.
"Eh, Vani, jangan dibuat mainan itu adonan. Hadeh, ini mau dibuat kue atau untuk bedak?" tanya Clarisa tidak percaya, adonan yang dia buat malah dibuat mainan Vani.
"Hehehe, ampun Clarisa. Ayo kita buat lagi," ucap Vani bercanda.
"Coba, sekarang kamu yang buat. Aku yang baca ukurannya," ucap Clarisa sambil tersenyum.
"Oke, siapa takut."
Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Mereka lebih seperti kakak adik. Saat mereka sedang sibuk belajar membuat kue, Vano pulang lebih awal dari kantor. Dia kaget melihat kedekatan Vani dan Clarisa yang tidak pernah Vano lihat sebelumnya.
Vano menatap kedua wanita yang sama-sama berharga di dalam hidupnya. Tanpa Vano sadari, dia tersenyum manis sendirian. Dan rasa rindu akan kebersamaannya dengan Clarisa, semakin membuat Vano gugup.
"Vano, sedang apa disana? Mau gabung ikut belajar memasak?" tanya Vani.
"Tidak perlu. Aku mau mandi saja dan bermain bersama Deva," jawab Vano bergegas masuk kekamarnya.
"Vani, kamu hebat," ucap Clarisa.
"Hebat apanya, orang belajar dari tadi tidak bisa-bisa. Ternyata sulit juga ya membuat kue," ucap Vani sambil menghela napas.
"Bukan tentang membuat kue, tapi kamu tidak membuat Vano marah, meski kamu panggil dia Vano saja. Biasanya suami itu, pasti minta di panggil sayang atau Mas. Tapi kamu panggil dia namanya saja, dia masih bisa tersenyum," kata Clarisa kagum.
Vani tersenyum geli karena sampai saat ini Clarisa belum tahu hubungan Vano dan dirinya. Semoga dia tidak akan marah saat dia tahu bahwa Vani berbohong padanya.
"Sebenarnya Vano pria yang memang baik. Kalau soal nama, baginya tidak terlalu penting. Dah ah jangan bicarakan dia, nanti dia besar kepala," kata Vani.
__ADS_1
"Vani, setelah ini, aku akan pulang. Kamu nanti bisa mencoba sendiri."
"Eh, jangan pulang dulu. Makan malam disini saja. Lagian, sudah hampir malam," ajak Vani.
"Tapi ... aku takut, Vano tidak setuju," jawab Clarisa gugup.
"Tidak akan. Dia pasti setuju. Mau ya?" tanya Vani lagi.
"Baiklah, aku melakukan ini demi kamu," jawab Clarisa sambil tersenyum.
Setelah Clarisa setuju, Vani segera meminta Bibik untuk membuat makan malam. Sementara Deva yang tadinya ada bersama Bibik, sekarang sedang bersama dengan Vano di ruang keluarga.
"Anakmu dimana, Van?" tanya Clarisa sambil duduk menunggu kue matang.
"Kata Bibik, sedang sama Vano. Kenapa, mau main sama Deva juga? Kalau begitu, ayo kita cari Vano," jawab Vani.
"Nggak jadi ah, aku duduk di sini saja sambil nunggu kue kita matang."
"Lah kan nanti ada suaranya kalau sudah matang. Lagian, kita bisa perkirakan waktunya. Ayo, ikut saja," ajak Vani sambil menarik lengan Clarisa yang malu-malu tapi dalam hati juga mau diajak bertemu dengan Vano.
Akhirnya, Clarisa mau menuruti keinginan Vani untuk bertemu Vano. Mereka menuju ke ruang keluarga. Disana tampak Deva sedang bermain dengan beberapa mainan anak-anak. Sementara Vano duduk disampingnya untuk ikut bermain.
"Deva ... anak Mami," panggil Vani sambil ikut duduk di samping Deva. "Lihat, siapa yang datang?"
"Wah, mainan bagus. Siapa yang belikan?" tanya Vani sebagai bentuk perhatian pada ucapan anaknya. Walupun dia sudah tahu jika mainan itu pemberian Clarisa.
"Ante ... Alica," jawab Deva.
"Lucunya anak Mami. Clarisa, duduklah sini. Bukankah tadi mau main sama Deva?" ucap Vani sambil meminta Clarisa duduk dekat Vano.
Clarisa tampak malu-malu demikian juga Vano. Dia diam seribu bahasa saat Clarisa berusaha melihatnya.
"Vano, nanti Clarisa akan makan malam di sini. Kamu tidak keberatan kan?" tanya Vani sambil menatap Vano.
"Tentu saja tidak. Apapun yang kamu inginkan, aku oke saja," jawab Vano sambil tersenyum.
Saat makan malam sudah tiba. Mereka berempat makan malam sambil sesekali Vani menggoda Deva untuk menghangatkan suasana yang tampak dingin. Tetapi Vano dan Clarisa masih tetap diam seribu bahasa.
"Vano, selesai makan, tolong kamu antar Clarisa pulang. Kasihan sudah malam, tidak baik anak gadis pulang sendirian saat malam. Aku sangat khawatir pada keselamatan Clarisa," ucap Vani sambil melihat ke arah Vano.
Clarisa tampak tegang menunggu jawaban dari Vano
__ADS_1
"Baiklah," jawab Vano singkat.
"Oke, sekarang aku merasa tenang. Clarisa, jangan takut, Vano akan mengantarmu," ucap Vani sambil tersenyum.
Setelah makan malam, Vano mengantar Clarisa pulang. Selama perjalanan, mereka hanya diam. Sampai tiba-tiba ada sesuatu yang membuat Vano mendadak mengerem mobilnya.
"Ada apa, Vano?" tanya Clarisa panik karena mobil Vano hampir menabrak pohon.
"Tidak. Aku hanya melamun saja," jawab Vano panik saat tahu mobilnya hampir menabrak pohon dipinggir jalan.
"Kamu melamunkan apa, sampai bisa membuat kamu ... Vano," tanya Clarisa sambil menatap Vano.
"Maafkan aku Clarisa. Aku ... Aku mencintaimu," ucap Vano tiba-tiba.
Ucapan cinta dari Vano, bukannya membuat Clarisa senang, tetapi malah membuat Clarisa marah. Pasalnya, Clarisa menganggap Vano menghianati Vani.
"Apa, apa aku tidak salah dengar? Kamu sudah menikah dan sudah memiliki anak sekarang. Jika ini kamu katakan dulu, sebelum kamu menikah, pasti aku akan menerimamu dengan senang hati. Tapi, untuk saat ini, aku tida bisa," jawab Clarisa bingung karena saat mendengar jawaban Clarisa, Vano malah tersenyum.
"Clarisa. Siapa yang menikah, siapa yang punya anak?" tanya Vano kemudian.
"Siapa lagi, kalau bukan kamu," jawab Clarisa.
"Vani dan Deva. Kamu tahu arti nama Deva? Artinya adalah Deni dan Vani. Jadi namaku tidak ada dalam nama anak Vani," kata Vano berteka-teki dengan Clarisa.
"Maksudmu, Deva bukan anakmu? Kok bisa, apakah Vano selingkuh? Tapi, itu tidak mungkin, Vani bukan wanita seperti itu," tanya Clarisa tidak percaya.
"Dia tidak selingkuh. Deva, anak mantan suaminya. Kasihan keponakan aku, sejak lahir dia tidak punya ayah. Terpaksa aku membiarkan dia memanggilku ayah," ucap Vano sedih.
"Keponakan?" tanya Clarisa bingung.
"Vani dan Vano. Kami saudara kembar." Vano tersenyum sambil menatap Clarisa penuh arti.
"Kembar? Vani, Vano. Aku pikir, kian mirip karena jodoh, tapi ternyata kalian saudara kembar?" tanya Clarisa lagi.
"Maafkan kami, kami tidak bermaksud membohongi kamu. Waktu itu aku ingin kamu menyerah. Dan aku juga hanya ingin melindungi Vani." Vano terdiam sejenak. "Bisakah kita memulai dari awal lagi?"
"Apa kamu serius?" tanya Clarisa malu-malu.
"Tentu saja aku serius. Aku janji, aku akan lebih mementingkan kamu daripada pekerjaanku," kata Vano berusaha meyakinkan Clarisa.
"Aku ... aku bersedia."
__ADS_1
Mendengar jawaban Clarisa, Vano memeluk Clarisa dengan hati lega. Cintanya kini telah kembali dan senyum Kemabli menghiasi wajah keduanya.
Bersambung