Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 23. Berkata jujur


__ADS_3

Vani merasa bersalah pada mami Winda dan semua keluarga dokter Dimas. Rasa bersalah karena berpura-pura hilang ingatan untuk bisa menumpang hidup pada mereka. Semakin, Vani merasa nyaman berada di rumah ini, Semakin besar pula rasa bersalah itu ada.


Vani mencoba meyakinkan diri untuk berterus terang pada mami Winda. Apapun resikonya, dia sudah siap untuk untuk menanggungnya. Vani berusaha mencari waktu yang tepat untuk bisa leluasa berbicara pada mami Winda.


Hari ini, mami Winda pulang lebih awal, demikian juga Vani juga baru pulang kuliah. Vani tidak pergi mandi tetapi langsung menemui mami Winda dilamarnya.


"Masuk." Suara mami Winda terdengar jelas.


"Maaf, Vani mengganggu istirahat Mami," ucap Vani sungkan.


"Tidak apa-apa. Mami tadi hanya sedikit pusing saja. Sini, duduk dekat Mami."


Vani berjalan perlahan mendekati maminya. Sambil tersenyum, Vani berusaha menenangkan diri. Dengan begitu dia tidak akan gugup ketika berbicara pada mami Winda.


"Katakan, ada apa?" tanya mami Winda sambil membelai rambut panjang Vani.


"Sebelumnya saya minta maaf sama Bu Winda dan juga pada keluarga yang lain. Saya sebenarnya tidak lupa ingatan," ucap Vani yang kini ingin kembali menjadi Yanti.


"Apa maksudmu, Vani?" tanya mami Winda kaget.


"Sejak awal, saya ingin memanfaatkan rasa bersalah mami dan Vina untuk menerima saya di rumah Bu Winda. Nama saya sebenarnya adalah Yanti. Saat itu, saya sedang marah pada suami saya. Saya pergi dari rumah dan ingin pergi sejauh-jauhnya." Yanti memulai awal dirinya memutuskan untuk berbohong.


"Oh, begitu. Jadi kamu melarikan diri dari masalah dengan suamimu. Dalam sebuah rumah tangga, bertengkar itu adalah hal yang biasa. Karena menyatukan dua hal yang berbeda, tidaklah mudah," kata Bu Winda.


"Ibu Winda tidak marah padaku?" tanya Yanti sambil menahan napas sejenak.

__ADS_1


"Tidak, Yanti. Ibu malah senang, bisa mengenalmu. Entah mengapa, ibu bisa sangat menyayangimu. Sudah berapa lama kalian menikah?" tanya Bu Winda sambil tersenyum.


"Saat Yanti pergi, pernikahan kami baru satu bulan. Itupun kami jalani tanpa cinta," jawab Yanti sambil menunduk.


"Kalau tidak cinta, kenapa kalian menikah? Karena perjodohan?" tanya Bu Winda penasaran.


"Kami menikah karena ada kesalahpahaman dan kami harus menikah saat itu juga," jawab Yanti.


"Terlepas dari tidak ada cinta dalam pernikahan kalian, tidakkah kalian ada sedikit rasa untuk mempertahankan pernikahan kalian? Tidakkah kalian menganggap, bahwa apa yang terjadi pada kalian adalah takdir, setidaknya berharap kalian berjodoh?"


"Awalnya, kami memang sepakat untuk menjalani pernikahan ini. Kami berusaha menerima satu sam lain. Dia sangat baik pada Yanti. Tetapi malam itu, dia menuduh Yanti berselingkuh dengan ayahnya. Yanti tidak terima. Yanti minta cerai dan memutuskan pergi meninggalkannya," jawab Yanti sambil meneteskan airmata.


"Yanti, dituduh selingkuh memang menyakitkan. Kamu tinggallah disini, sampai kamu menemukan jalan yang terbaik untuk kelanjutan pernikahan kalian. Apa kamu sudah menjelaskan pada suamimu, kalau kamu tidak selingkuh?" tanya Bu Winda.


"Tidak, waktu itu dia sangat marah dan kesal pada Yanti, Yanti tidak ingin menjelaskan," jawab Yanti.


Yanti sekarang bisa bernapas dengan lega. Mami Winda masih tetap menerimanya sebagai salah satu putrinya meskipun dia bukan Vani. Masalah ketidakjujurannya pada keluarga mami Winda telah berakhir dengan baik. Meski, Yanti tidak mengatakan bahwa Deni adalah suaminya. Biarlah ini menjadi rahasia untuk sementara.


Nama panggilannya kini berubah menjadi Yanti. Hal ini membuat Vina tidak terima. Hal ini Vina ungkapkan saat mereka sedang santai di ruang keluarga. Mami Winda duduk di sofa dan Vina duduk di sampingnya. Sementara Yanti, duduk di sofa yang lainnya.


"Mami, mana bisa aku harus memanggil kak Vani dengan kak Yanti. Bolehlah Mami, Vina tetep panggil kak Vani," ucap Vina sambil bergelayut manja pada mami Winda.


"Terserah Vina aja, mau manggil kakak apa. Asal kakaknya mau," ucap mami Winda sambil tersenyum.


"Kakak, Vina panggil Kak Vani saja, ya?" tanya Vina sambil menatap Vani penuh permohonan.

__ADS_1


"Yah, boleh. Tetapi, nanti kalau kakakmu yang sebenarnya ketemu, kamu harus panggil aku Kak Yanti," jawab Vani.


"Terimakasih, Kak Vani," ucap Vina senang.


Vina memeluk Vani, seolah telah menganggap Yanti benar-benar sebagai kakaknya, Vani. Bagi Yanti, dipanggil Yanti atau Vani sama saja. Karena sesungguhnya kedua nama itu bagi Yanti tidak ada bedanya. Sejak kecil, dia tidak tahu siapa namanya. Nama itu adalah nama pemberian dari ayah dan ibu angkatnya.


Semenjak Yanti sudah memberikan penjelasan pada keluarga mami Winda, Yanti kini hidup sebagai dirinya sendiri. Perlakuan mami Winda dan Vina serta dokter Dimas juga tidak berubah. Mereka masih tetap menyayangi Yanti sama seperti dulu.


Yanti mulai terbiasa hidup di antara mereka sehingga hampir melupakan ayahnya, pak Hadi. Saat malam menjelang, Yanti tidur seperti biasanya. Tetapi kali ini, Yanti bermimpi tentang ayahnya.


Terlihat, ayahnya sedang tersenyum padanya tetapi airmata ayahnya menetes perlahan di pipinya yang sudah mulai keriput. Saat Yanti ingin mendekatinya, ayahnya malah mundur sambil mengucapkan sesuatu yang membuat Yanti menangis.


"Yanti anakku. Ayah bahagia ketika melihatmu bahagia. Kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkan ayah. Ayah bisa hidup tanpamu, seperti kamu bisa hidup tanpa Ayah. Raih kebahagiaanmu sendiri. Jangan cari Ayah lagi."


Setelah berkata seperti itu, ayahnya tiba-tiba menghilang. Yanti berteriak memanggil-manggil ayahnya, tetapi sosok ayahnya telah hilang entah kemana. Saat itu, Yanti terbangun dari mimpinya dan dia mulai menangis. Ingatannya mulai tertuju pada ayahnya, yang sudah cukup lama tidak dijumpainya.


Yanti merasa bersalah, pergi dan tidak memberi kabar pada ayahnya. Beliau pasti sangat khawatir saat tahu, Yanti pergi dari rumah Deni. Karena setahu ayahnya, saat ini Yanti berada di rumah Deni.


Timbul keinginan dihatinya untuk menemui ayahnya. Setidaknya memberitahu ayahnya jika dia dalam kondisi sehat. Tetapi, Yanti tentu saja harus meminta izin pada mami Winda atau dokter Dimas sebagai bentuk rasa hormat.


Kebetulan hari itu, dokter Dimas, Vina dan Yanti sedang santai di ruang keluarga sambil menonton televisi. Mereka terlihat sangat bahagia seperti anggota keluarga sendiri. Yanti berencana mengutarakan niat menemui ayahnya pada mereka. Tinggal menunggu mami Winda datang.


Akan tetapi, kebahagiaan menjadi bagian keluarga mami Winda, akhirnya harus berakhir ketika mami Winda membawa seorang wanita muda ke rumah. Mami Winda tampak sangat bahagia berjalan di samping gadis itu.


Vina, Yanti dan dokter Dimas, sangat terkejut dengan kehadiran mereka berdua. Mereka bertiga saling berpandangan dan masih belum mengerti apa yang terjadi.

__ADS_1


"Selamat sore semuanya. Kebetulan sekali, kalian semua ada di rumah. Perkenalkan, ini Vani anak kita, Mas Dimas. Ini kakakmu, Vina," ucap mami Winda mengagetkan mereka bertiga.


Terutama, Yanti.


__ADS_2