
Tiga brangkar didorong masuk sekaligus ke dalam tiga ruang operasi yang berbeda. Fabian dan Duta akan menjalani operasi pengangkatan peluru masing-masing di dada kiri dan kanan mereka.
Sedang Astrid yang ketakutan dan tertekan. Memicu kontraksi dan pecah ketuban. Membuatnya harus segera mendapatkan operasi Caesar darurat.
"Astrid..
"Tetaplah bersama Papa. Eva akan bersamaku" Ucap Astrid sesaat dua brangkar itu masuk ke ruang operasi masing-masing.
"Aku tidak akan apa-apa. Percayalah. Aku sudah lama menunggu mereka. Aku tidak akan menyerah dengan cepat" Seulas senyum terukir di bibir Astrid. Di sela-sela ringisannya menahan kontraksi di rahimnya.
"Tapi...
"Kita akan bertemu mereka sebentar lagi. Percayalah padaku"
Ucapan Astrid membuat Farris mau tak mau melepas brankar Astrid masuk ke ruang operasi.
"Aku titip mereka, Va" Ucap Farris pada Eva yang menyusul di belakang brankar Astrid.
"Dia akan baik-baik saja. Dia wanita kuat. Cepat selesaikan operasimu. Mereka menunggumu" Ucap Eva. Farris mengangguk. Tahu jika dia harus mengadzani putra-putrinya setelah mereka lahir.
Pada akhirnya, ketiga pintu operasi itu menutup hampir bersamaan. Meninggalkan Tria dan Ed juga Arash di depan ruang tunggu.
"Jadi seperti ini akhirnya" Guman Ed. Tria dan Arash hanya menarik nafas masing-masing mendengar gumaman Ed.
Tiga puluh menit kemudian, dari pintu ruang operasi Astrid terdengar suara tangisan bayi. Ketiga pria itu tersenyum.
"Pengacau kecil kita sudah lahir" Guman Tria. Arash tertawa kecil.
"Aku doakan anakmu lebih rusuh dari anaknya Farris" Doa Arash. Balas dendam pada doa Tria yang mendoakan dirinya agar bucin dengan Helena.
"Anakku rusuh berarti anakmu rajanya rusuh"
"Ooo jelas, anakku akan jadi raja rusuh. Putra klan Tan...
"Juga Liu..." Sambung Tria.
"Belum tentu dia calonnya"
"Aku tunggu undangannya" Ed berucap tidak peduli.
"Sialan kalian!" Arash mengumpat kesal. Bersamaan dengan itu satu tangisan bayi terdengar lagi. Yang ini lebih kencang dari yang tadi.
"Aku rasa inilah raja rusuhnya" Guman Arash.
Di tempat lain, Annelka tampak merebahkan tubuh Aya di tempat tidurnya. Wanita itu sudah terlelap. Setelah tadi terpaksa diberi obat penenang. Karena dia begitu ketakutan melihat Fabian dan Duta ambruk berlumuran darah.
Farris keluar dari ruang operasi papanya. Wajahnya terlihat lelah. Namun ada rasa lega di wajahnya.
"Bagaimana?" Tanya Arash.
"Kritis tapi okelah. Dia bisa bertahan"
Semua langsung menarik nafasnya lega. Sungguh tidak terbayang jika mereka harus melihat Fabian yang sudah mereka anggap sebagai ayah, meninggal.
"Dokter Farris....
__ADS_1
Seorang perawat berteriak panik.
"Dok...dia kena serangan jantung"
Farris langsung berlari masuk ke ruang operasi Duta. Kepanikan kembali mewarnai ruangan itu.
Semua orang kembali dilingkungi rasa cemas. Beberapa waktu berlalu. Hingga Farris keluar dengan wajah suram. Oke, Duta memanglah orang jahat. Menurut mereka. Tapi melihat akhir Duta yang terasa begitu tragis, tak urung membuat hati mereka sedikit terusik. Sedih terlihat di raut wajah mereka.
"Dia meninggal" Ucap Farris sendu. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa merasa sedih atas kematian Duta.
Semua orang terdiam. Hingga kedatangan Annelka mengalihkan perhatian mereka.
"Bagaimana mereka?" Annelka bertanya cepat. Tidak tahu sebenarnya siapa yang ingin dia ketahui keadaannya.
"Duta, dia meninggal" Arash yang menjawab
Annelka langsung ikut terdiam. Dia sendiri juga tidak tahu apa yang dia rasakan.
"Farris, anakmu menunggu" Suara Eva memecah kediaman mereka. Farris langsung bergerak masuk ke tempat di mana sang istri melahirkan.
"Apa yang terjadi. Apa Om Fabian baik-baik saja?" Tanya Eva mendudukkan diri di samping Tria.
"Om Fabian baik-baik saja. Tapi dia...meninggal"
Eva langsung menutup mulutnya tidak percaya. Mendengar ucapan Ed.
"Sebenarnya ini terlalu ringan untuknya. Mengingat dua keluarga habis ditangannya. Belum Gabriel, Om Fabian, Aya...tapi mau bagaimana lagi. Sudah terjadi" Arash berucap.
"Padahal kalau ikutkan hati, ingin rasanya aku yang menembaknya sendiri menggunakan tanganku" Annelka berucap sambil mengepalkan tangannya.
"Ya kalau begitu tidak apa-apa" Sahut Arash.
"Kan ujungnya sama-sama mati" Arash menjawab enteng. Semua langsung mendengus geram mendengar jawaban Arash.
"Kamu kenapa?" Tanya Tria yang melihat Eva sejak tadi terlihat bersikap aneh.
"Lahiran...rasanya lahiran seperti itu ya"
"Caesar kan enak" Ed memotong cepat.
"Caesar apanya? Mbak Astrid normal tahu"
"La, katanya caesar"
"Tadi planningnya begitu. Tapi begitu sampai dalam bukaannya sudah sampai sembilan. Ternyata dia sudah merasakan kontraksi dari pagi.Jadi bisa normal. Saakkiiittt tahu rasanya"
"Gak seenak bikinnya, ya" Seloroh Ed yang langsung dikeplak lengannya oleh Eva.
"Jangan galak-galak Bu, nanti anaknya ikutan galak lo"
"Galaknya milih, cuma sama kamu kok" Jawab Eva pedas.
"Astaga, perasaan gue dulu kasih mahar banyak banget. Masih marah aja sama gue" Keluh Ed. Eva hanya memutar matanya jengah.
"Aku baru tahu ini lo. Ada mertua sama menantu anaknya bakal sebaya. Nanti anakmu manggil Eva apa Ed. Mengingat Eva masih kinclong bin seksi...aduh, Tria sakit"
__ADS_1
Arash meringis ketika Tria menendang kakinya.
"Katakan Eva seksi lagi"
"Seksi....depanmu saja. Puas?!" Arash berucap kesal.
"Latihan Rash, KDRT itu begini rasanya. Sebelum kamu kena KDRT sama si Helen"
"Sebelum dia KDRT-in aku. Aku banting duluan dia ke kasur. Habis dia" Sahut Arash cepat.
"Wah, ada yang beneran otewe bucin ni nanti pulang Guangzhou" Annelka yang bersuara kali ini.
"Aiihhh kalian menyebalkan semua. Aku dibulli di sini" Keluh Arash.
"Ya sudah pulang sana. Minta dikelonin ma mak lu" Celetuk Ed.
"Enak saja. Gue sudah pisah kamar sama mak gue sejak gue umur 4 tahun"
"Alah itu pasti alasannya bapakmu. Biar kamu gak monopoli mak elu"
Arash terdiam. Sial! Jadi itu alasannya. Melihat wajah masam Arash. Semua terbahak.
"Tenang Rash, kita besok juga akan mengalami itu jika sudah punya anak. Rebutan buah jambu sama anak"
"Punyamu jambu. Punyaku enggak ya....aaaa enggak Va, ampun...ampunn" Tria berteriak ketika Eva menjewer telinganya. Hampir saja Tria keceplosan menyebut ukuran dada sang istri.
Annelka dan Arash hanya bisa saling pandang melihat kerandoman duo asisten Annelka beserta couplenya itu. Sedikit menghibur hati mereka yang tengah berduka.
***
Fabian jelas merasa sedih. Ketika keesokan harinya, dia diberitahu kalau Duta meninggal.
"Aku membunuhnya, Ris" Ucap pria paruh baya itu penuh sesal. Tidak dia pungkiri kalau baginya Duta tetaplah seorang teman. Dia selalu beranggapan sang teman sedang salah jalan. Dan dia selalu menunggu sang teman untuk kembali pulang ke jalannya.
Tapi kenyataan berkata lain. Di tangannyalah Duta meninggal.
"Tidak Pa, Papa reflek menarik Glock-nya Annelka karena Papa terkejut. Duta menembak Papa. CCTV merekamnya. Lagipula dia meninggal bukan karena luka tembakan. Tapi serangan jantung pasca operasi"
Farris berusaha menenangkan Fabian. Pria itu sejak tadi tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
"Relakan dia Pa..mungkin ini balasan untuknya. Meski menurut kami ini terlalu mudah dan ringan untuknya" Farris menggeram marah.
"Bagaimanapun dia sahabat Papa, Ris. Kami bersama sejak SMP" Fabian menambahkan.
"Iya, Pa. Sama seperti aku dan Annelka. Hanya saja kami tidak seperti kalian"
Fabian menyusut air matanya. Dia pikir setelah sekian lama. Duta akan menyadari kesalahannya. Dan kembali pada mereka. Tapi ternyata ekspektasi tidak seindah kenyataan. Semua tidak seperti yang Fabian inginkan.
"Papa harus kuat, ingat sekarang Papa harus membantu kami menjaga si kembar"
"Si kembar? Maksudmu? Astrid melahirkan?"
Farris mengangguk. Dan sebaris kata syukur langsung terucap dari bibir Fabian.
"Alhamdulillah, ya Allah. Engkau masih memberikan nikmat di tengah rasa duka yang tengah kurasakan"
__ADS_1
Batin Fabian menatap tidak percaya pada Farris.
****