Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Lebih Sempurna


__ADS_3

"Kenapa kami harus ikut kalian ke kota?" Ben bertanya, dua hari setelah penahanan mereka di kantor polisi setempat.


"Kami akan memproses kejahatan kalian di kantor pusat. Semua berkas sudah dilimpahkan ke sana" Jawab Ed.


"Ben..." Zaki berucap panik. Mendengar kantor pusat Zaki merasa seram. Seolah kejahatan mereka harus dibayar dengan hukuman berat.


"Kami ingin kasusnya diselesaikan di sini" Ben menolak.


"Korbannya Faya Ayunda Carter, harus segera menjalani pemeriksaan. Kalian tahu kan, kalian membahayakan kandungannya" Desis Ed.


"Kami tidak tahu kalau dia sedang hamil" Cicit Zaki.


"Karena itu jangan membantah" Ed berucap tajam.


"Ed, semua siap!" Tria berucap dari ponselnya.


"Kita berangkat sekarang"


"Apa? Sekarang?" Zaki berteriak panik. Sedang Ben hanya bisa diam.


Ketika mereka keluar dari kantor polisi itu. Tiga buah mobil sudah menunggu. Bukan mobil polisi. Tapi mobil CRV yang terlihat begitu mewah di mata Zaki. Namun entah kenapa Ben tidak begitu. Seolah dia sudah biasa dengan pemandangan itu.


Sejurus kemudian Ben tertegun melihat Aya yang berjalan di samping Annelka. Memakai dress longgar selutut berwarna biru. Membuat Aya terlihat begitu cantik.


"Aku harap kau tidak berulah selama perjalanan" Annelka berucap. Dia hampir saja menubruk Ben. Memeluk pria itu. Tapi dia harus menahan diri. Sampai tes DNA selesai dilakukan. Karena sesuai dugaan mereka. Ben tidak mengingat masa lalunya.


"Aku orang yang bertanggungjawab. Aku tertangkap, berarti sudah tiba saatnya aku mempertanggungjawabkan semua perbuatanku" Jawab Ben.


"Bagus kalau begitu"


"Sampai bertemu di rumah, Kak" Ucap Aya ambigu. Membuat Ben dan Zaki saling pandang. Ketika Ben dan Zaki akan masuk ke dalam mobil. Dilihatnya, Santi yang datang menghampiri Aya.


"Santi...." Bisik Ben. Hanya sebentar Santi berbicara pada Aya lalu pergi. Ketika Santi akan pergi, dia terkejut melihat Ben yang berada di dalam mobil. Sesaat kedua pasang mata itu bertemu pandang. Entah apa yang dua orang itu rasakan. Namun Aya sempat melihat moment itu.


Mobil yang mulai berjalan. Membuat Santi dan Ben harus memutus kontak mata mereka.


"Kenapa kau memanggilnya, Kak?" Annelka protes.


"Kan dia kakakmu"


"Belum tentu"


"Lah kamu sendiri yang bilang, kalau tidak ada orang lain yang akan memakai kalung yang sama denganmu selain kakakmu"


"Tapi semua harus dibuktikan dulu. Nanti dia ge er lagi" Gerutu Annelka.


"Ay, kau paham tidak?" Tanya Ed dari kursi supir.


"Apa?"


"Dia cemburu pada kakaknya sendiri" Seloroh Tria


"Astaga...itu benar Ann?" Tanya Aya. Tapi Annelka enggan menjawab. Memilih menatap pemandangan di luar jendela.


"Aku sarankan, kau tidak satu rumah dengannya. Kalau tidak, kau akan dibuat pusing dengan kecemburuannya"


"Dia memang punya rumah sendiri"


"Itu kalau terbukti dia kakakmu. Kalau belum, sementara menunggu hasil DNA keluar. Dia akan tinggal di rumahmu"


"Kau bercanda kan Ed?" Tanya Annelka.


"Tidak. Aku serius. Statusnya tidak lagi tersangka. Aya menolak melaporkannya. Jadi dia akan tinggal di rumahmu, selagi proses itu berlangsung"

__ADS_1


"Alamak" Annelka berucap tanpa sadar.


"Dia itu kakakmu"


"Kalau itu benar. Tapi di luar itu dia tetap seorang pria" Protes Annelka.


"Lalu?"


"Suruh mereka tinggal di rumah Farris. Sekalian suruh momong si kembar"


"Enak saja. Nanti otak si kembar didikte jadi kriminal kan bahaya"


"Sebentar saja Ann, apa kau tidak rindu padanya. 10 tahun dan kini ada harapan kalau dia adalah kakakmu. Ini anugerah" Tria berucap.


Annelka hanya terdiam mendengar ucapan sahabatnya.


"Aku heran kenapa Mamamu memberi kalian kalung seperti ini" Aya menunjukkan kalung di leher Annelka.


"Itu kan kalung perempuan"


"Mamaku kesal pada Papa bisa-bisanya hanya mencetak kami. Anak cowok. Dia protes, karena tidak ada yang bisa diajak shopping dan kegiatan kewanitaan lainnya. Karena itulah dia membuatkan kami kalung ini. Aku dan Aaron hampir saja membuangnya. Jika Mama tidak merengek meminta kami memakainya. Dia bilang kan selain istri kami, tidak ada yang tahu kalau kami memakai kalung ini. Dan Aaron sangat patuh. Dia pakai kalung ini kemana-mana" Kenang Annelka.


"Kalau begitu aku saja yang pakai. Kan ini kalung perempuan" Aya meminta.


"Alah, ya sudah kau yang pakai" Annelka melepas kalungnya lalu memakaikannya ke leher Aya. Yang langsung sumringah saat melihat bandulnya.


"Cantik, cucok sama bajuku" Guman Aya bahagia.


"Lalu soal kejahatan yang Ben lakukan dulu bagaimana ceritanya?"


"Kita akan lihat nanti. Soalnya Ben dan cs-nya hanya merampok tanpa melukai. Dan rampokan mereka paling besar sejuta" Jawab Ed.


"Tapi mereka mengambil Cartier sama Philipe Patex-ku" Keluh Aya.


"Iya juga ya, dua kali lipat. Ahh, aku mau Rolex yang Day White"


"Itu kecil untuknya. Asal jangan minta padaku.Gak kuat..." Guman Ed.


"Lebay...kamu Ed" Maki Annelka.


"Aku rindu kalian" Tria berseloroh.


"Baru juga seminggu" Aya menjawab santai.


"Kayak pasutri aja. Seminggu gak ketemu balas dendam" Sahut Tria.


"Ahhh itu perlu dicoba. Dan kau Ann, kau harus puasa dulu" Ledek Ed. Membuat Annelka mendengus kesal.


Mereka tertawa terbahak-bahak. Sungguh seminggu ini mereka seperti orang yang mengalami spot jantung. Takut jika ada berita yang mengejutkan mereka. Atau terjadi apa-apa pada dua orang yang kini duduk bersandar kelelahan di kursi belakang.


Sejenak keheningan meliputi mobil itu.


"Dia tidur apa? Kok sepi" Tanya Ed yang fokus pada kemudinya.


"Tidur. Lelah mungkin" Jawab Annelka mencium puncak kepala Aya yang tidur bersandar di dadanya.


Pria itu sangat bersyukur, bisa menemukan Aya. Bisa berkumpul dengan wanita yang sangat dia cintai itu. Plus calon anak mereka.


Hampir tengah hari, ketika ketiga mobil itu memasuki parkiran rumah sakit milik Farris. Dan Aya sungguh tidak menduga jika Farris dan yang lainnya sudah menunggu mereka di depan lobi.


Begitu wanita itu melangkah turun. Eva langsung memeluk sahabatnya itu erat. Dengan air mata yang tidak henti mengalir.


"Aku baik-baik saja, Va" Jawab Aya memeluk balik tubuh Eva.

__ADS_1


"Aku benar-benar khawatir padamu. Aku tidak bisa tidur nyenyak seminggu ini" Ucap Eva.


"Alah itu karena Tria tidak ngelonin kamu" Celetuk Ed yang langsung kena jewer oleh Eva.


"Dasar menantu durjana!"


"Aduuhhh, ampun ibu mertua" Jawab Ed spontan. Jawaban Ed membuat Eva semakin menguatkan jewerannya.


"Ahh iya salah, kakak mertua" Ed membetulkan panggilannya. Semua terbahak mendengar panggilan Ed pada Eva. Eva langsung melepaskan jewerannya pada Ed begitu pria itu mengubah panggilannya.


"Busyet dah...sejarah dalam hidup gue. Gue kalah sama dua perempuan. Yang satu bini sendiri. Yang satu kakak mertua" Gerutu Ed. Kembali tawa membahana di depan lobi itu. Sementara Ben dan Zaki saling pandang ketika tahu mereka malah dibawa ke rumah sakit.


"Kenapa malah ke rumah sakit?" Bisik Zaki.


"Faya mau periksa kandungan" Balas Ben.


"Itu kan dia. Lah kita ngapain?" Zaki kembali bertanya.


Hingga seorang perawat mendekati mereka.


"Silahkan ikut saya Pak Ben dan Pak Zaki"


"Untuk apa ya?"


"Kalian akan melakukan tes darah. Sebelum pulang. Kenalkan aku Farris" Farris memperkenalkan diri.


"Ini hanya untuk formalitas. Jangan khawatir" Tria menambahkan.


Hingga akhirnya dua orang itu hanya bisa pasrah. Ketika seorang perawat mengambil sample darah mereka.


"Apa itu cukup?" Annelka bertanya pada Farris yang membawa sample darah Ben.


"Sangat cukup sekali. Well let's see, apa dia Aaron atau hanya sekedar mirip denganmu" Jawab Farris.


"Bawa ini pada Prof Martini. Katakan spesial case dari dokter Farris Anderson" Perintah Farris pada seorang perawat yang langsung berlalu dari hadapan Farris.


"Berapa lama?"


"Paling cepat seminggu"


"Aiishhh, kau mau membunuhku dengan rasa penasaran ya"


"Ya habis mau bagaimana lagi? Kau tidak akan mati kalau hanya menunggu seminggu. Sepuluh tahun saja kau lalui dengan mudah"


"Mudah katamu? Mari sini aku tunjukkan kata mudah versiku" Annelka memiting leher Farris hingga pria itu merasa sesak.


"Bagaimana rasanya?"


"Sesak, Ann"


"Nah itu yang kurasakan. Dan kau bilang itu mudah. Aku hampir mati, asal kau tahu" Teriak Annelka.


Farris menarik nafasnya banyak-banyak.


"Tapi kau hidup kembali saat bertemu Aya" Celetuk Farris. Annelka diam seketika.


"Ya, kau benar. Karenanya aku hidup kembali"


"Dan sekarang kita tinggal menunggu hasil tes DNA, dan hidupmu setidaknya akan lebih sempurna"


"Kau benar. Lebih sempurna"


****

__ADS_1


__ADS_2