Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Aku Sangat Beruntung


__ADS_3

Dan benar saja. Tidak lama, seluruh keluarga Santi mengerumuni gadis itu. Dengan wajah marah.


"Kau ini bagaimana sih? Sudah bagus ada yang mau menikahimu. Kau malah menolaknya. Dasar perawan tua!" Salak seorang keluarga Santi. Ampun, tanpa filter.


Santi jelas tidak bisa menjawab. Gadis itu hanya terdiam. Mendengar makian dari seluruh keluarganya. Ibu Santi bahkan sudah menangis dalam pelukan ibu Zaki. Tidak kuat melihat Santi dicaci dan dimaki oleh keluarganya sendiri.


"Perawan tua? Memang berapa umurnya" Aaron menyela.


"26 tahun" Kesal seorang keluarga Santi.


"Umurnya sama dengan istriku" Celetuk Annelka. Yang sudah duduk santai. Minta minum pada Dani. Maklum, tiga jam. Dia pangkas jadi dua jam. Bisa dibayangkan berapa kecepatan yang dia gunakan untuk melajukan kuda besi milik Aaron.


"Kau siapa?" Kesal sebuah suara.


"Aku adiknya dia" Jawab Annelka santai sambil menunjuk Aaron. Santi jelas langsung membulatkan matanya. Langsung menatap penuh tanya pada Aaron.


"Kau kakak tuan Annelka? Tanya Santi.


"Itu tidak penting. Yang penting, sekarang ini bagaimana. Tamu undangan akan segera datang. Mau ditaruh di mana muka kita?" Panik seorang keluarga Santi. Yang langsung diangguki keluarga yang lain.


"Ya, ganti saja mempelai prianya" Teriak Zaki.


"Kamu mau?"


"Dia sepupuku, Pakdhe. Ngapain susah-susah nyari. Suruh tu biang keroknya tanggung jawab" Oceh Zaki.


Membuat semua keluarga langsung menatap ke arah Aaron.


"Iya-iya aku nikahin Santi" Jawab Aaron enteng.


"Bagus kalau begitu. Yang penting kita tidak jadi menanggung malu. Aku sudah koar-koar kemana-mana e. Kalau tidak jadi kan habis mukaku mau ditaruh dimana?" Celetuk seorang Paman Santi.


***


"Kamu itu apa-apaan sih Ben? Main bilang iya disuruh nikahin aku" Marah Santi begitu keduanya masuk ke kamar make up. Yang adalah kamar Santi.


Bukannya mendengar ocehan Santi. Pria itu malah menatap keadaan kamar Santi.


"Fix, aku gak bisa MP di sini" Batin Aaron. Menyentuh ranjang Santi yang nampak tidak terlalu kokoh itu.


"Bisa ambruk ni kasur" Guman Aaron.


"Malah diam!" Bentak Santi.


"Astaga, budek kupingku nanti"


"Lagian ditanya kok malah diam. Maksud kamu apa mau nikah sama aku"

__ADS_1


"Nikah sama kamu? Ya nikahin kamulah. Apalagi...


"Maksudnya kita kan gak saling cinta"


"Kamu yang enggak. Aku tidak"


"Kalau kamu cinta kenapa kamu putusin aku waktu itu?"


"Itu...kita bicarakan nanti. Sekarang aku minta minum. Haus, San. Aku ngebut ke sini"


"Bohong! Aku yang nyetir. Dia numpang doang" Annelka menyela dari arah pintu. Bersama dengan Aya yang membawa jas pengantin Aaron.


"Habis ini aku minta tas kulit buaya keluaran terbaru!" Pekik Aya sambil menggantungkan jas Aaron di gantungan baju di kamar Santi.


"Astaga, Ay...yang Rolex aja masih otewe. Sudah minta Hermes keluaran terbaru. Kamu tu kayak kurang kaya aja" Gerutu Aaron.


"Bodo amat! Minggir!" Aya langsung mendorong minggir tubuh Aaron. Merebahkan dirinya di ranjang Santi.


"Istirahat dulu kalau lelah" Ucap Annelka dari pintu.


"Kau ini bagaimana sih? Nikah kok cuma ngasih waktu dua jam buat nyari semuanya. Untung tempat Bella menyediakan semuanya" Omel Aya. Mengusap lembut perutnya.


Santi jelas bingung, melihat ini semua. Namun belum sempat Santi bertanya. Aya sudah menyela lagi.


"Ann, minta mereka menurunkan seserahan yang ada di mobil" Perintah Aya. Membuat Annelka langsung meraih ponselnya. Meminta Zaki melakukan apa yang diminta Aya.


"Sekarang jelaskan. Kau ini siapa Ben?" Tanya Santi.


"Dia kakak iparku. Kakaknya Annelka, yang hilang sepuluh tahun yang lalu Namanya Aaron bukan Ben" Jelas Aya singkat. Bumil itu mulai memejamkan matanya. Membuat Aaron langsung menyelimuti tubuh Aya.


"Panas" Gerutu Aya.


"Gaunmu pendek!" Kesal Aaron.


Aya akhirnya manyun mendengarkan ucapan Aaron.


"Berarti kau menipuku waktu itu"


"Tidak San, aku tidak ingat siapa aku. Sampai aku tidak sengaja membawa Aya ke rumah. Dan Annelka melihatku. Membawaku ke kota dan tes DNA"


"Kau tidak bohong?"


"Tidak San. Sumpah aku tidak ingat apapun. Kata dokter. Aku kemungkinan kehilangan ingatan permanen karena kecelakaan sepuluh tahun lalu. Kau tidap percaya..tanya Aya. Dia dokter bedah syaraf"


Yang dibicarakan sudah terlelap. Aya benar-benar lelah. Satu jam dia belanja di butiknya Bella. Dan dua setengah jam perjalanan dari ibu kota ke sini. Benar-benar tubuh Aya rasanya remuk. Untung si baby tidak terlalu berulah.


"Malah tidur lagi. Nyonya...cincinnya mana?" Aaron bertanya pelan. Namun Aya yang belum terlalu lelap langsung terbangun. Meraih sling bagnya lalu mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah.

__ADS_1


"Aku harap ukurannya pas. Bella kebetulan baru custom model baru. Dan kebetulan juga ukuranku dan Annelka ada. Nanti kalau tidak pas. Kau minta ganti dengan suamimu ini. Sudah, aku mau tidur. Jangan mengganggu"


Aya balik tidur lagi. Pelan Aaron membuka kotak itu. Dan tampaklah sepasang cincin pernikahan yang terlihat begitu indah di mata Santi.


"Eehh maaf. Untuk pengantin pria silahkan bersiap" Ujar seorang saudara Santi. Membuat Aaron langsung bergegas. Mengubek-ubek tas Aya tanpa permisi. Biasanya bumil itu suka membawa pencuci wajah ke mana-mana. Ketemu, lalu Aaron masuk ke kamar mandi di samping rumah. Mencuci wajahnya. Lalu masuk kembali ke kamar Santi. Di mana seorang MUA sudah kembali merapikan make up Santi yang mulai berantakan.


****


Tak kurang dari satu jam kemudian. Semua orang sudah bersorak ketika si MC mengumumkan kalau Santi dan Aaron sudah sah menjadi sepasang suami istri.


Binar bahagia jelas terlihat di wajah Santi. Setidaknya dia menikah dengan Ben eh Aaron bukan Broto. Terlebih, Aaron terlihat begitu tampan dengan jas pengantin berwarna putih yang membalut tubuh kekarnya. Senada dengan kebaya Santi yang juga berwarna putih.


"Aaron akhirnya menikah Pa, Ma" Batin Annelka.


Menatap berkaca-kaca ke arah pasangan pengantin baru itu. Dengan Aya setengah mengantuk, memeluk dirinya. Ibu Santi jelas merasa bahagia. Santi menikah dengan Aaron yang dulu dia kenal bernama Ben. Cukup terkejut ketika ibu Santi tahu cerita yang sebenarnya soal Aaron dari Zaki.


Santi menatap cincin cantik yang kini melingkar manis di jari kirinya. Ukurannya juga sangat pas. Aya pintar sekali memilih cincin dan semua seserahan yang Aya bawa. Seluruh keluarga Santi jelas terkejut begitu tahu siapa suami Santi yang sekarang.


"Perawan tua kalau dapatnya model begini mah, aku juga mau" Seloroh seorang tamu.


"Tua apanya to. Kamu gak lihat itu masih kinclong sama kinyis-kinyis begitu" Timpal yang lain.


"Tua itu umurnya berapa?" Sahut yang lain.


"26 katanya"


"Baru 26, tetanggaku yang 30 saja masih santai"


Beberapa tamu beropini sesuka hati mereka. Menikmati pesta pernikahan Santi dengan pengantin pria dadakan, Aaron.


Sehari setelahnya, Santi melongo ketika Aaron mengajaknya masuk ke rumah Annelka. Setelah membiarkan sang ibu tinggal bersama ibu Zaki. Akhirnya Santi harus ikut Aaron pulang ke kota.


"Annelka dan Aya minta maaf. Tidak bisa menyambutmu. Aya ada operasi dan Annelka ada meeting" Ucap Aaron begitu mereka masuk ke kamar mereka yang luas. Kembali membuat Santi takjub.


Bibi Mai langsung memeluk Santi erat. Seolah mendapat anak perempuan lagi. Membuat Santi merasa diterima dengan baik dirumah itu.


"Istirahat dulu. Besok kita bicarakan. Kau mau tinggal di sini atau di rumahku sendiri"


"Kau punya rumah sendiri?"


"Punya. Ini rumah Annelka. Rumahku beda dua blok dari sini" Jawab Aaron.


Sungguh Santi masih canggung untuk berduaan dengan Aaron. Baru kemarin mereka menikah dadakan. Dan kini tinggal mereka berdua di kamar luas itu. Masih asing dengan kehidupan Aaron yang ternyata adalah orang kaya.


"Jadi begini ya rasanya jadi istri orang kaya"


Guman Santi lirih. Menatap kembali kamar Aaron yang mungkin sama besar dengan rumahnya. Menunggu Aaron yang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


"Aku tidak jadi berpikir kalau hidupku sial. Aku sangat beruntung" Batin Santi sambil tersenyum. Merasa telah salah menilai hidupnya sendiri.


***


__ADS_2