Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 44. Hanya Teman


__ADS_3

"Aku ... aku menyukaimu, Yanti."


Vano dan Vani sama-sama terkejut mendengar pernyataan cinta dari David. Vani tidak menyangka jika David sejak dulu menyukainya. Padahal setahu Vani, David sangat pendiam dan tertutup ketika itu. Dan memang hanya dirinya teman satu-satunya David.


"David, kamu mencintai Vani? Apakah dia gadis yang selalu kamu ceritakan padaku?" tanya Vano hampir tidak percaya.


"Benar, Vano. Tapi, kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mengganggu hubungan pernikahan kalian. Perasaan itu dulu sekali ...." ucap David terhenti.


"Dan sekarang?" tanya Vano menatap tajam David yang mulai gugup.


"Sekarang, aku tahu dia istrimu. Jadi aku ... aku tidak akan berani mencintai istrimu," jawab David berusaha meyakinkan Vano.


"Sudahlah David, kamu terlihat sangat ketakutan. Kau percaya padamu. Kamu adalah sahabatku, dan kamu tidak akan melakukan itu. Merebut dia dariku. Apalagi sekarang dia sedang hamil, lebih tidak mungkin lagi, bukan?" ucap Vano sambil menepuk bahu David.


David mulai bisa bernapas lega. Melihat Vano mengerti posisinya saat ini. Sesaat David melihat kearah Vani, yang juga tidak terlalu menganggap ucapan perasaan cinta David padanya. Bukan tidak menganggap, tetapi lebih pada tidak ingin ada masalah yang bisa membuat Vani tertekan.


Mereka akhirnya memutuskan untuk melupakan peristiwa hari ini dan menganggap pertemuan ini hanya reuni sebagai teman saja.


Setelah pertemuan itu, David sering datang ke rumah Vano. Untuk sekedar berkunjung dan membawakan Vani makanan. Padahal, Vano bilang kalau dia adalah istrinya, kenapa membiarkan sahabatnya datang dan seolah sedang melakukan pendekatan pada Vani.


Di tengah perasaan galaunya, Vani mencoba berbicara pada saudara kembarnya. Apa sebenarnya yang terjadi.


"Vano, kenapa David berubah?" tanya Vani sambil duduk di samping Vano.


"Berubah, berubah bagaimana?" tanya Vano kemudian.


"Begini, bukankah dia tahu kalau kamu adalah suamiku? Tetapi, aku merasa sebagai teman, dia terlalu kentara menunjukan perhatiannya padaku, yang berstatus istri sahabatnya," tanya Vani.


"Maaf, aku tidak bisa membohongi dia. Jadi aku jujur pada dia kalau kamu bukan istriku. Aku juga bilang, kalau kita lahir kembar. Apa dia terlalu mengganggumu? Jika iya, aku akan memintanya menjauhiku," kata Vano merasa bersalah.


"Tidak juga. Aku pikir, dia suka istri orang. Kalau dia sudah tahu, ya nggak apa-apalah. Aku juga tidak ingin terus tenggelam dalam sedih. Aku malah salut sama dia, mau berteman dengan wanita hamil yang tanpa suami, seperti aku ini," ucap Vani datar.


"Syukurlah, kamu tidak menutup diri dari orang lain. Itulah yang aku suka dari saudaraku, Vani. Kamu lebih cepat move on dari yang aku perkirakan," ucap Vano senang.


Vani menjalani hari-harinya dengan perhatian dari dua pria tersebut. Dirinya sudah cukup bahagia meskipun terkadang ada rasa sedih ketika teringat ayah dari bayinya. Mungkin sekarang dia sudah menikah lagi dan bahagia. Kenapa dia harus teringat dengan pria seperti itu.

__ADS_1


Suara ponsel Vani berdering beberapa kali saat Vani sedang di kamar mandi. Ternyata Maminya yang menghubunginya.


"Hallo, Mami. Apa kabar?"


"Kabar baik, Sayang. Bagiamana denganmu?"


"Baik juga, Mami."


"Vani, bolehkah Mami bertanya sesuatu padamu?"


"Tanya apa, Mami?"


"Vano pernah bilang ke Mami, kalau kamu sekarang dekat dengan seseorang. Mami ingin kamu menemukan pria lain yang lebih baik dari mantan suamimu."


"Mami, Vani tidak ingin membuat harapan Palsu untuk Mami. Mami, saat ini, Vani tidak akan mungkin menjalin hubungan. Karena saat ini, Vani hamil, Mami."


Sambungan telepon tiba-tiba terputus. Vani tidak tahu apa yang terjadi disana. Vani hanya merasa lega saja Karen dia sudah mengatakan yang sebenarnya kepada Mami-nya.


Vani beranjak ke ruang keluarga untuk menonton televisi. Tanpa sengaja, Vani mendengar berita dari Indonesia. Seorang pengusaha muda yang sukses diusianya yang masih sangat muda. Orang itu adalah Deni. Yang lebih mengejutkan lagi, disampingnya terlihat ada seorang wanita yang selalu menemaninya kemanapun Deni melangkah. Pasti itu adalah calon istrinya Deni.


Saking asyiknya berbicara dengan calon bayinya, Vani tidak mendengar ada bel berbunyi. Saat itu, bibik datang menghampirinya.


"Non Vani, ada Nona Clarisa mencari Nona," ucap Bibik mengejutkan Vani.


"Siapa, Bik, Nona Clarisa datang mencariku?" tanya Vani bingung. Untuk apa Clarisa datang mencarinya, Vano memang menambah masalah untuknya.


"Benar, Non Vani. Dia saya minta tunggu diluar. Karena Tuan Vano bilang, kalau ada tamu tidak boleh langsung disuruh masuk sampai Non Vani setuju bertemu," jawab Bibik menjelaskan perintah dari Vano.


"Ya, sudah, Bik. Suruh saja dia masuk. Aku akan menemuinya," ucap Vani sambil menghela napas panjang.


"Baik, Nona Vani," jawab Bibik lalu pergi menemui Clarisa di depan pintu. Bibik menyuruhnya masuk seperti yang Vani minta.


Clarisa sudah duduk di sofa saat Vani datang. Vani, berhenti sejenak mencoba bersikap biasa dan juga bersiap-siap jika Clarisa memiliki tujuan yang tidak baik padanya.


"Clarisa, untuk apa kamu mencariku?" tanya Vani sambil duduk di depan Clarisa.

__ADS_1


"Vani ... kamu benar-benar hamil?" tanya Clarisa gugup dan hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Iya, benar. Mau mengucapkan selamat padaku?" tanya Vani lagi sambil tersenyum.


"Aku, hampir tidak percaya kalau kamu benar-benar hamil anak Vano," jawab Clarisa masih syok dengan kenyataan yang ada.


"Jadi, kamu datang ke sini karena ingin membuktikan bahwa aku benar-benar hamil?" tanya Vani menahan tawa.


"Maafkan aku. Selama ini, aku yang selalu mengejar-ngejar Vano. Bahkan saat Vano menolakku, aku masih tidak menyerah. Karena aku yakin jika dia masih mencintai aku. Tetapi, setelah melihat kamu hamil, aku berjanji akan menyerah untuknya. Aku tidak akan lagi mengganggunya seperti dulu," kata Clarisa sedih.


Mendengar cerita Clarisa, Vani ikut sedih. Dia merasa bersalah karena ikut berbohong tentang statusnya dengan Vano. Tetapi, tanpa seizin Vano, Vani tidak akan membuka rahasia ini.


"Clarisa, bolehkah kita berteman? Setidaknya, kamu tahu banyak hal tentang Vano. Jadi aku ingin tahu, sedalam apa hubungan kalian dulu," tanya Vani berusaha mengorek informasi.


"Boleh saja. Tetapi, apa kamu tidak marah atau cemburu melihatku? Secara, aku ini mantan kekasih suamimu. Kamu tidak takut aku akan merebutnya darimu?" tanya Clarisa kaget melihat Vani ternyata sangat baik padanya bahkan ingin berteman dengannya.


"Aku percaya pada Vano dan percaya padamu. Kamu tidak akan tega membuat anak ini lahir tanpa ayah. Demikian juga dengan Vano, dia tidak akan membiarkan anak ini hidup tanpa seorang ayah. Dia sangat mencintai anak ini lebih dari apapun, bahkan dirikupun tidak sebanding dengan anak yang akan lahir ini," jawab Vani sambil menarik napas panjang.


"Benarkah dia memiliki sisi baik seperti itu? Selama ini, aku mengira, dia pria yang sangat egois. Selama aku bersama dia, memang lebih mementingkan pekerjaannya daripada hubungan kami. Karena itu, aku memutuskan berpisah dengannya. Tetapi, ternyata ... aku masih sangat mencintai dirinya dengan segala kekurangannya. Tetapi ternyata, aku terlambat, dia sudah menemukan gadis lain untuk menjadi ibu dari anak-anaknya. Maaf, aku jadi curhat. Tapi aku tidak bermaksud, untuk menggodanya lagi. Aku menyerah, oke?" kata Clarisa menjelaskan. Clarisa takut jika Vani salah paham dengan semua ucapannya.


Vani tersenyum bahagia melihat Clarisa begitu mencintai Vano. Dan Vani melihat bahwa cinta Clarisa pada Vano itu tulus. Maka Vani akan berusaha untuk bisa menyatukan mereka kembali. Selama bukan karena perselingkuhan, Vani masih bisa menerima hubungan Vani dan Clarisa.


"Clarisa, aku ingin memberimu kesempatan untuk mendekati Vano kembali. Bagaimana, kamu tertarik?" tanya Vani serius.


"Apa, jangan mengujiku, Vani. Aku sudah bilang jika aku sudah menyerah," jawab Clarisa bingung. Mana ada seorang istri malah ingin membantu wanita lain mendekati suaminya. Padahal mereka mantan kekasih.


"Padahal, aku hanya ingin tahu jawabanmu. Terima kasih karena kamu tidak berpotensi menjadi pelakor. Jadi aku putuskan untuk berteman denganmu. Mulai sekarang, kamu bisa datang kapan saja ke rumah ini," kata Vani sambil memegang tangan Clarisa.


"Tapi, bagaimana dengan Vano?" tanya Clarisa takut.


"Kamu tidak perlu khawatir, dia itu selalu menuruti apa keinginanku. Jadi jangan cemas, oke?" tanya Vani sambil tersenyum manis.


"Oke, aku setuju," jawab Clarisa.


Mereka tertawa sambil berbincang-bincang hal-hal tentang Vano. Baik hal lucu maupun hal paling kolot dari Vano. Vani merasa lebih mengerti banyak tentang Vano maupun wanita yang dicintai Vano. Jika memang mereka masih saling mencintai, untuk apa berpisah. Perpisahan itu sangat sakit dan tidak ada obatnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2