
"Baru pulang?" Tanya Aya yang terbangun ketika Annelka naik ke atas kasur mereka. Hampir tengah malam.
"Sedang ada masalah di kantor" Jawab Annelka singkat. Lalu memeluk tubuh Aya. Mencium kening dan bibirnya singkat. Lalu ikut memejamkan mata.
Aya balik memeluk tubuh Annelka. Mencari tempat ternyaman untuknya. Dirasakannya, sang suami menarik nafasnya dalam. Aya hanya diam. Dia bukannya tidak tahu apa yang sedang terjadi di kantor Annelka.
Tadi siang dia bertemu Farris, saat menjenguk Fabian. Dan pria itu menceritakan masalah perusahaan Annelka. Aya menarik nafasnya pelan. Mulai menyusul sang suami ke alam mimpi.
Pagi menjelang,
"Apa ada kemajuan?" Tanya Annelka. Mereka sedang menjenguk Gabriel.
"Belum. Tapi keadaannya cenderung stabil"
"Vania tidak ke sini"
"Aku menyuruhnya pulang untuk istirahat. Dia sudah dua hari tidak pulang. Aku juga menyuruhnya untuk kembali bekerja"
"Yahh, kita tidak tahu kapan Gabriel akan bangun. Meski Vania mencintai Gabriel tapi dia juga tidak boleh hanya menunggui Gabriel. Bisa ikutan stress"
"Karena itu aku menyuruhnya kembali bekerja. Agar dia ada kesibukan. Tapi dia tadi menjawab takut kalau Gabriel akan kesepian"
"Itu memang bisa terjadi. Tapi mau bagaimana lagi"
Keduanya berjalan keluar dari ruang perawatan Gabriel.
"Bagaimana Papamu?"
"Sudah baik. Gips-nya akan dilepas hari ini. Besok paling boleh pulang"
"Aku akan menengoknya sebentar"
"Oh ya An, bagaimana dengan kantormu. Apa kau sudah menemukan solusinya?"
"Aku akan bertemu investor siang ini. Ada yang berminat memberi investasi ke perusahaanku. Meski syaratnya agak memberatkan. Tapi mereka berjanji akan memberikan semua dananya di awal"
"Apa syaratnya?"
"10 persen saham milikku"
"Ann, itu terlalu beresiko"
"Aku tidak bisa memikirkan cara lain" Annelka terlihat frustrasi.
"Jika saja aset WB Group sudah cair. Kau bisa meminjam dana dari mereka. Aset mereka lumayan banyak"
"Aku tahu. Kalau tidak banyak. Mana mungkin Paman Duta sibuk ingin merebutnya"
"Kau benar"
***
"Akan ada investor yang bertemu suamimu jam 1 ini. Tapi mereka meminta 10 persen saham atas nama suamimu sebagai jaminan"
"Itu terlalu beresiko, Farris"
"Aku sudah memperingatkannya. Tapi suamimu tidak bisa memikirkan cara lain. Dia terlalu pusing dengan semua masalah yang dia hadapi sekarang"
"Aku jadi curiga dengan investor itu" Aya berguman.
"Kau ada cara lain untuk menolong suamimu. Jika kali ini dia salah langkah. Dan kehilangan 10 persen sahamnya. Akan sulit baginya untuk mendapatkan sahamnya kembali. Siapa juga yang mau melepaskan saham Carter Corp.
Keduanya terdiam.
"Ada satu cara. Tapi ini sedikit beresiko bagiku"
__ADS_1
"Jangan Ay, kau akan membuat identitasmu terekspose"
"Tidak juga" Jawab Aya sambil tersenyum.
***
"Selamat siang, tuan Takizawa"
"Selamat siang, tuan Carter"
Keduanya lalu berjabat tangan. Duduk saling berhadapan.
"Jadi bagaimana? Apa kalian setuju dengan syarat dari kami?" Tanya Tuan Takizawa tanpa basa basi.
Annelka menarik nafasnya pelan.
"Saya setuju" Jawab Annelka. Sementara disampingnya. Tria langsung memejamkan matanya.
Sedang di ruang sebelah seorang pria tampak langsung menyeringai penuh kemenangan, mendengar jawaban Annelka.
"Kehancuranmu dimulai, Annelka Javier Carter"
Keduanya sudah bersiap untuk menandatangani kontrak kerjasama. Ketika Ed memaksa masuk. Semua orang jelas terkejut.
"Maaf tuan Takizawa. Kerja sama ini terpaksa kami batalkan" Ed berucap sambil tersengal. Berusaha menampilkan wajah sesopan mungkin.
"Apa maksudmu dengan membatalkan kerjasamanya. Aku hanya menemukan jalan ini" Annelka mendengus kesal. Mendudukkan dirinya di kursi.
"Kau pikir aku berani mengusir Tuan Takizawa tanpa membawa solusi" Jawab Ed tidak kalah galaknya. Dia harus berlari hampir 300 meter ke tempat Annelka. Sebab mobilnya terjebak macet, tidak bisa bergerak sama sekali. Ponsel dua orang itu juga tidak bisa dihubungi.
"Lalu apa solusimu?"
"Farris yang akan memberikan investasi" Jawab Ed setelah meneguk satu botol air mineral.
"Farris, tapi kita perlu dana yang tidak sedikit"
Annelka langsung terdiam. Sedang Tria langsung tersenyum.
Sementara itu di ruang sebelah. Duta langsung menggeram kesal. Rencananya gagal lagi untuk mulai mengambil alih Carter Corp.
...***...
"Darimana kau mendapatkan dana itu. Itu bukan jumlah yang sedikit"
"Aku sebenarnya kaya, apa kau tidak tahu?" Jawab Farris santai.
Annelka menatap tajam pada Farris.
"Kau tidak menyembunyikan sesuatu dari ku kan?"
"Astaga Ann, tidak percaya banget. Aku ada uang, kau memerlukannya. Jadi aku pinjamkan saja. Simple"
"Seperti itu saja?"
"Mau bagaimana lagi? Mau atau tidak. Kalu tidak aku kembalikan lagi ke sana. Susah tahu mengurusnya" Ucap Farris sok serius.
"Alah kau bohong padaku. Ngambil uang di sana sama seperti ngambil uang di ATM"
Farris terkekeh mendengar bantahan dari temannya itu.
"Jadi, aku tetap ingin ada perjanjian hitam di atas putih. Meskipun kita teman" Ucap Annelka. Menerima berkas yang diberikan oleh Tria.
"Terserah kau saja" Jawab Farris.
Pria itu pun menerima berkas yang diberikan oleh Tria. Langsung menandatanganinya tanpa membacanya lebih dulu.
__ADS_1
"Hai, kau tidak membacanya lebih dulu" Annelka berujar.
"Aku percaya padamu"
"Kalau kau berbohong. Istrimu sendiri yang akan menghukummu" Kekeh Farris dalam hati.
"Ris, kau tidak menulis nominalnya" Annelka menyela.
"Terserah kau mau pakai berapa" Jawab Farris.
Annelka hanya bisa saling pandang dengan Tria dan Ed.
"Ini kartunya. Kau bisa ambil sendiri. Itu unlimited"
"Aku tahu" Jawab Annelka sambil menerima kartu berwarna hitam dengan campuran warna emas di bagian atasnya.
"Pin-nya...Farris menyebutkan sederet angka di telinga Annelka. Pria itu mengerutkan dahinya. Seperti mengenal tanggal itu. Tapi apa dan di mana dia tidak mengingatnya.
Ketiga orang itu menatap kartu di atas meja yang Farris berikan.
"Kartunya saja sudah terlihat eksklusif. Bagaimana isinya" Seloroh Tria.
"Unlimited black card" Ed menambahkan.
"Oke, cukup mengagumi kartunya. Mari kita bekerja dan selesaikan semua kekacauan ini"
"Akhirnya aku mendapatkan solusi untuk masalah perusahaanku" Batin Annelka.
"Semua berjalan sesuai keinginanmu"
Farris melapor melalui ponselnya. Lalu berjalan keluar dari kantor Carter Corp.
"Apa reaksimu Ann, jika kau tahu identitas Aya yang lain" Guman Farris.
***
"Sial! Bagaimana mereka bisa mendapatkan investor di menit terakhir" Duta melempar sebuah vas yang ada diatas mejanya. Ricky hanya diam saja melihat kemarahan Tuannya.
"Ricky, siapa investor mereka" Duta bertanya. Sebab dia tidak mendengar pembicaraan Annelka dan Ed sampai selesai. Dia langsung keluar dari sana saking marahnya.
"Farris Anderson, Tuan"
"Farris dari mana dia mendapat uang sebanyak itu"
"Saya juga kurang tahu. Yang saya tahu dia hanya memberikan black card kepada tuan Carter"
"Sebuah black card katamu. Apa kau bisa melacak black card siapa itu"
"Saya akan mencobanya, Tuan" Ricky berlalu dari hadapan Duta. Meninggalkan pria itu, masih dengan rasa kesal di dadanya.
Ditambah lagi, anak buahnya belum bisa mendapatkan flash disk yang dicuri Gabriel. Membuat kepalanya semakin pusing. Duta jelas khawatir jika isi flash disk itu sampai diketahui orang lain.
"Semua akan berakhir. Jika flash disk itu sampai ke tangan polisi. Tidak! Itu tidak boleh terjadi"
Duta membatin sambil memijat pelipisnya pelan. 15 tahun dia berhasil menyimpan rapat semua kejahatannya di masa lalu. Tentu saja dia tidak ingin semua terbongkar dan membuat dirinya berakhir di penjara.
"Aku harus mencari tahu di mana flash disk itu berada" Tekad Duta.
***
Bonus pict, lama gak kasih bonus 🤭🤭
Mas Annelka Javier Carter 😍😍
__ADS_1
***