
Masakan lezat telah siap dimeja makan. Meskipun bukan sepenuhnya masakan Vani, tetapi Vani merasa juga ikut menjadi koki hati ini di rumah pak Hadi.
Dengan senang hati, Vani memanggil pak Hadi dan Deva untuk makan bersama. Mereka menyambut dengan senang panggilan Vani.
"Hole-hole ... matan, matan," ucap Deva dengan gaya bahasa yang bikin gemes.
Pak Hadi menggandeng tangan Deva yang berlari kecil disampingnya. Kebahagiaan terpancar di wajah Deva yang sudah lama tidak berinteraksi dengan orang lain selain Vano dan dirinya.
"Ayo, duduk, jagoan Kakek!" perintah pak Hadi.
"Deva senang bisa bermain bersama Kakek?" tanya Vina sambil mengambil nasi.
"Ceneng Mami. Kakek punya banyak mainan," jawab Deva sambil tersenyum.
"Wah, kalau begitu, besok-besok, Mami ajak Deva main ke tempat Kakek lagi," kata Vani sambil menyuapi Deva. "Hak ... aem."
"Anakmu, manis sekali dan ganteng. Pasti mirip dengan ayahnya," tanya Bu Mirna tanpa merasa ragu.
"Ibu, kenapa bertanya seperti itu. Ssttst ...." kata pak Hadi agak kesal.
"Benar, dia mirip dengan ayahnya," jawab Vani yang membuat pak Hadi kaget.
"Vani, kamu tidak apa-apa? Ibumu tidak bermaksud mengingatkanmu tentang dia," kata pak Hadi cemas.
"Tidak apa-apa. Vani harus siap dengan apapun saat Vani memutuskan untuk kembali. Termasuk bertemu dia," jawab Vani sambil tersenyum untuk memperlihatkan pada ayahnya, dia baik-baik saja.
"Maafkan ibu , Vani," kata Bu Mirna khawatir jika anak tirinya itu akan marah padanya.
"Ibu, jangan khawatir. Vani baik-baik saja. Santai saja," jawab Vani lalu tertawa melihat Deva ingin menyuapinya.
"Mami, hak ... aem." Tindakan Deva membuat mereka semua tertawa.
"Kakek, juga mau, Deva," kata pak Hadi bercanda.
Tetapi ucapan pak Hadi seperti sebuah perintah. Deva mengambil sesendok nasi dan ingin menyuapi pak Hadi. Hal itu kembali memuat tawa pecah di ruang makan.
Selesai makan, Vani pamit pada ayah dan ibu tirinya, untuk segera pulang. Ayahnya tampak sangat bahagia, membuat Vani bisa imut merasakan kebahagiaan itu.
Sepanjang perjalanan pulang, Deva terus bernyanyi lagu yang paling dia sukai. Balonku, adalah lagu yang diajarkannya pada Deva, meski mereka tinggal di Singapura.
Setelah lelah bernyanyi, Deva akhirnya tertidur. Vani tersenyum melihat Deva, tetapi tiba-tiba hatinya sedih. Seharusnya, Deva bisa seperti anak-anak yang, lain yang bisa merasakan kasih sayang ayahnya.
Entah apa yang ada didalam pikiran Vani. Mobilnya melaju kearah Mall tempat dia kerja dulu, saat menjadi istri Deni. Dia berhenti tepat di depan arah parkir mobil karyawan. Saat dia akan memundurkan mobilnya, sebuah mobil di belakangnya menghidupkan klakson untuk memintanya minggir atau maju dan memberi jalan bagi mobil di belakangnya.
Dalam kebingungan, Vani lalu memarkir mobilnya di tempat mobil Deni. Vani berpikir, dia akan langsung pergi setelah mobil dibelakangnya parkir. Tetapi dia tidak menyangka, jika mobil di belakangnya, adalah mobil Deni. Seseorang mengetuk kaca pintu mobilnya.
__ADS_1
"Permisi, ini adalah tempat parkir mobil pemilik Mall. Apa anda tidak ...." Ucapan Riko berhenti saat melihat Vani.
Riko seperti melihat hantu. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia segera berjalan cepat menemui Deni yang saat itu ada di dalam mobilnya. Deni terkejut saat melihat wajah Riko pucat pasi.
"Riko, ada apa? Apa pemilik mobil itu tidak mau pergi? Kalau begitu sudahlah, cari tempat parkir lain saja," kata Deni berusaha santai.
"Bukan begitu, Bos. Itu ... nyonya Bos," jawab Riko gagap.
"Apa, Nyonya Bos? Jangan berkhayal, ini masih siang bolong," ucap Deni kesal.
"Bener, Bos. Bahkan Riko melihat, Bos kecil bersamanya," jawab Riko yang membuat Deni bertambah kesal.
Deni keluar dari mobil dan berjalan menuju ke mobil Vani yang masih terparkir di tempat parkir miliknya. Vani mengamati langkah Deni dengan hati berdebar-debar. Dia tidak menyangka jika Deni masih memiliki pengaruh pada dirinya terutama dalam hatinya.
Deni mengetuk kaca pintu mobil Vani. Vani merasa cemas dan cukup lama terdiam. Deni kembali mengetuk untuk kedua kalinya. Dengan perasaan campur aduk, Vani menurunkan kaca pintu mobilnya.
"Vani ... Kamu benar-benar Vani?" tanya Deni kaget
"Maaf, aku tadi tidak sengaja sampai ke tempat ini. Mundurkan dulu mobilmu, nanti aku akan segera pergi," jawab Vani berusaha tenang.
"Tidak apa-apa. Anakmu tertidur. Kasihan sekali. Mampirlah sebentar dan tidurkan anakmu di kantor. Sudah sampai di sini, tidakkah kamu ingin bertemu sahabat lamamu. Walaupun jika kamu tidak ingin melihatku, kamu pasti kangen mereka," kata Deni sambil tersenyum.
Aku juga kangen kamu, Deni, batin Vani.
"Biar aku yang menjaganya. Akan kau bawa dia ke ruang kerjaku. Kamu tenang saja," kata Deni.
Deni lalu membuka pintu mobil dan mengangkat tubuh mungil Deva. Vani mengunci mobil, lalu mengikuti langkah Deni. Sesampainya di depan kantor Deni, Vani dan Deni berhenti.
"Pergilah, biar aku yang menjaga anakmu," ucap Deni kemudian.
"Terima kasih," ucap Vani.
Vani lalu pergi untuk menemui kedua sahabatnya yang sudah lama tidak ditemuinya. Mereka sedang bekerja dan melayani pelanggan toko. Mereka kaget saat melihat Vani. Sahabat sekaligus istri bos kecil mereka.
Vani mendekati mereka dan membantu Sasa menghadapi pelanggan. Senyum bahagia mereka mengingat masa lalu yang indah.
"Vani, apa kabar?" tanya Sasa di sela-sela menghadapi pelanggan.
"Baik, aku baik-baik saja. Kalian bagiamana, masih betah kerja disini? tanya Vani sambil tersenyum.
"Bos sangat baik, walaupun kalian sudah berpisah, dia tidak mempermasalahkan itu. Maaf, kami memutuskan tetap bekerja di sini," kata Mina.
"Tidak apa-apa, jangan merasa bersalah padaku. Kalian butuh pekerjaan ini, jadi santai saja," ucap Vani.
Saking senangnya menemani kedua sahabatnya melayani pelanggan, Vani lupa jika saat ini anaknya sedang bersama Deni.
__ADS_1
"Aku dengar, setelah bercerai, kamu pergi keluar negeri?" tanya Sasa.
"Benar. Aku harus memulai hidup baru dan melupakan semuanya," jawab Vani sambil menghela napas berat.
"Aku bahagia, setelah sekian lama berpisah, kamu tetap bisa bertahan dan hidupmu baik-baik saja," ucap Mina senang.
"Sebentar lagi pulang kerja. Bagaimana kalau nanti kita mampir beli es krim?" tanya Sasa sambil melebarkan matanya.
"Oh, sudah sore? Maaf aku tidak bisa ikut. Aku ada hal lain yang harus aku lakukan. Aku pergi dulu ya?" pamit Vani sambil menyalami tangan kedua sahabatnya.
Sementara, Deni dan Riko terus memperhatikan Deva yang masih tertidur lelap di sofa kantor Deni. Sesekali, Deni menyentuh wajah Deva yang sama persis seperti dirinya waktu kecil.
"Riko, menurutmu anak ini ada mirip denganku bukan?" tanya Deni penasaran.
"Setelah Riko perhatikan, wajahnya memang mirip dengan Bos. Tapi, belum tentu anak ini anaknya Bos. Apalagi, ada kabar kalau ayahnya anak ini baru akan tiba, saat Pak Vano menikah," kata Riko dengan jelas.
"Kamu benar juga. Tetapi, aku masih yakin, anak ini sangat mirip denganku. Ada kemungkinan dia anakku. Usianya anak ini sudah 3 tahun. Dihitung, saat dia pergi. Kalau saat itu dia sudah hamil maka tepat dugaan aku, usianya 3 tahun. Seharusnya kalau anak ini bukan anakku, setelah bercerai, dia pasti langsung menikah, dan itu tidak mungkin," kata Deni lebih detail menjelaskan keberadaan Deva.
"Wah, Bos jeli sekali memikirkan semua dengan teliti. Mungkin saja, saat Bu Vani pergi dia sedang hamil. Kalau memang demikian, Bos masih tetap tidak memiliki kesempatan untuk balik lagi. Bu Vani sudah menikah. Apa Bos mau di sebut pebinor?" kata Riko mengingatkan Bos kecilnya.
"Kalau memang itu benar, aku akan berusaha merebut dia dan putraku kembali. Tapi, meskipun dia bukan putraku, aku tetap akan berusaha mengambil kembali cintaku. Aku tahu dari sorot matanya, dia masih mencintaiku. Jika aku mengatakan yang sebenarnya padanya, aku yakin aku bisa memenangkan hatinya kembali," kata Deni yakin dengan hatinya.
"Tapi, Bos jangan lupa, belum tentu Bu Vani percaya dengan cerita Bos, apalagi menjelek-jelekkan ibunya," kata Riko.
"Kamu ada benarnya juga. Aku harus memikirkan kembali cara lain. Tapi hari ini kau sangat senang melihat Vani dan anaknya. Aku harap dia nyaman anaknya bersamaku," kata Deni sambil tersenyum.
"Nyaman pastinya Bos. Sudah hampir sore begini, Bu Vani belum datang mengambil anaknya. Atau, dia nyaman bersama kedua sahabatnya?" tanya Riko yang membuat Deni sedikit down.
Disaat hati Deni down, Deva terbangun dan dia sangat kaget tidak melihat ibunya. Dia malah bersama dua pria yang sama sekali tidak dia kenal.
"Mami, di mana?" tanya Deva ketakutan.
"Jangan takut, Mami kamu sedang bertemu temannya. Ini paman yang kemarin ketemu sama kamu di Mall sama Tante Vina," ucap Deni berusaha menjelaskan.
"Oh, Om yang kemalin kasih kaltu glatis?" kata Deva mulai tenang.
"Bener, tapi kenapa kemarin kalian tidak pakai kartu dari Om?" tanya Deni.
"Mami, tidak mau," jawab Deva sedih.
"Ya sudah, lain kali Om bawa kamu jalan-jalan gratis," kata Deni sambil tersenyum. "Nama kamu siapa?"
"Deva," jawab Deva cepat.
"Deva. De ... Va. Deni ... Vani." Deni menatap ke arah Riko dan mencoba meminta pendapat. Riko mengangguk, membenarkan kecurigaan Bos-nya.
__ADS_1