Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 33. Mendapatkan Kalung Vani


__ADS_3

Setelah mendapatkan hasil tes DNA, dokter Dimas menemui Bu Winda di butik. Dia sudah tidak sabar lagi, untuk memberitahukan hasil tes DNA yang sudah dokter Dimas lakukan.


"Mas, tumben kamu datang ke butik. Apa mau ngajak makan siang bersama?" tanya Bu Winda sambil tersenyum.


"Kalau kamu mendengar berita ini, kamu tidak akan lagi memikirkan makan siang," ujar dokter Dimas membalas senyum istrinya.


"Berita apa sih, Mas? Bikin penasaran saja," tanya Bu Winda lagi.


"Ini, tentang hasil tes DNA antara aku dan Vani," jawab dokter Dimas datar.


"Mas, ternyata kamu masih melakukan tes DNA itu. Bukankah aku sudah meminta Mas Dimas untuk tidak perlu melakukan itu. Aku sama sekali tidak tertarik. Sudahlah Mas, aku sudah bahagia dengan kehadiran putri kita yang sudah lama hilang." Bu Winda tampak sedih. Dia tidak bisa menerima keputusan sang suami melakukan tes DNA dengan Vani.


"Apa kamu tidak kasihan dengan Vani kita, yang masih berkeliaran di luaran. Sementara kita memanjakan gadis, yang sama sekali tidak kita kenal?" ucap dokter Dimas menahan kesedihan.


"Maksud Mas Dimas apa? Mas Dimas mau mengatakan bahwa Vani bukan anak kita?" tanya Bu Winda sedikit terbawa emosi.


"Jangan membohongi hatimu. Kamu pasti juga merasakan, Jika hatimu juga meragukan dia. Hari ini, hasilnya sudah keluar. Hasilnya, negatif." Dokter Dimas menjelaskan dengan wajah sedih melihat istrinya sangat syok mendengar hasilnya.


"Kenapa, kenapa harus seperti ini. Aku sudah sangat bahagia, meskipun dia tidak seperti yang aku harapkan. Aku tidak ingin, dia tiba-tiba dikabarkan sudah meninggal. Lebih baik dia sedikit nakal, tetapi dia masih hidup," tangis Bu Winda pecah.


Dokter Dimas memeluk istrinya yang tampak kecewa dan sedih. Kabar baiknya belum dia beritahukan. Rencananya mau menunggu sampai masalah di rumah selesai. Tetapi melihat kondisi istrinya, terpaksa hari ini dokter Dimas akan memberitahukan tentang keberadaan putri kandung mereka.


"Istriku, Vani masih hidup. Dan dia sekarang sudah menikah," ucap dokter Dimas yang membuat Bu Winda menghentikan tangisannya.


"Apa, dia masih hidup dan dia sudah menikah? Apakah, Mas Dimas tahu keberadaannya?" tanya Bu Winda penuh semangat.


"Aku tahu. Tetapi, suaminya ingin agar kita menyelesaikan masalah kita dengan gadis yang kita anggap Vani. Setelah itu, dia akan memberitahukan keberadaan Vani," jawab dokter Dimas.


"Apa Mas Dimas yakin dia Vani, anak kita?" tanya Bu Winda takut kejadian ini akan terulang lagi. Bikin kecewa.

__ADS_1


"Sangat Yakin. Karena aku juga sudah melakukan tes DNA. Hasilnya, sungguh diluar dugaan. Hasilnya positif, dan aku sangat senang melihat harapan bersama Vani, anak kita."


"Mas, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dia. Apakah dia akan cantik, secantik Maminya dan baik, sebaik ayahnya?" ucap Bu Winda gembira.


Hati yang tadinya sedih, kini memiliki harapan baru. Harapan yang sudah sangat lama ditunggu-tunggu oleh seluruh keluarga Dimas.


"Kalau begitu, ayo, kita cepat pulang. Aku ingin menyelesaikannya segera agar Vani bisa kembali pada kita," ajak Bu Winda penuh semangat.


"Baiklah, tapi jangan terlalu kejam padanya. Karena kamu yang pertama kalinya mengajak dia ke rumah sebagai Vina," pesan dokter Dimas.


"Aku mengerti, Mas. Tidak perlu khawatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan," jawab Bu Winda sambil tersenyum.


Dokter Dimas dan Bu Winda bergegas keluar butik menuju ke mobil mereka masing-masing. Mereka masuk ke mobil masing-masing dan memacu mobilnya beriringan di jalan raya. Mereka ingin segera sampai di rumah.


Setelah perjalanan hampir setengah jam, Meraka akhirnya sampai di rumah. Bibik cukup kaget ketika membukakan pintu dan ternyata kedua majikannya pulang untuk makan siang di rumah.


"Tuan, Nyonya. Biasanya, Tuan dan Nyonya akan mengabari Bibik dulu, jika akan makan siang di rumah?" tanya Bibik heran.


"Suruh Vani menunggu kami di meja makan," perintah dokter Dimas pada Bibik.


"Baik, Tuan dan Nyonya." Bibik bergegas ke dapur, untuk segera menyiapkan makan siang.


Sementara, dokter Dimas dan Bu Winda, menyiapkan diri agar tidak berbicara terlalu emosi pada Vani. Setelah itu mereka turun untuk makan siang. Di meja makan, tampak Vani sudah menunggu kedatangan dokter Dimas dan Bu Winda yang sudah menjadi orangtuanya selama hampir satu bulan.


"Papi, Mami. Vani tidak menyangka, Papi dan Mami akan pulang untuk makan siang bersama Vani. Vani senang sekali," ucap Vani sambil tersenyum gembira.


"Iya, Mami juga senang. Makanlah, Jangan biarkan makanan ini sia-sia di atas meja makan." Bu Winda menahan diri untuk tidak segera berbicara tentang identitas gadis di depannya.


Mereka bertiga menikmati makan siang bersama tanpa ada pembicaraan yang berarti. Dokter Dimas dan Bu Winda masih menunggu waktu yang tepat, untuk membicarakan tentang hal penting itu. Selesai makan, Bu Winda mengajak Vani untuk bersantai di ruang keluarga. Dokter Dimas dan Bu Winda duduk berdampingan, sementara Vani duduk di hadapan mereka.

__ADS_1


"Sebelum kamu datang ke rumah ini, siapa nama kamu?" tanya Bu Winda lembut.


"Wanti, Mami. Kenapa Mami bertanya seperti itu?" tanya Vani curiga.


"Karena sejak pertemuan pertama kita, kamu belum bercerita tentang keluarga kamu yang sebelumnya. Kamu hanya bilang kalau mereka sudah meninggal. Mami hanya ingin tahu, dimana mereka menemukan kamu," jawab Bu Winda datar.


"Vani tidak tahu Mami, mereka tidak pernah bercerita padaku," jawab Vani agak kesal dengan pertanyaan Bu Winda.


"Apa sejak lahir, kamu sudah memakai kalung itu?" tanya Bu Winda agak keras.


"Mami curiga pada Vani, Mami pikir Vani berbohong?" jawab Vani mulai emosi.


"Kalau begitu, kita lakukan tes DNA saja. Bagaimana, kamu bersedia?" tanya dokter Dimas yang sedari tadi hanya diam sambil membaca majalah.


"Benar, Vani. Mami ingin lebih yakin, jika kamu adalah Vani, anak Mami. Dengan tes DNA, kamu akan lebih mendapatkan kepastian status kamu di rumah ini. Benar begitu, Mas Dimas?" Bu Winda semakin ingin membuat Vani menyerah dengan sendirinya.


Vani atau Wanti merasa ketakutan. Jika dia mau melakukan tes DNA, kan membuatnya ketahuan. Lebih baik mengaku sekarang.


"Mami, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongi kalian. Aku mendapatkan kalung ini, di sebuah toko. Karena aku sangat menyukainya, ibuku membelikan ini untukku. Aku tidak menyangka, jika ini adalah kalung milik putri kalian yang hilang," jawab Vani berterus-terang.


"Wanti, aku tidak akan mempermasalahkan kebohongan kamu. Tapi, maaf, kami tidak bisa lagi membiarkanmu untuk tinggal di rumah ini. Dan kami ingin kalung putri kami kembali," pinta Bu Winda penuh harap.


"Tapi, hanya barang ini yang Wanti punya. Awalnya, Wanti ingin menjualnya untuk bertahan hidup setelah ayah meninggal. Lalu, Wanti bertemu Bu Winda," jawab Wanti.


"Ini ada uang, sebagai ganti dari kalung yang kamu pakai. Aku rasa ini lebih dari cukup untuk harga kalung milik anak kami. Kamu bisa gunakan uang ini untuk buka usaha dan menyewa tempat tinggal." Bu Winda mengeluarkan sebuah amplop berisi uang 50 juta untuk menggantikan kalung yang dipakai Wanti.


Wanti akhirnya melepas kalungnya dan diberikan pada Bu Winda. Bu Winda tampak senang dan memeluk kalung milik putrinya.


"Wanti akan membereskan barang-barang Wanti. Sekarang juga, Wanti akan pergi dari rumah ini." Wanti beranjak pergi dengan membawa uang ditangannya. Dia bergegas kekamarnya untuk membereskan seluruh pakaiannya. Wanti akhirnya menyerah karena takut dilaporkan ke polisi karena berbohong.

__ADS_1


Bu Winda dan dokter Dimas menyaksikan kepergian Wanti dengan hati lega. Kini saatnya mereka memikirkan rencana untuk bertemu dengan Vani, Putri mereka.


Bersambung


__ADS_2