Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Berjuanglah Bersama


__ADS_3

Aya segera berlari begitu dia keluar dari tangga darurat. Mengabaikan teriakan Arash. Melihat ke atap gedung seberang. Dia bisa melihat, orang itu sudah siap membidik Annelka.


"Annelka...


Aya berteriak. Dan sebuah suara tembakan terdengar, diikuti suara kaca pecah berkeping-keping. Serta suara ringisan Aya yang memeluk tubuh Annelka.


Annelka jelas terkejut. Melihat apa yang terjadi.


"Aku tidak terlambat kan" Suara lirih Aya. Diikuti teriakan dari Arash yang berlari ke arah mereka. Juga tubuh Aya yang semakin lemah dalam pelukan Annelka.


"Menghindar!"


Arash menubruk dua tubuh itu ke samping. Membuat ketiganya ambruk ke lantai bersamaan. Berbarengan dengan suara jeritan kepanikan begitu semua orang menyadari apa yang terjadi.


"Aya..


Annelka mengangkat tubuh Aya yang sudah setengah sadar. Bisa dia rasakan rembesan darah keluar dari punggung Aya. Di sampingnya Arash mengerang dengan lengannya yang juga berdarah.


"Ambulance dalam 10 menit" Ed berucap panik.


"Aya....Aya...bangun Ay...jangan tutup matamu. Tetaplah sadar. Jangan tinggalkan aku" Annelka berucap dengan air mata mengalir di pipi.


Aya sejenak membuka matanya. Tersenyum getir.


"Aku tidak mau ditinggalkan lagi"


"Jangan pergi! Aku mohon"


Annelka memohon. Memeluk tubuh Aya erat. Sedikit mengangkatnya. Hingga bisa mereka lihat. Luka tembak di punggung Aya. Tria dengan cepat melepas jasnya. Menekan luka di punggung Aya. Mengurangi pendarahan yang Aya alami.


"Aaarrgghh" Aya meringis ketika Tria menekan lukanya. Sementara Ed membantu Arash. Menggulung kemejanya. Lalu mengikatnya.


"Mana ambulance-nya Ed" Annelka berteriak frustrasi. Semua orang hanya bisa menatap pemandangan itu dengan wajah sedih.


"Aya bertahanlah..Farris akan segera datang"


Aya menggeleng pelan. Nafasnya mulai tersengal. Tenggorokannya mulai tercekat.


"Ann,...


"Jangan bicara...


"Dengarkan aku...


"Nanti saja..


"Aku mencintaimu...sungguh...aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku mencintai..


"Aku tidak dengar. Katakan nanti dengan benar..


Annelka memotong ucapan Aya.


"Annn...


Tubuh Aya melemah. Arash hanya bergeming menatap pemandangan di depannya. Dengan Ed menopang tubuhnya.


Dari jauh, sirine ambulance terdengar semakin dekat. Seiring tubuh Aya yang jatuh sepenuhnya dalam pelukan Annelka.


****


"Jangan pergi. Aku mohon"


Satu kalimat itu terngiang di telinga Aya. Pelan dia membuka matanya. Melihat sekelilingnya. Sebuah taman bunga dengan bunganya yang sedang bermekaran.

__ADS_1


"Dimana ini? Apa aku sudah mati?"


"Halo, kakak"


"Kamu cantik sekali sekarang"


Dua suara yang langsung membuat senyum Aya terukir sempurna di wajah cantiknya.


Annelka menggebrak meja di ruang kerja Farris.


"Dia berhasil lolos saat penangkapan bersama asistennya, Ricky"


Tria melaporkan. Ed langsung mengeratkan kepalannya.


"Bagaimana dia bisa lolos?"


"Dia sangat licik" Arash menambahkan. Pria itu baik-baik saja. Meski lengannya terluka cukup parah akibat terserempet peluru.


"Kau harus membalasnya Ann, dia menganiaya istrimu. Satu pengawal mereka menjambak rambut Aya"


"Akan kulakukan itu semua. Tapi setelah kondisi Aya membaik. Aku tidak akan tenang sebelum dia membuka matanya"


Menatap ke arah monitor CCTV. Dimana Aya dirawat intensif oleh Farris dan Astrid sendiri.


"Berapa bulan?"


"2 bulan. Astrid mengatakannya"


"Kata Eva, itulah kenapa dia jadi sering menangis dan tertekan. Bukan karena tidak bahagia. Tapi karena mood swing dari kehamilannya"


"Mana aku tahu. Biasanya orang hamil muntah-muntah mulu. Seperti istrimu. Bukannya menangis seperti habis nonton drakor favorit mereka"


"Hormon tiap wanita hamil berbeda. Maka bawaannya juga beda" Potong Astrid yang masuk ke ruangan Farris. Diikuti sang suami.


"Makanya aku beri tahu"


"Slow down, wanita hamil jangan dilawan" Seloroh Arash.


"Diam kau! Jangan bicara jika tidak tahu caranya" Annelka berucap sadis.


"Wooh jangan salah. Cara, gue tahu banget. Masalahnya gue belum ketemu tempat yang pas buat nanam benih" Jawab Arash santai.


"Dasar anak Guangzhou. Makanya pulang cepat sana. Nikah sama Helena"


"Ogah!"


"Gue doain elu bakal bucin abis sama tu cewek yang namanya Helena" Doa Tria.


"Sohib laknat lu"


"Mau dengar saran dari sesama mantan player?" Ed berucap sambil menaikkan satu alisnya.


"Apa tu, Bang?" Arash kepo.


"Coba saja dulu. Aku dulu sama Bella nyolong start dulu. Dapat perawan, terus gak mau yang lain" Bisik Ed.


"Makanya tu orang gak akur sama ibu mertuanya" Seloroh Farris.


"Ibu mertua?"


"Istrinya Tria, Eva adalah wali Bella"


"Whattt???!!! Boleh dibilang kalian mertua dan menantu" Arash berucap shock sambil menunjuk Ed dan Tria yang saling berangkulan.

__ADS_1


"Ya begitulah" Arash langsung memijat pelipisnya.


"Ini bahkan lebih rumit dari kisahmu, Ann" Arash berucap masih menatap Ed dan Tria yang telihat kompak sekali.


"Nanti jangan panggil Opa kalau kau punya anak. Ogah aku!" Tria berseloroh.


"Iya, nanti aku suruh panggil kakak" Sahut Ed.


"Gemblung semua" Farris mendengus kesal. Annelka tampak terdiam mendengar obrolan absurd dari trio kwek-kwek itu plus bocah keras kepala dari Guangzhou itu.


Malam menjelang,


Di lobi rumah sakit tampak terjadi keributan. Kania, Neva dan Vando tampak berdebat dengan resepsionis. Mereka bersikeras ingin menemui Annelka yang mereka tahu ada di rumah sakit itu.


Kejadian itu bersamaan dengan Annelka yang kebetulan sedang dari luar. Mencari udara segar.


"Nah akhirnya ketemu juga. Dasar anak tidak tahu diri. Bisa-bisanya kau menyuruh polisi menangkap Pamanmu sendiri. Kami yang merawatmu sejak keluargamu meninggal. Ini balasanmu?!" Kania sengaja berteriak agar semua orang mendengar.


"Apa kau bilang? Merawatku? Kau tidak ingat, aku dan kalian tidak pernah tinggal serumah. Dan satu lagi, waktu itu aku sudah 19 tahun. Bisa merawat diriku sendiri"


Kania langsung mendelik mendengar ucapan pedas dari Annelka.


"Kau keterlaluan Kak, hanya karena wanita tidak jelas dan murahan itu kau memusuhi ayahku" Kali ini Neva yang berucap.


"Apa kau bilang? Murahan? Tidak jelas. Besok kalian semua akan tahu siapa istriku. Juga kenapa aku meminta polisi menangkap ayahmu. Siapkan mental dan hati kalian besok!"


Annelka berbalik meninggalkan keluarga dakocan itu. Malas melayani omongan tidak jelas mereka. Mengabaikan teriakan Kania dan Neva yang tidak terima diabaikan oleh Annelka.


Farris memang sudah memerintahkan untuk mencegah orang-orang yang tidak berkepentingan untuk masuk ke rumah sakit mereka.


Di pintu ruang perawatan Aya. Annelka bertemu Gabriel.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya pria itu. Gabriel terlihat lebih baik setelah bisa mengingat sebagian ingatannya yang hilang.


"Masih sama" Jawab Annelka sendu.


"Maaf aku melibatkan Aya hingga dia terluka seperti ini"


"Memang sejak awal dia sudah terlibat. Duta membuat Aya kehilangan keluarganya sama sepertiku"


"Maksudku jika aku menyerahkan flash disk itu langsung padamu. Mungkin kita bisa menghindari ini semua"


Annelka menarik nafasnya dalam.


"Mungkin sudah jalannya seperti ini, Briel. Mau bagaimana lagi. Seperti jalanku bertemu dengannya. Bukankah itu semua di luar rencana kita" Annelka berujar sambil mengingat pertemuan pertamanya dengan Aya.


Dipertemukan di ranjang yang sama. Melewati satu malam panas bersama. Hingga mereka akhirnya menikah. Dan tadi, untuk pertama kalinya. Annelka mendengar ungkapan cinta dari Aya. Sungguh dia akan jadi pria paling bahagia jika keadaan Aya baik-baik saja. Ditambah kini Aya tengah mengandung anaknya. Buah cintanya.


"Istirahatlah dulu. Aku akan memerlukan keteranganmu besok"


"Akan kuberitahu semua yang kutahu dan kuingat" Jawab Gabriel. Lantas kembali ke kamarnya.


"Bangunlah Ay, kau bilang tidak mau berpisah denganku. Jadi jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpa kalian" Ucap Annelka mencium kening Aya sambil mengusap pelan perut Aya. Dimana, disana seorang bayi sedang tumbuh dan berkembang.


"Berjuanglah bersama Mama, Boy. Papa sudah lama menunggumu, juga menunggu Mama untuk bisa tersenyum pada Papa"


Annelka berucap seolah sedang bicara pada bayinya. Pelan pria itu meletakkan kepalanya di tepi ranjang. Tidur dengan posisi duduk, akan jadi pilihannya. Dia tidak mau berjauhan dengan Aya dan calon anaknya. Meski Farris sudah menyiapkan sofa bed.


"Aku harap kalian mau bertemu denganku besok pagi" Guman Annelka. Memejamkan matanya. Mencoba untuk tidur.


..."Kembalilah. Dia tidak akan bisa hidup tanpa kamu"...


Setitik air mata tampak mengalir di sudut mata Aya yang terpejam.

__ADS_1


__ADS_2