Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 46. Lahirnya sang jagoan


__ADS_3

"Aku sudah tidak memiliki rasa marah ataupun kecewa pada Mami. Aku sudah berusaha untuk menerima kenyataan. Aku sudah pernah bilang sama Mami, bahwa aku akan menerima takdirku. Jangan khawatir Vano, Aku tetap sayang Mami," jawab Vani sambil tersenyum.


"Vani ...."


"Tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi. Hanya akan membuat kita sedih dan tidak bisa move on. Anggap saja, kami tidak berjodoh. Bukan begit," kata Vani lagi.


"Kamu benar. Mari kita bersama-sama untuk move on. Tapi Vani, Bibik pernah bilang kalau Clarisa datang menemuimu. Apa itu benar dan untuk apa?" tanya Vano kepo.


"Kasih tahu nggak ya? Katanya mau move on, kok masih Kepoin mantan?" ledek Vani.


"Kepoin apa, aku hanya khawatir denganmu. Aku takut dia akan menyakitimu," jawab Vano agak gugup.


"Iya-iya, ngerti. Dia hanya ingin melihat secara langsung, apakah benar aku sedang hamil. Itu saja sih," jawab Vani nanggung.


"Lalu, setelah tahu kamu benar-benar hamil, bagaimana sikapnya?" tanya Vano penasaran.


"Hmm, kayaknya dia mulai menyerah mengejarmu lagi. Kenapa , menyesal?" tanya Vani kemudian.


"Tidak, siapa yang menyesal. Kalau dia menyerah, bukankah itu lebih baik?" jawab Vano gugup.


"Tapi kenapa, ada bau-bau patah hati?" tanya Vani sambil tersenyum.


"Vani, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Vano serius.


"Tanya apa, bikin aku takut saja," ucap Vani agak cemas.


"Apakah kamu sudah bisa melupakan mantan suamimu?" tanya Vano ragu.


Vani menatap Vano dengan tatapan sedih. Untuk apa Vano bertanya seperti itu, disaat dia baru tahu bahwa Deni sama sekali tidak bersalah. Deni melakukan semua itu karena menuruti keinginan Mami-nya.


"Mungkin jika pertanyaan ini kamu tanyakan dulu, aku akan jawab dengan yakin dan seyakin-yakinnya bahwa aku sangat membenci dia. Tetapi, jika pertanyaan ini kamu tanyakan sekarang,aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak memiliki keyakinan apakah aku masih membencinya ataukah sebaliknya," jawab Vani lalu menarik nafas dalam-dalam.


"Aku, tidak pernah membencinya. Tetapi ketika dia meragukan cintaku, aku sedih dan sakit hati. Aku memang bukan orang yang bisa mengumbar cinta didepan orang lain. Aku berharap dia bisa mengerti aku, tapi nyatanya dia memilih pergi meninggalkan aku," kata Vano sedih.


"Tetapi, dia sekarang menyesal dan ingin kembali. Kenapa kamu masih tidak menerimanya?" tanya Vani sambil menatap Vano.


"Aku ingin meyakinkan diri lebih dulu, bahwa dia tidak akan menuntut ku lebih dari yang aku bisa lakukan," jawab Vano.


"Menurutku, kamu juga harus memahami keinginan seorang wanita. Mereka ingin menjadi yang pertama di hati kekasihnya. Apalagi setelah menikah dan memiliki anak. Karena itu juga yang aku inginkan saat ini. Jika seandainya aku masih bersama dia. Jangan sia-siakan cinta hanya untuk saling menyakiti. Saat dia benar-benar menyerah, kamu akan menyesal. Jangan seperti aku, Vano," ucap Vani sambil menepuk bahu saudara kembarnya itu.

__ADS_1


"Aku, akan pikirkan apa yang kamu katakan. Aku jadi kasihan pada David," ucap Vano kemudian.


"Kenapa dengan dia?"


"Kamu tidak memberinya kesempatan untuk mendekati kamu. Katakanlah sesuatu padanya agar dia tidak patah dan sedih," ucap Vano.


"Baiklah, katakan padanya kalau ada waktu untuk datang kerumah ini. Aku akan membuatnya berhenti berharap," ucap Vani sambil tersenyum.


Dua Minggu kemudian, David benar-benar datang ke rumah Vano. Kebetulan Vani sedang cuti kuliah karena waktu melahirkan sudah semakin dekat sesuai petunjuk dokter.


"Vani, maaf ya, aku baru bisa datang. Aku kemarin sibuk mempersiapkan cabang baru jadi tidak sempat datang," ucap David sambil menatap tajam Vani.


"Tidak apa-apa, David. Aku juga hanya ingin mengatakan sesuatu yang seharusnya sejak awal aku katakan padamu," ucap Vani sambil membalas tatapan mata David.


"Vani, jangan katakan. Aku tidak akan mendengarkannya," ucap David dengan wajah agak kesal.


"Kenapa, apa kamu tahu apa yang ingin aku katakan padamu?" tanya Vani.


"Aku tahu."


"Apa?"


"Kamu ingin agar aku menyerah bukan? Jangan mendekati kamu lagi, dan jangan berharap lebih. Karena kita hanya teman." David seolah sudah bisa membaca apa yang ada didalam hati dan pikiran Vani.


"Tapi, aku masih ingin tetap mencintaimu. Kamu tidak berhak untuk melarang ku. Meskipun kamu tidak pernah mencintaiku, biarkan aku ada di sisimu meski kamu hanya menganggap aku teman saja," ucap David lagi.


"Maafkan aku David. Aku tidak ingin memberimu harapan palsu. Saat ini aku hanya ingin fokus mengurus anakku dan mencapai karier yang bisa membuat anakku bangga pad ibunya," jawab Vani.


"Aku mengerti, Vani. Aku menghargai keputusanmu, tapi kamu juga harus menghargai keputusanku untuk tetap mencintaimu," kata David penuh harap.


"Baiklah, terserah kamu saja."


Setelah berkata seperti itu, tiba-tiba, perut Vani terasa sakit. Sakitnya semakin lama semakin bertambah. Melihat hal itu, David menjadi sangat panik. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini.


"David, bawa aku ke rumah sakit. Aku mungkin akan melahirkan," kata Vani sambil menahan sakit.


"Baik, aku siapkan mobil aku dulu," jawab Vano.


"Non Vani akan melahirkan?" tanya Bibik ikut panik. Bibik mendengar suara Vani lalu mendekati Vani dan berusaha membantu Vani menuju mobil David.

__ADS_1


"Bibi, tolong hubungi Vano, katakan aku pergi ke rumah sakit yang biasa aku periksa," kata Vani setelah duduk di mobil.


"Baik, Non Vani," jawab Bibik segera menghubungi Vano.


"Vani, kita kerumah sakit mana?" tanya David.


"Rumah sakit Santana."


Vani menahan rasa sakit, sementara David segera memacu mobilnya agar seger sampai di rumah sakit.


Untung saja, bayi Vani tidak nakal. Setelah Vani berjuang hampir satu jam, seorang bayi kecil telah lahir dengan selamat. Seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan manis. Vani samar-samar mendengar suara adzan dan iqomah. Vani penasaran, suara siapakah yang telah mengadzani bayinya.


Vani membuka mata pelan-pelan dan mencari arah sumber suara. Terlihat jelas olehnya, Vano yang sedang menggendong anaknya. Vani tersenyum bahagia memiliki saudara seperti Vano. Dia selalu ada untuknya. Kalau dia bisa memperhatikan dia seperti ini, seharusnya dia juga bisa melakukan hal yang sama pada Clarisa.


"Vani, kamu beri nama siapa cowok ganteng ini?" tanya Vano sambil memperlihatkan bayi Vani.


"Deva Pradana," jawab Vani.


"Deva Pradana. Oke, bagus juga. Aku tadi sudah menghubungi Mami, besok Mami akan datang bersama Papi dan Vina. Mereka sangat ingin melihat anggota baru keluarga kita," kata Vano sambil tersenyum.


Kehadiran Deva menjadi semangat bagi Vani untuk terus melangkah ke depan. Ada senyum dan tangis yang mengiringi hidup Vani.


Esok harinya, Vani sudah di izinkan pulang oleh dokter, karena Vani sudah dianggap cukup sehat. Sesampainya di rumah, ternyata Mami Winda, Papi Dimas dan Vina baru saja datang. Mereka menyambut kehadiran Deva dengan penuh kegembiraan.


Mereka datang tidak hanya membawa bermacam-macam mainan tetapi juga membawa pakaian-pakaian kecil untuk Deva setelah tahu anak Vani seorang laki-laki. Mereka bergantian menggendong Deva bahan Deva sampai tidak sempat untuk tidur di box bayi.


"Kak Vani, Deva ganteng banget ya? Nanti tiap hari, Vina mau Video call-an Deva. Biar Vina bisa melihat setiap pertumbuhan Deva," tanya Vina sembari mengelus pipi Deva.


"Kalau tiap hari, kamu tidak akan ada waktu untuk pacaran," jawab Vani sambil tertawa.


"Pacaran sama siapa, Kak, kan memang aku tidak memiliki pacar," jawab Vina sambil tersenyum.


"Siapa tahu nanti tiba-tiba ada yang menyatakan, I love you, Vina" goda Vani.


"Semoga ...." balas vina sambil tertawa.


Vani membiarkan saja, apa yang mereka lakukan karena Vani tahu, sebentar lagi mereka akan kembali ke Indonesia. Papi Dimas dan Vina akan pulang 3 hari kemudian. Sedangkan Mami Winda, akan menemani Vani hingga 2 Minggu ke depan.


setelah 3 hari, Papi Dimas dan Vina kembali ke Indonesia. Sementara, Mami Winda tetap tinggal untuk merawat Vani dan bayinya . Mami Winda begitu begitu sayang pada Deva. Bahkan Vani hampir tidak pernah menggendong bayinya. Semua ingin dikerjakan sendiri oleh Mami Winda. Kecuali untuk menyusui barulah Deva diserahkan pada Vani.

__ADS_1


"Vani, kamu tidak marah 'kan? Mumpung Mami Winda di sini, Mami ingin lebih dekat dengan Deva," tanya Mami agak ragu.


"Mami, Vani tidak akan pernah marah pada Mami. Vani malah senang, karena Mami sangat menyayangi Deva."


__ADS_2