Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Aku Juga Ahli


__ADS_3

"Ay...


Annelka menahan tangan Aya ketika mereka sudah masuk ke kamar mereka. Sudah rapi. Sepertinya Bibi Mai tahu jika tuan dan nyonyanya bertengkar. Hingga dengan cepat membersihkan kamar mereka, begitu sang tuan pergi menjemput sang nyonya.


Aya nampak menarik nafasnya dalam.


"Turunkan egomu"


Ribuan kali pesan Eva itu terngiang di telinga Aya. Dirinya tahu salah satu masalah terbesar dalam hubungannya dengan Annelka adalah egonya. Meski Annelka selalu sabar menghadapinya. Tidak pernah protes.


Tapi Aya tahu. Annelka juga ingin dihargai sebagai seorang suami. Ingin dicintai. Meski dia bersikeras menolak pernikahan ini di awal. Tapi dia setuju dengan Annelka dalam satu hal, dia tidak suka dengan perpisahan.


Apalagi semakin ke sini. Dia tahu pribadi suaminya tidaklah seburuk yang dia kira.


"Maafkan aku" Satu kalimat dari Aya langsung membuat Annelka tercekat. Enam bulan mereka menikah. Tidak pernah sekalipun sang istri mengucapkan kata maaf. Tidak peduli dia yang berbuat salah. Annelkalah yang akan mengalah.


"Ay...aku tidak mau berpisah denganmu. Lakukan apapun yang kamu mau. Tapi jangan tinggalkan aku. Oke?"


"Bucin tingkat akut suamimu"


Eva pernah berseloroh seperti itu.


"Kalau begitu berikan aku 30 persen saham atas namamu di Carter Corp"


"Tidak masalah. Besok tuan Nasution akan menyiapkan berkasnya"


Aya langsung mengeplak lengan Annelka. Membuat Annelka meringis


"Bodoh sekali sih kamu"


"Ha?" Annelka melongo.


"Bodoh dimananya?"


"Aku minta maaf. Bukan minta pisah. Apalagi sahammu"


Annelka semakin bingung. Tadi marah. Ngamuk. Kabur. Sekarang minta maaf. Minta saham lagi.


"Dia nggak lagi PMS atau kesurupan kan?" Batin Annelka bingung.


"Cinta padaku tidak?" Tanya Aya.


Annelka langsung mengangguk. Membuat Aya berjalan mendekat ke arah suaminya.


"Lalu kalau kuminta nyawamu apa kamu mau memberikannya untukku"


"Nyawa buat apa? Tumbal? Pesugihan?"


"Malah ngaco. Mau tidak mau memberikannya?"


"Mau. Asal jangan tinggalkan...adduuhhh


"Kalau kamu mati ya aku nikah lagi. Makanya jangan mati. Bucin boleh tapi jangan mati. Nanti kesenangan aku jadi janda kaya"


"Ay...maksudnya apa. Aku tidak paham. Minta saham. Minta nyawa. Kamu masih marah padaku? Aku minta maaf. Gak lagi-lagi deh acara paksa memaksa dan cemburu-cemburuan. Aku akan percaya padamu"


Annelka menundukkan wajahnya. Hampir menangis. Dia menyesal sudah cemburu pada sang istri juga memaksa Aya untuk bercinta dengannya.


Perlahan Aya mendekat ke arah Annelka. Menatap ke arah sang suami yang terlihat begitu menyesal.


"Ann....

__ADS_1


"Aku tidak mau dengar"


"Annelka...lihat aku!" Aya sedikit menaikkan suaranya. Melihat suaminya yang malah semakin kacau bicaraku.


"Annelka, lihat aku"


Aya melembutkan suaranya. Perlahan Annelka mengangkat wajahnya. Pria itu menangis. Ya, seorang Annelka menangis karena seorang wanita. Melihat Annelka menangis. Perlahan Aya mengusap air mata Annelka.


Hingga kemudian Annelka terkejut. Ketika Aya mencium lembut mata sang suami. Persis seperti yang pernah dia lakukan pada Aya.


"Mata ini tidak boleh menangis lagi. Maafkan aku, Ann"


Ucapan Aya membuat Annelka semakin bingung. Meski tidak dipungkiri dia bahagia dengan perlakuan Aya padanya. Melihat Annelka yang terdiam. Perlahan Aya kembali berjinjit. Tinggi mereka berbeda cukup jauh. Tanpa heels, Aya jelas kesulitan untuk menyamakan tinggi mereka.


Tanpa Annelka duga. Perlahan Aya mencium lembut bibir Annelka. Membuat pria itu terkejut. Ini pertama kalinya, Aya mencium bibirnya dalam keadaan sadar.


"Ay...


"Maafkan aku. Aku terlalu egois padamu. Aku hanya memikirkan diriku. Tanpa memikirkan perasaanmu"


Satu lagi hal yang membuat Annelka terkejut sekaligus senang.


"Jadi kita baikan?" Tanya Annelka setelah keduanya terdiam beberapa saat. Aya mengangguk. Detik berikutnya pria itu balik mencium bibir Aya.


"Tanda gencatan senjata" Cengir Annelka yang merasa bahagia. Namun tanpa aba-aba, tiba-tiba Aya meraih leher kokoh Annelka. Kembali menyatukan bibir mereka. Dan kali ini, Annelka langsung menyambutnya dengan ******* penuh cinta.


Dan kembali kejutan Annelka terima. Ketika Aya membalas ciumannya. Membuat tempo ciuman mereka meningkat cepat. Suasana memanas seketika.


"Ay..." Suara Annelka parau.


Aya seolah paham.


"Kau memancingnya"


Annelka langsung mengembangkan senyumnya. Seolah paham dengan kode Aya.


"Kau yang memulainya. Jadi jangan salahkan aku, jika aku tidak akan berhenti sampai aku puas" Ucap Annelka dan sejurus kemudian, pria itu mulai mencium Aya lagi.


Melucuti pakaian mereka. Perlahan merebahkan tubuh sang istri di kasur mereka. Annelka mulai mencumbu tubuh Aya. Menaikkan gairah istrinya. Hingga Annelka mulai menyatukan diri dengan Aya.


"Aku mencintaimu Ay, jangan pernah tinggalkan aku"


Ucap Annelka. Yang disambut anggukan oleh Aya. Seulas senyum kembali terukir di bibir Annelka. Pelan, pria itu mulai memacu diri. Membawa Aya mencapai batas nirwana. Mencapai puncak dengan mereka yang begitu menikmati sesi panas mereka kali ini.


***


"Ay...


"Lima menit lagi"


Aya menjawab seperti biasanya. Ketika Annelka membangunkannya. Namun kali ini, Annelka hanya tersenyum. Tidak ingin memaksa bangun seperti biasanya.


"Ay..."


"Hmmm...Aya menggerakkan tubuhnya.


"Jangan bergerak Ay...kau memancingnya lagi" Namun bukannya berhenti. Tangan Aya malah bergerak ke sana kemari. Menyentuh seluruh tubuh Annelka yang masih polos. Sama seperti tubuh Aya.


"Kau yang memulainya lagi" Annelka langsung melempar selimut mereka. Tanpa ba bi bu..langsung menyatukan diri.


"Annelka kau gila!" Aya berteriak. Namun tidak lama Aya langsung diam. Ketika Annelka membungkam bibirnya dengan ciuman. Dan dalam sekejap kamar mewah itu sudah memanas kembali. Dengan suara lenguhan dan ******* sepasang suami istri yang baru saja berbaikan itu.

__ADS_1


"Annelka, kau benar-benar ingin membunuhku" Aya masih menggerutu. Mereka baru saja menyelesaikan makan siang mereka yang terlambat.


Semalam, pria itu tidak berhenti memacunya. Hingga dini hari tiba. Dan tadi pagi, Annelka mengulangi sesi panas mereka. Hingga melewatkan sarapan mereka. Mendengar gerutuan Aya. Annelka hanya terkekeh.


"Siapa suruh memberiku lampu hijau. Aku kan Porche yang remnya blong kalau soal begituan. Nonstop kalau belum nabrak dinding"


"Menyebalkan"


"Mumpung diizinkan buka puasa. Jadi makan sampai kenyang"


Aya tercekat. Dia dokter, jadi dia tahu kalau pria sangat menyukai berhubungan ****. Apalagi jika sudah punya pasangan, terlebih sudah menikah.


"Sekarang kau bisa melakukannya setiap kali kau menginginkan" Ucap Aya.


"Benarkah?" Tanya Annelka tidak percaya.


"Tidak percaya ya sudah" Jawab Aya kesal. Membenamkan wajahnya di dada bidang Annelka.


"Bukan tidak percaya. Hanya saja apa alasannya. Kamu ketagihan ya"


Aya langsung memberikan tatapan tajamnya.


"Kenapa? Aku perlu memperjelasnya kan. Nanti aku sudah on, kamu menolakku. Repot dong aku"


"Ya, kamu bisa bersolo karir seperti biasanya" Jawab Aya santai.


"Aya, kalau sudah biasa beduet. Tidak enak rasanya kalau bersolo karir" Jawab Annelka sambil memeluk tubuh Aya. Yang lagi-lagi membuat kepala Annelka pusing. Tank top tanpa bra dan hot pants favorit sang istri.


Mendengar perkataan Annelka. Aya menarik nafasnya.


"Aku ingin mulai membuka hatiku untukmu. Belajar mencintaimu"


"Benarkah? Oh my, boleh tidak aku buat pesta untuk merayakan ini"


"Jangan aneh-aneh deh kamu. Aku pikir, aku akan mencoba menerima dirimu dalam hidupku"


Annelka seketika mencium kening Aya.


"Kamu tahu, kamu membuatku bahagia sekali Ay"


"Aku tahu" Jawab Aya percaya diri.


"Jadi boleh dong sekarang lagi"


"Ya, enggaklah. Lecet tahu. Mana badan aku sakit semua. Kira-kira dong kalau pakai tenaga"


Annelka terkekeh mendengar keluhan Aya.


"Memang lecet? Perlu diperiksa nggak?"


"Nggak usah. Nanti bukannya kamu periksa malah kamu masuki lagi"


"Ahh kok kamu tahu sih"


"Raja mesum, begitu ada kesempatan. Gasskeun"


Annelka terbahak mendengar ucapan Aya. Dia begitu bahagia. Akhirnya Aya benar-benar membuka pintu hatinya untuknya.


"Aku akan selalu mencintaimu, Ay"


Ucap Annelka, kembali mencium puncak kepala Aya. Membiarkan Aya kembali menikmati tidurnya. Sedikit tersenyum ketika melihat tubuh Aya yang penuh dengan kiss mark buatannya.

__ADS_1


"Sekarang aku juga ahli, bukan hanya kau saja, Ed"


****


__ADS_2