Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Keajaiban Dalam Hidupku


__ADS_3

"Kalian ini benar-benar memalukan!" Maki Ed.


"Dia yang salah!" Ben menunjuk Annelka yang langsung menundukkan kepalanya.


"Aku memang salah" Jawab Annelka lesu.


"Kau dengar itu?"


"Sudahlah. Kau mau pergi kemana? Balik ke rumah lamamu?" Tanya Tria.


"Aku mau pulang kampung. Kalian disini hanya membohongi kami. Menipu kami!" Teriak Ben emosi.


"Aku kira kau mau pulang ke rumahmu sendiri. Mau kuberitahu. Tidak ada taksi yang lewat sana"


"Kami bisa naik bus. Atau numpang truk yang lewat"


"Itu apalagi. Nggak bakalan lewat disana"


"Yang kau bicarakan, rumah mana?" Tanya Annelka heran.


"Rumahmu yang satu lagi" Jawab Tria.


"Fix, setelah ini. Kita harus memisahkan mereka. Aku pikir mereka akan berkelahi karena dia cemburu. Ternyata tanpa embel-embel cemburu. Mereka sudah saling pukul"


"Padahal dulu mereka akur lo"


"Nah itu dia. Begitu sudah pada tua. Malah baru berantem"


"Kalian ini bicara apa sih?" Potong Annelka.


"Pinjamkan dia mobil untuk pulang kerumahnya"


Annelka mengerutkan dahinya.


"Maksud kalian?"


"Dia kakakmu, Aaron. Hasil tes kemarin tertukar"


Ben dan Annelka saling pandang. Tidak percaya jelas tergambar di wajah keduanya.


"Ini suratnya. Yang ini benar seratus persen. Kami menjaminnya dengan nyawa kami" Farris berucap.


"Ehh jangan bawa-bawa nyawa dong" Seloroh Tria.


Sementara Ben, tangannya bergetar saat membaca surat yang dia ambil dari amplop berwarna coklat itu. Pun dengan Annelka. Pria itu hanya bisa menatap Ben yang langsung menatap dirinya. Begitu selesai membaca surat itu.


"Masih mau berantem?" Ed bertanya.


Sejurus kemudian, Annelka sudah menubruk Ben. Memeluk pria itu erat.


"Aku tidak salah. Kau Aaron, kakakku" Ucap Annelka. Kali ini tanpa malu, calon ayah itu menangis. Sementara Ben yang masih ragu. Hanya bisa diam tanpa membalas pelukan Annelka. Hingga ekor matanya menatap Aya yang tengah memainkan kalung Annelka.


"Mama...." Guman Ben lirih.


Sedetik kemudian, Ben ikut menangis. Membalas pelukan Annelka erat. Dia tahu hanya satu orang yang akan memiliki kalung yang sama dengannya. Yaitu adiknya.


Sejenak mereka semua terdiam. Ikut terhanyut dalam suasana pertemuan kembali dua kakak beradik itu.


"Ini benar-benar keajaiban" Ucap Tria mengusap air mata di sudut matanya. Tidak ada yang tidak terharu malam itu. Aya bahkan sudah berpelukan dengan bibi Mai sejak tadi.


"Dia kembali. Dia pulang, Non. Tuan Aaron..kembali" Ucap bibi Mai berulang kali.


***


"Kau bilang menemukannya berkeliaran di jalanan?" Tanya Ed pada Zaki. Mereka semua sudah duduk di ruang tengah. Mengobrol sambil menunggu makan malam siap dihidangkan.

__ADS_1


"Iya...aku pikir dia turis. Tapi setelah kudekati dia malah lebih mirip orang gila. Apalagi waktu aku tanya siapa dia. Dia bilang tidak tahu. Ya sudah aku bawa pulang. Mau tak bawa ke kantor polisi. Jauh juga aku takut. Nanti malah aku yang dituduh menculik dia"


"Kamu memang penjahat dari sononya ya" Maki Farris.


"Ya maaf. Aku benar-benar tidak tahu siapa dia"


Semua orang terdiam.


"Sudahlah. Lupakan saja itu. Lagipula malah bagus dia ditemukan Zaki. Kalau waktu itu dia ditemukan oleh Duta. Habis beneran dia"


"Iya juga ya. Biarpun kau jadikan dia penjahat. Setidaknya dia hidup dengan baik. Daripada ketemu Duta"


"Duta siapa?" Zaki kepo.


"Orang yang menyebabkan kecelakaan mobil orang tua Annelka dan Aaron"


"Dan mereka meninggal?" Tanya Zaki. Yang diangguki oleh yang lain.


"Iishhh, hidup orang kaya mengerikan" Ucap Zaki.


Menatap Aaron dan Annelka yang berdiri di depan pigura besar. Berisi foto keluarga mereka. Tirainya sudah Annelka singkirkan.


"Mereka Papa dan Mama?" Tanya Aaron dengan bibir gemetar. Ada rasa rindu, haru, juga sedih ketika pria itu menatap foto keluarga mereka. Mengusap wajah sang Mama.


"Ini foto keluarga terbaru kita. Kau sendiri yang memintanya sebagai hadiah ulang tahunmu yang ke dua puluh satu"


Tangis Aaron semakin kencang. Pria itu memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Kenapa?" Teriak Aaron frustrasi.


"Hentikan itu, Kak!" Annelka menahan tangan Aaron yang ingin memukul kepalanya lagi.


"Aku tidak bisa bayangkan. Bagaimana kau melewati sepuluh tahun ini sendiri. Aku sungguh Kakak yang tidak berguna" Maki Aaron pada dirinya sendiri.


"Cukup, Kak! Cukup! Setidaknya sekarang kau pulang. Kau ada bersamaku. Nasib kita lebih baik dibanding Aya"


"Hampir tujuh tahun dia diungsikan ke Guangzhou. Untuk mengatasi traumanya. Keluarganya dibunuh di depan matanya"


Aaron langsung menatap ke arah Aya. Yang tengah hilir mudik menata hidangan di atas meja makan.


"Kejam sekali orang itu" Guman Aaron.


"Dan kakak tahu? Pelakunya sama dengan orang yang sudah menyabotase mobil kalian. Hingga kecelakaan"


"Brengsek! Apa dia masih hidup? Atau sudah masuk penjara?"


"Sayangnya dia terlalu mudah mendapatkan balasannya. Dia mengalami serangan jantung setelah papa Farris menembaknya"


"Sayang sekali. Padahal aku bisa menyiksanya lebih dulu. Sebelum dia mati"


"Tapi kau terlambat datang" Ledek Annelka. Sejenak keduanya tersenyum.


"Pa, Ma...aku memang tidak ingat kalian. ...menatap ke arah Annelka...tapi aku tetap merasa kalian adalah keluargaku. Jadi beristirahatlah dengan tenang. Aku sudah pulang. Berkumpul dengan putra kesayanganmu...


"Kau juga kesayangan mereka" Potong Annelka cepat.


"Ya, kami putra kesayangan kalian yang paling tampan...


"Narsis...


"Seperti dia tidak saja"


Keduanya tersenyum. Berdiri saling berangkulan di depan foto keluarga mereka.


Dan pemandangan itu membuat Aya menitikkan air mata.

__ADS_1


"Jangan menangis" Farris berucap.


"Aku iri pada mereka. Aaron kembali. Tapi aku....tetap sendirian"


"Siapa bilang kau sendirian. Kau punya kami semua. Kau punya suami yang bucin akut tingkat dewa. Sekarang kau punya kakak ipar..


"Yang super menyebalkan"


"Tapi kaya. Kau bisa memalaknya tiap hari. Sudah, jangan menangis lagi" Ucap Farris sambil mengusap air mata Aya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Annelka tiba-tiba. Menatap tajam pada Farris.


"Astaga...posesifnya minta ampun deh. Nih kukembalikan Nyonya Carter padamu. Makanya jangan ditinggal lama-lama. Diserobot orang yahook lu" Gerutu Farris.


"Sudah reuninya?" Tanya Aya.


Dua pria itu mengangguk. Lantas mereka semua mulai duduk di meja makan. Menikmati makan malam yang sedikit tertunda.


"Oh ya Ki, kau tidak usah pulang ke sana lagi. Di sini saja sama aku" Aaron berucap. Dia cukup tahu jika Zaki jadi segan sekarang.


"Tapi...


"Kau pulang mau ngapain? Partner in crime-mu saja di sini" Tanya Ed.


"Dan jangan harap aku ngizinin Aaron pergi lagi ya" Ancam Annelka.


"Terus kalau aku tetap di sini. Aku ngapain?"


"Ya kerjalah. Ngapain lagi?" Tria menyahut.


"Kerja apa? Aku bisanya ngrampok doang"


"Ngrampok laporan tapi bisa kan?" Farris menambahi.


"Kau kerja denganku saja" Aaron berucap.


"Kerja apa? Ngrampok lagi?"


"Rampok aja yang ada dipikiran elu" Aya berucap sebal.


"Habis tu?"


"Kau tahu siapa dia?" Tanya Annelka.


"Aaron sekarang namanya Aaron kan?"


"Aaron siapanya aku?"


"Kakakmu"


"Lalu kalau dia kakakku. Artinya apa?" Pancing Annelka.


Zaki sejenak berpikir.


"Dia juga kaya sepertimu" Teriak Zaki girang.


"Kau bisa jadi asistenku. Hitung-hitung aku membalas budi padamu. Jika aku tidak bertemu denganmu sepuluh tahun lalu. Aku tidak tahu, akan jadi apa diriku" Ucap Aaron menatap Zaki haru.


"Ooohh Ben eh Aaron kau membuatku terhura...eh terharu"


Tawapun meledak di meja makan itu. Suasana yang sudah lama tidak terjadi di rumah itu.


"Aku tidak pernah menyangka jika hari ini akan datang. Hari di mana, keajaiban benar-benar terjadi dalam hidupku. Kakakku kembali dan berada bersamaku sekarang. Di sisiku"


Batin Annelka. Menatap semua orang yang terlihat begitu bahagia malam itu. Berharap semua ini tidak akan pernah berakhir.

__ADS_1


***


__ADS_2