Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bahagia Untuk Semua


__ADS_3

"San, mandi dulu" Ucap Aaron ketika dia keluar dari kamar mandi.


Bukannya menanggapi ucapan sang suami, Santi malah salfok melihat tubuh kekar Aaron yang hanya memakai celana training saja. Tanpa atasan.


Wajah Santi memerah seketika. Dan hal itu terlihat oleh Aaron. Sejaka menikah kemarin, dua orang itu belum melakukan kontak fisik yang intim sama sekali. Bahkan berduaan pun baru kali ini. Sebab tadi mereka kembali bersama Zaki dan Dani.


"Kenapa wajahmu?" Goda Aaron.


"Tidak ada" Jawab Santi melangkah masuk ke kamar mandi. Tempat yang kembali membuatnya melongo.


"Ini bahkan lebih besar dari kamarku" Guman Santi.


Sejenak melihat-lihat. Apa yang Santi cari? Jelas kalau nyari gayung gayung bentuk hati sama ember, ya jelas gak ada. Wanita itu nyengir sendiri.


"Ini bukan bak mandi kan?" Guman Santi lagi, menyentuh tepi bath up. Wanita itu jelas tidak tahu dengan benda-benda itu. Semua terlihat baru bagi Santi. Pada akhirnya Santi masuk ke bilik shower. Mungkin yang ada pintunya, jadi Santi kira itu kamar mandi.


Meski dia harus celingak-celinguk dulu didalamnya. Sebab dia tidak tahu cara menggunakan shower. Hingga akhirnya setelah mengutak-atik alat shower itu. Santi berteriak girang ketika dia berhasil menyalakan shower. Meski yang keluar air dingin karena Santi tidak menyalakan heaternya.


Selesai mandi ala kadarnya. Yang penting kena air, kata Santi. Kembali Santi bingung mencari handuk. Hingga dia melihat bathrope.


"Ini handuk baju ya" Ucapnya lirih.


Sampai akhirnya, Santi memakainya.


"Baguslah. Lupa mau nanya di mana baju gantinya"


Santi keluar kamar mandi. Masuk ke kamarnya. Di mana Aaron sudah sibuk dengan laptopnya. Sejenak Santi terpana. Aaron sekarang jelas berbeda dengan Ben yang dulu. Sekarang pria itu terlihat begitu tampan. Berkharisma, dengan kacamata baca yang bertengger di hidung mancungnya.


"Aaron..." Suara lembut Santi, langsung membuat Aaron mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


Aaron menatap takjub pada Santi yang hanya memakai bathrope.


"Baju gantiku di mana?" Tanya Santi malu. Memegang kuat bathrope di bagian dadanya.


Yang justru membuat Aaron berpikir kalau Santi tengah menggodanya. Apalagi aroma lembut mawar seketika menguar dari tubuh Santi. Membangkitkan desiran gairah dalam diri Aaron.


"Bajunya mana?" Tanya Santi lagi.


"Nanti saja pakai bajunya" Bisik Aaron ketika pria itu sudah berada di depan Santi.


"Nanti aku masuk angin"


"Aku bisa menghangatkanmu" Bisik Aaron lagi di telinga Santi. Sentuhan pria itu langsung membuat Santi berjengit, dengan tubuh mulai menegang.


"Aku menginginkannya sekarang" Kali ini Aaron sudah mulai mencium bibir Santi. Membuat Santi gelagapan. Karena ciuman Aaron terkesan buru-buru. Dan penuh na***.


Namun ciuman Aaron itu juga membangkitkan sesuatu dalam diri Santi yang seolah menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Ciuman Aaron semakin intens. Semakin panas. Meski Santi terkesan kaku. Maklum, ini pertama kali bagi Santi. Disentuh oleh pria.


"Aaron..."


Suara indah itu akhirnya lolos juga dari bibir Santi. Kala Aaron mulai menciumi leher mulus Santi. Bahkan keduanya kini sudah berada di atas kasur besar mereka. Dengan permainan yang semakin panas.


Aaron jelas tidak bisa menahan diri lagi, saat bathrope Santi berhasil ia lepas. Menampilkan tubuh mengagumkan milik sang istri.


"Ini benar-benar luar biasa, San" Bisik Aaron disela-sela aksinya, mengabsen setiap jengkal tubuh sang istri.


Begitupun Santi, wanita itu begitu menikmati setiap sentuhan Aaron. Yang benar-benar membuatnya mabuk kepayang. Hingga pada akhirnya, Santi sedikit mencakar punggung Aaron ketika pria itu berhasil mengambil mahkotanya.


"Sakitkah?" Tanya Aaron. Dan Santi mengangguk.


"Maaf...aku akan pelan-pelan" Ucap Aaron mencium lembut kening dan bibir Santi. Terserah jika Santi mau mengatakan dirinya egois. Karena tidak mengerti dengan rasa sakit yang dia alami. Tapi percayalah. Bagi pria, akan susah untuk mengendalikan diri jika pusakanya sudah tenggelam di dalam rumahnya.


Dan malam yang baru beranjak itu, mereka habiskan dengan memadu kasih. Saling memberi dan menerima. Menikmati surga dunia untuk pertama kalinya bagi keduanya.


****


"Apa maksud ucapanmu? Aku tidak berbohong" Aya hampir berteriak kepada Annelka.


Keduanya baru saja masuk ke dalam rumah. Namun entah kenapa keduanya sibuk berdebat dari tadi.

__ADS_1


"Kau menghubungi Arash. Kau masih memikirkan dia"


"Kami teman, Ann. Wajar kalau kami saling menghubungi. Ini kenapa kamu yang malah sewot akhir-akhir ini"


"Tapi kau tahu kan aku tidak suka"


"Cemburu?"


"Nggak!"


"Ini apalagi sih? Malah bertengkar sendiri"


Aaron menengahi keduanya. Pria itu baru saja keluar dari kamarnya. Setelah hampir dua jam memacu diri dalam sesi panas perdana mereka.


"Aya selingkuh!" Tuduh Annelka.


"Sembarangan kalau ngomong" Bantah Aya.


"Lalu itu namanya apa. Main teleponan di belakangku"


"Sebab tadi berisik jadi aku cari tempat yang sepi"


"Alasan!"


"Sudah-sudah. Bicarakan dulu baik-baik. Memang siapa yang kau hubungi?"


"Arash, tapi bukan aku yang menghubunginya. Tapi dia yang menghubungiku" Jelas Aya.


"Pandai sekali membuat alasan" Cibir Annelka.


Aya langsung membuat gerakan meremas dengan kedua tangannya.


"Memangnya kenapa dia meneleponmu?" Tanya Aaron.


"Melepas rindulah. Mau apalagi. Pantas saja kemarin kekeuh minta pergi ke sana. Mau ketemuan ya?"


"Enak saja! Dia menghubungiku karena dia akan menikah dengan Helena" Jawab Aya cepat. Membuat Annelka langsung menatap tajam Aya.


"Tidak percaya. Ini undangannya" Balas Aya sambil menunjukkan undangan di ponselnya.


Sejenak kedua pria itu menatap ponsel Aya. Kemudian saling pandang.


"Makanya dengarkan dulu bumil kalau lagi ngomong. Ditinggal ke Guangzhou beneran. Tahu rasa kamu!" Maki Aaron.


Sejenak Annelka jadi salah tingkah.


"Maaf, aku terlalu berpikir yang tidak-tidak"


"Tiada maaf bagimu!" Ucap Aya galak sambil berlalu dari hadapan Annelka.


"Ay...Aya maafkan aku..please" Mohon Annelka mengekor langkah sang istri.


***


Hari berganti, minggu berganti, pun dengan bulan berganti. Pada dasarnya, kehidupan manusia selalu berubah. Tidak melulu sama. Begitupun kehidupan Aya dan Annelka.


Dipertemukan dengan sebuah kejadian yang tidak mereka inginkan. Membuat keduanya berakhir dalam sebuah pernikahan. Dan perlahan membuat keduanya dekat, hingga akhirnya jatuh cinta.


Sampai pada akhirnya buah cinta merekapun lahir. Seorang bayi laki-laki dengan paras luar biasa tampan. Membuat Ahmad yang berusia satu tahun lebih langsung cemburu seketika. Ketika semua orang begitu perhatian pada baby "A". Begitu Annelka menamainya.


"Lihat Ahmad cemburu" Seloroh Bella yang pada akhirnya diperbolehkan mengandung oleh Ed.


Setelah satu setengah tahun menundanya. Meski sibuk tapi Bella siap dengan konsekuensinya. Karena butiknya yang semakin besar. Namun Bella kini tidak sendiri, karena ada Santi dan Vania yang membantunya.


"Sini, Ahmad sama Ibu saja kalau begitu" Ucap Astrid sambil meraih sang putra ke dalam gendongannya. Sedang Mika bersama Farris, sang Ayah.


"Dia benar-benar Annelka. Semua dimonopoli oleh Ann. Bahkan gendernya juga" Celetuk Eva.


"Berarti kan jelas kalau dia anakku" Ucap Annelka bangga.

__ADS_1


Semua terbahak mendengar kenarsisan Annelka.


"Setelah ini giliran kalian yang kena spot jantung" Lanjut Annelka menunjuk pada Tria, Ed, Gabriel dan Aaron.


Karena berikutnya adalah giliran para istri mereka yang melahirkan.


"Yang paling tua harap bersiap" Ledek Gabriel pada Aaron.


"Why?" Tanya Aaron.


"Siapa tahu kau sudah ada bibit serangan jantung" Sambung Ed.


"Enak saja. Kalau aku ada bibit penyakit jantung. Mana bisa aku tiap malam main kuda-kudaan sama Santi. Kejar deadline" Sungut Aaron. Yang langsung dikeplak oleh Santi.


"Kalau ngomong pakai filter!" Gerutu Santi.


"Kenapa? Mereka semua sudah ada partner kalau mau. Kecuali Ann yang harus harus puasa. Masih kena palang, paling tidak selama sebulan" Ledek Aaron.


Annelka langsung menggaruk kepalanya.


"Puasa seminggu saja kepala rasanya mau pecah. Apalagi sebulan" Batin Annelka.


"Jangan khawatir. Mereka juga akan mengalaminya. Tinggal tunggu gilirannya saja" Ucap Farris. Membuat Annelka langsung mengembangkan senyumnya. Melangkah ke arah Aya yang tengah menyusui baby "A".


"Jangan khawatir. Nanti aku berikan full service" Bisik Aya.


"Terima kasih"


"Untung kalian bisa gantian lahirannya" Celetuk Eva yang sudah tampak sesak dengan perutnya.


"Iya, jadi butik masih ada yang handle" Sahut Bella.


"Alah, nanti buat saja satu tempat buat nidurin mereka. Bisa diajak bekerja. Lagian stres kalau dirumah kelamaan" Imbuh Vania.


"Boleh tu idenya" Timpal Santi.


"Ya, ngapain kamu hubungi aku?" Galak Annelka.


"Kamar Aya dimana? Aku mau jenguk ponakan"


Annelka sejenak melihat ponselnya. Memastikan kalau yang menghubunginya adalah benar Arash.


"Kau mau jenguk anakku. Memangnya bisa?"


"Aku ada dibawah Bro" Jawab Arash.


Ayah baru itu langsung membulatkan matanya.


"Siapa?" Tanya Aaron.


"Troblemaker datang" Teriak Annelka panik.


Semua orang langsung tertawa terbahak-bahak. Arash jelas sudah menikah. Dan Helenapun sudah mengandung. Masih juga dicemburui. Dasar Annelka, pria posesif dan narsis yang pernah ada.


END


***


Aya dan Annelka sudah selesai ya readers. Terima kasih untuk perhatiannya...



Ann dan Aya


Sampai jumpa di karya author selanjutnya..



Sedang on going ya readers,

__ADS_1


***


__ADS_2