Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Pusat Kehidupanku


__ADS_3

Aya tersentak bangun dari tidurnya. Ketika mendengar gedoran di pintu kamarnya. Kali ini Aya lebih waspada. Mengunci pintu kamar di malam hari.


"Apa?" Aya dan Ben bertanya bersamaan. Lantas terdiam bersamaan. Saat itu Aya melihat Ben memakai kalung dengan bandul bulan dan bintang.



Kredit Pinterest.com


"Apa?" Ben bertanya galak. Ketika Aya hanya diam menatap dirinya.


"Tidak ada" Jawab Aya singkat. Lantas menerima terpaksa nampan berisi makanan dari Ben.


"Ben, boleh tidak aku makan depan TV. Bosan"


"Kau ini korban penculikan banyak maunya. Makanya cepat kasih tahu nomor telepon suamimu. Biar aku bisa cepat minta tebusan"


"Enak saja. Kalian kan sudah dapat banyak"


"Dapat banyak dari mana?"


"Kau pikir aku tidak tahu. Kalian mengambil anting dan jamku. Dasar pencuri" Maki Aya sambil menyuapkan ayam ke dalam mulutnya.


"Itu Zaki yang mengambilnya lalu menjualnya"


"Kalian tahu barang-barang itu bersertifikat khusus. Ada nomor seri khusus di dalamnya. Hingga kalau itu sampai ke tangan kolektor. Habis kalian!"


"Kami tidak sebodoh itu. Tentu saja kami menjualnya ke pasar gelap. Dan setelah itu akan ada yang mengubah nomor serinya. Kami tidak sesederhana yang kau pikirkan, Nyonya" Jawab Ben dengan nada setengah mengejek.


"Sial! Ternyata mereka pintar juga" Aya membatin kesal.


Selanjutnya Aya hanya bisa melanjutkan acara makannya dengan wajah cemberut. Hingga Zaki masuk ke dalam rumah dengan mulut tidak berhenti menggerutu.


"Kau kenapa?" Tanya Ben.


"Aku ketemu genk Naga Hitam" Sahut Zaki cepat.


"Masih soal yang sama?" Ben bertanya dan Zaki menjawab.


"Sudah ribuan kali aku mengatakannya. Kalau aku tidak mau bergabung dengan genk mereka. Kita ini kelompok mandiri. Tidak terikat dengan geng lain"


"Penjahat saja ada geng-gengnya juga" Guman Aya.


"Kau bicara apa, Nyonya?"


"Tidak ada"


"Mereka semakin hari semakin kelewatan saja. Mengklaim semua wilayah adalah milik mereka. Semua harus setor kepada mereka. Mereka pikir mereka itu siapa" Maki Zaki.


"Sudahlah selama kita masih bisa bergerak. Tidak usah terlalu memikirkan hal itu. Yang penting bisa makan dan bisa nambah tabungan"


Aya hampir tersedak mendengar ucapan Ben. Penjahat saja memikirkan tabungan.


"Penjahat saja pakai dana pensiun" Seloroh Aya.


"Hei, kami juga tidak mau menjadi penjahat selamanya. Jika sudah waktunya tiba, kami juga akan berhenti. Setelah tabungan kami cukup tentunya"


"Kalau memikirkan cukup, kalian tidak akan pernah merasa cukup. Kurang saja rasanya. Itulah manusia" Kembali Aya berceloteh. Membuat Ben dan Zaki saling pandang.


"Berhentilah jadi penjahat. Ikutlah bekerja denganku" Ajak Aya.


"Sudah kubilang kerja kantoran membosankan. Kami tidak akan betah. Lagipula hasilnya juga cuma segitu. Seharian harus ngendon di kantor. Ogahh!" Jawab Zaki.


"Kan kalian tidak harus ngendon di kantor. Suamiku kontraktor"


"Ogah jadi kuli, kerjaannya berat!" Lagi Zaki menjawab.


"Dasar pemalas! Yang namanya kerja pasti berat. Gak ada yang kerjaannya mudah"

__ADS_1


"Ada! Pekerjaan kami. Kerja setengah jam bisa buat hidup satu minggu" Ben yang menjawab.


"Kalian...


"Sudah! Jangan urusi urusan kami. Masuk kamar sekarang!"


"Aku memberi saran. Agar kalian bisa keluar dari dunia itu"


"Yang kami lakukan bukan urusanmu. Tidak ada hubungannya denganmu. Jadi tutup saja mulutmu!" Ben berucap pedas. Menarik tangan Aya, menyeretnya ke kamar.


"Pelan sedikit Ben, sakit"


"Itu karena kau banyak bicara!"


Pria itu melempar Aya masuk ke kamarnya. Lalu menutup pintunya.


"Dasar orang aneh. Diajak hidup lebih baik tapi tidak mau" Gerutu Aya.


Lalu menatap jendela yang berteralis besi. Bagaimana aku bisa lari dari sini? Aya berpikir keras.


***


"Berhenti! Kau tidak akan bisa lari!" Zaki berteriak. Mengejar Aya yang terus berlari menjauh dari rumah Ben.


Wanita itu akhirnya bisa melarikan diri. Setelah mencuri kesempatan, saat Zaki baru saja kembali berbelanja. Dan lupa mengunci pintu.


"Dasar wanita ular. Kau licik!" Maki Zaki.


Aya terus berlari sekuat tenaga. Berusaha mencari pertolongan. Nafasnya mulai terengah-engah. Perutnya juga mulai terasa tidak nyaman.


"Ahh, boy bertahanlah sebentar lagi. Kita akan mencari papamu. Mencari pertolongan"


Namun sialnya, diujung jalan terlihat Ben yang juga berjalan ke arahnya.


"Sial!"


Pria itu dengan cepat menangkap Aya. Menahan tubuhnya lalu membawanya kembali ke rumah.


"Ben, lepaskan aku. Aku harus ke dokter. Perutku sakit!"


"Alasan!" Ben menjawab galak.


"Bagus kau bisa menangkapnya kembali. Dia sangat merepotkan"


"Ben! Bawa aku ke dokter!"


"Diam kau! Jangan berpura-pura. Berhenti membuatku marah. Atau kulempar kau ke hutan belakang rumah!" Ancam Ben.


"Ben aku tidak bohong!" Aya menggigit bibir bawahnya. Menahan nyeri di perutnya.


"Tidak...Mama mohon bertahanlah, Boy" Batin Aya.


Tubuhnya sudah terasa lemas. Dia hampir kehilangan kesadarannya ketika dia mendengar satu suara memanggilnya.


"Aya...!" Demi apapun Aya langsung berontak dari cekalan Ben.


"Annelka!" Teriak Aya begitu melihat Annelka berdiri di ujung jalan. Berusaha melepaskan diri dari pegangan Ben.


"Lepaskan dia!" Ed berteriak mendekat dengan beberapa anggota polisi di belakang mereka.


"Ben! Polisi!" Zaki berteriak panik. Akhirnya mereka melepaskan Aya. Dan berlari menjauh, melarikan diri. Namun bunyi tembakan peringatan dari para polisi menghentikan usaha mereka untuk melarikan diri.


"Berhenti atau kami tembak!" Seorang polisi berteriak. Ben dan Zaki hanya bisa saling pandang.


"Aya....kamu tidak apa-apa?" Annelka memeluk erat tubuh Aya. Air matanya tidak bisa dia bendung lagi.


"Aku tidak apa-apa. Tapi..." Aya mengeratkan pelukannya ketika merasa tubuhnya lemas.

__ADS_1


"Kalian akan kami bawa ke kantor polisi"


Annelka langsung menatap pria yang bernama Ben. Begitu juga Ben. Pria itu menatap Annelka dengan pandangan penuh sejuta tanya.


"Sebentar Ay..."


Annelka melerai pelukannya dan melangkah mendekat ke arah Ben.


"Kamu yang bernama Ben?" Tanya Annelka.


"Benar-benar mirip. Andai saja benar ini kamu, Kak" Batin Annelka dengan mata berkaca-kaca.


Tinggi mereka sama. Warna mata sama. Hanya saja bibir Ben lebih tebal dari milik Annelka. Di belakang mereka. Ed dan anggota kepolisian bersiap. Waspada jika kedua orang itu melarikan diri.


"Ben, kau mirip dengannya" Satu ucapan dari Zaki membuat pria itu semakin menajamkan tatapannya pada Annelka.


Annelka baru saja akan bertanya, ketika satu teriakan dari Tria mengagetkannya.


"Ann, Aya....


Annelka langsung berlari ke arah Aya yang mulai tidak sadarkan diri dalam pelukan Tria.


"Dia kenapa?"


"Ann, kita perlu dokter. Dokter kandungan. Dia mengeluh perutnya sakit"


Annelka jelas panik mendengar hal itu.


"Cari dokter kandungan!" Annelka memberi perintah. Ed sigap bergerak.


"Kalian dalam bahaya jika sampai terjadi apa-apa pada kandungannya" Desis Ed sebelum beranjak menyusul Annelka dan yang lainnya.


"Kandungan Ben, dia hamil?" Zaki bertanya dalam mobil yang membawa mereka ke kantor polisi.


Ben hanya bisa diam. Tidak bisa menjawab. Terlepas dari dia yang terancam masuk penjara. Ben lebih memikirkan soal kemiripan dirinya dengan Annelka. Juga soal Aya yang ternyata tengah hamil.


Dia memang penjahat. Tapi membahayakan wanita hamil jelas tidak ada dalam kamus kejahatannya. Ben dan Zaki hanya merampok atau mencuri tanpa melukai.


"Bagaimana keadaannya?" Annelka bertanya panik pada bu Santi. Mereka tidak menjumpai dokter kandungan. Tapi ibu Santi dulu bekas bidan di sebuah rumah sakit di kota. Jadi dia sering membantu persalinan tetangga.


"Dia hanya mengalami kram perut. Tidak berbahaya. Tapi memang sakit sekali. Dia terlalu stress dan lelah"


"Syukurlah" Ucapan lega terdengar dari ketiga pria itu.


"Boleh saya melihatnya, Bu" Annelka berucap.


"Boleh, tapi dia sedang tidur. Lihatlah, tapi jangan mengganggunya. Bayimu sangat kuat" Ucap bu Santi.


"Apa yang kau lihat?" Tanya Annelka pada Santi yang tengah menatap Aya.


"Tidak ada" Jawab Santi lalu melangkah keluar setelah membereskan semuanya.


"Istrinya sangat cantik, pantas kalau dia begitu mencintainya" Batin Santi melihat Annelka yang mencium lembut kening Aya.


"Aku sangat bersyukur akhirnya kamu bisa kembali padaku, Ay"


Ucap Annelka, menatap wajah damai Aya yang tengah terlelap. Hanya wanita ini yang mampu menjungkirbalikkan dunianya. Dia tidak bisa tenang kalau Annelka tidak tahu bagaimana keadaan Aya.


" Kalian adalah pusat kehidupanku" Bisik Annelka mencium kembali kening Aya sambil mengusap lembut perut sang istri.


***



Kredit Pinterest.com


Mbak Aya yang cantik 😍😍😍😍

__ADS_1


****


__ADS_2