Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta
Bab 52. Pernyataan Rujuk


__ADS_3

Hari telah menjelang pagi, ketika Deva terbangun. Dia membuka matanya perlahan. Deva agak terkejut ketika mendapati dirinya berada di kamar yang tidak dia kenali. Akan tetapi ketika dia melihat Mami-nya tidur di sampingnya, hatinya menjadi lega.


"Mami ... mami," panggil Deva sambil menarik lengan Vani.


Vani menggeliat perlahan dan kaget saat melihat Deva sudah bangun. Vani tersenyum lalu bangun dan duduk.


"Ada apa, Dev?" tanya Vani sambil mengelus rambut Deva yang ikut duduk.


"Ini dimana, Mi? Kenapa kita bisa tidur di sini?" tanya Deva penasaran.


"Ini di rumah Papi," jawab Vani gugup.


Sebenarnya Vani tidak ingin menjawab seperti itu, tetapi mulutnya secara reflek bilang 'Papi'.


"Papi? Papinya Deva?" tanya Deva sambil menatap Vani dengan mata bulatnya.


"Sudah jangan tanya apa-apa lagi. Kita bangun sekarang untuk pulang," jawab Vani agak panik.


"Kalian sudah Bangun?"

__ADS_1


Suara lembut Deni mengejutkan Vani dan Deva. Deni tampak tampan dengan rambut basahnya. Ditambah handuk yang hanya menutup bagian perut bawah sampai diatas lutut hingga memperlihatkan bagian perut Deni yang sixpack.


"Papi ... Papi," panggil Deva yang mengejutkan Deni.


"Maaf, anakku salah panggil," kata Vani sambil memberi isyarat pada Deva untuk diam.


"Tidak apa-apa. Aku malah senang dia memanggilku Papi," jawab Deni sambil tersenyum. " Kalian mandi dulu, biar segar."


Vani menggendong Deva masuk kekamar mandi sementara Deni segera berganti pakaian dan langsung turun ke bawah.


Di dalam kamar mandi, Vani bermain air bersama Deva. Setelah cukup lama, mereka menyelesaikan kegiatan mandi mereka lalu berganti pakaian. Pelan-pelan, mereka keluar dan berniat pergi.


Sampai di tangga paling bawah, ternyata Deni sudah menunggunya. Tatapan mata dan senyum manis Deni, mengingatkan Vani pada kejadian semalam. Bagaimana dia dan Deni menikmati malam berdua tanpa ikatan. Ada sesuatu yang tiba-tiba membuat dada Vani terasa sesak.


"Mami, Deva mau ayam goreng," ucap Deva sambil menarik tangan Vani.


Vani hanya tersenyum sambil mengangguk pelan. Setelah melihat Vani dan Deva setuju, Deni berjalan menuju ke meja makan di ikuti Vani dan Deva. Vani dan Deva duduk di samping Deni.


Deni mengambilkan Deva sepiring ayam goreng untuknya. Melihat anaknya makan dengan senang, Vani juga ikut sarapan walaupun sedikit. Selesai sarapan, Deni mengajak Vani berbincang sambil menunggui Deva menikmati ayam goreng.

__ADS_1


"Vani, bersediakah kamu rujuk denganku?" tanya Deni mengejutkan Vani.


"Apa, rujuk?" tanya Vani sambil menatap Deni yang tersenyum santai.


"Iya. Setelah kejadian semalam, aku rasa kita berdua ...." ucap Deni terhenti oleh Vani.


"Apa yang akan kamu katakan, kamu tidak lihat disini ada anak kecil?" tanya Vani sambil memegang tangan Deni.


"Aku lihat. Aku hanya ingin kamu tahu, aku masih sangat mencintaimu. Aku akan bertanggungjawab, atas apa yang telah aku lakukan semalam. Aku akan bicara pada suamimu, dan meminta suamimu untuk melepaskanmu. Aku akan menganggap Deva sebagai anakku sendiri," ucap Deni serius.


"Bukankah kamu akan menikah dengan wanita yang bersamamu di televisi?" tanya Vani.


"Dia hanya rekan kerja saja. Kamu tidak perlu khawatir dengan statusku. Aku masih sendiri, sejak kita berpisah. Justru aku yang khawatir dengan statusmu, Vani," kata Deni sedih.


"Sebenarnya, aku juga belum menikah," jawab Vani sambil melihat reaksi Deni.


"Apa, kamu belum menikah? Lalu, Deva anak siapa, anakku?" tanya Deni kaget.


"Benar, Deva adalah anakmu."

__ADS_1


Deni hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Deva, bocah yang ada di hadapannya saat ini adalah anaknya. Senyum bahagia terlihat dari wajah Deni. Dia segera memeluk Deva dengan erat.


"Papi, Deni mau makan," ucap Deva yang membuat Deni semakin bahagia karena Deva sudah memanggilnya 'Papi'.


__ADS_2