
"Mas, siapa yang datang? Sepertinya aku kenal mereka?" tanya Yanti sambil mengingat-ingat.
"Bukan siapa-siapa. Bagaimana perasaan kamu hari ini, apakah lebih baik?" tanya Deni sambil menatap Yanti.
"Baik, Mas. Sasa dan Mina sudah mau berteman denganku lagi. Terima kasih, sudah membantuku," ucap Yanti lalu memeluk suaminya.
"Apapun asal kamu bahagia" bisik Deni.
Untuk beberapa saat mereka berpelukan. Setelah itu Yanti duduk di sofa sambil bersandar. Deni mengikuti Yanti dan duduk di sebelahnya. Dia mencoba untuk membicarakan tentang masalah orang tua kandungnya Yanti.
"Yanti, ada yang ingin aku bicara denganmu. Ini tentang orang tua kandungmu," ucap Deni agak pelan.
"Apakah tadi, mereka yang datang? Karena aku tadi seperti mengenali mereka. Mami Winda dan papi Dimas," jawab Yanti sedih.
"Benar. Tadi mereka yang datang untuk menemuimu. Tapi aku harus membicarakan ini dulu denganmu."
"Terimakasih, Mas. Aku ingin berbicara dulu dengan ayah Hadi. Aku ingin menggugurkan janjiku dahulu, sebelum aku menemui mereka. Karena jujur, aku sudah tidak berharap lagi setelah hampir 14 tahun. Aku sudah terbiasa hidup, dengan kerasnya dunia bersama ayah Hadi. Sejahat apapun orang memandang ayah Hadi karena telah menyembunyikan aku. Tapi kasih sayang ayah, lebih dari yang aku harapkan," kenang Yanti.
"Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Ayah Hadi pernah bilang padaku, beliau takut jika orangtua kandungmu akan memenjarakannya karena perbuatannya. Yanti, apapun keputusanmu, asal kamu bahagia, aku akan terima," ucap Deni sambil menggenggam tangan istrinya.
"Sepulang kerja, antar aku menemui ayah Hadi," pinta Yanti.
"Oke."
Sesuai keinginan Yanti, sepulang kerja, Deni mengantar Yanti pergi ke rumah ayahnya. Untuk memberi kesempatan mereka bicara dengan leluasa, Deni memutuskan untuk menunggu di mobil saja. Yanti setuju dan Yanti segera menemui ayahnya.
__ADS_1
"Ayah, Yanti ingin meminta izin pada Ayah, untuk membebaskan aku dari janji Yanti dahulu. Janji Yanti untuk tidak lagi mencari orangtua kandung Yanti," ucap Yanti memohon.
"Ayah izinkan. Ayah sudah tahu bahwa Deni sudah menemukan orangtua kandungmu. Ibumu juga pasti ikut senang melihat kamu akan bisa hidup bahagia bersama keluargamu yang sebenarnya," jawab pak Hadi sambil tersenyum.
"Terima kasih Ayah. Yanti tidak akan ragu lagi melangkah ke depan. Yanti janji, Yanti tidak akan melupakan Ayah Hadi," ucap Yanti lagi.
"Yanti, maafkan Ayah. Sudah memisahkan kamu dengan orangtuamu. Ayah akan menerima semua konsekuensi dari kesalahan Ayah," ucap pak Hadi sedih.
"Yanti tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Ayah, percayalah pad Yanti."
"Ayah percaya."
Mereka saling berpelukan sebelum akhirnya, Yanti pergi. Yanti masuk ke mobil di mana Deni sedang menunggunya.
"Bagaimana, pertemuanmu dengan ayahmu?" tanya Deni.
"Karena kamu sudah siap, besok kita bisa pergi menemui orangtuamu. Aku akan membuat janji dengan mereka," kata Deni lalu menghidupkan mobilnya. Mereka segera kembali pulang ke rumah.
Malam mulai menjelang, Yanti memutuskan untuk segera beristirahat setelah selesai makan malam. sementara Deni masih harus mengerjakan beberapa hal terkait pekerjaan di kantor. Dia berdiam di ruang kerjanya hingga pukul 11 malam. Setelah itu dia baru memutuskan untuk tidur.
Deni kaget saat melihat Yanti tidur sambil senyum-senyum sendiri. Pasti saat ini dia sedang bermimpi indah. Deni membenarkan selimut yang berantakan karena kalau Yanti sedang tidur, memang kakinya bisa kemana-mana termasuk Suak sekali menimpa tubuh Deni. Tetapi itu malah yang membuat Deni suka.tyjmkkkkkuukkukjk
Deni berbaring di samping Yanti yang masih terbuai dengan mimpinya. Deni mencoba memejamkan matanya meskipun hatinya risau. Entah mengapa, ada perasaan tidak enak dihatinya.
"Auw, Yanti. Tidur cantik, tapi kaki kemana-mana," gumam Deni sambil memegang kaki Yanti yang menimpa tubuhnya.
__ADS_1
Timbullah keinginannya untuk menggoda Yanti. Dielusnya dengan lembut kaki Yanti yang menimpa tubuhnya, dengan tangan kekarnya. Halus sekali dan lembut kulit istrinya, padahal setiap kali bercinta, dia juga kerap kali merabanya. Mungkin karena biasanya, Deni hanya terbawa pada hasratnya saja. Yang penting tersalurkan pada wanita yang dicintainya.
Deru napas Deni makin kencang, ketika dia melihat tubuh istrinya menggeliat-liat, bak penari ular diatas ranjang. Jiwa laki-lakinya meronta-ronta ingin mencumbunya. Deni duduk sambil berusaha menahan adik kecilnya yang tiba-tiba mengeras.
Deni mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya dan berbisik pelan "Aku inginkan dirimu saat ini, istriku."
Yanti seolah sadar, dan hanya anggukan kecil yang membuat Deni tidak sungkan lagi melucuti pakaian istrinya. Udara dingin membuat Yanti terbangun. Yanti tampak kaget, saat menyadari tubuhnya tanpa busana dan suaminya sedang asyik menciumi tubuhnya tanpa terlewat sedikitpun.
"Mas ...."
Suara Yanti menghentikan aktivitas Deni. Deni menatap Yanti yang kemudian tersenyum padanya. Perasaan Deni campur aduk antara takut ditolak dan takut jika Yanti marah. Tetapi senyum itu membawa angin segar dihatinya. Yanti mendorong tubuh Deni hingga terbaring di ranjang. Lalu Yanti yang mulai mencoba merangsang suaminya dengan menciumi tubuhnya. Ini pertama kali bagi Yanti, ingin terlihat dominan.
Deni menyukai apa yang Yanti lakukan. Dia merasa seolah Dia menjadi pria yang paling beruntung dan merasa dibutuhkan. Entah belajar dari mana, Yanti terlihat cukup ahli berada di posisi itu. Dengan mudah Yanti membuat Deni melayang dan ingin rasanya dia berteriak bahwa dia sangat menikmati kebersamaan ini.
Deni tersenyum melihat tubuh Yanti yang dipenuhi keringat. Wajah polos yang kini bisa membuatnya ketagihan dengan aksinya diatas ranjang. Yanti tidak peduli dengan Deni yang kini menatapnya. Deni sesekali memejamkan mata dan mendesah sambil mencengkeram pinggul Yanti . Dia terus saja bergerak dan menikmati suara syahdu suaminya. Malam semakin larut mereka terlelap karena kelelahan.
Keesokan harinya, Deni menghubungi dokter Dimas untuk mengkonfirmasi bahwa Yanti telah siap bertemu mereka. Sebenarnya dokter Dimas maupun Bu Winda belum tahu jika Vani, putri mereka adalah Yanti. Yanti yang pernah berada di rumah mereka selama 5 bulan.
"Mas, apa kita jadi menemui papi dan mami?" tanya Yanti sambil menyisir rambutnya.
"Iya, aku sudah bicara pada Riko, untuk mengurus semua urusan di kantor, termasuk kamu. Kita akan pergi ke rumah Ayah Dimas, tepat jam 9 pagi ini," jawab Deni sambil meletakkan ponselnya di atas ranjang.
"Mas, kamu mandi dulu, nanti kita sarapan bersama. Aku mau turun dulu untuk membantu bibik menyiapkan sarapan untuk kita," ucap Yanti lalu meletakan sisir yang ditangannya ke atas meja.
Hati Yanti agak berdebar-debar karena pagi ini dia akan menemui Mami Winda dan Papi Dimas secara resmi sebagai Vani, putri mereka.
__ADS_1
Apakah akan ada yang berubah setelah bertemu menjadi bagian dari keluarga mereka? batin Yanti.
Bersambung