
"Sudah Ay, sudah menangisnya" Eva memeluk Aya yang sejak satu jam yang lalu menangis. Wajah sembab itu kembali terlihat.
"Aku benci padanya, Va. Dia bilang tidak akan pernah memaksa. Nyatanya. Dia hampir melakukannya lagi semalam. Di juga tidak punya pendirian. Mudah sekali percaya dengan apa yang dilihatnya. Tanpa mau mencari kebenarannya" Curhat Aya.
Eva terdiam mendengar curhatan sang sahabat. Menelaah setiap kata yang keluar dari bibir Aya. Sementara di sudut lain. Tria tampak diam. Mendengarkan percakapan Eva dan Aya.
Aya langsung berpikir untuk pergi ke tempat Eva. Sempat menyambar jas milik Annelka. Untuk menutupi kaosnya yang dirobek sang suami. Disinilah ia, apartemen Tria. Bertemu Eva dan Tria di parkiran apartemen Eva.
Namun Eva berpikir, tidak bisa membawanya pulang ke apartemennya. Ada mamanya dan juga Bella. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membawa Aya ke apartement sang kekasih
"Dia ada di tempatku"
"Kau apakan dia?"
"Curhat sama Eva"
"Awas kalau kau macam-macam"
"Kau yang awas. Kejam sekali buat Aya jadi begitu. Main slow jangan kasar begitu"
"Dia selingkuh dengan Vando"
"Lihat..dia cemburu. Makanya diselidiki dulu. Jangan main terkam paksa. Sudah tahu Aya punya trauma dengan pemaksaan. Masih diulangi juga. Gak kasihan kamu lihat dia sekarang"
Diujung sana. Annelka langsung terdiam. Menyandarkan kepalanya di sisi ranjangnya. Pria itu duduk bersandar di kasurnya. Bisa dilihat, bagaimana berantakannya kamar mereka.
Menarik nafasnya pelan.
"Bagaimana?"
"Nyonya berangkat sendiri. Dan bertemu tuan Vando setelah hampir satu jam bermain ice skating sendirian. Bisa dipastikan kalau mereka tidak janjian untuk bertemu di sana"
Annelka langsung meraup wajahnya kasar. Lagi-lagi dia mengutamakan emosinya tanpa menyelidiki kebenarannya. Kembali dia melukai perasaan istrinya. Melakukan kesalahan yang sama lagi.
"Ay, mau dengar pendapatku?" Eva berucap setelah Aya terlihat lebih tenang. Meminum satu botol air mineral sampai tandas. Mengancingkan seluruh kancing jas Annelka. Hingga menutupi dadanya yang terekspose gara-gara ulah Annelka.
Tiba-tiba saja rasa rindu menyelinap di hati Aya. Ketika aroma parfum Annelka menyeruak masuk ke hidungnya.
"Aku benci padanya. Tidak rindu padanya" Batin Aya kekeuh pada pendiriannya.
"Aku tidak membela salah satu dari kalian. Tapi aku akan memandang dari sisi orang lain. Kalian berdua salah. Aku akan berucap seperti itu. Meski bahasa tepatnya bukan salah. Tapi kalian tidak memahami perasaan masing-masing dan pasangan. Ingat kalian sudah menikah"
"Penting untuk memakai kata "saling" dalam sebuah ikatan pernikahan. Saling mencintai, saling mempercayai, saling menghormati, saling memahami dan banyak "saling" yang lain. Nah, yang terjadi dalam pernikahan kalian. "Saling" ini belum terjadi atau tidak terjadi. Aku bisa lihat dengan jelas kalau Annelka mencintaimu"
"Tidak! Dia tidak pernah mencintaiku" Sangkal Aya cepat.
"Lalu kau...tanpa sadar kau mulai jatuh padanya"
"Tidak, Va" Lagi-lagi Aya menyangkal semua perkataan Eva.
"Jangan menyangkalnya dulu. Kau bisa merasakan, semua yang Annelka lakukan padamu tulus dari hati. Dia selalu menuruti semua kemauanmu tanpa protes. Dia tidak pernah menuntutmu melakukan yang seharusnya seorang istri lakukan pada suaminya..
Aya terdiam. Benar yang dikatakan Eva. Annelka tidak pernah menuntut apapun darinya.
"Tapi hari ini..
"Dia cemburu, Ay. Apa kau tidak mengerti. Dia cemburu karena kau bertemu Vando. Karena dia takut kehilanganmu. Dia takut kau meninggalkannya"
__ADS_1
Aya tercekat. Dia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu.
"Dan kau, tanpa sadar sudah mulai mencintainya"
"Tidak!"
"Sangkallah terus. Tapi tanya hatimu. Kau pernah pacaran dengan Briel. Bandingkan rasanya. Lebih nyaman dengan siapa? Kau ini tipe sulit menerima orang lain apalagi pria. Hatimu yang menyeleksi mereka bukan logika dan otakmu"
Aya kembali diam. Dengan Gabriel, dia tidak merasa senyaman saat bersama Annelka. Dengan Annelka, Aya benar-benar bisa jadi dirinya sendiri. Dan pria itu selalu bisa membuatnya nyaman. Dia merasa selalu terlindungi saat bersama dengan suaminya itu.
Merasa diperhatikan. Disayangi dan semua jenis perasaan nyaman lainnya saat bersama Annelka. Pelan, Aya menundukkan kepalanya.
"Kau mencintainya. Tanpa kau sadari"
Ucapan Eva membuat Aya mengangkat wajahnya kembali.
"Apa kau masih mau membencinya? Dia berbuat salah di awal. Kita tahu itu. Tapi dia berusaha memperbaikinya. Hingga pada akhirnya dia jatuh cinta padamu. Menikahimu. Menuruti tingkahmu yang kadang tidak masuk akal"
"Aku tidak gila!"
"Aku bilang tidak masuk akal. Ada ya.... berapa bulan kau menikah? Berapa kali kalian bercinta? Dan dia tidak protes sama sekali. Jadi kalau semalam dia hilang kendali itu wajar. Dia pria, normal bagi mereka menginginkan **** untuk dirinya. Mereka lebih tidak bisa menahan diri soal **** daripada kita, para wanita"
"Apalagi kalian sudah menikah. Batasan itu sudah tidak ada lagi. Dan hal itu memang perlu dan penting untuk sebuah rumah tangga"
Eva menutup ceramah panjang lebarnya.
"Berilah dia dan hatimu kesempatan. Turunkan egomu. Lihatlah cinta dalam diri suamimu" Tambah Eva.
Aya termenung sendirian di ruang tengah apartemen Tria.
"Bagaimana?"
"Apa mereka akan berbaikan?"
"Tentu saja"
"Bagaimana kamu begitu yakin?"
Eva tersenyum.
"Aku banyak menghadapi kasus seperti ini. Tidak sadar kalau mencintai pasangannya"
"Lalu?"
"Akhirnya, ya mereka berbaikan setelah menyadari perasaan masing-masing"
Kedua orang itu terdiam. Menatap Aya yang hanya terdiam.
"Ay...Aya...buka pintunya"
"Tu suaminya ngalah lagi. Aya bodoh kalau melepaskan pria seperti Annelka. Meski kalau begitu, hubungan mereka jadi tidak sehat. Tidak ada keseimbangan dalam hubungan mereka"
Aya hanya terdiam, mendengar suara Annelka menggedor pintu apartement Tria.
"Ay...maafkan aku. Aku salah. Aku khilaf. Aku cemburu"
Mohon Annelka di depan Aya begitu Tria membuka pintu. Sejenak Aya terdiam. Ditatapnya wajah kacau Annelka.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Maafkan aku"
"Cobalah untuk membuka hatimu"
"Turunkan egomu"
"Kita pulang. Kita bicara di rumah"
Satu kalimat terucap dari bibir Aya. Setelah beberapa waktu terdiam. Dia pada akhirnya sadar, tidak seharusnya membawa masalah rumah tangganya keluar rumah.
Wanita itu melangkah keluar dari apartemen Tria. Dengan Annelka yang mengekor di belakangnya.
"Semangat" Tria berucap tanpa bersuara. Sedang Eva hanya tersenyum. Memberi dukungan pada Annelka.
"Semoga mereka mulai proses rekonsiliasinya"
Eva terkekeh.
"Iya deh. Semoga masalah mereka segera selesai. Tinggal ngurusin Ed dan Bella. Astrid juga sudah mulai menerima Farris"
"Yeah, three in one beneran. Memang Ed belum mau menemui Bella?"
Eva menggeleng.
"Dan Bella sudah sampai batasnya. Minggu depan batas waktu yang Bella tentukan. Dia akan ke tempat Brianna jika Ed tidak menemui atau memberi kejelasan soal hubungan mereka"
"Brianna? Yogyakarta? Kenapa jadi kebalikannya Astrid"
"Brianna punya asrama untuk anak-anak seumuran Bella yang kurang beruntung. Dia sendiri mengajar di TK"
"Buat kedok, menutupi kenyataan kalau dia kaya"
"Gak juga. Dia hanya menjalankan amanah orang tua dan para donatur"
Kedua orang itu menarik nafasnya bersamaan. Hingga satu ciuman, Tria daratkan di bibir Eva.
"Iisshh kamu ini"
"Healing, Non. Pusing ngurusi masalah orang lain terus"
Eva terkekeh mendengar keluhan Tria. Bagi Eva, dia sudah biasa mendengar keluhan orang lain. Sebab itulah pekerjaannya. Tapi dia menyukainya. Merasa bahagia, jika kliennya berhasil melewati masalah mereka. Tapi tentu tidak begitu untuk Tria.
Eva merasa bahagia ketika para kliennya keluar dari ruang konselingnya sambil tersenyum apalagi sampai bergandengan tangan. Hingga sebuah kalimat sederhana seperti "terima kasih, sudah membantu kami" sudah cukup bagi Eva.
"Aku harap kali ini kamu benar-benar menurunkan egomu Ay, dan Annelka benar-benar sabar menghadapimu. Semoga dia segera mendapat apa yang dia inginkan. Cinta darimu"
Sebaris kata untuk Aya dan Annelka terucap dalam hati Eva. Setidaknya dengan begitu, Aya bisa sedikit merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Rasa yang mungkin sudah lama tidak Aya rasakan dalam hidupnya.
Seperti kata Tria, proses rekonsiliasi akan segera dimulai. Semoga saja.
***
Bonus pict ya readers,
****
__ADS_1