Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]

Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]
Chp 25 : Hu Feng


__ADS_3

Keesokan paginya Cia Changyi yang sudah berpakaian rapi menuju ke dapur, ia hendak membuat ramuan namun ia melihat stok bahannya tersisa sedikit.


"Ada apa Changyi, wajah mu berkerut begitu," tanya Yeon-Jin yang melihat ekspresi Cia Changyi dari ruang dapur.


"Ah tak apa. Hanya saja aku perlu pergi keluar untuk membeli bahan ramuan, bahannya sudah tinggal sedikit," ucap Cia Changyi menjawab Yeon-Jin.


"Wah aku ikut dong. Bosen juga cuman berada di sini, aku boleh ikut ya, aku mohon," ucap Yeon-Jin membujuk Cia Changyi.


"Iya tak usah merengek seperti itu, tapi kau bersiap dulu sana. Lihatlah rambut mu yang berantakan, belum mandi kau," ucap Cia Changyi.


Yeon-Jin pun bergegas bersiap-siap, beberapa menit kemudian ia pun sudah rapi. Akhirnya mereka pun menuju ke fakultas alchemist.


"Oh ya Changyi, aku tak melihat keberadaan saudara Lee Anming tadi. Apakah dia masih tidur?" tanya Yeon-Jin kepada Cia Changyi.


"Ya gak lah, emang seperti mu yang bermalas-malasan. Kakak ku melapor ke gurunya dan dia juga meminta izin untuk membiarkan mu tinggal di sini," ucap Cia Changyi.


"Apakah itu akan berjalan lancar? Sepertinya di sekte manapun hal seperti ini sangat sulit untuk diizinkan," tanya kembali Yeon-Jin yang penasaran.


"Tenanglah aku sudah berdiskusi dengan kakak ku, bakat mu akan sedikit di singgung oleh kakak ku saat meminta izin. Pasti hal itu sudah cukup," ucap Cia Changyi menjawab.


"Bakat yang mana? Bukan tentang racun ku kan?" tanya kembali Yeon-Jin untuk memastikan.


"Ya enggaklah, kau kan memiliki bakat yang sama seperti kakak ku ditambah juga kau memiliki tubuh istimewa, nanti juga kau akan diperiksa langsung oleh gurunya kakakku," ucap Yeon-Jin.


"Ya baguslah, tapi aku tak mau menjadi murid di sekte ini. Bukan aku menghina tapi aku tak terlalu suka di atur oleh aturan sekte yang ribet," ucap Yeon-Jin.

__ADS_1


"Aku juga sama, kita tinggal di sini selama beberapa tahun dan menjadi murid tamu di sini," ucap Cia Changyi memberi solusi.


Jadi murid tamu ini adalah murid yang tinggal di sekte tapi tidak terikat oleh sekte. Biasanya murid tamu dibawa oleh murid jenius sekte atau guru atau dewan dan di latih dibawah bimbingan yang membawanya.


Murid tamu ini dapat menjalankan misi yang ada di sekte dan mendapat akses murid, ibaratnya murid tamu ini adalah murid pribadi yang harus punya bakat tinggi untuk diterima.


Tak terasa Cia Changyi dan Yeon-Jin pun sampai di fakultas alchemist, mereka hendak pergi ke toko yang menjual bahan-bahan yang mereka butuhkan tetapi ada hal lain yang menarik perhatian Cia Changyi.


Ada gerombolan murid yang sedang menonton pembuatan pil dari salah satu murid jenius di fakultas alchemist, hal itu membuat takjub para murid dan juga guru pembimbing.


Karena pembelajaran praktek berada di luar ruangan sehingga bisa dilihat oleh para murid kelas lain maupun orang yang berkunjung ke fakultas alchemist.


Cia Changyi dan Yeon-Jin ikut menyimak seorang anak muda berusia 14 tahun sedang membuat pil, dapat dilihat tungku yang ia gunakan mengeluarkan 3 warna berbeda.


Harum semerbak menyelimuti tungku itu dan menyebar ke sekitar membuat para penonton mencium aroma itu, ketika tungku di buka maka muncullah 5 pil dengan kualitas yang cukup baik.


"Wah sangat hebat master Fu memiliki anak yang berbakat sepertinya, masa depannya pasti seharum aroma pil buatannya ini," ucap salah seorang murid.


Dari berbagai percakapan itu Cia Changyi mengetahui kalau ternyata yang membuat pil adalah Fu Heng, ia juga salah satu muridnya dari kehidupannya yang lalu dan cukup berbakat.


"Dia tidak terlalu hebat, bahkan aku pernah melihat yang mengeluarkan 7 warna dan lebih harum aromanya," ucap Yeon-Jin, sebenarnya ia tak bermaksud mencibir.


Mendengar itu membuat fans garis keras Fu Heng pun jengkel, mereka pun menyoraki Yeon-Jin dan Cia Changyi yang bersamanya pun ikut kena juga.


"Kau menghina suami masa depan ku, apakah kau bisa membuat pil lebih baik darinya?" ucap salah seorang wanita.

__ADS_1


"Iya benar, kau pasti seperti laki-laki lain yang iri dengan prestasi dari saudara Fu Heng," ucap salah seorang wanita yang lain.


Mendengar kericuhan itu membuat guru pembimbing menanyakan apa yang terjadi, para wanita yang kesal itu pun mengatakan kalau Yeon-Jin ingin menunjukkan kemampuan pembuatan pilnya yang lebih hebat dari Fu Heng.


"Oh jadi ada yang mengaku bisa lebih hebat dari Fu Heng, baiklah ayo maju ke sini dan tunjukkan ke kami sebagai pembelajaran," ucap guru pembimbing itu.


Yeon-Jin pun menatap ke arah Cia Changyi. Memahami situasinya membuat Cia Changyi menghela nafas, tak seharusnya ia membawa Yeon-Jin ikut bersamanya, pikir Cia Changyi.


Yeon-Jin dan Cia Changyi pun naik ke atas karena sorakan dari penggemar Fu Heng makin keras, hal itu mengganggu pendengaran Cia Changyi. Ia tak bisa kabur karena harga diri taruhannya.


"Maaf kan kami, Yeon-Jin hanya berkata omong kosong saja," ucap Cia Changyi berusaha memberi klarifikasi.


Namun sepertinya itu tak membantu, dulu memang ada banyak laki-laki yang iri kepada Fu Heng dan berakhir dipermalukan seperti ini. Fu Heng pun tak peduli dengan itu.


"Changyi, aku tahu kau alchemist hebat. Jadi keluarkan bakat mu itu kau pasti bisa mengalahkannya, tak usah merendah seperti itu," ucap Yeon-Jin.


Cia Changyi merasa jengkel, Yeon-Jin yang membuat masalah dan sekarang dia harus menanggungnya. Tapi sekarang ia tak punya pilihan.


"Benarkah begitu anak muda kalau begitu tak masalah kalau kau memperlihatkan bakat mu, anggap saja sebagai pembelajaran," ucap guru pembimbing yang mengira kalau mereka berdua adalah orang yang biasanya iri kepada Fu Heng.


"Baiklah kalau begitu, tapi saya hanya bisa membuat ramuan untuk saat ini," ucap Cia Changyi kepada guru pembimbing.


Guru itu merasa tertarik, alchemist yang membuat ramuan sangat jarang ada karena efektifitas ramuan jauh kalah dibanding pil dan juga pembuatan ramuan yang lebih susah.


"Oh jadi kau bisa membuat ramuan, baiklah anak muda kau bisa menggunakan tungku itu untuk membuat ramuan," ucap guru pembimbing itu.

__ADS_1


Banyak murid yang bersorak untuk menghina keberanian Cia Changyi, Fu Heng pun hanya menyimak sosok Cia Changyi yang entah mengapa ia rasa bukan anak biasa.


__ADS_2