![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
"Tentu saja tidak masalah, Lei Mei kau pasti bisa menjadi dokter yang hebat dan menjadi bagian medis di team kita," ucap Cia Changyi mengelus kepala Lei Mei, ia terlihat seperti kakak.
"Cia Changyi, aku masih bingung tentang diri kalian. Kalian ini benar-benar masih dibawah umur?" tanya Wei Lan memastikan.
"Iya itu benar, gini Wei Lan kau akan tahu semua kebenarannya suatu hari nanti dan aku mohon kau bisa mempercayai diriku," ucap Cia Changyi berusaha meyakinkan Wei Lan.
Rombongan Cia Changyi memiliki perjalanan yang cukup panjang dari negara utara sampai ke bagian barat yang merupakan tempat bagi bangsa Europia tinggal.
Di sisi lain ada seorang putri berambut pirang, kalau dilihat umurnya baru saja memasuki masa dewasa awal yakni 18 tahun. Putri itu sedang menaiki kereta kuda dan dikawal banyak pengawal.
Putri berambut pirang itu memegangi kalungnya, ia memejamkan matanya sangat khusyuk seperti sedang melakukan doa sampai tiba-tiba kerata kudanya berhenti secara mendadak.
"Ah nona, anda tak apa-apa. Sepertinya ada sesuatu yang menghalangi perjalanan kita," ucap pelayan dari putri itu, ia melihat keluar jendela untuk mengecek kondisi diluar.
Di depan mereka ada beberapa pendekar hitam yang menghalangi mereka, bukan hanya disisi depan tapi juga di sekitar mereka sudah dikepung oleh pendekar hitam.
Dengan segera para pengawal membuat formasi untuk menghadapi situasi seperti ini, sang putri dan pelayan tak terlalu khawatir karena pengawal mereka sudah terlatih dan dipilih langsung oleh ibunda ratu.
"Huh, mereka memang cari mati. Mau mencuri tapi sayang malah salah orang, benar kan yang mulia putri," ucap pelayan itu merasa cukup yakin dengan kekalahan yang akan diterima penyerang mereka.
"Aku harap begitu, yang mulia ratu pasti memilihkan pengawal terbaik dari yang terbaik untuk menjaga kita dari hal seperti ini," ucap sang putri walaupun dalam hatinya ada keraguan.
Sang putri menggenggam erat kalungnya, dari luar ia mendengar suara pertarungan yang cukup sengit dan beberapa teriakan tanda kematian. Sang putri hanya bisa menutup mata untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Karena kuatnya genggaman sang putri pada kalung itu membuat darah keluar dari sana dan menyentuh kalung itu, sang putri sampai melepas genggamannya dan mengemut luka yang ia buat sendiri.
"Ah yang mulia putri tak apa-apa? Ini aku kasih plaster yang aku bawa," ucap pelayan itu lalu memberikan plaster yang segera dikenakan oleh sang putri.
"Yang mulia putri, kalung yang tuan pakai nampaknya berubah warna dari yang sebelumnya," ucap pelayan itu merasa heran dan aneh.
Yang mulia putri langsung melihat kalung yang ia kenakan, benar saja tadinya kalung itu berwarna putih namun sekarang malah menjadi merah darah seperti darah yang tadi keluar dari tuan putri.
Tiba-tiba saja yang mulia putri seperti tersengat listrik, ia langsung memejamkan mata lalu ia pun mendapatkan suatu penglihatan yang sangat jelas seakan-akan itu ingatannya sendiri.
"Yang mulia ratu, apa anda yakin mau melakukan hal ini dengan cepat? Bisa-bisa raja jadi curiga dan malah mengetahui rencana kita," ucap seorang wanita kepada ratu.
"Kita tak bisa terus menunggu, kau tahu jika dia harus segera dipersembahkan untuk dewa api supaya kita mendapatkan kekuatan api yang cukup untuk membakar negeri ini," ucap ratu.
"Ada apa tuan putri?" tanya pelayan itu merasa cemas karena tiba-tiba saja majikannya tak sadarkan diri, bisa-bisa ia dihukum mati jika terjadi sesuatu dengan tuan putri.
"Kita harus keluar dari sini sekarang juga," ucap sang putri, instingnya begitu kuat untuk segera melarikan diri dari sini.
"Bahaya yang mulia putri, diluar sana ada pertarungan sengit antara para pengawal dengan pendekar hitam. Bisa-bisa kita terbunuh," ucap pelayan itu memperingatkan.
"Kau pikir aku bodoh, aku tadinya tak percaya tapi sekarang aku yakin tentang kebusukan dari ratu," ucap sang putri, ia segera menodongkan pisau dari ayahnya ke pelayan itu.
"Yang mulia putri apa yang anda maksud? Aku dan yang mulia ratu selama ini tulus demi negeri ini," ucap pelayan itu, ia merasa sangat terkejut dengan perubahan sikap dari sang putri.
__ADS_1
Yang mulia putri memang menaruh kecurigaan kepada ratu yang merupakan ibu tirinya tapi kurang cukup bukti sehingga ia pikir itu hanya salah paham tapi setelah mendapat penglihatan itu ia mendadak mempercayainya entah kenapa.
Dengan cukup cepat yang mulia putri dan pelayan itu bertukar pakaian, karena memang yang mulia putri tak terlalu suka menggunakan pakaian bangsawan yang ribet jadi bisa cepat.
"Dengar ini baik-baik, kita keluar dan jadilah yang mulia putri menggantikan ku," ucap sang putri sambil menyelipkan pisau dibajunya yang bisa saja sewaktu-waktu menusuk dada pelayan itu.
Pelayan itu memasang wajah pucat, ia sangat ketakutan dan tak mengerti akan situasi saat ini karena ia tak diberi intruksi untuk situasi seperti ini oleh ratu karena tak pernah dibayangkan mereka.
Mereka pun keluar dari kereta kuda dan langsung saja sang putri menarik salah satu pengawal terdekatnya, segera sang putri berlari sambil membawa dua orang bersamanya.
Beberapa pengawal dan pendekar hitam terkejut dengan itu, mereka pun sama-sama mengikuti 3 orang itu yang salah satu dari mereka adalah tuan putri incaran mereka.
Pengawal yang diseret dari belakang oleh sang putri pun hanya bisa berlari dari belakang, ia pun mengayunkan pedangnya ke depan karena beberapa pendekar hitam menyerang.
Di sebuah persimpangan, tuan putri langsung mendorong pelayan dan melepaskan pengawal yang ia bawa dan langsung berlari begitu saja berlainan arah dengan pelayan itu.
Pelayan itu yang panik pun berlari karena dianggap tuan putri, ia sangat ketakutan sehingga hanya bisa berlari untuk melarikan diri begitu juga dengan pengawal itu.
Sang putri ia dianggap pelayan oleh orang-orang itu sehingga tak dikejar oleh yang lain, mereka fokus untuk mengejar sosok yang memakai baju putri karena memang wajah putri sangat dirahasiakan dari kerajaan.
Sang putri berlari beberapa meter sampai akhirnya ia terjatuh karena tersandung akar pohon, sang putri pun pingsan karena sangat lelah juga karena memaksakan diri tadi.
Sebelum sang putri tak sadarkan diri ia melihat sekilas beberapa orang menghampirinya, bersamaan dengan itu kalung yang dikenakan oleh sang putri kembali menjadi putih.
__ADS_1
"Ya ampun siapa perempuan itu?" ucap Lei Mei yang kemudian ingin menghampiri tuan putri tapi langsung dihalangi oleh A Yeong.