Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]

Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]
Chp 59 : Wei Yang


__ADS_3

Secara tiba-tiba terjadi perubahan drastis dari makam leluhur ini. Secara mendadak bebatuan yang mengurung tubuh Yeon-Jin hancur bahkan petir dari langit perlahan hilang.


Sedangkan Wei Lan yang tubuhnya melemah mulai merasa kalau serangan yang dilakukan Ground Hand berhenti, dari bawahnya ada cahaya hijau yang membuatnya terbang.


Begitu juga Yeon-Jin, ada cahaya kuning yang membuatnya terbang namun ia belum membuka matanya. Tubuhnya masih sangat berkontrensasi sampai ia tak sadar apa yang sebenarnya terjadi.


Dewi Saras menyadari perubahan energi di makam leluhur yang selama beratus tahun ia jaga, ia sama sekali tak menyangka kalau dengan cepat Cia Changyi bisa mengalahkan Aistos 'sang api dari neraka bawah'.


Dari pintu itu Cia Changyi keluar dari pintu segel bersama banyak sekali ruh keluar dari sana dengan cepat hendak ke alam atas sesuai kodratnya. Dewi Saras sampai-sampai terjatuh dan melongo melihat kejadian dihadapannya.


"Dewi Saras, sadarlah. Kau harus menepati janjimu," ucap Cia Changyi yang secara tiba-tiba berada di hadapan Dewi Saras yang membuatnya terkejut.


"Ah, iya aku jadi hampir lupa karena terkejut," ucap Dewi Saras yang mulai menyadari situasi di hadapannya. Ia dengan cepat membaca mantra untuk menepati kesepakatan bersama Cia Changyi tadi.


Sesosok tubuh pria yang kelihatan masih cukup muda bangkit dari kuburan, ada jiwa berbentuk bola berwarna biru muda merasuki tubuh itu dan secara perlahan tanda kehidupan mulai terjadi pada mayat itu.


Wei Yang merupakan ayah dari Wei Lan yang merupakan ketua sekte resmi sekte gunung pedang telah bangkit lalu membuka matanya, ingatannya mulai kembali dan tubuhnya seperti kembali ke masa muda.


"Wei Lan, aku harus menemuinya," ucap Wei Yang, memang benar kalau Wei Yang yang diceritakan sangat menyayangi Wei Lan terbukti dari saat pertama kali bangkit ia mengingat putra semata wayangnya.


"Salam ketua sekte gunung pedang, perkenalkan aku Cia Changyi teman anak mu," ucap Cia Changyi memperkenalkan diri secara langsung, ia juga cukup penasaran dengan sosok ayah yang selalu dirindukan oleh teman seperjuangannya ini.

__ADS_1


"Kau teman anak ku? Yang terpenting sekarang apa kau bisa menunjukkan dimana jalan keluar, aku yakin putra ku sudah lama menunggu di sekte entah berapa lama," ucap Wei Yang cukup cemas.


Wei Yang tak tahu entah berapa lama ia disini, bahkan ia tak mengingat tentang apa yang terjadi sebelumnya, ia tahu kalau waktu di sini dan di dunia luar sangat berbeda.


"Kau tahu anakmu itu selalu menceritakan tentang sosok ayah tersayang yang meninggalkannya, dia telah kehilangan mu selama bertahun-tahun," ucap Cia Changyi.


Wei Yang yang mendengar itu cukup terguncang, walau ia tak mengetahui siapa sebenarnya Cia Changyi tapi yang ia katakan tak ada salahnya dan bisa jadi benar.


"Aku mohon keluarkan aku dari sini, aku tak mau lagi membangkitkan istri ku. Aku sekarang menyadari betapa pentingnya mengikhlaskan kepergian orang yang kita sayangi," ucap Wei Yang.


Motifnya masuk ke makam leluhur untuk membangkitkan ibu dari Wei Lan, hal itu karena selama bertahun-tahun ia dan Wei Lan sangat merindukan sosok wanita itu dan masih belum mengikhlaskan kepergiannya terutama Wei Yang.


"Baiklah, aku yakin Wei Lan pasti akan sangat senang melihat mu. Aku hanya mau kau berjanji untuk selalu di sisinya dan mendukungnya," ucap Cia Changyi kepada Wei Yang.


"Bagus, Dewi Saras bisakah kau membawa dua teman ku ke sini, dan jangan lupa kami semua harus mendapat berkat leluhur," ucap Cia Changyi kepada Dewi Saras.


"Baik, itu hal yang mudah bagi ku. Sekarang mereka akan ke sini tapi untuk masalah berkat leluhur bukan wewenang ku, aku akan menghubungi ayah ku dulu," ucap Dewi Saras.


Karena segel sudah terbuka jadi Dewi Saras mampu berkomunikasi kembali dengan orang-orang yang ia kenal dulu terutama keluarganya. Ia juga merasa rindu dengan suara dari keluarganya.


"Tunggu, sebenarnya kau siapa anak muda? Kau mengatakan kalau kau adalah teman anak ku Wei Lan," tanya Wei Yang, ia merasa penasaran dengan sosok pemuda dihadapannya ini.

__ADS_1


"Iya paman, aku kan sudah bilang nama ku Cia Changyi. Satu hal yang harus paman tahu, Wei Yang adalah teman terbaikku. Kebaikan dan ketulusannya aku rasa berkat didikan mu itu," ucap Cia Changyi.


Cia Changyi mulai menceritakan tentang Wei Lan yang membuat Wei Yang tak bisa berkata-kata, ternyata ada orang lain yang lebih mengenal putranya selama ia tak berada di sisinya, pikir Wei Yang.


Tak lama kemudian dari langit ada dua sosok pemuda, melihat itu membuat Cia Changyi senang terutama Wei Yang yang melihat anaknya sudah besar.


Ketika mereka sudah menyentuh tanah, tubuh mereka hendak ambruk namun segera di tahan. Wei Yang memeluk tubuh putranya, ia tak menyangka kehilangan waktu kecil putranya.


Sedangkan Yeon-Jin berada di pelukan Cia Changyi, mata Yeon-Jin terbuka dan melihat wajah Cia Changyi cukup dekat. Awalnya buram tapi lama kelamaan semua nampak jelas.


"Kau ini sangat nakal ya, bagaimana dengan latihan Han Yu kalau kau ada di sini? Kau pikir dia bisa berlatih jurus sendiri apa," ucap Cia Changyi sedikit memarahi Yeon-Jin.


Yeon-Jin segera bangkit melepaskan diri dari Cia Changyi, ia nampak gugup karena tindakannya. Ia berusaha mencari alasan tapi mulutnya tak bisa berkata apa-apa.


"Hahaha, lihat wajah mu. Sudahlah aku juga sudah tahu dengan sifat mu itu kau akan menyelinap, sebaiknya kita jalan-jalan saja sekitar makam. Lihat, Wei Lan dan ayahnya sepertinya butuh waktu berdua," ucap Cia Changyi.


Dapat dilihat di sana kalau Wei Lan juga mulai sadar dari pelukan ayahnya. Karena tak mau mengganggu momen ayah dan anak akhirnya Cia Changyi pun mengajak Yeon-Jin berkeliling.


Tangan Yeon-Jin segera di tarik oleh Cia Changyi, Yeon-Jin pun hanya pasrah dan pada akhirnya mengikuti Cia Changyi. Sekilas ia dapat melihat pasagan ayah dan anak itu.


"Melihat batu-batu nisan ini mengingatkan aku tentang kematian ku di kehidupan sebelumnya. Apakah aku dikubur secara layak di sana?" ucap Cia Changyi mengingat kehidupan sebelumnya.

__ADS_1


"Hei seharusnya aku yang bertanya, kau apakan tubuh ku saat aku meninggal di pangkuan mu. Apa kau menguburku secara layak?" ucap Yeon-Jin menyauti Cia Changyi.


"Kau mau tahu apa yang aku lakukan dengan tubuh mu itu," ucap Cia Changyi sambil menghadap ke arah Yeon-Jin.


__ADS_2