Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]

Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]
Chp 51 : Athala


__ADS_3

"Dia ternyata bereinkarnasi bersama ku, aku tadi dikuasai olehnya," ucap Cia Changyi kepada Yeon-Jin saat mereka hanya berdua berada di kamar.


"Maksud kamu Athala? Sial, kenapa dewa agung itu tidak menyucikan jiwa mu seperti jiwa ku," ucap Yeon-Jin, ia merasa terkejut juga kesal atas apa yang diungkapkan oleh Cia Changyi.


"Tunggu, atau jangan-jangan ini juga ulah mu. Kau lupa ya kalau Atahala bisa berada di tubuh ku karena siapa?" tanya Cia Changyi mengejek Yeon-Jin.


"Jangan menggoda ku begitu, iya kan saat itu aku masih menjadi musuh mu jadi aku melakukan segala hal untuk mengalahkan mu," ucap Yeon-Jin membela diri.


"Iya aku tahu tapi kalau begini kan repot jadinya kalau Atahala menguasai ku, sekarang ini kau harus bisa mengendalikan Athala sebelum aku menemukan penawarnya," ucap Cia Changyi.


"Sekarang kan aku tidak mempunyai kekuatan yang dimiliki iblis jadi bagaimana aku mengendalikan Athala coba, lagian Athala itu akan mengendalikan mu saat kau bertarung saja," ucap Yeon-Jin.


"Maka dari itu mulai sekarang kau harus menjadi pengawal ku, kau mau aku jadi bringas karena Atahala," ucap Cia Changyi yang membuat Yeon-Jin tak dapat mengelak lagi.


"Iya iya aku tahu ini juga kesalahan ku kepada mu karena melakukan cara curang untuk mengalahkan mu. Sudahlah aku ngantuk seharian sudah mengajar," ucap Yeon-Jin.


Yeon-Jin langsung mapan tidur sambil menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan selimut, Cia Changyi pun tersenyum lalu ikut tidur karena hari juga sudah mulai larut.


Keesokan harinya semua tampak baik-baik saja namun bagi para dewan pengurus dan keluarga ketua sekte cukup runyam atas kejadian kemarin yang cukup mengejutkan.


"Aku tak menyangka kalau nak Yi Chen memiliki hasrat berkuasa begitu tinggi sampai mengkhianati kita," ucap salah seorang dewan pengurus.


"Yang sabar ketua sekte, kabar baiknya sekarang kau sudah sehat. Tapi sebaiknya kita mulai perketat sekte kalau-kalau ada yang berkhianat lagi," ucap salah seorang dewan pengurus.

__ADS_1


Diskusi berjalan cukup baik walau terjadi peristiwa yang tak di sangka-sangka itu, namun terjadi saling curiga satu sama lain karena pengkhianatan yang dilakukan Yi Chen.


"Sesuai dengan apa yang sudah di sampaikan oleh ketua sekte, saya selaku pengganti sementara ketua sekte dengan batas waktu yang tidak ditentukan akan melakukan pemeriksaan secara berkala kepada setiap orang sekte," ucap Xi Li.


"Pemeriksaan apa yang kau maksud nona Xi Li?" tanya salah seorang dewan penasaran yang mewakilkan semuanya. Ada sebagian yang menerima kepemimpinan Xi Li dan ada juga yang tidak.


"Kebetulan ada tuan pendekar hebat yang telah membantu menumpas kejahatan yang di lakukan oleh senior Yi Chen, dia punya alat yang bisa mendeteksi seseorang pemuja iblis atau bukan," ucap Xi Li.


Mendengar itu jelas membuat mereka tak percaya begitu saja, alat seperti itu kalau di sejarah memang ada tapi itu sudah lama menghilang sejak iblis disegel.


"Bagaimana kau tahu itu asli? Menurut sejarah benda itu memang ada banyak tapi karena iblis disegel membuat orang-orang merayakannya dengan memecahkan benda itu," ucap seorang dewan pengurus yang juga ahli sejarah.


Karena memang kristal pendeteksi itu melambangkan iblis sehingga banyak yang menganggap kristal itu sudah tak berguna karena iblis juga sudah disegel serta para pendekar gelap sudah terbunuh semua.


"Itu benar, kalau saja orang dulu tidak gegabah pasti kita bisa menggunakannya. Sial, kenapa harus ada pendekar gelap yang selamat dari pembantaian itu," ucap salah seorang dewan pengurus.


Para dewan pengurus pun menuju ke ruang kerja mereka untuk melakukan tugas yang sudah diatur oleh Xi Li sedangkan Xi Li memilih untuk langsung menghampiri Cia Changyi.


Tok Tok Tok


Xi Li pun masuk ke dalam kamar Cia Changyi ketika sudah dizinkan masuk dan disana juga ada Yeon-Jin, mereka sudah siap ke tempat latihan dan hendak mengajar.


"Ah, aku rasa mengganggu kalian ya tapi hal ini sangat penting. Tuan Changyi aku ingin mendiskusikan sesuatu dengan anda empat mata," ucap Xi Li langsung ke intinya.

__ADS_1


"Maaf tapi aku rasa aku juga harus tahu diskusi itu, apa kau keberatan nona Xi Li?" tanya Yeon-Jin yang membuat Xi Li tak bisa mengelak, ia berpikir untuk tak menyinggung Yeon-Jin untuk saat ini.


"Baiklah kita langsung saja, aku ingin membeli kristal yang kau pakai untuk mendeteksi pemuja iblis yang sebelumnya kau pakai untuk mendeteksi Yi Chen, ini akan kami pakai untuk pengecekan berkala di sekte," ucap Xi Li.


"Membeli? Dengar ini adalah benda langka yang sudah lama hilang, jadi kalau maksud mu dengan uang aku rasa tidak akan cukup," ucap Cia Changyi yang mulai aktif mode berbisnisnya.


"Ah aku tahu tapi kalau mau tuan-tuan bisa mengambil apapun dari sekte ini, tapi ada beberapa harta peninggalan yang tak bisa kami berikan karena sudah turun temurun sejak sekte ini berdiri," ucap Xi Li.


"Aku tak tertarik dengan harta peninggalan sekte ini, aku akan memberikan kristal pendeteksi ini tapi dengan syarat," ucap Cia Changyi.


"Apapun syaratnya selama masih bisa kami lakukan maka akan kami lakukan," ucap Xi Li, ia harap syarat yang diberikan oleh Cia Changyi bisa mereka lakukan.


Di tempat latihan.


"Kemana guru kok belum datang sih," ucap Han Bao yang melihat hari sudah mulai siang tapi guru mereka belum kunjung datang.


"Aku tak tahu, tapi sebaiknya kita langsung mulai latihan saja bagaimana," ucap Lei Mei memberikan penawaran kepada Han Bao.


"Aku rasa itu ide yang tidak buruk, kakak aku akan latihan dulu ya bersama senior Lei Mei," ucap Han Bao yang pamit kepada kakaknya.


"Iya aku juga akan melakukan latihan mandiri dulu sambil menunggu guru," ucap Han Yu yang kemudian Han Bao dan Lei Mei langsung latihan fisik naik turun gunung dengan beban.


Han Yu pun latihan beberapa gerakan yang sebelumnya dikomentari ada cela oleh Yeon-Jin, sudah beberapa gerakan ia coba namun sang guru belum kunjung datang.

__ADS_1


"Aku jadi penasaran, sebaiknya aku susul saja deh mereka," ucap Han Yu yang kemudian bergegas menuju ke kamar kedua gurunya.


Sesampainya di sana Han Yu hendak mengentuk pintu namun sebelum itu pintu terbuka dan Xi Li keluar dengan terburu-buru sampai tak menyapa Han Yu.


__ADS_2