Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]

Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]
Chp 55 : Makam Leluhur Gunung Pedang


__ADS_3

"Aku tidak mungkin menyakiti mu karena kau adalah keturunan langsung dari para leluhur itu dan kau adalah kunci keselamatan ku disana kalau mau keluar masuk dengan selamat," ucap Cia Changyi.


Cia Changyi mengeluarkan beberapa lembaran dari alam bawah sadarnya namun nampak seperti ia mengeluarkan benda dari cincin penyimpanan.


"Aku menemukan ini saat menjelajahi makam leluhur di tempat lain yang ternyata terhubung dengan makam leluhur di sini, kau bisa membacanya untuk mengambil keputusan," ucap Cia Changyi.


Cia Changyi menyodorkan lembaran-lembaran itu kepada Wei Lan kemudian dibaca dengan seksama oleh Wei Lan, awalnya dia tak percaya dengan keaslian lembaran-lembaran ini.


Namun Wei Lan juga mempelajari lembaran-lembaran kuno dan setidaknya ia bisa mengecek keaslian lembaran dari zaman dulu walau tak sehebat ahli sejarah lainnya dan ia menemukan lambang khas dari lembaran itu.


"Dari mana kau mendapatkan ini, aku rasa ini adalah bagian dari buku hukum orang mati karangan Peiling dari abad pertama, aku bisa melihat lambang ini secara langsung dan memegangnya, aku tak percaya ini," ucap Wei Lan.


Melihat itu membuat Cia Changyi tersenyum, kemudian dengan cemat Cia Changyi menjelaskan sejarah lembaran ini dengan rinci yang membuat Wei Lan melongo.


"Dari mana kau tahu sebanyak itu? Jangan-jangan kau menemukan banyak peninggalan kuno dari zaman dulu, ah bisakah aku meminjamnya, aku mohon," ucap Wei Lan.


Wei Lan memang memiliki jiwa sejarawan yang cukup tinggi, ia sangat suka mempelajari sejarah bahkan daripada latihan ia memilih mempelajari bahasa kuno untuk dapat membaca tugu kuno.


"Kau lupa ya kalau sekte gunung pedang memiliki makam leluhur yang banyak memiliki peninggalan zaman kuno, apa yang kau takutkan sih sampai kau tak mau ke sana?" tanya Cia Changyi.


"Kau ini tahu atau tidak sih kalau makam leluhur gunung pedang memiliki sejarah kelam dalam hal perangkap, sudah ada banyak orang yang tak keluar hidup-hidup dari sana termasuk ayah ku sendiri," ucap Wei Lan.

__ADS_1


Ayahnya Wei Lan adalah ketua sekte Wei yang digantikan oleh ketua sekte Yei, ayahnya ini dinyatakan meninggal saat memasuki makam leluhur dan tak pernah kembali setelah 10 tahun disana.


"Ayah mu punya keberanian untuk masuk ke sana, kau pikir apa yang mendorong ayah mu sampai rela masuk ke tempat berbahaya yang mungkin membuatnya tak bisa bertemu dengan mu, pasti disana ada sesuatu yang harus kau pecahkan," ucap Cia Changyi.


"Kenapa harus aku?" tanya Wei Lan yang membuat Cia Changyi kesal lalu menyentil kening Wei Lan dengan jemarinya yang membuat Wei Lan merasa sakit.


"Kau ini kan anak yang berbakti atau tidak sih, pikirkan ini dengan baik karena besok pagi aku akan masuk ke makam leluhur dan aku akan menunggu mu di sana," ucap Cia Changyi.


Wei Lan tak bisa berkata-kata lagi, ia pun memilih pamit dari sana namun sebelum keluar ia dicegat oleh Cia Changyi. "Kau melupakan baju yang kau pakai saat ke sini," ucap Cia Changyi dengan nada mengejek.


Pipi Wei Lan memerah karena rasa malu, ia pun bergegas mengambil baju pelayan wanita itu lalu menaruhnya di cincin penyimpanannya dan saat ia mau keluar ia ingat sesuatu.


"Ah aku tak boleh sampai diketahui bertemu dengan mu kalau tidak aku akan terlihat melanggar perintah ketua sekte," ucap Wei Lan baru tersadar alasannya rela-rela pakai baju pelayan wanita untuk ke sini.


"Ya ampun kau ini ceroboh sekali ya, baiklah kau bisa keluar dengan tenang tanpa perlu takut ketahuan. Aku akan menggunakan ilusi untuk membantu mu," ucap Cia Changyi.


Wei Lan ragu tapi ia tak punya pilihan lain selain mempercayai Cia Changyi, saat ia keluar semua pendekar bayangan bersikap biasa seperti mereka tak dapat melihat keberadaan Wei Lan.


Kemudian Wei Lan bergegas pergi dan sekarang mempercayai kalau Cia Changyi memanglah pendekar hebat di usianya yang masih sangat muda bukan hanya karena bisa ilusi tapi juga berwawasan tinggi.


"Bagaimana tuan, apakah semua berhasil? Eh baju siapa yang tuan pakai, sepertinya ini bukan baju milik tuan terus kemana baju pelayan wanita tadi, itu soalnya milik pacar ku," ucap Bai.

__ADS_1


"Bajunya ada di cincin penyimpanan ku, besok aku mau ke makam leluhur jadi tolong persiapkan perbekalan ku," ucap Wei Lan sambil melempar cincin penyimpanannya ke arah Bai yang ditangkap dengan gesit oleh Bai.


"Ah tapi tuan disana kan berbahaya, aku tak berpikir kau harus ikut pendekar itu masuk ke makam leluhur bisa-bisa aku tak memiliki tuan yang baik hati lagi," ucap Bai cemas.


"Bai kau tak usah cemas, kau tahu ada banyak misteri di makam leluhur termasuk kematian ayah ku, kalau aku mati sebelum masuk ke sana maka aku akan menyesalinya di kehidupan selanjutnya," ucap Wei Lan.


Percakapan terjadi cukup alot antara Bai dan Wei Lan walau memang yang kalah pasti Bai, ia dengan berat hati mempersiapkan keperluan majikannya itu untuk ke makam leluhur sambil menangis.


"Ya ampun kau tak usah sampai sedramatis itu," ucap Wei Lan yang melihat Bai saat ia hendak masuk ke kamar untuk tidur.


Keesokan harinya Wei Lan dengan pakaian rapi telah ada di sekitar makam leluhur dan disana juga sudah ada Cia Changyi dan Xi Li yang juga baru sampai di sana.


"Eh saudara Wei Lan ada apa kau kemari? Kau tak harus mengantar tuan pendekar memasuki makam leluhur, tenang dia tidak akan menodai kesucian makam," ucap Xi Li.


"Bukan begitu ketua sekte, tapi kau tahu kan kalau ayah ku menghilang dan dinyatakan meninggal di dalam makam leluhur, setidaknya aku ingin memasuki makam ini juga mumpung ada pendekar hebat yang juga mau masuk," ucap Wei Lan.


Xi Li melirik ke arah Cia Changyi dan mendapati anggukan dari Cia Changyi tanda ia setuju kalau Wei Lan boleh ikut bersamanya kedalam makam leluhur.


"Baiklah saudara Wei Lan, aku harap kau bisa selamat dan setidaknya menemukan jasad ayah mu untuk diberi pemakaman yang layak," ucap Xi Li turut berduka cita.


Kemudian pada akhirnya mereka pun bersama-sama masuk ke dalam makam leluhur yang diaktifkan lalu muncul portal untuk masuk ke makam, saat mereka sudah masuk Yeon-Jin pun menyelinap masuk.

__ADS_1


Xi Li yang melihat hal itu tak bisa berbuat apa-apa karena memang gerakan Yeon-Jin yang sangat cepat sampai akhirnya portal itu pun menghilang dengan sendirinya.


"Ya ampun, aku harap ini bukan hal yang salah," ucap Xi Li berharap semua akan baik- baik saja.


__ADS_2