![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
Malam harinya semua sudah terlelap tidur, saat itu ada beberapa orang yang merupakan para pendekar hitam yang sedang mengintai tenda tempat Cia Changyi dan kawan-kawan beristirahat.
"Bos, sepertinya tuan putri ikut rombongan itu. Saya yakin dia telah ditolong oleh rombongan itu," ucap salah seorang pendekar hitam.
"Baiklah, kita akan menyerang rombongan itu. Bagaimana situasi di sana, ada berapa orang disana?" tanya yang merupakan pemimpin dari misi ini.
"Setelah saya amati lagi ternyata cuman ada 2 anak muda laki-laki perempuan berusia dibawah 25 tahun dan 3 anak-anak serta yang terduga sebagai yang mulia putri," ucap salah seorang pendekar hitam menjelaskan.
Mereka menyusun rencana untuk menculik tuan putri, mereka yakin jika wanita berambut pirang yang ada di kelompok itu adalah tuan putri yang menyamar memakai baju pelayan.
"Pokoknya kita harus menyelesaikan misi ini segera sebelum kepala kita dipenggal oleh ratu," ucap pemimpin dari misi ini dengan nada kesal karena bisa-bisanya dirinya dikelabuhi oleh tuan putri.
"Tapi sebenarnya ratu itu siapa? Apa hubungannya beliau dengan aliansi pembangkitan iblis?" tanya salah seorang pendekar hitam yang bingung.
"Kau tak tahu, yang mulia ratu adalah pewaris ke-9 ratu api. Dia memiliki dendam pribadi dengan negeri Europhia sejak dulu dan kebetulan aliansi kita bisa bekerja sama dengannya," ucap pemimpin misi itu.
Mendengar itu membuat pendekar hitam yang lain menjadi mengerti mengapa ratu bisa sangat dekat dengan aliansi padahal bukan pendekar hitam, rupanya dia keturunan langsung ratu api.
Bersamaan dengan itu juga kondisi dari putri Anastasya cukup membaik, ia tak mau disini dan mencoba untuk kabur saat kondisi sudah dirasa aman. Ia yakin bisa mengelabui mereka.
Di kegelapan malam ini putri Anastasya berjalan di hutan yang agak lebat, pencahayaan bisa dibilang sangat minim sehingga menyulitkan putri Anastasya untuk berjalan.
"Ah sialan, kalau saja tak darurat aku juga tak akan mau berjalan di sini. Sangat menyusahkan sekali," batin putri Anastasya merasa kesal dengan jalanan yang cukup sulit saat malam hari ini.
__ADS_1
Di kegelapan malam ini tiba-tiba saja ada tangan yang menarik tangan putri Anastasya lalu membungkam mulutnya cukup kuat, putri Anastasya sangat terkejut dan berusaha memberontak.
"Diamlah putri Anastasya! kau ini sangat nakal ya mau kabur dari kami," ucap Cia Changyi yang ternyata telah menarik tangan dan membungkam mulut putri Anastasya dengan tangannya.
Dari jarak sedekat ini putri Anastasya merasa gugup karena berada sedekat ini dengan pria selain ayahnya, ia dipeluk cukup erat oleh Cia Changyi dan wajah mereka sangat dekat.
Sangking dekatnya, putri Anastasya sampai-sampai bisa dengan jelas melihat wajah dari Cia Changyi walaupun minim pencahayaan. "Tampan," batin putri Anastasya.
"Hei kau lihat apa? Jangan sampai kau jatuh cinta kepada ku karena memperhatikan ku dengan intens seperti itu," ucap Cia Changyi menggoda putri Anastasya sambil meregangkan kunciannya kepada putri Anastasya.
Putri Anastasya segera melepaskan diri dari Cia Changyi dengan wajah merah malu, ia cukup gugup bukan hanya karena ketahuan hendak melarikan diri tapi juga dapat melihat sangat dekat dengan seorang pria asing.
"Dengar ini Anastasya, aku akan melepaskan formalitas kita mulai sekarang. Kalung pemberian ibumu ini bukan sembarangan kalung, kau bisa melihat kebenaran semua orang di sini," ucap Cia Changyi.
Sesaat kemudian darah keluar dari jari Cia Changyi, kemudian kalung itu dengan cepat menghisap darah dari Cia Changyi itu. Saat itu putri Anastasya mendapatkan sebuah penglihatan.
Tubuh putri Anastasya langsung saja hendak ambruk namun dapat segera ditangkap oleh Cia Changyi, melihat hal itu membuat Cia Changyi tersenyum penuh makna.
"Tuan putri, kau sangat cantik dan berhati baik. Aku tak menyangka bisa melihat mu dalam keadaan hidup saat dirimu masih sangat lemah, aku akan menjadi teman terbaik yang bisa menjaga mu," ucap Cia Changyi.
Dalam keadaan tak sadarkan diri itu Cia Changyi menggendong tubuh putri Anastasya menuju ke tempat mereka istirahat, saat di sana sudah ada 3 pendekar hitam yang babak belur dalam keadaan diikat dan tak sadarkan diri.
"Ah ya ampun putri Anastasya! Bagaimana keadaan beliau kau bisa tak sadarkan diri seperti ini," ucap Lei Mei yang merasa panik.
__ADS_1
"Tak apa, dia hanya akan mengalami tidur yang lelap untuk semalaman ini. Aku yakin besok dia juga sudah akan sadar dan bisa kita ajak ngobrol," ucap Cia Changyi lalu menuju ke tempat istirahat putri Anastasya.
"A Yeong dan Lei Mei, sekarang kalian bisa menjaga Anastasya dan saat dia sudah sadar tolong antarkan dia langsung kepada ku, oke?" ucap Cia Changyi yang diangguki oleh A Yeong dan Lei Mei.
Cia Changyi kemudian menuju ke tempat istirahatnya yang sudah diisi oleh Yeon-Jin dan Wei Lan. "Changyi, kau apakan putri Anastasya? Kau tak mengambil kesempatan kan saat dia tak sadarkan diri tadi?" tanya Yeon-Jin.
"Kau ini bagaimana sih saudara Yeon-Jin, mana mungkin saudara Cia Changyi bisa melakukan hal rendahan itu," ucap Wei Lan berusaha membela Cia Changyi.
"Kau diam saja! Ingat dirimu yang merupakan orang asing di sini," ucap Yeon-Jin agak membentak Wei Lan sambil menunjuk ke arah Wei Lan.
"Sudah cukup! Ini sudah malam dan tak ada baiknya ada pertengkaran, Wei Lan kau tidur duluan saja dulu sedangkan aku akan berbicara dengan Yeon-Jin sebentar," ucap Cia Changyi.
Cia Changyi segera menarik tangan Yeon-Jin lalu membawanya keluar tenda dan agak jauh dari sana, ia pun melepaskan tangan Yeon-Jin lalu berbalik menghadap Yeon-Jin.
"Kau sebenarnya kenapa sih Yeon, akhir-akhir ini kau bersikap sangat berbeda kepadaku. Apakah kau memiliki masalah dengan A Yeongm?" tanya Cia Changyi kepada Yeon-Jin.
"Mengapa kau bisa berpikir kalau aku memiliki masalah dengan A Yeong lalu melampiaskannya kepada dirimu?" tanya Yeon-Jin yang merasa bingung dengan perkataan Cia Changyi.
"Ya biasanya kan sepasang kekasih ketika bertengkar akan bertindak anehkan, sudahlah Yeon kau tak usah khawatir tentang A Yeong, kau akan menjadi suami terbaik untuknya," ucap Cia Changyi menyemangati Yeon-Jin.
"Hahahaha, ternyata benar apa yang kau katakan. Aku hanya merasa aneh ketika tahu jika aku akan menjadi suami padahal aku melupakannya di kehidupan sebelumnya," ucap Yeon-Jin.
"Nah, kau jadi lebih baikkan setelah menerima itu. Sudah ya kita sebaiknya tidur untuk hari esok," ucap Cia Changyi yang kemudian merangkul Yeon-Jin seperti biasa.
__ADS_1