![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
Murid wanita gunung bulan melawan murid wanita gunung bintang sedangkan murid laki-laki gunung matahari melawan murid laki-laki gunung langit.
Kompetisi antar murid wanita ini dilakukan dengan 3 tahap, dari 100 orang akan diadu 1 vs 1 di 50 arena sehingga menyisakan 50 orang lalu dari 50 itu akan diadu lagi sehingga tersisa 25 murid.
Nah, 25 murid ini memperebutkan 10 besar. Dan selama beberapa tahun ini Han Yu selalu mendapat peringkat 11 sampai 15 padahal dia adalah perwakilan satu-satunya dari gunung bulan.
"Han Bao, pokoknya kau harus bisa menang dan membawa nama baik gunung bulan kembali," ucap Han Bao kepada dirinya sendiri. Di babak keduanya ini ia melawan orang yang tahun lalu mengalahkannya.
"Hahaha, sepertinya dewi berpihak kepada ku. Kali ini aku memiliki kesempatan masuk 25 besar," ucap Livi yang merupakan murid wanita gunung bintang.
"Huh, mentang-mentang berhasil mengalahkan ku tahun lalu dibabak pertama kau jadi sombong. Sekarang kau nilai perbedaan diantara kita dalam setahun ini," ucap Han Bao.
Han Bao mengencangkan kuda-kudanya, dulunya ia terasa berat saat melakukan serangan tapi sekarang beban tak kasat mata yang ia tanggung menghilang setelah latihan naik turun gunung dengan beban.
Han Bao berlari dengan kencang dan menebaskan pedangnya membabi buta ke segala arah, hal itu sontak mengejutkan Livi. Livi pun segera menangkisnya.
Livi menaikkan kewaspadaannya lalu segera mendorong pedang Han Bao ke depan sampai mereka sekarang saling menahan serangan satu sama lain.
"Tak seharusnya aku meremehkan mu, tapi aku pastikan kalau aku sudah banyak berkembang dari tahun lalu," ucap Livi dan kemudian melompat ke belakang.
Kakinya lurus ke depan lalu menendang pedang Han Bao sehingga Han Bao pun mundur ke belakang, dengan elegan Livi bisa berdiri tegak setelah melompat ke belakang.
Tak mau kalah Han Bao pun kembali menguatkan pertahanannya, ia dengan tergesa-gesa kembali menyerang Livi secara membabi buta.
Dapat dilihat Livi hanya menghindar dan sesekali menangkis serangan yang dilancarkan oleh Han Bao, kelihatan kalau Livi yang lebih unggul dari gerakannnya yang lincah.
__ADS_1
"Sial, anak ini rupanya punya stamina yang tinggi. Pokoknya harus aku yang menang," gumam Livi, ia tak mau lagi membuang waktu lalu segera melempar pedangnya ke depan.
Pedangnya dengan kekuatan pikiran Livi bergerak dengan meliuk-liuk ke kiri dan kanan membuat Han Bao mundur ke belakang, dapat dilihat pedang itu mengincar pedang di tangan Han Bao.
Han Bao tersenyum dalam hati, ia tahu kalau Livi pasti akan melakukan trik ini lagi kepadanya tapi untungnya dulu Han Bao melihat pertandingan Livi yang berhasil dikalahkan seorang senior.
Han Bao dengan gesitnya menebas pedang ke atas dengan kekuatan penuh dan saat pedang itu terangkat ia pun menggengam pedang itu lalu melemparnya ke arah tuannya.
Livi segera berusaha mengalihkan arah lemparan pedang itu namun Han Bao segera berlari kemudian menangkis pedang itu kedepan agar pedang itu tak berbalik arah.
Dan klimaksnya ketika jarak pedang itu hanya beberapa meter dari Livi, Han Bao melompat lalu menendang pedang itu sambil berteriak ia pun juga melempar pedangnya ke arah Livi.
Karena teriakan dan juga lemparan pedang Han Bao membuat Livi tak bisa fokus sehingga ia pun menerima serangan pedangnya sendiri, tubuhnya menabrak tembok.
Bersamaan dengan itu Han Bao mengambil pedangnya di udara lalu turun ke tanah dengan gaya yang dipakai Livi sebelumnya. Melihat itu membuat Livi kesal karena merasa dihina.
Segera setelah itu bunyi peluit menandakan pertandingan berakhir dan dapat dilihat siapa pemenangnya,"Biarin aku meniru gaya mu yang penting aku bisa menang," ucap Han Bao.
Sebelum Han Bao turun dari arena ia menjulurkan lidahnya ke Livi yang dibawa oleh bagian kesehatan untuk dilarikan ke tenda pengobatan yang memang disediakan oleh seksi kesehatan kompetisi.
Di arah lain ketika Han Bao turun ia dapat kakaknya juga baru sama-sama turun dan ia bisa melihat wajah bahagia kakaknya. Han Bao pun segera berlari untuk memeluk kakaknya.
"Kakak aku akhirnya bisa menang, akhirnya aku bisa menembus sampai babak ke-tiga. Ini adalah pencapaian terbesar ku selama di sini," ucap Han Bao dengan antusias.
"Tenanglah Han Bao, ini baru permulaan. Pertandingan yang sebenarnya baru akan dimulai besok saat penentuan 10 besar," ucap Han Yu sambil membalas pelukan adiknya.
__ADS_1
"Huh, kakak ini setidaknya memujiku sedikit. Aku sudah berlatih berat selama seminggu untuk kompetisi ini," ucap Han Bao sambil memperlihatkan wajah cemberut.
"Iya iya maafin kakak, yaudah kita ke luar yuk. Kita rayain kecil-kecilan kamu masuk ke babak ke-tiga, kalau sampai diantara kita ada yang masuk sepuluh besar kita bakal rayain besar-besaran," ucap Han Yu.
Mendengar itu membuat Han Bao menjadi bersemangat, mereka pun akhirnya keluar dari stadion pertandingan lalu menghampiri Cia Changyi dan kawan-kawan untuk makan malam bersama.
"Kak kalau boleh tahu bagaimana pertandingan besok? Aku selama ini hanya mendengar saja kalau itu sangat sulit," ucap Han Bao yang penasaran.
"Selama kakak di sana memang kita akan melawan banyak monster bersama dengan murid yang lain, pokoknya harus hati-hati dengan trik dari murid lain," ucap Han Yu.
"Trik? Setahu aku bukankah itu dilarang oleh sekte putih manapun," ucap Lei Mei.
"Iya memang itu dilarang tapi kan kalau ketahuan dan menjadi tak apa kalau sampai tak ketahuan. Dengar ini Lei Mei kau tak boleh terlalu naif," ucap Yeon-Jin memperingati.
"Ya ampun, bisa aku bayangkan para pejuang yang harus melawan pendekar hitam malah melakukan trik seperti pendekar hitam," ucap Lei Mei terkejut.
"Ya tapi ada beberapa yang ketahuan lalu dikeluarkan, aku harap semua bisa melakukan kompetisi yang adil besok," ucap Han Yu berharap.
Cia Changyi hanya makan dan memperhatikan perbincangan mereka, ia sudah menyiapkan sesuatu untuk Han Yu dan Han Bao untuk mengatasi trik kotor yang mungkin akan mereka hadapi.
Seusai makan Cia Changyi membawa Han Yu ke area yang cukup sepi, yang lain masih sibuk melihat-lihat barang mumpung berada di pasar kota yang cukup ramai karena banyak pengunjung asing yang melihat kompetisi.
"Ada apa guru?" tanya Han Yu dengan gugup.
"Ini, aku berikan cincin kegelapan ini untuk mu. Dengan ini aku yakin kau bisa menang di kompetisi itu," ucap Cia Changyi.
__ADS_1
"Tapi apakah ini tidak curang?" tanya Han Yu yang terkejut dengan pemberian Cia Changyi.