![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
Sayup-sayup Cia Changyi mendengar suara orang-orang di sekitarnya, ia dapat melihat sosok Lee Anming yang sangat khawatir melihat keadaan Cia Changyi dan ada juga beberapa tabib.
"Kak, aku..." Cia Changyi kembali sadar, walau ia tak apa-apa tapi ia berpikir untuk pura-pura lemas saja agar tak dicurigai setelah sebelumnya jatuh pingsan.
"Changyi.." Lee Anming melihat Cia Changyi yang kembali sadar pun tak terbendung rasa senangnya, ia lega karena kondisi Cia Changyi yang mendadak sakit keras tadi.
"Aneh, tubuhnya mengalami fluktuasi energi yang kuat tadi sampai badannya menggigil tapi sekarang sudah sembuh tanpa efek sama sekali," ucap tabib yang merawat Cia Changyi.
"Lee Anming kau tak usah khawatir sepertinya dugaan ku benar kalau Cia Changyi ini mengalami kebangkitan kekuatan dini yang sangat jarang terjadi," ucap salah seorang tabib lain.
"Apa maksud mu tabib, jadi Cia Changyi menyimpan entitas yang kuat di dalam tubuhnya, tapi ia tak pernah membunuh iblis," ucap Lee Anming membantah tabib itu.
"Bukan hanya dengan membunuh iblis bisa mengalami kebangkitan energi, kejadian seperti ini juga pernah dialami yang mulia kaisar saat masih kecil makanya ia memiliki naga di sisinya," ucap tabib itu menjelaskan.
Mendengar itu bukannya senang tapi ada rasa cemas di dalam diri Lee Anming, ia tak bisa membiarkan orang lain mengetahui hal ini kalau memang benar karena nyawa Cia Changyi bisa dalam bahaya seperti sang kaisar dulu.
"Tak apa Lee Anming, kekuatannya ini tak terlalu menarik perhatian seperti saat kaisar dulu baru lahir, entitas milik Changyi tak sampai menunjukkan wujudnya yang membuat hancur sekte jadi hanya kita bertiga yang tahu tentang ini," ucap tabib itu.
Mendengar hal itu itu tetap saja ada keraguan di hati Lee Anming hal ini dilihat oleh Cia Changyi, ia pun hanya lekas bertindak untuk membuat lupa kedua tabib di sekitarnya itu.
Sebuah benang cahaya melesat menuju ke kedua kepala tabib itu sampai membuat mereka pingsan, hal itu sontak membuat Lee Anming terkejut lalu melirik ke arah Cia Changyi yang merupakan sumber benang cahaya itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Lee Anming, walau tak masuk akal tapi ia bisa memastikan kalau benang cahaya itu berasal dari Cia Changyi.
__ADS_1
"Kak, aku hanya mengikuti instruksi ayahku. Dia mengatakan kalau ada yang tahu rahasia kekuatan ku maka harus dibuat lupa dengan jimat pelupa," ucap Cia Changyi.
Lee Anming mengerutkan keningnya, ia bisa merasakan kalau benang cahaya itu memiliki aura yang sama seperti jimat yang ia pernah rasakan namun untuk jimat pelupa ia baru mendengarnya sekarang.
"Kakak tak usah bingung begitu, ayah ku sangat hebat bahkan dijuluki ahli pembuat jimat yang hebat. Aku diajari olehnya untuk menggunakan jimat yang ia berikan kepadaku saat keadaan darurat," ucap Cia Changyi.
Walaupun Cia Changyi berusaha meyakinkan Lee Anming namun itu belum cukup untuk menghentikan kecurigaan Lee Anming saat ini kepada Cia Changyi.
"Kalau begitu ayahmu kedengaran hebat tapi mengapa dia bisa meninggal melawan pendekar aliran hitam aku rasa setidaknya ayahmu pasti seimbang dengan pendekar aliran hitam itu," ucap Lee Anming menyampaikan keraguannya.
Cia Changyi menghela nafas, sebenarnya ia tak tega membohongi kakaknya tapi apa boleh buat ini adalah jalan keluar untuk saat ini, kedepannya ia akan memberi tahu kebenarannya kepada kakaknya.
"Ayah ku tahu kekuatan ku dan bakat ku makanya dia membawa ku dan merawat ku di desa terpencil, karena luka lama kondisi kesehatan ayah ku melemah dan hanya bisa membuat jimat yang tak sekuat dulu,"
"Katanya aku harus hidup kedepan bersama jimat yang sudah ditanam di dalam jiwa ku dan selalu mengingat apa yang sudah diajarkan untuk bertahan hidup di dunia pendekar yang kejam, ia meyakinkanku kalau kali itu terakhir kita bertemu satu sama lain dan aku harus tegar menghadapinya,"
Cia Changyi dengan jelas menceritakannya, Lee Anming hanya terdiam mendengar kisah itu. Di satu sisi ia tak mempercayai kisah itu tapi hati kecilnya mengatakan untuk kali ini mempercayai Cia Changyi.
"Lalu mengapa Changyi tak membuat kakak lupa seperti kedua tabib ini? Apa kau tak takut kalau kakak akan mengkhianatimu," sekali lagi Lee Anming ingin meyakinkan keputusannya.
"Karena aku percaya kepada kakak, aku pernah melihat tatapan rakus dari manusia lain tapi aku tak bisa melihat itu 2 orang yaitu ayahku dan kakak yang telah menyayangiku selama beberapa hari ini," jawaban Cia Changyi yang membuat Lee Anming meghapus keraguannya.
Setelah melihat bakat dari Cia Changyi yang luar bisa membuat Lee Anming merasa bertanggung jawab untuk melindunginya menggantikan ayahnya. Ia hanya bisa melihat sosok anak imut berumur 6 tahun di diri Cia Changyi.
__ADS_1
Entah mengapa atau takdir memang sudah berkehendak tapi Lee Anming tak bisa melihat Cia Changyi terluka dan menderita, ia memiliki ikatan batin yang sulit dijelaskan dengan Cia Changyi.
"Kakak berjanji akan melindungimu sampai suatu hari nanti kau dapat menjaga dirimu sendiri," ucap Lee Anming, ia bersumpah atas nyawanya dengan kata-katanya itu.
Cia Changyi mendengar kembali kalimat itu dari Lee Anming, di kehidupan sebelumnya ia tak mengerti apa yang dikatakan Cia Changyi sampai saat Lee Anming memberi akar spiritual kepadanya baru ia mengerti.
Kalau Lee Anming dengan tulus menyayangi Cia Changyi, walau mereka bukan saudara kandung tapi di dunia ini ada yang disebut sebagai cinta abadi yang tak memandang darah yang mengalir.
"Oh ya Changyi, bagaimana dengan dua tabib ini mereka masih pingsan di lantai, aku baru teringat mereka sekarang," ucap Lee Anming sambil memandangi kedua tabib yang tak sadarkan diri.
"Ah tenang saja kak, nanti juga mereka bangun sendiri sebaiknya antar aku ke kamar saja aku lelah ingin istirahat," ucap Cia Changyi.
Lee Anming pun hanya mengiyakan saja tanpa membantah, ia pun mengantar Cia Changyi ke kamar untuk istirahat karena hari juga mulai larut.
Beberapa saat kemudian kedua tabib itu terbangun, mereka merasa linglung dan melupakan kejadian hari ini hal ini menyebabkan mereka pusing saat berusaha mengingatnya.
"Ah, kenapa aku pusing sekali sebenarnya apa yang terjadi," ucap salah seorang tabib.
"Iya aku tak pernah mengalami sakit kepala yang sehebat ini sampai jatuh pingsan," ucap tabib yang lain.
"Ah jangan-jangan kalian mengalami kelelahan parah, aku mendengar ada seorang tabib mengalaminya setelah memeriksa banyak pasien tanpa istirahat," ucap salah seorang tabib yang menemukan kedua tabib itu berbaring di tanah.
Mendengar penjelasan rekan kerjanya kedua tabib itu pun hanya bisa percaya toh mereka juga akhir-akhir ini bekerja lebih banyak dari biasanya dalam beberapa tahun ini karena gerakan kebangkitan iblis.
__ADS_1