Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]

Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]
Chp 87 : Penyamaran dan Artefak


__ADS_3

"Nih ya akan aku jelaskan, setiap intel punya tandanya masing-masing tapi ada satu yang sama yakni keberadaan racun digiginya. Biasanya para intel jika ketahuan maka akan bunuh diri dengan racun di giginya," ucap Cia Changyi.


"Ah Ya, aku sepertinya pernah mendengar tentang hal seperti itu. Tapi aku bingung bagaimana kau bisa mengidentifikasinya? Sepertinya aku tak menyadari kalau kau melakukan pemeriksaan," ucap Wei Lan.


"Wei Lan, aku ini punya benda dewa yang menyatu dengan jiwa ku yang merupakan cahaya abadi dewa agung," ucap Cia Changyi menjelaskan kepada Wei Lan.


"Apa?! Ini semakin diluar nalar, kau bilang kau mendapatkan artefak suci?" ucap Wei Lan tak percaya dengan apa yang ia dengar dari Cia Changyi.


Keberadaan artefak suci itu ibaratnya 1 jarum di samudra hindia, sangat sulit untuk ditemukan bahkan keberadaannya adalah mitos belaka menurut sebagian orang.


"Aku tahu kau pasti tak akan langsung percaya begitu saja dengan perkataan ku ini tapi aku hanya mempercayai mu makanya memberi tahu mu kebenaran ini," ucap Cia Changyi sambil menepuk bahu Wei Lan.


"Jika pun itu benar maka kau sangat ceroboh, ingat ini Cia Changyi! Jika suatu hari kau menemukan sesuatu yang hebat maka kau harus merahasiakannya kalau tidak akan ada orang jahat yang akan berusaha merampasnya dari mu dengan segala cara," ucap Wei Lan.


"Iya siap pak bos. Oh iya sebaiknya kita menyelinap ke istana yuk dan melihat kondisi dari keluarga kecil Yeon-Jin," ucap Cia Changyi mengajak Wei Lan.


"Oh iya aku sampai melupakan mereka sangking senangnya jalan-jalan tadi. Ayo kita ke sana," ucap Wei Lan dengan antusias karena penasaran juga dengan kondisi mereka di istana.


Secara tiba-tiba ada sebuah portal muncul, Cia Changyi pun menggenggam tangan Wei Lan lalu berlari ke arah portal itu. Saat keduanya sudah masuk ke dalam, portal itu pun menghilang.


Cia Changyi dan Wei Lan pun sekarang berada di dalam kamar tamu di istana putih, disana bukan hanya ada Yeon-Jin dan keluarga kecilnya namun juga ada putri Anastasya.


"Hei kalian sudah puas jalan-jalannya, kami sudah lama tahu menunggu kalian," ucap Yeon-Jin, ia memalingkan muka ketika melihat Cia Changyi menggenggam tangan Wei Lan.

__ADS_1


"Ya kan portal itu muncul di waktu yang sudah ditentukan. Yasudahlah, yang terpenting aku sudah mengetahui para mata-mata yang disebar di ibukota," ucap Cia Changyi.


"Kerja bagus Cia Changyi, sebenarnya aku mencurigai seseorang dan A Yeong juga turut mencurigainya. Sepertinya mata-mata di dalam istana adalah kepala pelayan," ucap putri Anastasya.


"Kalian memang sudah punya bukti? Apa perlu aku mengeceknya sendiri," ucap Cia Changyi.


"Ya maka dari itu, sebenarnya kita masih ragu jadi sebaiknya kau saja yang memeriksanya kan kau sangat hebat mengidentifikasi pelaku," ucap putri Anastasya.


"Wah masa sih kak Changyi bisa melakukan hal seperti itu? Tuan putri tahu dari mana?" tanya Lei Mei yang tak pernah tahu kemampuan profiller dari Cia Changyi.


"Iya kau bisa lihat saja nanti Lei Mei, jadi tolong ya Cia Changyi. Dan juga ratu telah menyiapkan pengawal pribadi untukku, aku rasa dia juga akan jadi tangan kanannya," ucap putri Anastaysa.


"Baiklah aku akan membereskan itu malam ini juga, kita tak punya terlalu banyak waktu untuk menunda kejahatan ratu. Ayo Wei Lan," ucap Cia Changyi mengajak Wei Lan.


"Keamanan diperkuat dari luar jadi tak usah khawatir, jadi bagaimana kalian mau bertindak? Apa interogasi kepala pelayan atau langsung mencari tahu ke ratu?" tanya putri Anastasya.


"Kita harus bisa membuka mulut kepala pelayan dulu, entah dia mendukung atau tidak mendukung perilaku ratu tapi dia adalah orang yang berada di samping ratu untuk mengurus istana," ucap Cia Changyi.


"Jadi bagaimana cara mu mengorek informasi dari kepala pelayan? Kau tidak akan melakukan kekerasan kan, kau sendiri yang bilang kalau kepala pelayan punya akses ke ratu," tanya putri Anastasya.


"Tentu tidak, kita harus membuatnya buka mulut dengan cara halus bahkan dia tak menyadari hal itu. Hanya saja kita butuh seseorang yang menyamar menjadi pelayan cantik," ucap Cia Changyi.


Mendengar itu membuat Wei Lan merasa tak enak, ia melirik ke arah Cia Changyi yang menatapnya. Ah sialan, pasti Cia Changyi akan menjadikan Wei Lan sebagai tumbalnya.

__ADS_1


"Terserah aku akan mengikuti apapun rencana mu," ucap Wei Lan yang sudah tahu maksud dari tatapan Cia Changyi.


"Nah gitu dong, tolong ya putri Anastasya untuk membuat penyamaran untuk Wei Lan menjadi pelayan yang cukup dekat dengan kepala pelayan," ucap Cia Changyi.


"Eh, ini gak apa-apa kan? Maksud ku pelayan yang berada di dekat kepala pelayan semuanya adalah wanita jadi maksudmu menjadikan Wei Lan menjadi seperti itu?" tanya putri Anastasya untuk memastikan.


"Iya tepat sekali, sudah ya tolong lakukan yang cepat," ucap Cia Changyi yang kemudian mendorong Wei Lan untuk masuk ke kamar putri Anastasya untuk melakukan make over.


40 menit berlalu dan keluarlah mereka, nampak disana putri Anastasya membuat Wei Lan terlihat seperti pelayan wanita dan dengan kemampuan Wei Lan bisa merubah wajahnya berdasarkan ingatan dari putri Anastasya.


"Wah kau sangat mirip dan tidak mencurigakan sama sekali, sepertinya kekuatan mu ini meningkat setelah keluar dari makam leluhur. Dulu kau harus menggunaka bantuan artefak tapi sekarang tak usah," ucap Cia Changyi.


"Sudah kita lakukan dengan cepat hal ini, aku harap kalian merahasiakan hal ini," ucap Wei Lan dengan nada ancaman yang membuat Cia Changyi dan putri Anastasya mengangguk bersamaan.


Kemudian Wei Lan pun membawa troli yang berisi beberapa cangkir dan juga teko yang sudah habis, di telinga Wei Lan sudah ada alat khusus untuk intruksi dari Cia Changyi dan putri Anastasya.


Di dalam kamar putri Anastasya, Cia Changyi dan putri Anastasya duduk berdua di kasur sambil melihat di monitor yang merupakan artefak dewa buatan dewi Dedalus.


"Tunggu, darimana kau bisa memiliki artefak dewi Dedalus ini?" tanya putri Anastasya merasa cukup terkejut dengan keberadaan benda dewa yang sangat langka.


"Bukankah aku sudah berikan jawabannya dengan memberimu penglihatan itu, kau masih belum bisa mempercayainya ya," ucap Cia Changyi lalu tersenyum dan mendekatkan diri ke putri Anastasya.


"Sudah jauh-jauh sana. Lihat tuh ke arah monitornya, Wei Lan butuh intruksi kita," ucap putri Anastasya sambil mendorong dada Cia Changyi pelan.

__ADS_1


__ADS_2