![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
Semua diluar kendali, sepertinya keluarga Lei terlalu sombong sehingga meremehkan legenda gunung salju yang dalam catatan sejarah sedikit yang berhasil selamat hidup-hidup.
Cia Changyi dan Yeon-Jin melihat hal itu dari tadi, mereka memperhatikan dan berbincang sejenak dari kejauhan. Rombongan keluarga Lei itu tak bisa melihat Changyi dan Yeon tapi Changyi dan Yeon bisa melihat rombongan keluarga Lei.
"Aku sudah memiliki penyamaran untuk debut kita di dunia pendekar, akan sangat aneh kan kalau kita memakai badan anak dibawah umur ini," ucap Cia Changyi.
Cia Changyi memakai jimat dan ramuan yang efeknya dapat membuat tampilan berubah 360 derajat, sosok Cia Changyi menjadi pria tampan berusia 20 tahun dan begitu juga dengan Yeon-Jin.
"Wah kau bisa menggunakan ini. Aku tak tahu kalau ada sihir sejenis ini," ucap Yeon-Jin yang takjub dengan perubahannya. Sebenarnya Cia Changyi melakukan eksperimen dengan darah dan energi mutiara cahaya dewa.
"Itu kau nanti juga tahu sendiri, yang terpenting kita harus melawan dua ular itu sebelum jatuh korban jiwa lagi apalagi dari anak keluarga orang kaya itu," ucap Cia Changyi.
Tak lama kemudian merekapun beraksi, ular yang melilit tubuh Lei Heng hendak melahap dengan mulut besarnya tubuh Lei Heng yang sudah tak berdaya akibat lilitannya yang kuat.
Namun dengan gerakan pedang yang sangat cepat dari Cia Changyi membuat mulut ular yang menganga lebar itu sedikit robek, serangan mendadak itu mengejutkan ular itu.
Ular itu pun melepaskan lilitannya kepada Lei Heng karena terkejut, ia juga merasa sakit lalu mengamuk kepada sosok yang melukai mulutnya, dengan darah menetes dari mulutnya ular itu pun menghampiri Cia Changyi.
Ia mengibaskan ekornya kepada Cia Changyi namum ditangkis oleh Cia Changyi, pertarungan sengit terjadi begitu juga di sisi Yeon-Jin bertarung dengan ular satunya.
Para pengawal itu beberapa saat kemudian turut membantu kedua orang asing yang membantu mereka, dengan intruksi dari Cia Changyi dan Yeon-Jin akhirnya kedua ular itu dapat dikalahkan juga.
__ADS_1
Lei Kaili dan Lei Heng sedari tadi mengamati, mereka merasa kagum karena diselamatkan oleh pendekar yang hebat. Setelah kedua ular itu mati mereka pun bergegas menghampiri penyelamat mereka.
"Tuan pendekar yang kuat kami ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena telah menyelamatkan kami dari dua ular itu, sebagai tanda terima kasih maukah ikut kami ke kota agar kami bisa menjamu kalian," ucap Lei Heng.
Lei Kaili disana matanya berbinar memandang dua sosok penyelamat mereka yang tampan, terutama sosok Cia Changyi yang menurutnya lebih tampan dan gagah.
Yeon-Jin yang melihat tatapan mesum itu dari Lei Mei yang ditunjukkan kepada Cia Changyi merasa kesal dan jijik kepada Lei Kaili, dasar perempuan murahan, pikir Yeon-Jin.
"Kebetulan kami juga mau ke kota, baiklah kami terima tawaran kalian," ucap Cia Changyi, sebelumnya memang sudah diputuskan tekait hal itu.
"Bisakah saya ini tahu nama tuan pendekar ini agar kita bisa menjadi lebih akrab, perkenalkan saya Lei Heng dan ini adik saya Lei Kaili, kami anak pertama dan kedua dari keluarga Lei, keluarga paling kaya di kota," ucap Lei Heng memperkenalkan diri.
"Kalau begitu perkenalkan juga nama saya Cia Changyi dan ini adik saya Yeon-Jin. Kalian bisa menarik perhatian dua ular ini karena mengambil harta apa dari mereka?" tanya Cia Changyi.
Ia tak bisa berbohong karena sedari tadi Lei Heng masih memegang bunga beku itu, ia juga tak mau menyinggung pendekar kuat yang bisa membahayakan nyawanya sendiri.
"Bunga beku toh, tenang kami tak tertarik dengan bunga beku jadi tak usah khawatir. Jadi bisakah kita mulai perjalanannya," ucap Cia Changyi.
"Ah ya, ayo tuan kita berangkat sekarang juga lebih cepat sampai lebih baik," ucap Lei Heng, ia panik karena Cia Changyi dapat mengetahui isi hatinya, ia semakin harus menghormati sosok pendekar hebat dihadapannya ini.
Setelah para pengawal sudah siap akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan ke kota, selama perjalanan Cia Changyi dan Yeon-Jin diberi kereta kuda milik Lei Heng.
__ADS_1
Lei Heng dan Lei Kaili pun berada di satu kereta kuda yang sama karena hanya ada dua kereta kuda yang mereka bawa, hal itu jugalah permintaan dari Yeon-Jin.
"Huh, padahal aku ingin bisa satu tempat duduk dengan pendekar hebat itu, mereka sangat tampan dan gagah saat bertarung tadi," ucap Lei Kaili yang menghayal.
"Dengan Lei Kaili, mereka adalah pendekar yang kuat, aku rasa kita harus bisa menjalin hubungan baik dengan mereka dan dengan begitu dapat memperkuat posisi keluarga Lei di kota. Aku harap kau tak menyinggung mereka," ucap Lei Heng memperingati.
"Iya, aku akan memuaskan mereka. Pokoknya nanti kakak harus membujuk mereka untuk tinggal di rumah kita dan harus dekat dengan kamar ku," ucap Lei Kaili.
Lei Heng hanya mengiyakan saja, ia tahu maksud dan tujuan dari Lei Kaili. Ia hanya berharap wajah cantik adiknya ini bisa memikat salah satu dari pendekar itu agar bisa menjadi kekuatan keluarga Lei.
Sedangkan di kereta kuda yang satunya.
"Changyi aku sangat tak suka dengan wanita bernama Lei Kaili itu, ia sangat tak tahu malu menatap mu dengan tatapan mesum, sangat hina," ucap Yeon-Jin merasa kesal.
"Tenanglah Yeon-Jin aku tak akan terpikat oleh gadis seperti itu. Aku ini pemilih dan memiliki standar tinggi makanya aku jomblo sampai tua di kehidupan sebelumnya," ucap Cia Changyi sambil membanggakan dirinya.
"Benar ya, soalnya ada banyak pendekar kuat yang hancur hanya karena wanita murahan," ucap Yeon-Jin. Hal yang dikatakan oleh Yeon-Jin memanglah benar, bahkan perang terjadi juga karena wanita.
Perjalanan ke ibu kota terjadi dengan cukup lancar, mereka akhirnya sampai di kediaman keluarga Lei saat hari sudah mulai malam dan hal ini di manfaatkan oleh Lei Heng.
"Tuan pendekar karena hari sudah larut sebaiknya kalian tinggal di rumah kami sekalian kami kenalkan dengan orang tua kami, beliau pasti akan menyambut penyelamat anak-anaknya," ucap Lei Heng.
__ADS_1
"Baiklah, kami setuju. Kebetulan kami juga masih baru pertama kali berada di kota ini," ucap Cia Changyi kepada Lei Heng.
Mereka pun menuju ke dalam kediaman keluarga Lei yang sangat megah itu, sekilas Cia Changyi dapat melihat sosok lusuh Lei Mei. Cia Changyi hanya tersenyum melihat itu lalu masuk ke dalam rumah keluarga Lei.