![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
Tak lama setelah Cia Changyi dan Wei Lan masuk ke dalam portal mereka secara acak terpisah, sekarang ini Wei Lan berada di sebuah kompleks pemakaman, matahari pun bersinar cukup terang.
Semua batu nisan itu menyertakan nama yang sama, Wei Lan mengepalkan tangannya. Ia berusaha iklash tentang kepergian ayahnya namun ketika ia melihat makam-makam ini hatinya goyah.
Sejak usianya 2 tahun ibunya telah meninggal dan ia selalu dibawah kasih sayang ayahnya sampai umur 10 tahun, satu-satunya orang yang ditinggalkan untuk mengurusnya hanya Bai saja.
"Nak, kau akhirnya mendatangi ayah mu," ucap sesosok pria yang berusia sekitar 40 tahunan, melihat wajah yang dirindukan membuat Wei Lan tak bisa menahan diri.
Wei Lan berlari hendak memeluk tubuh ayahnya yang selalu ia rindukan kasih sayangnya, namun saat ia menyentuh tubuh sosok pria itu tiba-tiba langsung berubah menjadi kabut tebal.
"Hahahaha, kau sangat merindukan ayah mu ya?" ucap Yaya, sosok peri berukuran mungil yang terbang dengan butiran debu terbang di sayapnya.
"Siapa kau? Apa maksudmu dengan mempermainkan perasaan ku yang terdalam?!" teriak Wei Lan merasa kesal.
"Aduh, kamu itu berisik sekali ya. Kau tahu ayah mu itu sudah lama mati di sini, jadi aku rasa kalau kau tahu apa yang terjadi dengan jenazah ayahmu kau mungkin akan ikut ke surga bersamanya," ucap Yaya.
Wei Lan mengepalkan tangan kesal, ia menggertakan gigi-giginya dan sorot mata tajam ia tunjukkan oleh Yaya. Ia kesal ketika orang asing menyinggung kematian ayahnya.
"Kau tak punya hak mengatakan sesuatu tentang ayahku seperti itu, aku yakin walaupun dia meninggal sekalipun pasti dia meninggal dengan terhormat sebagai pendekar," ucap Wei Lan membela ayahnya.
"Hahahaha, manusia memang sangat lucu dan unik ya. Baiklah, aku akan memberi tahu mu apa yang sebenarnya terjadi kepada ayahmu selama ia disini 10 tahun yang lalu," ucap Yaya.
Sebuah ingatan dengan cepat memasuki kepala Wei Lan, hal itu membuat mendadak kepala Wei Lan sakit dan berasa mau pecah saja. Namun bersamaan dengan itu ingatan asing mulai berputar di kepalanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian kepala Wei Lan mulai membaik, namun setetes demi setetes air mata keluar dari kedua matanya. Bibirnya meringis sedih ketika melihat kematian ayahnya.
"Kau sekarang sudah tahu, sebagaimana lemahnya ayahmu yang tak pantas mendapatkan berkat leluhur. Kau tahu, dia juga ku rasa tak layak menjadi ketua sekte gunung pedang dan merupakan sebuah aib," ucap Yaya.
"Tutup mulut busuk mu itu peri murahan!" teriak Wei Lan cukup keras, ia yang kesal pun melampiaskannya dengan melayangkan serangan kepada peri dihadapannya.
Namun Yaya tak tinggal diam, ia dengan gesit menghindari serangan Wei Lan kemudian membalas dengan mengeluarkan sihir api yang dapat membuat Wei Lan terpental dan terjatuh.
"Huh, memang ya cinta itu adalah kelemahan terbesar manusia. Dia bisa menjadi mudah dikalahkan kalau itu sudah urusan hati," ucap Yuyu mengejek Wei Lan.
"Aku bilang diam! Kau peri yang tak tahu perasaan manusia tak akan mengerti apa itu cinta sejati, ayah ku menyayangi ku sampai membuatku tumbuh seperti ini," ucap Wei Lan.
"Baiklah, kita lihat saja. Apakah cinta ayah mu itu dapat membuat mu mendapat berkat leluhur atau kau memang sama-sama payah dengan ayah mu," ucap Yaya.
Matanya hanya satu dan lebar berwarna hitam pekat, monster itu dari tangan-tangannya mengeluarkan bebatuan yang terbentuk dari elemen tanah, bentuknya yang runcing siap menyerang.
Bersamaan dengan itu Wei Lan menyadari perputaran energi di tubuhnya mulai berubah, kelembapan tubuhnya mulai tinggi dan tangannya mengalir air cukup banyak.
"Elemen air, jadi ini berkat leluhur. Elemen yang langka," gumam Wei Lan di dalam hati, tapi ia tak bisa lengah karena harus melawan Ground Hand.
Tangan-tangan Ground Hand ini mulai melemparkan berbagai serangan bertubi-tubi ke arah Wei Lan, ia adalah penyerangan jarak jauh yang punya kelemahan dalam pertahanan.
Wei Lan dengan elemen air yang ia dapatkan membuat sebuah pelindung di sekelilingnya yang dapat mematahkan setiap serangan Ground Hand, bersamaan dengan itu ia pun melangkah mendekati Ground Hand.
__ADS_1
Saat jarak mereka hampir dekat, Wei Lan dengan cepat mengangkat tangannya dan membuat gelombang air yang nampak seperti tsunami yang mendorong Ground Hand mundur ke belakang.
Tubuh Ground Hand mulai tak berbentuk, air dan tanah itu mulai bersatu membuat warna air yang tadinya putih bersih sekarang malah menjadi cokelat pekat yang nampak kotor.
Dari air-air itu ada banyak Ground Hand yang mulai terbentuk, bedanya sekarang ukurannya lebih kecil dari sebelumnya dan munculnya sangat banyak. Tangan-tangan mereka bukan hanya ada tanah yang runcing namun juga air yang berbentuk bola.
Wei Lan mengibaskan tangannya untuk menghadang serangan dari segala arah itu, walau serangan Ground Hand lambat tapi tetap saja akan membuat Wei Lan kewalahan.
"Sial, kalau seperti ini maka aku akan mati di sini," ucap Wei Lan di dalam hati, ia tak mau mengecewakan ayahnya dan menyia-nyiakan pengorbanannya sampai ke sini.
Di bawah para Ground Hand itu ada genangan air, hal itu dimanfaatkan oleh Wei Lan lalu ia membuat air-air yang ada di sekitar Ground Hand berubah membalut tubuh mereka.
Wei Lan mengibaskan tangannya dan membuat para Ground Hand itu saling berdekatan. Dan dengan sekali gerakan tangan membuat air-air itu merasuki Ground Hand dan membuatnya hancur.
Namun ternyata perkiraan Wei Lan sangat melesat, genangan air itu juga turut bekumpul bersama dengan hancurnya tubuh para Ground Hand membentuk entitas baru.
Kali ini tubuh yang sangat tinggi dan besar, itu adalah raksasa! pikir Wei Lan. Ia meneguk ludah kasar karena memperkirakan kalau tubuh Ground Hand itu puluhan kali dari Ground Hand yang pertama tadi.
Gelombang-gelombang air siap untuk menyerang tubuh raksasa tanah berbentuk banyak tangan itu, namun sepertinya itu tak mempan. Malahan air yang ia keluarkan menyatu dengan tubuh Ground Hand itu.
Saat Ground Hand itu mulai menyerang secara bertubi-tubi, perisai air yang ia buat malah dengan mudah dapat ditembus sehingga membuat serangan-serangan itu berhasil mengenai Wei Lan.
"Aaaah," teriak Wei Lan kesakitan, tubuhnya merasakan gejolak energi yang tak beraturan saat serangan gabungan tanah dan air itu mengenai tubuhnya.
__ADS_1
"Hahahaha, kau lihat manusia bodoh. Kau itu ternyata lebih bodoh dari ayah mu, baiklah kau harus menderita dulu sebelum bertemu ayah mu di alam sana," ucap Yaya yang sedari tadi menonton dari jarak jauh.