![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
"Kita tidak tahu identitas wanita ini jadi kita harus hati-hati, bisa jadi dia hanya berpura-pura dan kemudian menyerang kita," ucap Cia Changyi menjelaskan kepada Lei Mei.
"Ya tapikan kalau sampai dia benar-benar butuh bantuan bagaimana? Bisa-bisa dia tak tertolong jika dia benar-benar membutuhkan dan kita membiarkannya begitu saja," ucap Lei Mei merasa cemas.
"Yasudah biar aku yang memeriksanya, kalau dia berbahaya aku bisa langsung menghabisinya," ucap Cia Changyi namun tangannya langsung ditarik ke belakang oleh Yeon-Jin.
"Nona A Yeong, bisakah kau memeriksanya. Bisa-bisa ada yang mengambil kesempatan dengan ingin memeriksa tubuh wanita itu," ucap Yeon-Jin yang diangguki oleh A Yeong.
A Yeong dengan hati-hati membalik tubuh wanita itu kemudian melakukan pengecekan awal, setelah beberapa saat ia bisa menyimpulkan kalau tuan putri hanya pingsan kecapean saja.
"Kita harus membantunya juga, aku rasa dia dikejar oleh sekelompok orang yang ingin membunuhnya makanya dia lari sampai pingsan seperti ini," ucap A Yeong mendiagnosa.
"Iya kau benar, kita bisa beristirahat dekat sini karena hari juga sudah mau gelap," ucap Cia Changyi, kemudian mereka pun membagi tugas untuk membuat perkemahan kecil-kecilan.
Yeon-Jin nampak sedang menunggui ikan yang sedang dibakar, ia menatap api yang membara dan membakar daging ikan itu sampai matang dan menghanguskan kulitnya.
"Yeon, kau tak apa kan? Dari tadi aku merasa kau sepertinya marah kepadaku," tanya Cia Changyi yang duduk disebelah Yeon-Jin.
"Bagaimana kondisi wanita itu? Apa kau mau kita membawanya juga dan menjadikannya yang ke-6," ucap Yeon-Jin tanpa sekalipun memandang wajah Cia Changyi seperti biasanya.
"Ya kita akan membantunya menemukan keluarga atau kerabatnya. Yeon, aku tahu mungkin kau risih dengan banyaknya teman ku yang aku bawa tapi mereka sangat berarti bagiku bahkan di kehidupan yang dulu mereka banyak berkorban," ucap Cia Changyi.
"Ya kau benar, aku memang tak boleh egois dengan mementingkan kepentingan ku sendiri. Terimakasih karena kau sudah mengingatkan," ucap Yeon-Jin lalu menepuk bahu Cia Changyi dan setelah itu pergi begitu saja.
__ADS_1
Walau begitu Cia Changyi merasa kalau Yeon-Jin masih marah dengannya, hal itu dapat diketahui dari intonasi bicaranya Yeon-Jin yang tak seperti dulu dan makna lain dari perkataan Yeon-Jin tadi.
"Entah apa yang dia mau, akhir-akhir ini dia bertindak cukup membingungkan ku," batin Cia Changyi, ia memang sangat tidak peka karena urusannya sudah berkaitan dengan hati.
Sedangkan Yeon-Jin, ia memasuki tenda besar berisi tuan putri yang sedang berbaring dan sedang ditemani oleh A Yeong yang sedang membaca buku favoritnya.
"Ah, Yeon-Jin. Anak ini dia dalam kondisi yang baik tapi entah mengapa daritadi ia tak kunjung sadarkan diri padahal aku sudah mencoba berbagai cara," ucap A Yeong yang terkejut dengan keberadaan Yeon-Jin secara tiba-tiba.
Yeon-Jin tak bergeming, ia memandangi wajah tuan putri dan matanya langsung melirik ke arah kalung yang tuan putri kenakan. Ia rasa jika kalung itu bukanlah kalung biasa.
Yeon-Jin mengangkat kalung itu dan melihatnya lebih dekat, dari matanya Yeon-Jin bisa melihat ada sesuatu yang aneh didalam kalung itu. Rasanya sangat familiar dengan benda ini sebelumnya.
"Nona A Yeong, apa kau tahu kalung apa ini yang dipakai oleh wanita ini?" tanya Yeon-Jin kepada A Yeong yang melamun karena memperhatikan keimutan Yeon-Jin versi kecil.
Yeon-Jin kemudian secara tak sengaja menyentuh bagian runcing dari kalung itu sehingga membuat jari tangannya tersedot oleh kalung itu yang membuat Yeon-Jin dan A Yeong terkejut.
"Apa itu tadi, biar aku periksa ya," ucap A Yeong yang bergegas melihat luka yang dialami Yeon-Jin dan juga perilaku aneh dari kalung itu yang bisa menghisap darah.
Mata tuan putri pun terbuka dan dia melihat dua sosok yakni laki-laki dan perempuan yang sama-sama juga memperhatikannya, tuan putri ingin kabur tapi tubuhnya masih lemas.
Beberapa saat kemudian semua sudah berkumpul di sekitar tuan putri, "Tuan putri Anastasyia, memang seperti yang beredar kalau dirimu punya wajah sangat cantik," ucap Cia Changyi.
Cia Changyi membuka dan melihat tanda di lutut kaki kanan tuan putri dan menemukan sebuah tanda berbentuk matahari dan tanda berbentuk bulan di lutut kaki kiri tuan putri.
__ADS_1
"Mau apa kalian? Jangan harap saya akan bekerjasama dengan ratu untuk membakar negeri leluhur ku!" ucap tuan putri yang merasa dirinya tak aman disini.
"Jangan takut nona, kami tadi menemukan dirimu pingsan karena kelelahan jadi kami hanya membantu mu sampai kau sadar," ucap Lei Mei menjelaskan situasinya kepada tuan putri.
"Aku penasaran dengan apa yang terjadi olehmu, ada baiknya aku cari tahu bersama dengan dirimu," ucap Cia Changyi, ia kemudian menggenggam tangan tuan putri lalu menatap matanya dengan intens.
Tuan putri sangat lemas, ia tak berdaya dan tak bisa mengelak dari apa yang dilakukan oleh Cia Changyi. Mata mereka saling bertemu lalu diri Changyi masuk ke otak tuan putri.
Secara tiba-tiba Cia Changyi dan tuan putri berada di dalam kereta kuda tepatnya kejadian tadi ketika tuan putri sedang dibawa menggunakan kereta kuda sebelum terjadinya penyerangan.
"Apa ini?" tanya tuan putri yang melihat dirinya sendiri berada di hadapannya, bahkan ia seperti melihat kejadian yang tadi ia telah lakukan. Satu-satunya jawaban adalah dari Cia Changyi.
"Lihat saja, aku hanya ingin tahu apa yang telah kau alami tadi karena kau sepertinya tak akan menceritakannya dengan mudah kepadaku," ucap Cia Changyi.
Kejadian yang tadi dialami oleh tuan putri sekarang dilihat oleh tuan putri sendiri secara langsung, ia bingung mengapa entitasnya bisa tak terlihat dan kembali ke masa lalu.
"Kalau lihat kan, kami hanya membantu mu maka jujurlah kepada kami tuan putri," ucap Cia Changyi lalu dalam kedipan mata mereka sudah kembali ke kesadaran mereka.
"Hah, apa itu tadi? Mengapa itu bisa sama persis dan sangat nyata, siapa kau sebenarnya?" tanya tuan putri yang merasa bingung dengan kejadian yang tadi ia alami.
"Aku hanya ingin mengetes keterampilan yang aku pelajari selama ini, ternyata cukup menarik untuk bisa masuk ke ingatan orang lain," ucap Cia Changyi lalu tersenyum penuh makna.
"Ehem, kalian mau sampai kapan sedekat itu," ucap Yeon-Jin, ia merasa kesal daritadi melihat Cia Changyi yang berinisiatif mendekati wanita itu.
__ADS_1