![Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]](https://asset.asean.biz.id/menjadi-dewa-di-kehidupan-kedua--s1-.webp)
Han Bao terlempar dalam keadaan yang tak menguntungkan, bagaimana tidak?! Dia sekarang berada di atas pohon dan merutuki portal yang melemparnya secara random.
"Aaah, mana tinggi lagi. Huh, tapi aku harus tenang dan semangat," ucap Han Bao meneguk ludah kasar melihat tingginya jarak antara dirinya yang di atas pohon dengan tanah.
Beberapa detik kemudian ia pun memberanikan diri melompat, ia sekuat tenaga untuk mendarat dengan baik namun karena ini baru pertama kali ia lakukan jadi ia harus mendarat dengan tidak bagus.
"Ah, sakit tapi untungnya tak ada yang patah. Untung saja ketahanan tubuhku hanya berkurang 1, sebaiknya aku cepat mencari monster saja," ucap Han Bao memutuskan langsung melanjutkan perjalanan.
Tak berselang lama Han Bao menemukan beberapa monster yang sedang diserang oleh dua orang, nampak mereka sangat serius menghadapi monster-monster itu.
"Sebaiknya aku perhatikan dulu sekalian menganalisa kekuatan monster di alam ini," ucap Han Bao di dalam hati, ia memilih tempat yang sekiranya aman.
Pertarungan terjadi cukup sengit, Han Bao dapat melihat kekuatan monster yang ada di sini lebih kuat daripada yang di dunia asli walaupun hanya monster tingkat rendah.
"Kalau dilihat monster itu levelnya rendah tapi sudah sekuat itu, apalagi kalau yang levelnya tinggi. Sebaiknya setelah ini aku harus mencari kakak," ucap Han Bao di dalam hati.
Tak lama setelah pertarungan itu secara tiba-tiba salah satu dari mereka berdua menyerang yang lainnya secara mendadak, pedang tajam itu menembus perut.
Angka yang ada diatas kepala wanita itu pun secara drastis turun menjadi 0, "Kau mengkhianati ku padahal kita bersahabat. Sialan aku akan membalas mu nanti," ucap wanita itu.
Tubuhnya perlahan menghilang, ia tidak mati karena keunikan dari alam ini tapi secara otomatis tubuhnya keluar dari alam hutan dalam keadaan yang sama seperti sebelum ia masuk.
"Huh, sahabat apanya. Yang namanya kompetisi tidak ada yang namanya teman dan hanya ada saingan," ucap wanita yang berkhianat itu kemudian ia pun pergi begitu saja.
__ADS_1
Hal itu membuat Han Bao terbelalak kaget, rupanya benar apa yang kakaknya katakan kalau seseorang bisa menjadi buas karena keserakahan yang ia miliki bahkan hubungan dekat tak bisa menghentikannya.
"Aku harus cepat bertemu kakak sebelum bertemu banyak bajingan lain," ucap Han Bao, satu-satunya sekarang yang ia percaya hanya kakaknya karena ia tahu akan ketulusan kakaknya.
Tak berselang lama ia segera pergi dari persembunyiannya namun sebuah pedang telah berada sangat dekat dengan lehernya. Ia bisa melihat sosok wanita tadi telah berada di hadapannya sekarang sambil menodongkan pedang.
"Kau pikir aku bodoh tak bisa merasakan keberadaan mu, aku tahu kau telah memperhatikan ku daritadi," ucap wanita itu lalu tersenyum licik.
"Kau dasar bajingan, tega sekali mengkhianati teman mu hanya demi kompetisi," ucap Han Bao menghardik wanita itu yang menurutnya sangat menjijikkan.
"Sudahlah tak usah munafik, sekarang kau harus mati supaya jalan ku semakin mulus memasuki 10 besar," ucap wanita itu, ia hendak menebas leher Han Bao.
Namun Han Bao tak pasrah begitu saja, ia sudah membuat dirinya lebih cepat dari sebelum-sebelumnya. Sembari menghindar pedang, Han Bao turut menebas pedangnya.
Melihat serangan tak terduga itu wanita itu pun menarik pedangnya lalu dengan cepat menahan serangan Han Bao sambil kakinya mendorong tubuh Han Bao.
"Kau memang cukup hebat tapi sayang kau harus aku hapus sebelum berkembang ke sepuluh besar," ucap wanita itu lalu mengambil sesuatu dari balik lengan bajunya.
Serbuk ungu langsung bertaburan yang menghalangi penglihatan Han Bao, ia langsung tak dapat melihat apa-apa dan dari arah belakang dapat dirasakan serangan wanita itu.
Han Bao yang matanya buta sesaat pun hanya mengandalkan instingnya, ia menebas pedangnya ke arah serangan wanita itu yang ia rasakan di sekitarnya.
"Sial, wanita ini padahal sudah buta tapi masih bisa menangkis serangan ku. Pokoknya aku tak boleh kalah," ucap wanita itu di dalam hati dengan perasaan kesal.
__ADS_1
"Aku harus berterima kasih kepada guru, ini pasti efek ramuan yang selama ini diberikan oleh guru Cia Changyi," ucap Han Bao di dalam hati.
Mata Han Bao perlahan mulai bisa melihat walau masih buram, tapi itu cukup untuk melancarkan serangan kepada bajingan yang ada di hadapannya, pikir Han Bao.
Han Bao membuat sudut 90 derajat untuk menyerang kepala wanita itu, celah yang dilihat oleh wanita itu ia manfaatkan. Wanita itu bergerak cepat ingin menghunuskan pedang ke perut Han Bao.
Namun Han Bao tak mudah untuk ditebak, ia mundur ke belakang satu langkah kemudian pedangnya memukul kepala wanita itu sampai berdarah.
"Ah, sial rasanya masih saja menyakiti tubuh ku," ucap wanita itu mengumpati tindakan dari Han Bao. Ia dapat melihat katahanan tubuhnya turun drastis.
"Sudahlah kau menyerah saja, bajingan seperti mu pantas untuk kalah," ucap Han Bao meremehkan wanita yang ada dihadapannya. Ia harus dapat membunuh wanita ini dan membuatnya di diskualifikasi.
"Kau pikir aku kehilangan rencana, sekarang kau yang harus mati di sini," ucap wanita itu sambil mengeluarkan sesuatu dari lengan bajunya, kali ini serbuk berwarna kuning.
Serbuk itu dengan cepat berterbangan ke arah Han Bao tanpa ia bisa hindari karena sangking cepatnya, "Uhuk uhuk, trik apa lagi yang kau lakukan," tanya Han Bao dengan perasaan kesal.
"Hahahaha, sekarang akan datang banyak monster. Kau tidak akan bisa menghadapi gelombang itu jadi selamat tinggal," ucap wanita itu lalu segera pergi begitu saja sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
"Sialan," umpat Han Bao, ia bisa merasakan berbondong-bondong ada banyak monster yang datang menghampirinya. Ia harus bisa menjadikan ini batu loncatan bukan malapetaka.
Sementara itu Han Yu dapat melihat ada sosok wanita yang kesakitan sambil memegangi kepalanya yang berdarah, karen penasaran ia pun menghampirinya.
"Ah, aku akhirnya bertemu dengan murid lain. Tadi di sana aku dikhianati teman ku, hampir aku dibunuh olehnya," ucap wanita itu sambil memelas kepada Han Yu.
__ADS_1
"Oh jadi kau baru saja membunuh teman mu untuk menyelamatkan dirimu?" tanya Han Yu yang diiyakan oleh wanita itu. Ia bertindak seperti ia adalah korban.
"Tolong bantu aku, ah ini sakit sekali bisakah aku mendapat obat dari mu?" tanya wanita itu memohon kepada Han Yu dengan wajah memelas penuh kesakitan.