Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]

Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]
Chp 34 : Naga Gua


__ADS_3

"Aku tahu kau pasti curiga kepada ku. Tapi aku meminta kau untuk mempercayai ku, tubuh putri mu diberkati dengan jiwa dewi di dalamnya," ucap Cia Changyi yang menyadari perasaan Lei Rong.


"Apa maksud mu dengan tubuh putri ku? Putri ku sama sekali tak bisa berlatih dan hanyalah manusia biasa, setidaknya dia tak akan mengalami pahitnya dunia pendekar," ucap Lei Rong.


Ia tahu kalau sampai putrinya diketahui memiliki kekuatan pendekar maka ia akan dihabisi sebelum berkembang, anak-anak selir itu pasti akan melakukannya, pikir Lei Rong.


Di dalam tubuh Cia Changyi ada mutiara cahaya dewa jadi dia bisa merasakan tubuh orang lain memiliki kekuatan istimewa atau tidak, didalam tubuh Lei Mei ada sesuatu yang menarik.


Cia Changyi mengeluarkan benang cahaya dari jarinya yang kemudian memutari tubuh Lei Mei lalu beberapa saat kemudian keluarlah aura kuat berwarna merah muda keluar dari tubuh Lei Mei lalu setelah itu ia pun tak sadarkan diri.


Melihat itu membuat Lei Rong terkejut, rupanya benar kata Cia Changyi bahwa putrinya memiliki tubuh istimewa. Ia bisa merasakan sesuatu yang kuat dari dalam tubuh Lei Mei.


"Ternyata benar, darimana kau tahu tentang tubuh putri ku. Bahkan aku ibunya saja tak tahu," tanya Lei Rong kepada Cia Changyi, ia merasa cemas dengan kondisi putrinya.


"Kau tak usah cemas begitu, aku bisa tahu kondisi putri mu dan juga bisa membantunya menjadi lebih kuat. Aku hanya butuh rasa percaya mu," ucap Cia Changyi.


Lei Rong menggenggam erat putrinya yang berada di pelukannya, ia menatap sosok Cia Changyi. Di dalam hatinya banyak keraguan akankah putrinya akan aman bersama dengan orang asing di hadapannya itu.


"Aku mengerti akan keraguan mu itu, terlihat jelas dari mata mu. Tapi kau tak ada pilihan lain, coba pikirkan kalau suatu hari nanti tubuh putri mu diketahui memiliki kekuatan besar itu maka ia akan dihabisi sebelum berkembang," ucap Cia Changyi.


Lei Rong saat ini kekuatannya belum cukup pulih, bahkan ia tak yakin akan mampu melindungi putrinya seorang diri jika seluruh kekuatannya telah kembali.


Ia pernah percaya sekali dengan seseorang dan berakhir hidup menderita bertahun-tahun bersama putrinya maka dari itu sulit baginya untuk mempercayai seseorang.

__ADS_1


"Memang ya seorang ibu itu sangat mengkhawatirkan anaknya. Baiklah aku tak akan memaksa mu tapi coba pikirkan lagi perkataan ku," ucap Cia Changyi kemudian beranjak pergi.


Saat Cia Changyi berjalan menuju ke kamarnya ia berpapasan dengan Lei Kaili. Lei Kaili pun menghampirinya dengan mata berbinar-binar, ia mengajak Cia Changyi ke gazebo untuk menikmati teh bersama.


Karena ingin minum teh akhirnya Cia Changyi pun mengiyakan ajakan itu yang membuat Lei Kaili kegirangan di dalam hati, ia pikir kalau pesona kecantikannya telah menarik perhatian Cia Changyi.


"Tuan pendekar anda sangat kuat dan gagah saat melawan ular itu, aku tak bisa membayangkan kalau kau tak ada maka kakak tersayang ku pasti sudah mati," ucap Lei Kaili degan dramatis.


Cia Changyi hanya ingin minum teh saja tapi ia malah diusik oleh Lei Kaili yang terus berusaha menjilatnya, ia rasanya menyesal karena ikut ajakan Lei Kaili tanpa pikir panjang.


"Ternyata kau ada di sini," ucap Yeon-Jin dari belakang, hal itu membuat Cia Changyi terkejut lalu menoleh ke belakang dan mendati sosok Yeon-Jin, hal itu juga terjadi pada Lei Kaili.


"Aku sudah mencari mu dari tadi. Maaf ya nona aku harus membawa Changyi karena ada urusan penting, permisi," ucap Yeon-Jin sambil menarik tangan Cia Changyi cukup keras.


Di kamar.


"Terima kasih karena kau sudah menyelamatkan ku tadi. Aku pikir aku bisa minum teh dengan tenang tapi nona Lei Kaili malahan mengusik ku dengan ocehannya," ucap Cia Changyi.


"Aku tadi bangun dan tidak menemukan mu, aku mencari dan ternyata kau malah berduaan dengan wanita itu. Kau masih bisa bertahan selama itu aku cukup salut," ucap Yeon-Jin.


"Yasudahlah tak usah dipikirkan lagi, ada beberapa hal yang akan aku lakukan selama di kota ini. Aku menemukan beberapa harta disini," ucap Cia Changyi.


Ia bisa mengingat dengan jelas peristiwa yang ia alami di kota ini pada kehidupan sebelumnya saat usianya 19 tahun. Ia harap harta itu sesuai pada tempat ia menemukan di kehidupan sebelumnya.

__ADS_1


Saat mereka hendak pergi mereka sempat dicegat oleh Lei Heng dan menawarkan pengawalan namun langsung ditolak mentah-mentah oleh Yeon-Jin.


Yeon-Jin sangat sensitif dengan seorang penjilat, ia sudah cukup dengan orang-orang seperti itu di kehidupan sebelumnya dan untuk di kehidupan ini ia tak ingin berurusan lagi dengan para penjilat.


Mereka berjalan cukup jauh dari kediaman Lei. Di dekat hutan ada sebuah gua yang tertutupi tanaman rambat. Dari luar memang tak ada yang curiga kalau itu adalah gua.


Cia Changyi dengan pedangnya membabat habis tanaman rambat itu dengan gerakan cepat pedangnya, nampaklah mulut gua yang cukup besar.


"Kamuflase yang cukup bagus. Entah dengan cara apa kau bisa menemukan tempat seperti ini di kehidupan sebelumnya," ucap Yeon-Jin yang masuk ke dalam gua bersama Cia Changyi.


Setelah berjalan beberapa langkah merekapun berhenti sejenak untuk memandang penampakan sesosok naga yang sedang tertidur di gua ini.


Naga itu membuka matanya, ia bisa merasakan kedua sosok manusia telah memasuki guanya setelah sekian lama sejak beberapa puluh tahun yang lalu.


"Ada gerangan kau ke sini," tanya sang naga yang terbangun dari tidur panjangnya.


"Kami ke sini untuk mendapatkan pedang sembilan cahaya naga. Aku tahu kau memilikinya dan akan memberikannya kepada seseorang yang ditakdirkan," ucap Cia Changyi cukup percaya diri.


"Huh kau bisa tahu hal itu sangat mengejutkan bagi ku, setelah sekian lama aku di sini dan menemukan pendekar seperti kalian datang, bagaimana kalau kita bertarung dulu," tawar naga itu.


Di kehidupan sebelumnya hal ini tidak terjadi. Tapi itu bisa dimengerti karena sekarang Cia Changyi datang tidak sendiri dan juga dalam keadaan yang tak selemah saat pertama kali masuk ke gua ini di kehidupan sebelumnya.


"Baiklah aku dan temanku akan melawan mu untuk memuaskan hasrat bertarung mu. Tapi kalau sampai kita menang aku ingin meminta sesuatu pada mu," ucap Cia Changyi.

__ADS_1


"Hahahaha baiklah aku terima tawaran mu. Sepertinya memang kau ditakdirkan untuk memiliki pedang itu, jadi aku harap ekspetasi ku tak terlalu tinggi tentang mu," ucap naga itu.


__ADS_2