Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]

Menjadi Dewa Di Kehidupan Kedua [S1]
Chp 33 : Penyakit Ibunya Lei Mei


__ADS_3

Mereka di jamu dengan makanan enak ketika Lei Heng memberi tahu ayahnya kalau Cia Changyi dan Yeon-Jin telah menyelamatkan mereka, ayah mereka tuan Lei memperlakukan mereka dengan istimewa.


Cia Changyi sangat muak melihat sikap menjilat dari tuan Lei dan Lei Heng bahkan Lei Kaili berusaha menempel dan menggodanya sepanjang jamuan makan malam.


Yeon-Jin juga kesal dengan sikap keluarga ini terutama Lei Mei, ia kesal Lei Kaili terus menempel kepada Cia Changyi dan Cia Changyi tak bertindak apapun.


Seusai jamuan makan malam mereka dibawa ke kamar tamu yang tersedia. Mereka memutuskan untuk tidur di kamar yang sama dengan dua tempat tidur terpisah.


"Keluarga yang menjijikan, aku rasanya mau memuntahkan makanan yang aku makan rasanya. Kau juga membiarkan Lei Kaili itu menggoda mu," ucap Yeon-Jin mengeluh.


"Tenanglah Yeon, kau tahu kan kalau aku di kehidupan yang lalu tak tertarik dengan wanita yang hanya bergantung kepada pria saja. Aku heran kenapa kau sangat benci dengan wanita bahkan dengan Zhang Fang kau nampak tak terlalu suka dia," tanya Cia Changyi.


"Eh, itu karena... Mungkin karena aku di kehidupan yang lalu jarang bertemu perempuan, sekalinya bertemu malah menemui perempuan yang licik," ucap Yeon-Jin menjawab.


"Kau harus mengubah itu, apa kau tak mau punya kekasih. Aku bahkan berpikir untuk memiliki kekasih di kehidupan kedua ini," ucap Cia Changyi mengutarakan keinginannya.


"Yasudahlah aku mau tidur, mengantuk," ucap Yeon-Jin kemudian langsung beranjak tidur, Cia Changyi merasa aneh dengan sikap Yeon-Jin tapi ia tak terlalu memikirkannya lalu juga tidur.


Di tempat lain.


Lei Mei berlari menuju kamarnya dan ibunya, ia langsung disuruh melakukan pekerjaan rumah yang seharusnya dikerjakan oleh pelayan bahkan tanpa istirahat dari perjalanan jauh.


Lei Mei menghampiri ibunya, ia dan ibunya tinggal di gubuk belakang rumah keluarga Lei yang bekas gudang. Ibunya terbaring tak berdaya karena menderita penyakit aneh.

__ADS_1


Dulunya ibunya Lei Mei adalah istri sah tuan Lei, ia memiliki paras cantik dan juga pendekar wanita yang hebat namun seiring berjalannya waktu ia sakit-sakitan dan tak dipedulikan suaminya.


Sebuah fakta ia ketahui, suami yang ia cintai telah memberinya racun. Ia selama ini hanya dijadikan alat untuk mencapai tujuannya menjadi kepala keluarga Lei lalu setelah tak dibutuhkan ia dibuang.


Lei Mei menghampiri ibunya, ia berusaha menutupi dari ibunya tapi ibunya mengetahui pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Ibu, aku tadi dibawa kakak pertama dan kakak kedua ke gunung salju dan mereka hendak menjadikan ku tumbal untuk mendapatkan bunga beku tapi untungnya ada dua pendekar yang menyelamatkan kita," ucap Lei Mei.


Lei Mei terpaksa menceritakan itu sambil menangis sesenggukan, ibunya Lei Rong sedih mendengar kisah putrinya. Andaikan ia masih sekuat dulu maka ia akan membunuh suami dan anak-anak selir itu.


"Maafkan ibu nak karena percaya dengan ayah mu, pria bajingan yang haus akan kekuasaan," gumam Lei Rong di dalam hati, ia juga tak bisa berbuat apa-apa karena racun didalam tubuhnya.


Secara tiba-tiba angin berhembus, sosok pria memasuki rumah dan hal itu membuat takut Lei Mei dan Lei Rong. Apakah dia adalah pembunuh bayaran dari tuan Lei karena Lei Mei masih hidup? pikir Lei Rong seketika.


"Ah tuan pendekar, ada apa gerangan kau ke sini?" tanya Lei Mei, ia tak menyangka kalau Cia Changyi akan datang ke gubuknya ini. Apa dia tersesat, pikir Lei Mei.


Perkiraan Cia Changyi tepat, ia tertarik dengan Lei Mei saat pertama kali bertemu, ada hal yang harus ia pastikan dengan Lei Mei tentang masa depannya.


"Aku tersesat saat jalan sekitar sini karena tidak bisa tidur, ibu mu itu lagi sakit ya? Bagaimana kabarnya?" tanya Cia Changyi, ia melihat sosok wanita terbaring, ia pikir itu ibu dari Lei Mei.


"Iya tuan pendekar, ibu ku sudah sakit sejak aku lahir. Bahkan orang bilang kalau aku pembawa sial," ucap Lei Mei murung mengingat hal itu.


"Tidak Lei Mei ini bukan salah mu. Oh tuan pendekar aku tahu dari Mei kalau kaulah yang telah menolongnya sebelumnya, aku ucapkan terima kasih banyak atas hal itu," ucap Lei Rong lalu terbatuk pelan.

__ADS_1


Cia Changyi dapat merasakan adanya racun yang menggerogoti tubuh Lei Rong, ia pun mendekati Lei Rong yang terbaring di kasur lalu menyodorkan sebotol ramuan.


"Maaf sebelumnya, aku merasa kalau kau diracun. Ini aku punya ramuan yang bisa menangkal racun dari iblis," ucap Cia Changyi yang membuat Lei Rong terkejut.


"Apa itu benar-benar bisa menyembuhkan ibu? Kalau begitu ibu ayo minum itu, aku yakin tuan pendekar bukan orang jahat," ucap Lei Mei, ia masih polos sehingga mudah percaya dengan orang asing.


Lei Rong menghela nafas, dalam keadaan seperti ini ia tak punya pilihan. Ada dua kemungkinan, Cia Changyi adalah suruhan dari keluarga Lei untuk membunuhnya atau benar-benar mau membantunya.


Lei Rong pun mengangguk, ia harap kalau ia mati karena meminum ini Lei Mei tidak akan diapa-apakan walau itu kedengarannya mustahil.


Beberapa saat kemudian saat ramuan itu masuk ke dalam tubuh Lei Rong reaksinya mulai terasa, Cia Changyi pun juga turut membantu menetralkan tubuh Lei Rong dengan energi mutiara cahaya dewa.


Perlahan tubuh Lei Rong mulai berubah, kotoran di dalam tubuh Lei Rong mulai keluar dengan sendirinya dalam bentuk uap. Uap itu berwarna hitam pekat.


Lei Mei yang tak mengerti apa yang terjadi hanya bisa melihat saja, ia melihat keadaan ibunya mulai membaik membuatnya senang dan tak mau mengganggu proses penyembuhan ibunya.


Hari mulai pagi, proses menetralkan racun itu akhirnya selesai juga. Cia Changyi tak menyangka kalau racun di tubuh ibunya Lei Rong sangatlah kuat dan banyak.


"Ah, ibu kau sudah sehat," ucap Lei Mei yang terbangun dari tidurnya, tadi malam ia ketiduran dan saat ia terbangun ia melihat sosok ibunya kelihatan sehat.


Kulit ibunya yang menghitam karena racun mulai kembali seperti semula, pancaran kecantikan dari tubuh Lei Rong kembali terlihat begitu juga kekuatannya sudah mulai pulih sedikit demi sedikit.


Lei Rong mencoba berdiri, walau ia terjatuh tapi sekarang kakinya bisa ia gerakan. Butuh waktu untuk ia bisa berjalan normal karena sudah bertahun-tahun sejak ia jatuh sakit dan hanya berbaring saja.

__ADS_1


"Terima kasih tuan pendekar karena sudah menetralkan racun di dalam tubuh saya," ucap Lei Rong namun dalam hatinya masih ada kecurigaan tentang Cia Changyi yang tiba-tiba membantunya.


__ADS_2